Fiat Chrysler rela menggelontorkan dana besar untuk Tesla

Jakarta (ANTARA) – Fiat Chrysler Automobiles NV (FCA) telah setuju membayar Tesla Inc ratusan juta euro agar kendaraan Tesla masuk dalam armada FCA dan menghindari denda peraturan emisi baru Uni Eropa.

Menurut Financial Times seperti dikutip Reuters, Senin, langkah itu akan menempatkan prdusen mobil Italia-AS itu mampu mengimbangi emisi karbon dioksida dengan Tesla.

Selain itu, aksi FCA juga akan menurunkan rata-rata emisi gas rumah kaca ke tingkat yang diizinkan.

“FCA berkomitmen untuk mengurangi emisi pada semua produk kami… Upaya pembayaran itu memberikan kelenturan pada harga produk yang siap dibeli oleh pelanggan kami. Kami akan terus mengelola kepatuhan dengan pendekatan biaya terendah,” kata FCA dalam pernyataannya.

Laporan itu tidak menyebutkan secara pasti jumlah pembayaran Fiat Chrysler kepada Tesla. Tesla tidak menanggapi permintaan komentar pada Minggu (7/4) waktu setempat.

Baca juga: Kasus emisi diesel, Fiat Chrysler didenda 700 juta dolar AS

Di sisi lain, Fiat Chrysler tidak secara langsung membahas jumlah yang akan dibayarkan kepada Tesla, tapi akan terus menambahkannya.

“Kami akan terus mengoptimalkan opsi peraturan untuk kepatuhan yang ditawarkan,” tambahnya.

Menurut laporan tahunannya kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (AS), Tesla telah memperoleh pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS dalam tiga tahun terakhir dengan menjual kredit emisi gas di AS. Peraturan itu memungkinkan produsen kendaraan tanpa emisi untuk meraih pendapatan lain dengan menjual kredit emisi kepada produsen lain.

Tesla mulai mengirimkan Model 3 yang baru ke pasar internasional di Cina dan Eropa. Tapi, angka pengiriman perusahaan telah jatuh pada kuartal pertama menyusul kesulitan pengiriman akibat waktu transit yang lebih lama.

Baca juga: Tidak penuhi standar emisi, Fiat Chrysler tarik 862.520 mobil di AS

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

VinFast gandeng LG produksi baterai mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Manufaktur otomotif Vietnam VinFast bermitra dengan perusahaan Korea Selatan LG Chem memproduksi baterai untuk skuter dan mobil listrik, demikian dilansir Reuters, Minggu (7/4).

Demi memuluskan kerja sama itu, kedua perusahaan lantas mendirikan usaha patungan yang diwujudkan dengan pembangunan sebuah pabrik di Hai Phong, Vietnam sebelah Utara.

“Dengan tujuan memproduksi paket baterai lithium-ion untuk skuter listrik VinFast yang dibuat sekarang dan mobil listrik yang diproduksi pada masa depan,” demikian pernyataan LG Chem tentang usaha patungan itu.

Rencana itu sejalan dengan upaya VinFast, yang dimiliki grup konglomerat Vietnam Vingroup JSC, untuk memproduksi 250 ribu mobil per tahun dan menjadi pabrikan mobil domestik pertama di negara itu.

Vingroup juga mengalokasikan dana 3,5 miliar dolar AS untuk proyek pembuatan mobil listrik.

Kerja sama itu akan menghasilkan produk-produk premium berstandar internasional, serta menjadi pemasok komponen baterai lithium-ion untuk perangkat listrik dan produk lainnya di bawah naungan Vingroup.

Baca juga: Pabrikan mobil Vietnam bakal debut SUV-sedan di Paris Motor Show

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Toyota bebaskan hak paten teknologi hybrid

Jakarta (ANTARA) – Toyota Motor Corp akan membebaskan royalti hak paten teknologi kendaraan hibrida (hybrid) hingga tahun 2030, demi memperluas penggunaan kendaraan rendah emisi sebelum industri otomotif global bertransformasi ke mobil listrik bertenaga baterai.

Manufaktur mobil Jepang itu siap memberikan lisensi untuk 24.000 paten teknologi, mencakup sistem tenaga hybrid yang terdiri dari motor, konverter dan baterai.

“Berdasarkan tingginya volume permintaan yang kami terima tentang sistem elektrifikasi kendaraan, dari perusahaan yang menyadari perlunya mempopulerkan teknologi hybrid dan lainnya, sekarang saatnya untuk bekerja sama,” kata Wakil Presiden Eksekutif Toyota Shigeki Terashi dalam pernyataannya dilansir Reuters, Rabu.

Sejak mempelopori Prius, mobil hybrid pertama yang diproduksi massal di dunia pada tahun 1997, Toyota sudah menjual lebih dari 13 juta mobil dengan teknologi itu.

Kendaraan hybrid menyumbang 3 persen dari seluruh penjualan kendaraan secara global, melampaui pangsa pasar kendaraan listrik baterai (EV) yang cuma 1 persen, menurut LMC Automotive.

Selain itu, penjualan mobil ramah lingkungan diproyeksikan bakal melonjak sejalan dengan upaya negara-negara dalam mengetatkan regulasi emisi pada kendaraan.

Selain hibrida, Toyota juga memiliki teknologi mobil berbahan bakar hidrogen yang tidak mengeluarkan tanpa emisi. Kendati demikian, Toyota justru agak tertinggal pada jenis mobil listrik bertenaga baterai.

Baca juga: Ferrari siapkan 15 mobil baru termasuk hibrida dan SUV
Baca juga: Kia luncurkan Niro Hybrid untuk perkuat produknya

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Seoul International Motorshow fokus pamerkan mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Seoul International Motor Show 2019 yang dimulai pada Jumat (29/3), banyak menghadirkan koleksi-koleksi mobil otonom dan kendaraan listrik guna memperkuat tema yang diambil, yakni “mobility show.”

Dilansir dari Yonhap, Kedutaan Besar Inggris menampilkan kendaraan utilitas-listrik sport Jaguar Land Rover dan Jaguar I-PACE, yang diluncurkan di Korea Selatan pada akhir Maret.

Pembuat mobil Amerika Serikat (AS), Tesla berpartisipasi untuk pertama kalinya dengan menampilkan tiga produk yakni Model S, sedan Model 3 dan SUV Model X.

“Ini adalah tahun pertama bagi Seoul Motor Show untuk mentransformasikan dirinya menjadi sebuah pameran mobilitas. Kami akan melakukan upaya terbaik untuk membantu pameran mobil menjadi sama kompetitifnya dengan Consumer Electronics Show (yang berlangsung di Las Vegas setiap Januari),” kata Jeong Man-ki, ketua komite persiapan Seoul Motor Show.

Lebih lanjut, Penyelenggara mengatakan zona drone dan robot akan menarik perhatian orang-orang yang datang dengan anak-anak, selain mengunjungi semua gerai mobil yang dipajang.

Sekitar 230 perusahaan, termasuk 21 pembuat mobil dan pembuat suku cadang mobil, hadir di pameran dengan sekitar 270 produk baru.

Pameran itu juga menggelar seminar kendaraan otonom, inovasi mobilitas, dan kendaraan pintar, yang diharapkan dapat menarik minat pakar industri, eksekutif dan insinyur mobil.

Baca juga: Tesla geser BMW, Mercedes-Benz dan Audi di Eropa

Baca juga: Ini kata PLN tentang kendaraan listrik sebagai babak baru Indonesia

Baca juga: GM bakal investasi 300 juta dolar untuk produksi mobil listrik baru

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Sepeda listrik ini bisa melaju 72 km per jam

Jakarta (ANTARA) – Percaya atau tidak, sebuah sepeda listrik buatan perusahaan Amerika Serikat Hi Power Cycles (HPC) mampu melaju dengan kecepatan hingga 72 km per jam dan menjangkau 128,7 km untuk satu kali pengisian daya baterai penuh.

Sepeda listrik syarat teknologi itu bernama Scout Pro, yang pengembangannya memakan waktu dua tahun dengan melibatkan empat purwarupa.

“Tujuan kami dengan Scout Pro adalah untuk membangun yang paling mengesankan dan penuh fitur,” kata HPC di laman resminya, dikutip Selasa.

Dengan komponen kelas profesional yang dikombinasikan dengan motor Magnesium baru dan ban berukuran 27,5 ini, telah membuat sepeda listrik ini mampu mencapai kecepatan maksimum 72 km per jam dengan baterai 48 Volt berkapasitas 1680 Watt-hour (Wh). Sepeda ini masih bisa melaju lebih cepat dengan bantuan kayuh pedal.

HPC mengklaim tidak ada satu pun di pasar sekarang yang bisa bersaing dengan Scout Pro dalam hal kualitas keseluruhan, kinerja sistem kelistrikan, paket komponen, dan pengalaman berkendara.

Untuk penggunaan normal sepeda ini memang mampu menjangkau 128,7 km untuk satu kali pengisian daya baterai, tetapi jika Eco mode diaktifkan maka kendaraan ini bisa menjangkau 160 mil atau setara sekitar 257,4 km.

Sepeda listrik itu juga punya kemampuan akselerasi yang mengagumkan, dari 0 – 32 km per jam dalam waktu hanya 5,32 detik.

Ada banyak model sepeda listrik yang diproduksi HPC dengan kisaran harga 4.000 dolar – 13.000 dolar atau sekira Rp56,7 juta hingga Rp184 juta. Sementara model Scout Pro dibanderol 6.000 dolar atau setara Rp99 juta.

Baca juga: Harley-Davidson perkenalkan dua motor listrik konsep

Baca juga: General Motors gelar sayembara penamaan sepeda listrik terbaru

Baca juga: Mahasiswa UNY kembangkan sepeda listrik berbasis android

Baca juga: Airbus pamer sepeda motor hasil cetak printer 3D

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Korsel cabut pembatasan penjualan kendaraan berbahan bakar LPG

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah Korea Selatan pada Selasa, mencabut pembatasan penjualan untuk kendaraan berbahan bakar gas cair (LPG) kepada konsumen demi mendorong dan meningkatkan kualitas udara di negara itu.

Langkah ini memungkinkan setiap orang untuk membeli mobil yang mengeluarkan lebih sedikit debu halus dan polutan lainnya ke lingkungan, yang telah menjadi sumber kekhawatiran bagi ekonomi terbesar keempat di Asia itu, kata Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi seperti dilansir Yonhap pada Selasa.

Sebelum perubahan aturan itu, mobil LPG hanya bisa digunakan sebagai taksi, sewa mobil dan untuk para penyandang cacat. Mereka yang mencoba mengakuisisi dan mengoperasikan mobil LPG secara tidak sah akan dikenakan sanksi denda 3 juta won atau sekitar Rp37 juta.

Kementerian mengatakan dengan revisi peraturan itu, konsumen dapat mengkonversi bensin atau kendaraan bertenaga diesel yang ada untuk menerima LPG.

Harga butana, bahan baku yang digunakan dalam LPG, menelan biaya 797,4 won per liter (Rp99.796) pada akhir pekan lalu, 42 persen lebih murah daripada harga bensin, menurut Opinet, penyedia informasi harga minyak yang dioperasikan oleh Korea National Oil Corp yang dikelola pemerintah.

Baca juga: Hyundai Sonata baru lebih sporty dan ceper
Baca juga: Hyundai akan perluas produksinya di Brazil

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Ini kata PLN tentang kendaraan listrik sebagai babak baru Indonesia

Solo (ANTARA) – PT PLN (Persero) menyatakan keberadaan kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor, menjadi babak baru Indonesia dalam perkembangan teknologi.

“(Produksi, red) mobil dan sepeda motor listrik segera ditandatangani Pak Presiden. Ini akan memasukkan Indonesia dalam babak baru perkembangan teknologi,” kata Direktur Regional Jawa Bagian Barat Hariyanto WS di sela kegiatan Program PLN Mengajar 2019 “Terangi Bangsa Dengan Pendidikan” di SMAN 1 Surakarta, Jawa Tengah, Senin.

Ia mengatakan pada produksi kendaraan listrik tersebut PLN akan meningkatkan kandungan lokal, mengingat saat ini mobil nonlistrik atau dengan bahan bakar bensin kandungan lokalnya belum tinggi.

“Oleh karena itu, kami akan mengembangkan teknologi ini untuk mendukung perekonomian Indonesia, memperluas dunia kerja, dan ramah lingkungan karena emisi gas buang terkurangi,” katanya.

Menurut dia, program pemerintah tersebut mendukung komitmen Indonesia dalam Paris Agreement di antaranya mengenai perubahan iklim dengan meningkatkan pengembangan energi terbarukan.

“Nanti dengan mobil listrik hampir 100 persen menggunakan komponen lokal. Pemerintah saat ini sedang menyiapkan pabrik baterai dan industri pendukung lain,” katanya.

Ia mengatakan saat ini PLN sedang memproduksi motor listrik Gesit sebagai uji coba. Untuk kandungan lokal yang digunakan nantinya di atas 80 persen.

Lebih jauh Haryanto mengatakan kegiatan BUMN Mengajar merupakan salah satu bentuk kepedulian BUMN kepada dunia pendidikan.

“Ini program yang sangat bagus dalam rangka mengenalkan perusahaan-perusahaan BUMN khususnya PLN kepada siswa. Di sini kami ingin menyampaikan bahwa PLN terus maju untuk memajukan Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, dikatakannya, maju mundurnya Indonesia pada dekade 2050 tergantung dari kemajuan kalangan milenial. Menurut dia, bonus demografi menjadi sesuatu yang penting untuk dimanfaatkan agar prediksi perekonomian Indonesia bisa masuk lima besar dunia dapat terealisasi.

“Oleh karena itu, untuk bisa ikut memajukan Indonesia, adik-adik (siswa, red) harus bekerja keras dan tidak gampang mengeluh ketika menghadapi masalah. Semua pasti ada solusinya,” kata alumnus SMAN 1 Surakarta tersebut.

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019

GM bakal investasi 300 juta dolar untuk produksi mobil listrik baru

Chicago (ANTARA) – General Motors (GM)  berencana untuk menginvestasikan 300 juta dolar AS di pabrik perakitan Orion di negara bagian Michigan untuk memproduksi mobil listrik (EV) Chevrolet baru, kata produsen otomotif terkemuka AS, Jumat (22/3).

GM awalnya bermaksud memproduksi kendaraan listrik baru di luar Amerika Serikat. Keputusan untuk membawanya ke Orion akan menambah 400 pekerjaan baru di sana.

Ini adalah bagian dari komitmen baru GM untuk menginvestasikan total 1,8 miliar dolar AS dalam operasi manufakturnya di Amerika Serikat, menciptakan 700 lapangan kerja baru dan mendukung 28.000 pekerjaan di enam negara bagian, menurut GM.

“Kami sangat senang membawa pekerjaan ini dan investasi ini ke AS,” kata Ketua dan CEO GM Mary Barra. Ia menambahkan bahwa kendaraan listrik Chevrolet baru ini adalah langkah positif menuju komitmen GM untuk masa depan yang sepenuhnya listrik.

Pengumuman itu dikeluarkan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengecam GM dan menekan raksasa produsen mobil itu untuk membuka kembali pabrik Ohio, yang penutupannya telah membuat 1.700 orang kehilangan pekerjaan.

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019

Mobil Anak Bangsa mampu rakit 100 bus listrik sebulan

Jakarta (ANTARA) – PT Mobil Anak Bangsa (MAB) selaku produsen bus bertenaga listrik dalam negeri mengklaim mampu merakit 100 bus ramah lingkungan itu dalam waktu sebulan.

“Kami dalam tahap pengembangan prototipe ketiga. Prosesnya pun telah masuk dalam tahap uji tipe di Kementerian Perhubungan,” ujar Presiden Direktur PT Mobil Anak Bangsa, Mayjen TNI (Purn) Leonard, di Jakarta, Kamis.

Setelah lolos dalam tahap pengujian di Kementerian Perhubungan, prototipe bus listrik itu akan diajukan ke Kementerian Perindustrian untuk mendapatkan lisensi produksi.

Prototipe ketiga itu dipamerkan dalam ajang Busworld South East Asia 2019 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta pada 20-22 Maret.

Leonard mengatakan bus listrik MAB juga akan diuji coba di jalanan Jakarta sebagai bagian kerja sama dengan PT Transportasi Jakarta (PT Transjakarta).

“Proses administrasinya sudah dimulai secara simultan. Kalau Transjakarta menghendaki, kami akan menyiapkan unitnya,” katanya.

Bahan baku karoseri, badan mobil, hingga desain sasis, menurut Leonard, sudah dikerjakan dengan bahan baku dalam negeri. Hanya baterai, motor listrik, dan pengendali (controller) yang masih harus dipasok dari negara lain.

Baca juga: Presiden Jokowi serukan integrasi segera transportasi Jabodetabek

“Kami masih bekerja sama dengan mitra kami di luar negeri. Dalam proses itu, kami menghendaki transfer of knowlegde. Kami juga berkerja sama dengan Institut Teknologi Bandung sehingga membuka peluang untuk memproduksi komponen dalam negeri yang jauh lebih layak,” ujarnya.

Bus listrik MAB berkapasitas 24 kursi dengan empat tempat duduk prioritas disabilitas, ibu hamil, serta lansia. Secara keseluruhan bus itu punya kapasitas 60 penumpang.

Bus itu berbekal mesin Lithium Fenno Phosphabe (LiFePo) dengan daya 259 kWh, serta tenaga maksimum 268 hp. Interval pengisian baterai adalah tiga jam dengan jarak jelajah sejauh 300 km untuk sekali pengisian. Satu bus dipasangi 12 baterai.

“Kami membatasi kecepatan laju bus 70 km/jam meskipun kecepatan bus bisa mencapai lebih dari 100 km/jam. Torsinya udah 0 karena tidak menggunakan bahan bakar dan ketika pedal ditekan bisa langsung melaju,” katanya.

Keuntungan penggunaan bus listrik selain mengurangi emisi adalah biaya operasional yang lebih hemat.

Baca juga: ITS operasikan bus listrik kampus

Leonard menyontohkan jika satu kilometer perjalanan bus berbahan bakar fosil membutuhkan biaya Rp100 ribu, bus listrik hanya berbiaya Rp30 ribu rupiah.

Terkait limbah baterai, piranti yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk keperluan industri rumah tangga, misalnya solar sel dan berbagai kebutuhan lainnya.

“Kami akan mengganti baterai yang sudah berusia lima tahun. Laju bus pun akan lebih halus dan tidak berisik,” kata dia.

Namun, bus listrik masih menyisakan persoalan yang harus dipenuhi seperti stasiun pengisian daya listrik.

Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan stasiun pengisian daya untuk bus listrik hanya terdapat dua stasiun di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

“Sudah ada dua unit pengisian daya (charging station) ang merupakan hasil kerja sama dengan operator di pool mereka di Pulo Gadung, Jakarta Timur,” kata Agung.

Baca juga: Transjakarta akan uji coba bus listrik

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Transjakarta akan uji coba bus listrik

Jakarta (ANTARA) – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) berencana menguji coba operasional bus listrik buatan dalam negeri dari PT Mobil Anak Bangsa (MAB) dan produk asal China yakni BYD Auto Co Ltd.

Rencana pengujian itu tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BYD, MAB, RAC-Danfoss, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam acara Busworld South East Asia 2019 di Jiexpo, Jakarta, Kamis.

“Wacana (penggunaan bus listrik) itu harus direalisasikan. Unit yang sudah ada akan dilakukan pengujian sesuai regulasi. Jika memenuhi syarat, kami akan mengoperasikannya di jalanan Jakarta,” ujar Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono selepas penandatanganan MoU itu.

Agung mengatakan materi uji coba bus listrik itu meliputi kapasitas angkut penumpang, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, jam operasional, hingga daya tahan baterai sebagai sumber pemasok tenaga.

Selain itu, uji coba itu juga untuk memastikan kesiapan infrastruktur pengisian daya, perawatan, dan bengkel. Khusus untuk pengisian daya, saat ini baru terdapat dua mesin pengisian daya listrik.

Baca juga: Presiden Jokowi serukan integrasi segera transportasi Jabodetabek

“Sudah ada dua unit pengisian daya (charging station) ang merupakan hasil kerja sama dengan operator di pool mereka di Pulo Gadung, Jakarta Timur,” kata Agung.

Namun, Agung tidak menyebut secara rinci kapan bus listrik akan mengaspal di jalanan Jakarta. Uji coba itu, lanjut Agung, akan tergantung kesiapan operator (PT MAB dan BYD) serta fasilitas pendukungnya.

Bus ini diproyeksikan sebagai armada untuk Transjakarta, sesuai dengan arahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang meminta untuk mengkaji bus bertenaga listrik.

“Uji coba kita bukan menetapkan jumlah minimal, tapi yang betul-betul memenuhi syarat. Pak Gubernur menginstruksikan operasional bus listrik mencapai 10 armada. Paling tidak, hari ini sudah ada tiga (bus),” katanya.
  Bagian dalam bus listrik dari PT MAB di JIExpo Kemayoran Jakarta. (ANTARA News/Asep Firmansyah)

Agung juga belum dapat memastikan penggunaan bus-bus listrik sebagai armada sepenuhnya Transjakarta menyusul kepastian komponen seperti baterai, stasiun pengisian daya, hingga pemeliharaan.

Komponen-komponen seperti baterai, motor listrik, dan pengendali (controller) juga masuk dalam kategori komponen berbiaya mahal karena pemenuhan kebutuhan berasal dari luar negeri.

“Secara jangka panjang, kami punya cita-cita demikian. Tapi tentu secara bertahap. Kami harus melihat kesiapan dari industri dan peralihan teknologinya,” katanya.

Dalam uji coba itu, Transjakarta membuka kesempatan luas bagi perusahaan penyedia bus listrik selain perusahaan yang telah menandatangani MoU, asalkan dapat memenuhi syarat yang telah ditentukan.

Baca juga: Transjakarta sediakan lagi empat rute baru integrasi

“Transjakarta dalam posisi menunggu dan dunia pasar sedang bergerak. Kami akan lihat apakah mereka akan melakukan penawaran atau tidak,” kata dia.

Dua bus listrik yang akan di-uji coba itu punya kapasitas 24 kursi dengan empat tempat duduk prioritas difabel, ibu hamil, serta lansia. Secara keseluruhan, bus listrik itu mampu mengangkut 60 penumpang.

Kedua bus itu tidak memiliki perbedaan dari aspek dapur pacu yaitu mesin Lithium Fenno Phosphabe (LiFePo), berdaya 259 kwh, serta tenaga maksimum 268 hp.

Interval pengisian baterai bus adalah tiga jam, dengan jarak jelajah sejauh 300 km untuk sekali pengisian sumber daya.

Baca juga: ITS operasikan bus listrik kampus

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Tesla rilis SUV Model Y, harga mulai Rp555 juta

Jakarta (ANTARA) – Produsen mobil listrik AS, Tesla, telah merilis mobil SUV listrik terbarunya, Model Y, dalam empat varian dengan harga mulai 39.000 dolar (sekira Rp555 juta), sedikit lebih mahal dibanding Model 3 untuk varian terendahnya.

SUV yang desainnya lebih mirip sedan ini akan hadir dalam empat varian, yakni versi Standard Range, Long Range, Dual-Motor All-Wheel Drive, dan Performance.

Model Y cukup luas untuk membawa tujuh orang dewasa berikut perlengkapan mereka dan menawarkan jangkauan terdepan, kinerja superior, dan teknologi paling canggih, kata Tesla dalam pernyataan resminya, dikutip Jumat.

Dilengkapi dengan powertrain efisiensi tinggi dan motor ultra-responsif, Model Y mampu berakselerasi dari 0-100 km per jam dalam waktu hanya 3,5 detik, dan kecepatan maksimal 150 mil per jam (sekitar 241 km per jam), serta diklaim tangguh di kondisi jalan apa pun.

Baterai Standar Model Y akan memiliki jangkauan 230 mil sekitar 321 km, sementara Model Y Long Range akan dapat melakukan perjalanan hingga 300 mil (482 km) dengan sekali pengisian daya penuh pada baterainya.

Di dalam, atap kaca panoramik Model Y dan tempat duduk tinggi menciptakan perasaan lapang dan menawarkan pemandangan luas dari setiap kursi di kendaraan. Trunk depan dan jok baris kedua lipat menyediakan ruang penyimpanan total 66 kaki kubik (1,9 meter kubik).

Seperti Model 3, Model Y tidak memerlukan tombol, melainkan menghubungkan ke ponsel cerdas Anda untuk masuk dan keluar tanpa hambatan, dengan antarmuka layar sentuh tunggal 15 inci di dalam untuk semua kontrol mobil.

Model Y juga terhubung dengan aplikasi Tesla Mobile untuk fitur unik dan mudah diakses seperti membuka kunci jarak jauh, panggilan telepon, pra-pengkondisian jauh, pelacakan lokasi, mode batas kecepatan, dan banyak lagi.

Model Y juga kompatibel dengan jaringan pengisian daya Supercharger Tesla yang berjumlah lebih dari 12.000 Supercharger di 36 negara, serta Supercharger V3 terbaru.

Mobil ini akan dikirimkan kepada pelanggan mulai musim gugur 2020 untuk varian Performance, Long Range, dan Dual-Motor All-Wheel Drive, sedangkan untuk varian terendah (Range Standar) berharga 39.000 dolar baru tersedia pada 2021.

Baca juga: Mercedes siap serang Tesla dengan SUV listrik

Baca juga: Tesla mulai produksi SUV Model Y akhir 2019

Baca juga: Tesla tarik 11.000 SUV model X karena masalah kursi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Tidak penuhi standar emisi, Fiat Chrysler tarik 862.520 mobil di AS

Jakarta (ANTARA) – Fiat Chrysler akan menarik kembali (recall) sebanyak 862.520 unit kendaraan bermesin bensin di Amerika Serikat karena tidak memenuhi standar emisi, menurut Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency/EPA) dilansir Reuters, Rabu (13/3).

Penarikan tersebut meliputi Dodge Journeys produksi 2011-2016, Chrysler 200s dan Dodge Avengers produksi 2011-2014, Dodge Calibers 2011-2012 dan Jeep Compass/Patriots model tahun 2011-2016.

EPA mengatakan kepada Reuters, akan terus menyelidiki kendaraan Fiat Chrysler lainnya yang berpotensi tidak mematuhi aturan emisi. Kendati demikian, pihak Fiat Chrysler tidak berkomentar mengenai masalah ini.

“EPA menyambut tindakan Fiat Chrysler yang secara sukarela menarik kembali kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi AS,” kata administrator EPA Andrew Wheeler dalam sebuah pernyataan.

“Kami akan memberikan bantuan kepada konsumen untuk menavigasi penarikan kembali dan terus memastikan bahwa produsen mobil mematuhi hukum di negara kami untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan,” kata dia.

Pada Januari, Fiat Chrysler menyetujui denda 800 juta dolar AS (Rp11,4 triliun) atas klaim Departemen Kehakiman dan negara bagian California karena penggunaan perangkat lunak ilegal yang mengaburkan hasil uji emisi pada kendaraan diesel.

Pada 2015, Volkswagen juga didenda setelah mengakui memasang perangkat lunak ilegal untuk mencurangi hasil uji emisi.

Baca juga: Fiat tarik 882.000 pikap karena masalah kemudi dan pedal
Baca juga: FCA tarik 1,4 juta kendaraan, terakhir terkait kantong udara Takata

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Honda bidik penjualan mobil listrik hingga 100 persen pada 2025

Jakarta (ANTARA) – Honda mengumumkan ambisinya untuk mendukung kontribusi mobil listrik hingga 100 persen terhadap total penjualan produk Honda di Eropa pada tahun 2025.

Target tersebut merupakan revisi dari target Honda sebelumnya yakni, dua pertiga penjualan di Eropa berasal dari mobil listrik.

“Sejak visi Honda 2030 pertama kali diumumkan pada Maret 2017 lalu, kami terus melangkah menuju dimana seluruh penjualan kami di Eropa kelak berasal dari mobil listrik,” kata Senior Vice President Honda Motor Europe, Tom Gardner, dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/3).

“Berbagai tantangan yang dihadapi, menuntut kami untuk menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan bagi mobilitas manusia. Teknologi terus berkembang pesat dan masyarakat juga mulai mengubah pandangannya terhadap mobil itu sendiri,” kata dia.

Komitmen Honda untuk pengembangan mobil listrik diwujudkan melalui Honda e Prototype yang diluncurkan pertama kali di Jenewa. Mobil tersebut memperlihatkan wujud mobil listrik pertama Honda untuk pasar Eropa yang akan diproduksi massal akhir 2019.
  Honda e Prototype at Geneva International Motorshow

Honda e Prototype mampu melaju hingga 200 km dalam kondisi baterai terisi penuh, dengan fitur fast charging yang dapat mengisi daya listrik hingga 80 persen dalam 30 menit. Honda e Concept juga dirancang untuk memberikan pengalaman berkendara yang emosional dan menyenangkan, didukung penggerak motor elektrik pada roda belakang.

Hingga saat ini, Honda telah menerima 15.000 pendaftar di website terhadap e Prototype. Tidak hanya itu, pada awal 2019, Honda juga meluncurkan All New Honda CR-V Hybrid yang didukung teknologi full hybrid i-MMD dengan dua motor penggerak.

Di Jenewa Motor Show, Honda juga memperkenalkan bisnis energy management solutions di Eropa yang pernah diperkenalkan di Frankfurt Motor Show 2017 melalui Power Manager bi-directional charging concept.

“Ini adalah langkah signifikan bagi Honda, dengan menghadirkan inovasi terdepan di industri melalui peluncuran layanan manajemen energi. Teknologi ini diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi operator sistem energi dan konsumen mobil listrik,” kata Tom Gardner.
  Honda e Prototype at Geneva International Motorshow

Honda bekerja sama dengan EVTEC untuk membangun teknologi bi-directional Honda Power Manager (kompatibel dengan baterai pada mobil listrik, seperti Honda e Prototype) dan berencana memasarkan produk tersebut dalam beberapa tahun kedepan.

Honda juga mengumumkan kemitraan dengan dua rekan eksternal, yakni Moixa sebagai perusahaan yang memiliki spesialisasi di bidang agregator sumber daya yang memungkinkan konsumen mendapatkan keuntungan dengan membagikan kapasitas listrik dari kendaraannya.

Kemudian Ubitricity, sebagai perusahaan penyuplai alat pengisian daya, yang menyediakan pendekatan inovatif pada pengisian daya di jalan perkotaan.

Langkah selanjutnya adalah melakukan studi terhadap teknologi tersebut di London, Inggris dan Offenbach, Jerman. Perkembangan dari penelitian tersebut akan diumumkan pada akhir tahun ini.

Baca juga: Honda bocorkan tampilan interior purwarupa mobil listrik terbaru

Baca juga: Honda akan luncurkan prototipe mobil listrik di Geneva Motor Show

Baca juga: Honda RS Concept dirancang khusus untuk Indonesia

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Tesla perkenalkan V3 Supercharging, 50 persen lebih cepat

Jakarta (ANTARA) – Produsen mobil listrik AS, Tesla, memperkenalkan V3 Supercharging, perangkat pengisian daya baterai mobil listrik generasi baru yang mampu memangkas 50 persen waktu pengisian dibanding sebelumnya.

V3, yang lahir dari pengalaman Tesla memproduksi baterai terhubung-jaringan terbesar dunia, memungkinkan kendaraan Tesla untuk mengisi daya lebih cepat daripada kendaraan listrik lainnya di pasaran, kata Tesla dalam siaran persnya, dikutip Minggu.

V3 merupakan arsitektur yang sepenuhnya baru untuk Supercharging. Kabinet listrik 1MW baru mendukung tingkat beban puncak 250kW per mobil. Pada tingkat ini, sedan Tesla Model 3 misalnya bisa mengisi baterai untuk menjangkau 75 mil (120 km) dalam waktu hanya 5 menit.

Itu berarti, untuk V3 Supercharging mampu mengisi daya baterai beberapa mobil listrik yang secara gabungan menjangkau 1.000 mil dalam waktu hanya satu jam.

“Dikombinasikan dengan perbaikan lain yang kami umumkan hari ini, V3 Supercharging pada akhirnya akan memangkas jumlah waktu yang dihabiskan pelanggan untuk pengisian daya baterai rata-rata 50 persen,” jelas Tesla.

Tesla saat ini mengoperasikan lebih dari 12.000 Supercharger di seluruh Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Jaringannya terus bertambah setiap hari, dan mampu menjangkau 99 persen populasi AS, sedangkan daya jangkau sama akan segera diwujudkan Tesla di Eropa akhir 2019.

Baru-baru ini, Tesla mampu menjangkau 90 persen populasi di China dan tumbuh dengan cepat. Namun, untuk mendorong berlanjutnya adopsi kendaraan listrik dan lebih mempercepat transisi dunia ke energi berkelanjutan, pengisian harus lebih cepat, dan jumlah kendaraan yang dapat mengisi daya di suatu lokasi dalam sehari perlu ditingkatkan.

Baca juga: Nio pesaing Tesla batalkan rencana pembangunan pabrik
Baca juga: Tesla umumkan waktu peluncuran crossover listrik Model Y

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Nissan Leaf masuk pasar Indonesia tahun depan

Jakarta (ANTARA) – Mobil listrik New Nissan Leaf akan tersedia di pasar Indonesia dan Filipina pada tahun 2020, menunjukkan komitmen Nissan dalam mendorong mobilitas terelektrifikasi di Asia Tenggara.

Nissan juga menargetkan seperempat dari jumlah penjualan mereka adalah kendaraan listrik, sesuai dengan rencana jangka menengah Nissan M.O.V.E 2022. Rencana percepatan itu termasuk lokalisasi dan perakitan komponen kendaraan listrik di pasar-pasar utama Asia Tenggara.

“Nissan memimpin upaya untuk mendorong kesadaran dan mewujudkan mobilitas yang terelektrifikasi di Asia dan Oceania,” kata Regional Senior Vice President and Head of Asia & Oceania, Yutaka Sanada, dalam keterangan tertulisnya kepada Antara, Sabtu.

“Menghadirkannya ke Indonesia dan Filipina adalah langkah utama dalam upaya ini. Hal ini memungkinkan pelanggan mendapatkan pengalaman langsung atas manfaat kendaraan listrik bagi mereka sendiri dan masyarakat,” kata dia.

Baca juga: Nissan LEAF e+ jalani debut, hadir dengan powertrain baru

Sejak tahun 2010, Nissan Leaf terjual sebanyak 400.000 unit, dan menjadi kendaraan listrik murni terlaris di dunia. Tahun ini, Nissan telah memperkenalkan kendaraan listrik itu ke Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia.

Kehadiran New Nissan Leaf, bersama jajaran model e-POWER, menandai langkah penting dalam mobilitas yang terelektrifikasi di Asia dan Oceania.

e-POWER merupakan teknologi milik Nissan yang memberi pelanggan manfaat atas kendaraan listrik, tanpa memerlukan tempat pengisian daya dari luar. Nissan Serena e-POWER akan menjadi model e-POWER pertama yang diluncurkan di kawasan ini, dimulai dengan Singapura pada tahun ini.

“Selain memperkenalkan mobilitasi yang terelektrifikasi, Nissan berupaya membuatnya lebih mudah diakses melalui lokalisasi dan perakitan komponen kendaraan listrik di pasar-pasar utama di Asia Tenggara,” kata Sanada.

Baca juga: Leaf Nismo RC, mobil balap listrik dari Nissan

Baca juga: Nissan Dongfeng tingkatkan produksi mobil listrik di China

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Honda berambisi hanya jual kendaraan listrik di Eropa

Jakarta (ANTARA) – Honda Motor berambisi untuk menjual hanya kendaraan listrik di Eropa pada 2025, dan hanya akan memproduksi kendaraan bermesin konvensional sepertiga dari total produksinya di seluruh dunia.

“Sejak kami membuat janji pertama pada Maret 2017, perubahan menuju elektrifikasi telah berkembang pesat. Tantangan lingkungan terus mendorong permintaan untuk mobilitas yang lebih bersih,” kata Wakil Presiden Senior Honda Motor Eropa, Tom Garner, di pameran otomotif Jenewa, dikutip Sabtu.

Menurut Garner, teknologi terus bergerak tanpa henti dan orang-orang mulai mengubah pandangan tentang mobil itu sendiri.

Bukti dari ambisi Honda itu, menurut Garner, antara lain dengan diluncurkannya model kendaraan listrik baru Honda e Prototype. Mobil ini mampu menjangkau lebih dari 200 km untuk satu kali pengisian daya baterai penuh.

e Prototype juga dilengkapi dengan teknologi pengisian daya cepat, mampu mengisi 80 persen kapasitas daya baterai dalam waktu hanya 30 menit.

Pelanggan di Eropa sudah bisa memesan e Prototype pada awal musim panas mendatang, dan pabrikan Jepang ini mengaku telah menerima pesanan 15.000 unit untuk e Prototype.

Selain lebih masif mengembangkan mobil listrik, Honda juga berniat untuk terjun ke bisnis solusi manajemen energi yang sedang berkembang di Eropa. Pengembangan ini didasarkan pada konsep pengisian dua arah Power Manager yang pertama kali diperkenalkan di pameran otomotif Frankfurt 2017.

Honda akan membangun portofolio produk dan layanan manajemen energi yang menawarkan solusi komprehensif untuk pelanggan kendaraan listrik dan operator layanan di Eropa.

Honda telah bekerja sama dengan EVTEC untuk mengembangkan lebih lanjut teknologi Honda Power Manager dua arah (kompatibel dengan kendaraan baterai-listrik, seperti Honda e Prototype) dan akan menawarkan versi komersial di tahun-tahun mendatang.

Brand ini juga sudah menjalin kemitraan dengan Moixa, perusahaan yang berspesialisasi dalam teknologi agregator sumber daya, kemudian dengan Ubitricity, pemasok solusi pengisian daya inovatif untuk stasiun pengisian di daerah perkotaan.

Baca juga: Mobil terbang Pal-V dan hypercar Battista jadi bintang di Geneva
Baca juga: 15 mobil top yang akan meluncur di Geneva Motor Show 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai kenalkan NEXO di Smart Mobility Summit 2019

Jakarta (ANTARA) – Dalam Smart Mobility Summit 2019 yang digelar di Austin,  Hyundai akan pamerkan SUV Nexo berbahan bakar sel karena dianggap telah menggunakan teknologi terdepan.

SUV itu rencananya akan dipamerkan di Wards Intelligence dan C3 Group Smart Mobility Summit pada 9 Maret, di Empire Garage Austin. Itu adalah penampilan pertama NEXO di negara bagian Texas.

Manajer grup senior Strategi Kendaraan Alternatif, Hyundai Motor America, Gil Castillo, akan mendemonstrasikan fitur-fitur teknologi mutakhir, sekaligus menjawab pertanyaan teknis tentang kendaraan ramah lingkungan itu.

Hal itu juga menandai momentum dan kepemimpinan berkelanjutan Hyundai melalui jajaran SUV paling beragam di industri.

Wakil Presiden Perencanaan Produk Perusahaan dan Digital Hyundai Motor America, Mike O’Brien mengatakan saat ini konsumen mencari berbagai solusi transportasi demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

“NEXO Fuel Cell memimpin rencana Hyundai dalam pengembangan kendaraan tanpa emisi dan kami bersemangat untuk memperkenalkan NEXO di Austin yang berfokus lingkungan, merayakan masa depan mobilitas pintar dan teknologi baru,” kata Mike yang dikutip dalam laman resmi Hyundai, Jumat.

Jangkauan 

NEXO Blue memiliki jangkauan sekitar 380 mil, 115 mil lebih banyak dari Tucson Fuel Cell Electric Vehicle.

Waktu pengisian bahan bakar NEXO dapat dicapai hanya dalam lima menit, menunjang gaya hidup konsumen yang praktis dan serba cepat.

NEXO menggunakan sejumlah bahan ekologis dalam konstruksinya, termasuk cat poliuretan berbahan dasar minyak kedelai, kain bio berbasis bambu, serta bio-plastik dan bio-karpet yang diekstraksi dari tebu.

Bahan berbasis bio diaplikasikan pada 47 bagian yang berbeda dan mengurangi emisi CO2 hingga 26 pon selama proses pembuatan.

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Pengembangan mobil otonom terhambat mahalnya biaya teknologi

Jakarta (ANTARA) – Mobil otonom atau swakemudi membutuhkan waktu hingga lima tahun ke depan agar benar-benar diterima konsumen.

Saat ini pengembangan swakemudi terhambat mahalnya harga riset serta tingkat kerumitan teknologi yang harus selalu dikembangkan oleh produsen otomotif, kata Thomas Sedran kepala kendaraan komersial Volkswagen.

Swakemudi membutuhkan infrastruktur berteknologi tinggi, sistem radar sangat mahal, serta kerja sama bisnis antara perusahaan teknologi yang melibatkan cloud computing dan pemetaan wilayah, kata Sedran.

“Butuh lima tahun lagi untuk mengembangkan teknologi untuk mencapai tingkat otonomi yang lebih tinggi. Bisakah Anda melihat bisnis dengan biaya setinggi itu dalam periode ini? Itu terlalu mahal,” kata Sedran, dilansir Reuters, Kamis (7/3).

Sedran mengungkap, biaya untuk sensor, prosesor dan perangkat lunak pada kendaraan swakemudi bisa mencapai 56.460 dolar AS, sekira Rp804,2 juta.

“Kami ingin biaya teknologi sensor turun menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 euro,” kata Sedran. “Ini membutuhkan lompatan kuantum, misalnya terkait inovasi teknologi Lidar”.

Sedran saat ini berupaya mengevaluasi strategi swakemudi Volkswagen di bidang kendaraan komersial, meliputi layanan pengiriman jarak jauh yang menggunakan kendaraan van tanpa tanpa pengemudi.

Kendaraan itu akan berjalan seusai koordinat yang ditetapkan pada peta digital, melintasi rute-rute yang telah ditetapkan.

Di sisi lain, industri otomotif dan perusahaan teknologi Google dan Uber, menghabiskan dana besar untuk menciptakan kendaraan tanpa sopir. Di masa depan, strategi ini dinilai dapat menurunkan biaya layanan perjalanan dan pengiriman barang.

“Kompleksitas masalah ini seperti misi ke Mars,” kata Sedran.

Sebelumnya, Volkswagen dan Ford sedang menggelar pembicaraan untuk berkolaborasi menciptakan kendaraan swakemudi. Namun keduanya belum menemukan titik temu terkait nilai investai dan hal-hal yang akan dikembangkan di masa mendatang.

Baca juga: Mobil swakemudi Tesla tabrak robot jelang CES 2019

Baca juga: Startup pengiriman barang nirawak Nuro dapat kucuran dana Rp13 triliun

Baca juga: Amazon ikut berinvestasi teknologi swakemudi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Volvo luncurkan bus listrik tanpa pengemudi di Singapura

Jakarta (ANTARA) – Volvo dan universitas Singapura meluncurkan bus listrik tanpa pengemudi, Selasa (5/3), yang akan segera diujicoba di negara-kota tersebut, sebuah langkah terbaru menuju meluncurkan kendaraan tanpa pengemudi untuk transportasi umum.

Dilansir AFP, Rabu (6/3), Singapura yang berteknologi tinggi telah menjadi tempat percobaan untuk teknologi teknologi tanpa pengemudi dan taksi tanpa pengemudi pertama di dunia yang mulai beroperasi dalam uji publik terbatas di negara itu pada 2016.

Produsen otomotif Swedia Volvo Buses dan mitra lokal Nanyang Technological University (NTU) meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai bus listrik otonom berukuran standar dan mengatakan kendaraan itu akan segera diuji coba di kampus universitas yang luas.

Data dari uji coba akan digunakan untuk memperbarui teknologi sebelum bus tanpa pengemudi itu diuji di jalan umum, kata Volvo dan NTU dalam sebuah pernyataan.

Presiden Volvo Buses Hakan Agnevall mengatakan kendaraan itu “merupakan langkah penting menuju visi kami untuk kota yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih cerdas”.

Kendaraan ini memiliki panjang 12 meter yang bisa mengangkut kapasitas hampir 80 penumpang.

Bus listrik menggunakan energi 80 persen lebih sedikit daripada bus diesel dengan ukuran yang sama dan dilengkapi dengan sensor dan kontrol navigasi yang dikelola oleh sistem kecerdasan buatan.

Baca juga: Volvo Polestar 2 digadang-gadang bakal saingi Tesla Model 3

Baca juga: Volvo pertahankan pusat ekspor di China

Baca juga: Volvo 360c, mobil swakemudi bak kabin jet pribadi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Tesla umumkan waktu peluncuran crossover listrik Model Y

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan teknologi Amerika Serikat, Tesla, berencana meluncurkan kendaraan “crossover” listrik yang akan dinamai Model Y pada 14 Maret, yang akan berukuran lebih besar dan lebih mahal ketimbang Tesla Model 3, kata Elon Musk dilansir AFP, Selasa.

Musk mencuit di Twitter bahwa Tesla Model Y yang sudah dibahas dalam beberapa bulan belakangan itu, akan dirilis di sebuah studio desain di Los Angeles.

Berita peluncuran itu muncul tak lama setelah Tesla mengumumkan harga dasar Model 3 senilai 35.000 dolar AS (Rp495,2 juta) — varian mobil listrik dengan harga terjangkau — yang dijanjikan akan dikirimkan kepada konsumen dalam satu bulan ke depan.

Musk memastikan bahwa harga Model Y lebih mahal dari Model 3.

“Model Y, menjadi SUV, sekitar 10 persen lebih besar dari Model 3, jadi biayanya sekitar 10 persen lebih tinggi dan memiliki jangkauan yang lebih pendek untuk baterai yang sama,” kata Musk.

Hadirnya kendaraan baru itu menunjukkan bahwa Tesla dapat menangani hambatan produksi pada Model 3. Dalam pengumuman pekan lalu, Tesla juga mengindikasikan akan menutup ruang pamer dan menjual semua mobilnya secara online.

Baca juga: Showroom Tesla di Inggris kebakaran jelang peluncuran sedan Model 3

Baca juga: Tesla Model 3 berharga 35.000 dolar sekarang tersedia

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai bentuk konsorsium global bangun SPBU hidrogen

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co mengatakan telah membentuk konsorsium dengan lima perusahaan global untuk mengembangkan standar pengisian hidrogen untuk kendaraan listrik dan hidrogen (Fuel Cell Electric Vehicles).

“Pekan lalu, Hyundai telah menandatangani perjanjian awal dengan pemasok gas industri Prancis, Air Liquide, perusahaan fasilitas pengisian hidrogen Norwegia Nel. Pembuat truk hidrogen Nikola Corp, perusahaan minyak dan gas yang berbasis di Belanda, Royal Dutch Shell Plc, dan Toyota Motor Corp,” kata Hyundai sebagaimana dilaporkan Yonhap, dikutip Selasa.

Upaya bersama ini bertujuan untuk menciptakan teknologi pengisian daya yang diterima secara universal untuk bus dan truk yang menggunakan bahan bakar hidrogen.

Keenam perusahaan konsorsium tersebut akan berencana untuk mengembangkan komponen-komponen utama untuk fasilitas pengisian FCEV dan teknologi pengisian 700-bar dengan tekanan tinggi yang diperlukan untuk kendaraan komersial.

Baca juga: Hyundai akan terapkan kontrol mobil via smartphone

Baca juga: Hyundai dan Kia tarik 534.000 kendaraan karena risiko kebakaran mesin

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Pembuat mobil Jerman siapkan investasi besar untuk mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Ketua asosiasi industri mobil Jerman (VDA) jelang Geneva Motor Show mengatakan bahwa industri mobil di negara itu akan menginvestasikan hampir 60 miliar euro (setara dengan Rp963 triliun) selama tiga tahun ke depan untuk mobil listrik dan kendaraan otonom.

“Kami akan menginvestasikan lebih dari 40 miliar euro dalam mobilitas listrik selama tiga tahun ke depan, dan 18 miliar euro lainnya akan diinvestasikan dalam digitalisasi dan kemudi otomotis serta terhubung,” kata presiden VDA, Bernhard Mattes, dilaporkan Reuters, dikutip Minggu.

“Kisaran model mobil listrik dari pabrikan Jerman nantinya akan berlipat tiga kali lebih banyak, yaitu menjadi sekitar 100 pada periode tersebut,” tambahnya.

Baca juga: Volkswagen gelontorkan investasi Rp734 triliun demi mobil listrik

Geneva International Motor Show, tempat pabrikan memamerkan model dan konsep terbaru mereka, berlangsung dari 7 hingga 17 Maret.

“Peningkatan mobilitas listrik akan datang di Eropa. Tanpa itu, target CO2 UE tidak dapat tercapai pada tahun 2030,” tambahnya, menyerukan apa yang disebutnya kondisi peraturan yang sesuai di seluruh Eropa.

Jerman, bersama-sama dengan beberapa ekonomi besar Eropa lainnya, diatur untuk memiliki pangsa kendaraan listrik yang jauh lebih tinggi di antara registrasi mobil baru dari rata-rata di Uni Eropa, katanya.

Infrastruktur pengisian untuk mobil listrik harus diperluas dan insentif ditawarkan kepada pembeli mobil elektronik.

Baca juga: Volvo Polestar 2 digadang-gadang bakal saingi Tesla Model 3

Baca juga: Volkswagen bisa bikin 15 juta mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Volvo Polestar 2 digadang-gadang bakal saingi Tesla Model 3

Jenama otomotif Swedia, Volvo Cars, meluncurkan kendaraan listrik pertamanya Polestar 2 pada Rabu (27/2), yang digadang-gadang akan menjadi kompetitor sedan berpenggerak listrik asal Amerika Serikat Tesla Model 3.

Volvo Polestar 2 dan Tesla Model 3 punya kesamaan dalam menawarkan harga jual yang lebih terjangkau ketimbang mobil listrik buatan pabrikan otomotif lain. Keduanya berupaya merebut pelanggan dengan jumlah besar sehingga berani menawarkan produk dengan harga yang lebih miring.

Polestar hadir saat Tesla menggenjot produksi Model 3 untuk memenuhi pasar Eropa dan China, yang didukung adanya subsisi untuk kepemilikan mobil ramah lingkungan.
  Volvo Polestar 2 (Polestar Media)

Pimpinan Polestar, Thomas Ingenlath mengatakan kepada Reuters, menargetkan penjualan 50ribu unit Polestar 2 dalam 2-3 tahun setelah pengiriman pertama yang di mulai pada paruh pertama 2020.

Kendati demikian, kapasitas produksi pabrik perusahaan itu akan ditentukan berdasarkan kondisi pasar, atau seberapa banyak permintaan yang datang untuk mobil listrik itu.

“Jika pasar berkembang dengan baik, saya tidak berpikir volume produksi akan menjadi batasan. Ini lebih tergantung pada bagaimana mobil ini menggema di pasar, bagaimana pasar berkembang dan bagaimana tarif berkembang,” katanya, dilansir Reuters, Rabu (27/2).

Raksasa otomotif Jerman, termasuk Volkswagen, Mercedes-Benz hingga BMW akan memulai pengiriman mobil listrik kelas mewah, setelah diperkenalkan pada tahun lalu.

Polestar 2 merupakan kendaraan pertama dari lima mobil listrik yang dijanjikan Volvo Cars. Mobil itu tersedia secara online untuk pasar China, Amerika Serikat dan Kanada, serta enam negara di Eropa.

Baca juga: Volvo kenalkan mobil segala musim

Baca juga: Tesla dapat lampu hijau kirimkan Model 3 ke Eropa

Baca juga: Tesla desak pembebasan tarif untuk “otak mobil” buatan China

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Suzuki Wagon R listrik bakal dilengkapi sistem pengisian daya cepat

Produsen mobil Maruti Suzuki akan memasang opsi pengisian daya cepat arus AC dan DC untuk Suzuki Wagon R versi berpenggerak listrik yang akan dirilis pada 2020.

Dilansir Economic Times, Selasa (26/2), Suzuki Wagon R listrik akan dijual dengan rentang harga Rp137,6 juta hingga Rp196,9 juta untuk pasar India.

Menurut berbagai laporan, Wagon R versi listrik memiliki dua colokan untuk pengisian daya, untuk arus listrik AC berada di depan dan socket untuk arus DC berada di belakang.

Pengisian cepat yang menggunakan arus listrik direct current (DC) memungkinkan baterai mobil itu terisi daya 80 persen, selama satu jam charging.

Sedangkan pengisian daya menggunakan arus bolak-balik atau alternating current (AC) memerlukan 7 jam untuk pengisian hingga baterai penuh.

Suzuki Wagon R yang juga disebut Suzuki Karimun di Indonesia, untuk versi listriknya diklaim bisa menempuh 200km untuk sekali pengisian daya. 

Jarak tempuh sejauh itu dibutuhkan untuk menyiasati masih kurangnya infrastruktur pengisian daya di India. Kendati demikian, pihak Maruti Suzuki belum mengumumkan spesifikasi mobil dan baterai yang akan dipakai untuk Wagon R.

Maruti Suzuki telah menguji lebih dari 50 Wagon R listrik di bawah kondisi jalan dan cuaca yang berbeda. Model itu dibangun menggunakan platform baru Suzuki “Heartech”.

Untuk target konsumen, Maruti Suzuki tidak hanya mengincar pembeli pribadi melainkan akan menawarkan untuk armada taksi dan kendaraan operasional perusahaan.

Baca juga: Suzuki All New Ertiga diperkaya fitur baru

Baca juga: Suzuki luncurkan GSX-RR untuk MotoGP musim 2019

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Shell Eco-marathon Asia kembali digelar di Malaysia

Jakarta (ANTARA News) – Malaysia akan kembali menjadi tuan rumah ajang Shell Eco-marathon Asia (SEM Asia) 2019 yang merupakan bagian dari program global “Make the Future Live”.

Bertempat di Sirkuit Internasional Sepang, Kuala Lumpur, kompetisi tersebut akan digelar di tempat pertama kali SEM Asia diadakan pada 2010.

Ajang tahun ini sekaligus menandai 10 tahun diselenggarakannya kompetisi yang menantang para mahasiswa untuk mendesain dan merakit beragam mobil hemat energi dan berkompetisi di lintasan balap.

“Setiap tahun, kami menyaksikan standar performa tim yang semakin meningkat, begitu juga semangat dan kegigihan para mahasiswa peserta Shell Eco-marathon Asia,” kata Direktur Teknis Shell Eco-marathon Global Shanna Simmons seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Antara, Senin.

“Sirkuit Internasional Sepang di Malaysia adalah lokasi sempurna yang akan menjadi saksi lahirnya berbagai inovasi baru desain kendaraan. Kami menantikan kembali tahun yang menarik di ajang Shell Eco-marathon Asia,” tambahnya.

Di acara Shell Eco-marathon Mileage Challenge yang berlangsung pada 29 April hingga 2 Mei itu, lebih dari 100 tim dari seluruh kawasan di Asia dan Timur Tengah akan menguji mobil-mobil hemat energi rakitan mereka untuk menentukan siapa yang dapat menempuh jarak terjauh dengan konsumsi energi paling sedikit.

Pada 2018, ketika Singapura menjadi tuan rumah, tim pemenang berhasil melaju sejauh 2.341 kilometer–setara dengan jarak Jakarta-Bangkok, Thailand –dengan menggunakan satu liter bahan bakar.

Baca juga: Cara Shell ekspansi jaringan pengisian daya kendaraan listrik
Baca juga: Alasan mengapa supercar perlu pelumas khusus

Partisipasi Indonesia
 
Para tim mahasiswa juga memiliki kesempatan bertanding di ajang Shell Eco-marathon Driver’s World Championship.

Ajang yang pertama kali diperkenalkan di program Shell Eco-marathon 2016 ini, menantang tim-tim UrbanConcept terbaik untuk memadukan tingkat efisiensi energi kendaraan mereka dengan kecepatan dan keahlian pengemudi di lintasan balap guna menentukan siapa yang tercepat mencapai garis finis dengan konsumsi bahan bakar paling efisien.

Tim-tim pemenang akan berkesempatan bertanding di London melawan para penantang dari kawasan Eropa dan Amerika.

Tahun lalu, ITS Team 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berhasil menjadi pemenang Drivers’ World Championship. ITS Team 2 merupakan tim Asia kedua yang menjuarai ajang yang telah berlangsung selama tiga tahun tersebut.

Sementara itu, Bumi Siliwangi 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung menjadi tim dari Asia dan Indonesia pertama yang menjuarai Drivers’ World Championship 2016, dengan mengalahkan tim dari Amerika dan Eropa.  

Indonesia akan kembali berpartisipasi di Shell Eco-marathon Asia, dengan menghadirkan 28 mobil masa depan dari 22 universitas, yang akan bertanding untuk meraih gelar mobil paling hemat energi.

Indonesia berpartisipasi di kategori sumber energi hidrogen untuk pertama kali di Shell Eco-marathon Asia 2012. 

Pada SEM Asia tahun ini, Bumi Siliwangi I dari Universitas Pendidikan Indonesia dan ITS Team5 akan mewakili Indonesia di kategori UrbanConcept.

“Seiring dengan perkembangan transisi energi, kami harus terus meningkatkan kualitas bahan bakar dan pelumas Shell untuk memastikan tercapainya efisiensi maksimum pada mesin konvensional. Dan seiring berjalannya waktu, berbagai bahan bakar baru akan semakin penting bagi Shell,” jelas Presiden Direktur dan Country Chairman Shell Indonesia Darwin Silalahi

“Melalui Shell Eco-marathon Asia, kami ingin mendorong ratusan anak muda Indonesia yang bertalenta untuk berperan besar dalam mencari inovasi baru untuk mendapatkan beragam solusi,” tuturnya.

Sebanyak 11 dari 28 kendaraan hemat energi yang dibawa oleh tim mahasiswa Indonesia berbahan bakar baterai listrik.

Sejak kemenangan Tim Bumi Siliwangi 4 di ajang Drivers’ World Championship pada 2016, melalui kendaraan bertenaga baterai listrik, Indonesia telah mencatat pertumbuhan penggunaan energi bertenaga baterai listrik di antara para tim yang berpartisipasi di Shell Eco-marathon Asia.

Generasi muda Indonesia merasa percaya diri dan memiliki ketertarikan dalam pengembangan kendaraan listrik. Hal ini merupakan aset berharga bagi Indonesia seiring dengan Keputusan Presiden tentang kendaraan listrik yang ditargetkan akan berlaku pada kuartal pertama 2019.

“Kami benar-benar bangga karena sejak ajang SEM Asia di tahun 2010, tim mahasiswa Indonesia telah memimpin kategori kendaraan mesin pembakaran dalam, dan telah mulai pula memimpin kategori kendaran listrik. Kami yakin pengalaman mereka di Shell Eco-marathon ini akan memberikan kontribusi pada peningkatan kapasitas dan mobilitas yang lebih cerdas dan lebih bersih di masa depan di Indonesia,” tambah Darwin.

Baca juga: Pelumas Shell diklaim cocok untuk kendaraan berat biodiesel
Baca juga: Mahasiswa UGM juara inovasi teknologi internasional
Baca juga: Tim Sapuangin dari ITS Team 2 Surabaya juara DWC di London

 

Pewarta: Monalisa
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Samsung SDI tampilkan baterai kendaraan listrik terbaru di NAIAS 2019

Jakarta, 14/1 (Antara) – Produsen baterai utama di Korea Selatan, Samsung SDI Co. mengatakan pada Senin akan memperkenalkan jajaran baterai terbaru untuk kendaraan listrik (EV) dan model hibrida dalam ajang North American International Auto Show (NAIAS) 2019 yang berlangsung di Detroit.

Dilansir Yonhap, Senin, unit pembuat baterai dari Samsung Electronics Co. itu akan memamerkan beragam sel, modul, dan paket baterai di NAIAS, yang berlangsung mulai 14 hingga 27 Januari di Detroit, Michigan.

Samsung SDI akan menghadirkan baterai berkapasitas tinggi dan cepat untuk kendaraan listrik dan kendaraan listrik hibrida plug-in (PHEVs) dengan tema “Charged for Auto 2.0” untuk menarik minat produsen mobil global yang mencari produk khusus untuk kendaraan listrik mereka.

Auto 2.0 sendiri merupakan konsep yang diperkenalkan oleh bank investasi Amerika Serikat Goldman Sachs pada tahun 2017, mengacu pada industri otomotif generasi berikutnya yang dipimpin oleh kendaraan listrik dan otonom, dikombinasikan dengan model bisnis baru untuk ekonomi berbagi.

Samsung SDI juga berencana mengungkap peta jalan bisnisnya untuk baterai solid-state, yang dianggap lebih aman daripada baterai lithium-ion yang dibuat dengan elektrolit cair dan memiliki potensi lebih besar untuk kepadatan energi yang lebih tinggi.

Perusahaan sebelumnya mengatakan berencana untuk membangun fasilitas manufaktur paket baterai volume tinggi senilai 62,7 juta dolar AS di Michigan, dan akan menjadi yang pertama pada jenisnya di Amerika Serikat.

Pasar global kendaraan listrik diperkirakan akan mencapai 22 juta unit pada tahun 2025, kenaikan tajam dari perkiraan pada tahun ini yakni 6,1 juta unit, menurut SNE Research, sebuah perusahaan riset pasar yang berfokus pada energi terbarukan.

Baca juga: SK Korea Selatan tingkatkan produksi 10 kali lipat pada 2022

Baca juga: Pendiri Blackwater guyurkan dana untuk berinvestasi logam baterai mobil

Baca juga: Pengembangan mobil listrik mesti selaras pembangunan infrastruktur

Baca juga: GM jual 200.000 kendaraan listrik di AS pada 2018, picu penghapusan kredit pajak

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2019

Cara Shell ekspansi jaringan pengisian daya kendaraan listrik

Jakarta (ANTARA News) – Shell membuka peluang untuk bermitra dengan produsen mobil guna memperluas jaringan pengisian daya kendaraan listrik, di luar jaringan pengisian bahan bakar minyak yang sudah mereka miliki, menurut pimpinan Shell dilansir Reuters, Jumat (1/2).

Untuk bersaing di sektor pengisian daya mobil listrik yang sedang berkembang, pekan ini Shell membeli penyedia pengisian daya AS, Greenlots, yang menjadi suplier untuk Volvo dan anak perusahaan Volkswagen di AS, serta beberapa fasilitas pengisian daya rumahan dalam jumlah yang tidak diungkapkan.

“Kami menyadari bahwa pelanggan tidak hanya perlu mengisi ulang di jaringan ritel, mereka mau mengeluarkan biaya di tempat kerja dan rumah, jadi kami pindah ke segmen ini,” wakil presiden eksekutif Shell New Energies, Mark Gainsborough, kepada Reuters.

Shell memulai kiprahnya dalam mobilitas listrik pada 2017 dengan mengakuisisi NewMotion, salah satu jaringan pengisian listrik terbesar di Eropa. Mereka juga meraih kesepakatan dengan perusahaan patungan IONITY yang melibatkan BMW, Daimler, Ford dan Volkswagen.

Badan Energi Internasional memperkirakan jumlah mobil listrik akan meningkat menjadi 125 juta pada 2030, sejalan dengan peningkatan kebutuhan alat pengisian daya listrik.

Saat ini tersebar 3 juta alat pengisi daya di rumah maupun kantor yang dijual pihak swasta. Sedangkan stasiun pengisian listrik umum berjumlah 430.000 unit, menurut data tahun 2017.

Gainsborough mengatakan bahwa bisnis pengisian daya mobil listrik hanya memiliki peluang pasar yang “kecil”, ditambah kurangnya investasi dan tantangan dari sistem energi terbarukan lainnya.

“Sulit untuk menentukan secara spesifik berapa banyak kami akan berinvestasi karena pasarnya sangat muda. Tetapi jika kami melihat mobil listrik berkembang dan berpeluang tumbuh lebih cepat, kami siap mengarahkan lebih banyak investasi ke dalamnya,” kata dia.

Shell juga berdiskusi dengan produsen kendaraan sebagai pelanggan potensial atau mitra dalam mengembangkan infrastruktur pengisian mobil listrik, kata Gainsborough

“Kami berbicara dengan semua produsen mobil… Mereka semua adalah pelanggan potensial dan mitra bagi kami… Ini adalah ruang di mana kami akan memiliki banyak kerja sama,” katanya.

“Sebagian besar sulit memiliki hubungan yang eksklusif, dan industri akan berkembang melalui kemitraan dan konsorsium yang melibatkan beberapa produsen untuk bekerja sama dalam mengembangkan sistem pengisian cepat,” kata dia.

Baca juga: Tambah empat jaringan, Shell sudah punya 94 SPBU di Indonesia

Baca juga: Pelumas Shell diklaim cocok untuk kendaraan berat biodiesel

Baca juga: Alasan mengapa supercar perlu pelumas khusus

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

VW akan sediakan penyimpanan baterai di 100 stasiun pengisian di Amerika

Jakarta (ANTARA News) – Unit Volkswagen AG Electrify America mengatakan pada Senin (4/2) WIB, bahwa mereka akan memasang (install) paket penyimpanan baterai Tesla Inc di lebih dari 100 stasiun pengisian daya di seluruh Amerika Serikat untuk menekan biaya bagi pengemudi yang mengisi kendaraan listriknya.

Pengguna listrik banyak dikenai biaya yang mahal dari utilitas di AS ketika mereka  harus menarik banyak energi dari jaringan ketika orang-orang mengisi daya kendaraan listrik sekaligus di satu stasiun.

Chief operating officer Electrify America Brendan Jones mengatakan jika Anda harus meneruskan biaya ke pelanggan di pasar yang sangat mahal, yaitu berkisar antara 70 dolar AS hingga 110 dolar AS atau sekitar Rp900 ribu hingga Rp1 juta, sebagai biaya kendaraan listrik, maka itu akan membebani konsumen.

“Jika kamu melakukan itu, jelas tidak ada yang akan membeli kendaraan listrik,” kata Brendan, dikuti dari laporan Reuters, Selasa.

Sistem baterai Tesla Powerpack menarik daya dari jaringan dan menyimpannya untuk digunakan selama jam sibuk guna menghindari atau mengurangi biaya pengisian daya baterai kendaraan listrik.

Electrify America akan memasang sebagian besar paket baterainya di wilayah Amerika Serikat di mana terdapat konsentrasi yang lebih tinggi dari pemilik kendaraan listrik, terutama di Pantai Barat dan Timur Laut.

Selama panggilan konferensi dengan analis minggu ini, Kepala Eksekutif Tesla Elon Musk mengatakan “penyimpanan stasioner” adalah peluang pertumbuhan bagi pembuat mobil.

“Saya berharap itu tumbuh, maksud saya, mungkin dua kali lebih cepat dari otomotif……untuk waktu yang lama,” kata Musk.

VW telah setuju untuk membelanjakan 2 miliar dolar AS secara nasional untuk infrastruktur mobil sebagai bagian dari perjanjian dengan regulator federal setelah mengakui kecurangan emisi diesel.

Kurangnya infrastruktur pengisian ulang EV dipandang sebagai penghalang utama untuk adopsi massal karena konsumen tetap khawatir atas jangkauan terbatas kendaraan listrik.

Pada Juni nanti, Electrify America akan memiliki 484 stasiun pengisian daya yang dibangun di seluruh Amerika. Perusahaan sedang mendiskusikan menggunakan lebih banyak paket penyimpanan baterai dengan regulator untuk putaran berikutnya dari investasi infrastruktur, kata perusahaan CTO Jones.

Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi biaya bagi konsumen, Electrify America akan memeriksa kemungkinan penjualan energi yang tersimpan untuk menurunkan biaya di stasiun pengisian.

Pembuat mobil global sedang merencanakan peningkatan 300 miliar dolar AS dalam pengeluaran untuk teknologi kendaraan listrik selama lima sampai 10 tahun ke depan, dengan hampir setengah dari uang yang ditargetkan di China, mempercepat transisi industri dari bahan bakar fosil dan mengalihkan sumber tenaga kendaraan ke baterai dan pemasok teknologi kendaraan listrik Asia.

Baca juga: Penjualan truk China meningkat di Januari
Baca juga: Subaru Amerika catatkan kenaikan penjualan Januari 2019
Baca juga: Romano Artioli jajal Chiron saat kunjungi pabrik Bugatti

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019

Tesla beli perusahaan baterai Maxwell Technologies

Jakarta (ANTARA News) – Perusahaan kendaraan listrik, Tesla, sepakat membeli perusahaan penyimpanan energi Maxwell Technologies senilai 218 juta dolar AS (sekira Rp3,04 triliun), dilansir Reuters, Selasa (5/2).

Hadirnya Maxwell akan membantu Tesla dalam menghasilkan baterai yang mampu menyimpan lebih banyak energi dan bertahan lebih lama, sekaligus menghemat biaya perusahaan untuk menyediakan komponen itu.

Tesla memang membutuhkan baterai dalam jumlah banyak, sejalan dengan peningkatan produksi sedan Model 3 yang menyasar segmen konsumen lebih luas.

Eksekutif Maxwell mengatakan kepada investor pada Januari lalu bahwa mereka telah mengembangkan dan mematenkan teknologi “elektroda kering” yang secara signifikan dapat meningkatkan daya jelajah kendaraan dan mengurangi biaya baterai.

Dalam sebuah presentasi, Maxwell berharap aliansi strategis itu akan fokus pada pengembangan teknologi baterai mobil listrik “dalam waktu enam bulan”.

Perusahaan juga membuat “ultra-capacitors” yang mampu mengeluarkan energi lebih cepat daripada baterai biasa.

Ultra-capacitors, mengombinasikan energi baterai dengan respons yang cepat sehingga dapat memperpanjang masa pakai baterai hingga dua kali lipat, menurut keterangan di laman Maxwell.

Pemilik Volvo, Geely Holding Group, pada tahun lalu mengumumkan kesepakatan dengan Maxwell. Mereka menggambarkan teknologi ultra-capacitor sebagai dorongan untuk memberikan “kekuatan tertinggi” pada mobil berjenis hybrid.

“Tesla membutuhkan manufaktur elektroda baterai dari Maxwell sebagai langkah yang tepat untuk menurunkan biaya baterai,” kata Craig Irwin, pengamat investasi dari Roth Capital Partners. 

“Pesaing yang sebenarnya sudah muncul sekarang, jadi Tesla harus bergerak cepat,” kata dia.

Selain itu, Maxwell juga dikenal memiliki pelanggan-pelanggan besar, yakni General Motors dan Lamborghini.

Baca juga: Musk lepas hak paten Tesla, jika digunakan untuk kepentingan dunia

Baca juga: Nio kompetitor Tesla di China kumpulkan Rp9 triliun dari obligasi

Baca juga: Kenapa mobil listrik mudah dijumpai di Hong Kong?

Baca juga: Tesla pangkas tenaga kerja sebanyak 7 persen

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Harley-Davidson serius garap skuter listrik

Jakarta (ANTARA News) – Harley-Davidson berencana menggarap sepeda motor listrik bermodel skuter, dengan harapan teknologi ramah lingkungan itu dapat menarik konsumen dari segmen usia yang lebih muda.

Pabrikan Amerika yang terkenal melalui produk sepeda motor ikonik berukuran besar dengan suara mesin yang menggelegar itu, mengalami penurunan penjualan dalam empat tahun terakhir, dilansir Daily Mail, Selasa (5/2).

Dua konsep kendaraan listrik itu diperkenalkan di X Games, sebuah acara snowboarding dan ski, di Colorado pada pekan lalu.

Rencana untuk menarik minat konsumen muda memang perlu didalami Harley. Menurut data terbaru, sekitar 46 persen dari pemakai Harley-Davidson berusia di atas 50 tahun, dan hanya 10 persen yang berusia 30-34 tahun.

Jika kendaraan model itu benar-benar dipasarkan, pemilik akan lebih dimudahkan karena baterai dapat di-charge di rumah.

Pada acara X Games, Harley menujukkan dua model. Yang pertama berdesain layaknya skuter, sedangkan satunya lagi lebih mirip sepeda gunung.

Juru bicara Harley mengatakan kedua model itu “meliputi powerplants” dan “mengusung emosi liar ke dalam masa depan” melalui “desain yang unik”.

Kendati demikian, pihak Harley belum mengumumkan rincian harga pada model itu.

Perusahaan dikabarkan telah menanamkan model 50 juta dolar AS demi mengembangkan teknologi listrik. Harley juga akan meluncurkan sepeda motor listrik LiveWire di Amerika Utara dan Eropa Barat pada tahun ini.

Purwarupa kendaraan itu bahkan sudah pernah ditunggangi Scarlett Johansson dalam film The Avengers: Age of Ultron.

Baca juga: Harley-Davidson perkenalkan dua motor listrik konsep

Baca juga: Harley-Davidson Indonesia umumkan harga sepeda motor baru

Baca juga: Harley Davidson dirikan pusat riset sepeda motor listrik

Pewarta:
Editor: Monalisa
Copyright © ANTARA 2019

Motor listrik Lincah dibekali dua baterai cegah panas

Jakarta (ANTARA News) – PT Fresindo (Lincah Group) memperkenalkan unit sepeda motor listrik bernama Lincah yang akan menggunakan dua baterai secara bergantian guna mencegah panas.

Sepeda motor bermodel skuter yang diperkenalkan dalam acara Masyarakat Konservasi & Efisiensi Energi Indonesia di BSD City, Tangerang, Rabu, diklaim akan lebih tahan lama karena mampu menghindari “overheat” yang menjadi tantangan terbesar produsen kendaraan listrik di negara tropis seperti Indonesia.

“Motor ini menggunakan dua baterai yang akan bekerja secara bergantian. Jika yang satu panas, maka baterai lainnya akan mengambil alih,” kata Kepala Engineering Lincah Group, Kristian Sutikno, dalam acara itu.

Kristian menjelaskan baterai-baterai yang diproduksi di luar negeri, umumnya diperuntukkan untuk kendaraan dengan situasi lalu lintas empat cuaca yang tidak terlalu panas.

Sedangkan di Indonesia dengan dua cuaca kemarau dan hujan, kata dia, baterai jenis itu belum teruji daya tahannya.

“Kami menggunakan dua baterai. Saat satu baterai digunakan maka satu yang lainnya akan diistirahatkan atau didinginkan,” katanya.

Ia mengklaim baterai yang akan digunakan adalah tipe lithium fospat (LiFePO4) 72 volt 28 AH (2016 WH), generasi anyar baterai lithium yang lebih hemat dan bertenaga dibandingkan model lithium biasa.

Kristian menjelaskan, motor listrik Lincah telah menggunakan 60 persen tingkat komponen dalam negeri (TKDN) meliputi desain, motor listrik, baterai, dan kontroler. Model ini sudah dirakit di Pusat Industri Kecil (PIK) Cakung, Jakarta Timur.

Adapun beberapa parts yang masih impor adalah shock absorber, panel display, dan beberapa komponen lainnya.

Sepeda motor listrik ini diharapkan bisa diproduksi sebanyak 10ribu unit dalam setahun, kendati hal itu tergantung minat pasar terhadap kendaraan ramah lingkungan ini.

Lincah yang telah dikembangkan sejak dua tahun lalu itu akan menjadi penantang sepeda motor listrik Gesits.

Baca juga: IIMS 2019 janjikan mobil listrik dan karya otomotif anak bangsa

Baca juga: DPR RI dorong China bantu kendaraan listrik nasional

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Hoaks seputar pengisian daya kendaraan listrik

Jakarta (ANTARA News) – Pabrikan otomotif dan teknologi di seluruh dunia tengah berlomba untuk menciptakan kendaraan ramah lingkungan, termasuk mobil listrik, yang dapat diterima secara masif oleh masyarakat.

Pasar Indonesia dengan penjualan mobil lebih dari 1,1 juta unit pada tahun 2019, juga mulai menatap era mobil listrik. Sejumlah pabrikan otomotif Jepang dan Eropa sudah memperkenalkan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia, mulai dari hybrid hingga berpenggerak listrik sepenuhnya.

Sayangnya, menurut Ketua Tim Kendaraan Listrik PLN Zainal Arifin, terdapat beberapa informasi tidak benar terkait mobil listrik. Berikut penjelasannya:

1. Dapat diisi daya dalam hitungan menit

Zainal Arifin mengatakan bahwa kendaraan listrik tidak dapat diisi dayanya hanya dalam beberapa menit. Ia menjelaskan, tidak semua kendaraan listrik membutuhkan pengisian bermodel “fast charger”.

Menurut Zainal, pengisian daya dengan power 3,3kw (di rumah) membutuhkan waktu 6-10 jam, 22kw (kantor dan tempat umum) sekira 1-4 jam, dan 50kw (fast charger) membutuhkan durasi antara 20 menit hingga 1 jam.

“Tidak mungkin nge-charge mobil listrik 2 menit,” kata Zainal Arifin dalam acara Masyarakat Konservasi & Efisiensi Energi Indonesia di BSD City, Tangerang, Rabu.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Global EV, sebesar 85 persen pengguna mobil listrik mengisi daya di rumah dengan power 3,3kw yang berdurasi 6-10 jam.

2. Bisa dicas menggunakan PV Solar Cell

Zainal Arifin menjelaskan bahwa teknologi yang ada saat ini belum memungkinkan untuk mengisi daya menggunakan sinar matahari melalui perangkat PV Solar.

Jika pun memang ada, kata dia, mungkin membutuhkan PV Solar dengan luas tertentu untuk dapat mengisi satu mobil listrik.

“Artinya masih jauh menuju ke sana. EV (electric vehicle) tidak bisa dicas pakai solar cell,” kata dia.

3. Tukar baterai

Swap battery atau menukar baterai mobil listrik dengan baterai lainnya dengan cara mencopotnya lalu memasang yang lain, belum memungkinkan untuk diterapkan pada saat ini.

Zainal mengatakan, saat ini hanya Taiwan yang masih menggunakan mekanisme swap baterai, sedangkan negara lain belum menerapkannya.

“Baterai bukan galon air. Untuk mobil belum ada hingga saat ini,” katanya. “Pergantian baterai yang masih jalan masih ada di Taiwan. Pernah ada di Israel, tapi sekarang sudah shutdown.”

4. Mendulang profit

Zainal menjelaskan bahwa bisnis pengisian mobil listrik belum mampu memberikan keuntungan yang signifikan.

“Banyak yang menilai bahwa charger EV itu menguntungkan, padahal tidak,” katanya.

Ia mengambil contoh perusahaan pengisian daya FastNed dari Belanda yang memiliki kontrak 15 tahun untuk menyediakan 201 stasiun pengisian daya.

Nyatanya perusahaan yang juga mendapat insentif dari pemerintah itu tetap membutuhkan setidaknya 16ribu mobil listrik yang mengisi daya secara rutin untuk balik modal.

“Operator EV belum ada yang profit. Sudah dikasih insentif. Mereka masih berjuang, misalnya FastNed dari Belanda,” katanya.

Baca juga: Kemenperin bidik Jepang investasi baterai kendaraan listrik

Baca juga: Pemerintah serius kembangkan Kendaraan listrik demi ketahanan energi

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Peluang besar mobil listrik berbasis baterai di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik, Satryo Soemantri Brodjonegoro, mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di segmen mobil listrik jika fokus pada jenis kendaraan berbasis baterai.

Satryo mengatakan, penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai mendukung kepentingan nasional karena Indonesia akan memiliki pabrik baterai di Morowali, Sulawesi Tengah. Sejumlah investor asing juga berniat membangun pabrik baterai di sana, sejalan dengan akselerasi pengembangan kendaraan listrik Tanah Air.

“Fokusnya pada listrik baterai. Kenapa? karena lewat teknologi itu Indonesia punya peluang bersaing dengan negara lain,” kata Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam acara Masyarakat Konservasi & Efisiensi Energi Indonesia di BSD City, Tangerang, Rabu.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung itu mengatakan, pemangku kepentingan dan pemerintah dapat mendukung pengembangan mobil listrik berbasis baterai, dengan mengundang investor lain untuk membangun produksinya di Tanah Air. 

Sebagai informasi, mobil listrik memiliki banyak jenis, mulai dari hybrid, PHEV, baterai, hingga fuel cell.

“Maka mobil listrik secara nasional itu yang menggunakan baterai, yang hibrid dan lainnya itu di luar ini,” katanya. “Ini mengutamakan kepentingan nasional.”

Baca juga: Kemenperin bidik Jepang investasi baterai kendaraan listrik

Terkait dengan percepatan kendaraan listrik, ia menyarankan agar ada investasi senilai Rp1 triliun untuk baterai sepeda motor listrik dengan kapasitas produksi 120ribu unit per tahun.

Sedangkan untuk baterai mobil, menurut dia, membutuhkan investasi hingga Rp5 triliun untuk produksi 60ribu unit baterai dalam setahun.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan pabrik baterai itu sudah siap beroperasi dalam 16 bulan ke depan. 

“Dalam 16 bulan, bahan baku baterai sudah ada di Indonesia,” kata Putu yang hadir mewakili Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto.

Ia memastikan, segala persiapan menuju produksi baterai mobil listrik sudah sangat dekat.

“Jadi kami sudah mengundang investasi untuk sel baterainya. Jadi kalau berjalan lancar, persiapan kita sudah sangat dekat,” pungkas dia.

Baca juga: Toyota-Panasonic dirikan perusahaan bersama garap baterai otomotif

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Harley-Davidson perkenalkan dua motor listrik konsep

Jakarta (ANTARA News) – Brand motor besar ikonik, Harley-Davidson, yang telah mewarnai industri sepeda motor dalam 116 tahun terakhir, memperkenalkan dua konsep sepeda motor barunya yang ditenagai listrik.

Dua sepeda motor listrik konsep ini hadir setelah sebelumnya Harley-Davidson mengumumkan motor besar listriknya, LiveWire, yang dibanderol dengan harga 29.799 dolar (hampir Rp420 juta).

Dua sepeda motor listrik konsep itu mengeksplorasi potensi mobilitas perkotaan masa depan yang mengadopsi kendaraan roda dua, selain upaya Harley-Davidson dalam memperluas pasar.
  Sepeda motor listrik konsep Harley-Davidson. (ANTARA/Harley-Davidson)

Sepeda motor listrik Harley itu dirancang memiliki kelincahan dan kemampuan manuver untuk pengalaman berkendara, serta kemudahan dalam penggunaan, menurut Harley-Davidson dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu.

Karena untuk pengguna perkotaan yang punya mobilitas tinggi, Harley merancang baterai untuk dua motor konsepnya itu, bisa dilepas, dan memungkinkan untuk dibawa ke ruang kantor atau untuk diisi daya di rumah.

Harley-Davidson tidak mengungkapkan kapan kedua sepeda motor listrik konsep yang ringan itu akan diproduksi secara masal, demikian laman Harley Davidson, Rabu.

Baca juga: Harley Davidson dirikan pusat riset sepeda motor listrik

Pewarta: Suryanto
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai bakal produksi 700.000 unit kendaraan hidrogen setahun

Jakarta (ANTARA News) – Produsen mobil Korea, Hyundai Motor Group, akan meningkatkan produksi kendaraan berbahan bakar hidrogen (fuel cell) menjadi 700.000 unit setahun pada 2030.

Hyundai juga akan menjajaki peluang bisnis baru untuk memasok sektor transportasi, pembangkit listrik, dan sistem penyimpanan energi lainnya pada masa mendatang, kata Hyundai Motor Group dalam pernyataan resminya, dikutip Minggu.

Hyundai awal tahun ini menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan masyarakat hidrogen dengan memanfaatkan teknologi sel bahan bakar, dengan mengumumkan FCEV Vision 2030.

Ketika diproduksi dari sumber terbarukan dan rendah karbon seperti energi matahari dan angin serta teknologi dan solusi penyimpanan penangkapan karbon (CCS), hidrogen memiliki nol emisi CO2.

Seperti dicatat oleh laporan McKinsey baru-baru ini, dalam skala, hidrogen dapat memenuhi 18 persen dari permintaan energi dunia. Dewan Hidrogen Dunia memprediksi permintaan tahunan untuk hidrogen akan meningkat sepuluh kali lipat pada tahun 2050, menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi.

Baca juga: Hyundai kembangkan airbag untuk tabrakan beruntun

Baca juga: Hyundai dan Samsung merajai peringkat loyalitas merek

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Kenapa mobil listrik mudah dijumpai di Hong Kong?

Hong Kong (ANTARA News) – Mobil-mobil listrik besutan pabrikan otomotif maupun perusahaan teknologi dunia, misalnya Tesla, BMW, Toyota, Honda, Renault, Volvo hingga Nissan, ternyata begitu mudah dijumpai di keramaian lalu lintas Hong Kong.

ANTARA yang mengunjungi Hong Kong pada 23-26 Januari 2019 mengamati bahwa mobil-mobil listrik itu dikemudikan dari berbagai kalangan usia, baik pria berpakaian setelan jas, anak muda, ibu rumah tangga membawa anaknya yang masih kecil, hingga kalangan lanjut usia pun ada yang mengemudi di balik setir mobil listrik.

Telsa Model S dan Model X, BMW i3, Renault Zoe dan Nissan Leaf pun mudah dijumpai di parkiran umum, berbaris di lampu merah, atau berhenti di depan toko-toko.

Seorang pemilik kendaraan listrik di kawasan Kowloon, Hong Kong, mengatakan harga bensin yang mahal — lebih dari 2 dolar AS per liter (sekira Rp29 ribu) — membuat mereka beralih memakai mobil berpenggerak listrik.

“Kami bisa isi daya di rumah. Harga bahan bakar di sini cukup mahal,” kata Peter Li, seorang warga yang mengisi daya listrik mobil Nissan Leaf di depan sebuah ruko di Kowloon, Jumat (25/1).

Mengacu data Global Petrol Prices yang diumumkan pada 21 Januari, harga bensin di Hong Kong memang mahal, mencapai 2,06 dolar AS per liter, melewati Islandia atau Norwegia seharga 1,7 – 1,8 dolar AS per liter.

Peter juga mengatakan, dengan menggunakan mobil listrik, setidaknya dapat menghemat pengeluaran untuk mobilitas sehari-hari karena ongkos menggunakan kendaraan pribadi di Hong Kong cukup tinggi, meliputi pajak, perawatan hingga ongkos parkir.

Sebagai informasi, biaya parkir setiap satu jam di Hong Kong mencapai 20-25 dolar Hong Kong (sekira Rp35ribu-Rp45 ribu). Sedangkan biaya parkir berlangganan selama sebulan mencapai 2.500 dolar Hong Kong atau Rp4,5 juta.
  Mobil listrik Tesla Model S terparkir di sisi jalan kota Hong Kong, Jumat (25/1). (ANTARA News/Alviansyah P)

Faktor lain yang membuat mobil listrik dilirik konsumen Hong Kong adalah insentif pajak yang menggiurkan, mencapai 97.500 dolar Hong Kong (Rp174,7 juta), untuk registrasi kendaraan pertama.

“FRT (first registration tax) untuk mobil listrik pribadi akan terus dibebaskan hingga 97.500 dolar dari 1 April 2018 hingga 31 Maret 2021, seperti saat ini,” demikian dikutip dari laman Departemen Perlindungan Lingkungan Pemerintah Hong Kong.

Sedangkan pajak yang dikenakan untuk kendaraan dengan mesin bakar konvensional bisa mencapai 250 ribu dolar.

Dilansir Hong Kong Free Press yang mengutip data penjualan pada 2016, penjualan Tesla di negara itu mencapai 6.000 unit, melampaui di Inggris sebanyak 2.000 unit dan Kanada 1.800 unit.

Besarnya insetif pajak membuat penjualan Tesla laris manis di negara yang sudah memiliki sistem transportasi yang mapan, mulai dari kereta api, bus, trem, taksi hingga feri, kata Hong Kong Free Press.

Kebijakan untuk kendaraan pribadi pun sejalan dengan armada transportasi umum, misalnya taksi, yang sudah menggunakan mobil-mobil bermesin hybrid.

South China Morning Post pada Jumat (25/1) mewartakan bahwa Crown Motors — distributor tunggal taksi Toyota di Hong Kong — telah meluncurkan Comfort Hybrid, yang secara bertahap akan menggantikan sebanyak 18.163 unit taksi Toyota Crown berbahan bakar gas LPG.
  Mobil listrik Tesla Model X di jalanan kota Hong Kong, Jumat (25/1). (ANTARA News/Alviansyah P)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Toyota-Panasonic dirikan perusahaan bersama garap baterai otomotif

Toyota City/Osaka (ANTARA News) – Toyota Motor Corporation dan Panasonic Corporation pada Selasa mengumumkan kontrak terintegrasi bisnis dan usaha bersama dalam mendirikan perusahaan baru yang bergerak di bidang baterai prismatik otomotif.

“Toyota dan Panasonic akan membangun usaha fora patungan (menunggu persetujuan dari otoritas hukum di negara dan wilayah yang bersangkutan) pada akhir tahun 2020,” demikian keterangan tertulis Toyota terkait kesepakatan dengan Panasonic, Selasa.

Rasio partisipasi ekuitas dalam usaha patungan itu disimpulkan bahwa Toyota memiliki 51 persen dan 49 persen untuk Panasonic.

Ruang lingkup operasi bisnis perusahaan itu mencakup penelitian, pengembangan, teknik produksi, manufaktur, pengadaan, penerimaan pesanan, dan manajemen yang terkait dengan baterai lithium-ion otomotif, baterai solid-state, dan baterai generasi mendatang.

Toyota akan mentransfer peralatan dan personel ke perusahaan patungan di bidang pengembangan dan teknik produksi yang terkait dengan sel baterai. 

Sedangkan Panasonic mengirimkan peralatan, aset lain, personel, dan barang-barang lainnya ke perusahaan patungan di bidang pengembangan, teknik produksi, manufaktur (pada pabrik Jepang dan di China), pengadaan, tanda terima pesanan, dan fungsi manajemen terkait bisnis baterai otomotif.

“Jumlah total karyawan dari kedua perusahaan yang terkait dengan operasi yang dapat ditransfer ke perusahaan patungan adalah 3.500 orang (pada akhir Desember 2018),” sambung pernyataan itu.

Pada prinsipnya, hasil akhir berupa produk dari perusahaan patungan itu akan dijual ke berbagai produsen mobil melalui Panasonic.

“Selain perubahan dalam kebutuhan konsumen untuk mobil, yang dibuktikan dengan pergeseran ke arah kendaraan terhubung, otonom, dan layanan berbagi mobil, dunia otomotif juga diminta membantu menemukan solusi atas masalah yang terkait pemanasan global, sumber daya, dan energi,” kata Toyota.

“Karena elektrifikasi kendaraan berakselerasi ke arah penyelesaian masalah lingkungan seperti itu, baterai adalah elemen yang paling penting,” demikian pernyataan itu.

Baca juga: Tesla hingga GS Yuasa, belasan pabrik berlomba produksi baterai EV di Eropa
Baca juga: Toyota akan buat mobil listrik di pabrik China
 

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

LG dan GS Caltex bangun stasiun bahan bakar hybrid

Jakarta (ANTARA News) – Berdasarkan perjanjian kerja sama barunya, LG Electronic mengatakan bahwa pemilik kendaraan listrik (EV) di Korea Selatan akan bisa mengisi daya baterai kendaraannya di stasiun pengisian bahan bakar yang dikelola GS Caltex Corp.

Dikutip dari Yonhap, Selasa, GS Caltex, operator pompa bensin nomor 2 di Korea Selatan, menandatangani nota kesepahaman dengan LG untuk meluncurkan stasiun pengisian bahan bakar hybrid yang menggabungkan pompa bahan bakar tradisional dan infrastruktur pengisian EV, kata LG dalam pernyataan persnya.

LG Electronics akan menyediakan charger cepat 350 kilowatt untuk EV dan memasang signage digital berbasis kecerdasan buatan untuk memeriksa kondisi EV saat mengisi daya dan merekomendasikan layanan perbaikan yang disesuaikan.

LG mengatakan akan mengeksplorasi cara untuk menerapkan sistem pengisian robot yang dikendalikan dan stasiun pengisian nirkabel di masa depan.

“Stasiun konvergensi energi-mobilitas akan menjadi pusat pengisian, perbaikan dan layanan kenyamanan untuk kendaraan listrik,” kata kepala pejabat bidang teknologi LG, Park Il-pyeong, di kampus R&D Seocho perusahaan di Seoul.

GS Caltex berencana untuk membuka stasiun hybrid pertama di pusat kota Seoul pada paruh kedua tahun ini dan memperluas layanan di kota-kota besar lainnya sesudahnya.

Baca juga: MPV bekas paling laris di OLX selama 2018
Baca juga: Kolaborasi OLX dan OtoSpector hadirkan inspeksi mobil bekas
Baca juga: Ioniq Hybrid “facelift” meluncur di Korea Selatan

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019

Tesla dapat lampu hijau kirimkan Model 3 ke Eropa

San Francisco (ANTARA News) – Produsen mobil listrik Amerika Serikat, Tesla, mendapat lampu hijau untuk mulai mengirimkan sedan listrik Model 3 kepada seluruh konsumen di Eropa, menurut otoritas kendaraan Belanda RDW.

Pengiriman itu harus dimulai pada bulan Februari dan — seperti yang terjadi di AS — penjualan pertama di Eropa dikhususkan untuk varian Tesla yang mengusung baterai berdaya jelajah tinggi (baterai long range Model 3), menurut Tesla dilansir Bloomberg, Selasa.

Memulai pengiriman sedan listrik Model 3 di Eropa merupakan prioritas utama bagi CEO Tesla Elon Musk. 

Baca juga: Tesla juga kena imbas “recall” Takata

Dia menunjuk penjualan sedan di Eropa dan China sebagai alasan utama di balik sikapnya yang tidak cemas terkait potensi penurunan penjualan yang disebabkan beban pajak dari pemerintah AS.

Perusahaan juga mengatakan melalui surat kepada pemegang saham bahwa,”Pasar sedan premium ukuran menengah di Eropa dua kali lebih besar dari segmen yang sama di AS.”

Baca juga: Elon Musk: Tesla mulai pembangunan pabrik di Shanghai

Pada awal tahun ini, Elon Musk mengatakan Tesla serius membangun pabrik di Shanghai, dengan harapan dapat lebih mudah menjangkau konsumen di China, terlepas dari perang dagang antara China dan AS.

Pada Juli lalu, Tesla mengumumkan rencana terbesar untuk pasar luar negeri, yaitu mendirikan pabrik berkapasitas produksi 500.000 unit per tahun, yang akan meningkatkan penjualan mereka di China sebagai pasar mobil terbesar dunia.

Baca juga: Tesla pangkas tenaga kerja sebanyak 7 persen

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Bajaj versi listrik meluncur tahun depan

New Delhi (ANTARA News) – Perusahaan otomotif India, Bajaj Auto, berencana masuk ke segmen kendaraan listrik pada tahun depan, kata Direktur Pelaksana Bajaj, Rajiv Bajaj, pada Senin (21/1) dilansir kantor berita Press Trust India.

Model kendaraan listrik yang akan diluncurkan pun cukup unik, antara lain Bajai Qute versi tiga roda dan empat roda (quadricycle). Qute quadricycle bermesin konvensional akan diluncurkan pada Maret 2019 di India.

Perusahaan berbasis di Pune itu juga berencana memboyong merek sepeda motor milik KTM, Husqvarna, untuk masuk ke pasar India pada tahun ini.

“Sangat banyak Qute listrik dan roda tiga listrik dalam agenda kami … Sejalan dengan BS-VI (aturan emisi di India), yang mulai berlaku sejak April tahun depan, sama seperti kami membuat kendaraan bensin dan diesel yang mematuhi BS-VI, itu adalah tujuan kami untuk memperkenalkan kendaraan listrik yaitu Qute dan versi roda tiga,” kata Rajiv Bajaj.

Ia menambahkan bahwa Bajaj sedang mencari waktu peluncuran yang tepat karena “ketika Anda berurusan dengan teknologi baru, semuanya menjadi tidak pasti”.

Rajiv Bajaj juga menekankan pentingnya transisi dari mesin konvensional menuju kendaraan listrik.

“Ini yang perlu kami lakukan, tidak hanya untuk India tetapi juga untuk banyak pasar yang lain. Masalah polusi, kemacetan dan kebutuhan kendaraan listrik, mobilitas terbagi dan terhubung ada di sana juga,” katanya.

Bajaj Auto mulai mengekspor Qute ke 20 negara, namun belum mengaspal di India karena masalah regulasi.

Kendati demikian, Bajaj unggul di beberapa negara tetangga India, antara lain memiliki 70 persen pangsa pasar di Bangladesh dan sekitar 50 persen di Nepal dan Sri Lanka.

Baca juga: Desember 2018 penjualan Bajaj Auto naik 18 persen

Baca juga: Bajaj jelajahi London – India

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Infiniti incar konsumen milenial lewat mobil hybrid-listrik

Jakarta (ANTARA News) – Infiniti berencana menghadirkan kendaraan hybrid dan listrik untuk seluruh lini produknya mulai tahun 2025 guna menggaet konsumen dari kalangan muda atau milenial.

Presiden baru Infiniti, Christian Meunier, mengatakan langkah itu diambil agar bisa bersaing dengan pabrikan utama di segmen mobil mewah, terutama merek-merek asal Jerman.

“Infiniti, karena banyak alasan, telah mencari jalan selama bertahun-tahun dan mencoba melakukan banyak hal untuk bersaing langsung dengan semuanya — seluruh merek premium, termasuk dari Jerman,” kata pimpinan kelahiran Paris itu, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, Sabtu (19/1).

Sedan Infiniti Q60 dan Q70 memang berjuang untuk merebut hari pelanggan, bersaing dengan merek-merek besar antara lain BMW, Mercedes, dan Porsche yang memiliki penjualan lebih baik ketimbang Infiniti.

Pakar otomotif dari Cox Automotive, Charles Chesbrough, mengatakan bahwa Infiniti memang mampu merebut kepercayaan konsumen. Ia mengatakan, ketika konsumen diberi pilihan antara mobil mewah bekas atau Infiniti, konsumen justru lebih memilih mobil bekas.

“Mobil bekas menarik minat beberapa konsumen yang berpotensi membeli kendaraan baru,” kata Chesbrough di Detroit, menambahkan, “konsumen ingin berhemat dan mereka ingin mendapatkan produk yang benar-benar mereka inginkan.”

Di sisi lain, Meunier menyatakan bahwa Infiniti tidak mengincar posisi sebagai pemain utama, melainkan hanya sebagai pesaing.

“Kami tidak ingin menjadi merek nomor 1, kami ingin menjadi merek yang menantang nomor 1,” katanya. 

“Kami tidak bisa menjadi mobil untuk semua orang. Kami tidak membutuhkan 50 model yang berbeda seperti pabrikan Jerman. Kami cuma membutuhkan satu yang bisa memberikan keunggulan di pasar,” katanya.

Meunier pun memastikan bahwa mobil listrik merupakan langkah yang tepat untuk Infiniti, yang telah membuat sejumlah mobil konsep, termasuk Prototype 10 dan QX yang dipamerkan di macet di Detroit. 
Namun upaya Infiniti tidak akan mudah karena persaingan yang ketat di segmen itu dengan hadirnya Tesla (Model S dan Model X), Audi (E-Tron), Jaguar (I-Pace) dan Porsche (Taycan).

Baca juga: Infiniti Motor umumkan presiden barunya

Baca juga: Infiniti ungkap crossover listrik di NAIAS bulan depan

Baca juga: Infiniti pamer desain mobil listrik Prototype 10

Baca juga: Nissan tunjukkan revolusi mesin bensin lewat Infiniti QX50

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

VW akan perluas program tukar tambah di Jerman

Jakarta (ANTARA News) – Juru bicara dari pembuat mobil Jerman, Volkswagen, mengatakan pada Jumat (18/1) waktu setempat bahwa Volkswagen sedang mempertimbangkan untuk memperluas program insentif penjualan bagi pemilik mobil lama brand ini di seluruh Jerman, selain di 15 kota yang dianggap paling tercemar oleh polusi.

Dilansir Reuters, Sabtu, di bawah tekanan untuk mencegah larangan kendaraan diesel beroperasi di kota-kota utama, Volkswagen menawarkan insentif tukar tambah guna mendorong pelanggan untuk menukar kendaraan diesel lama mereka dengan mobil baru yang lebih ramah lingkungan dan modern.

Seorang juru bicara Volkswagen mengatakan bahwa komite dewan direksi yang bertanggung jawab sedang memeriksa insentif trade-in nasional untuk kendaraan diesel Euro 4 atau Euro 5 untuk periode waktu terbatas dan diperkirakan akan membuat keputusan awal pekan depan.

Volkswagen mengatakan pada bulan Oktober akan menawarkan insentif kepada pembeli mobil penumpang bermerek VW jika mereka setuju untuk menukarkan mobil bermesin beremisi Euro 1 ke Euro 4.

Insentif tukar tambah saat ini dibatasi hanya di 15 kota yang paling tercemar di Jerman.

Harian Jerman Bild pertama kali melaporkan bahwa VW sedang mempertimbangkan untuk memperluas insentif penjualan ke seluruh Jerman. Surat kabar itu mengatakan rincian masih dikerjakan tetapi perusahaan akan membayar hingga 9.000 euro atau  10.200 dolar AS per unit mobil seperti yang direncanakan sebelumnya.

Pembuat mobil Jerman telah sepakat untuk mengeluarkan hingga 3.000 euro atau 3.431 dolar AS per kendaraan untuk meningkatkan perangkat lunak manajemen mesin untuk membuat sistem penyaringan knalpot lebih efektif, tetapi para pakar lingkungan mengatakan langkah-langkah ini tidak cukup.

Baca juga: Aliansi Ford-VW diumumkan pekan depan
Baca juga: 7 mobil diprediksi meredup di AS pada 2019
Baca juga: Negara bagian Jerman akan tuntut VW atas skandal diesel

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019

Ioniq Hybrid “facelift” meluncur di Korea Selatan

Jakarta (ANTARA News) – Hyundai Motor pada Jumat, meluncurkan versi penyegaran (facelift) untuk kendaraan ramah lingkungan Ioniq hybrid gasoline dan plug-in hybrid yang akan dipasarkan secara domestik guna menggenjot angka penjualan.

Dilansir Yonhap, Hyundai menyematkan fitur keselamatan pada Ioniq terbaru, meliputi collision assist serta lane departure warning system, yang akan menjadi fitur standar.

Kendati demikian, tampilan eksterior dan interior Ioniq juga mendapat sentuhan perubahan, dengan adanya grille, lampu depan dan belakang model anyar yang membuat Ioniq terlihat lebih segar.

Bagian dashboard juga diubah dengan hadirnya konsol tengah lebih besar dan tata letak tombol-tombol yang dipindah.

Ioniq hybrid gasoline dijual sekira Rp278 juta-Rp340jutaan, sedangkan model plug-in hybrid akan lebih mahal.

Saat ini, seluruh model Ioniq tersedia di pasar domestik, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Baca juga: Hyundai dan Kia tarik 168.000 kendaraan di AS karena risiko kebakaran

Baca juga: Grab Singapura mulai gunakan mobil listrik Hyundai Kona

Baca juga: Hyundai perkenalkan Telluride dan Veloster N TCR di NAIAS 2019

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019

Pemerintah akselerasi pengembangan kendaraan listrik

Jakarta (ANTARA News) –  Pemerintah mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, salah satunya melakukan harmonisasi regulasi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan.

“Terkait fasilitas fiskal, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. Setelah disepakati dan sesuai arahan ratas, selanjutnya dikoordinasikan dengan Menko Perekonomian dan Kemaritiman untuk persiapan Perpresnya,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Kemudian, Menteri Keuangan akan berkonsultasi dengan Komisi XI DPR.

Menperin menyampaikan hal itu seusai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik di Kantor Presiden, Jakarta.

Menperin menjelaskan pengembangan kendaraan listrik sebagai salah satu komitmen pemerintah dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29 persen pada tahun 2030, sekaligus menjaga ketahanan energi, khususnya di sektor transportasi darat.

“Jadi, tren global untuk kendaraan masa depan adalah yang hemat energi dan ramah lingkungan,”  tuturnya. Selain itu, dapat mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

“Sesuai yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo, melalui kendaraan bermotor listrik dapat mengurangi pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM), serta mengurangi ketergantungan kita pada impor BBM yang berpotensi menghemat devisa kurang lebih Rp798 triliun,” ujar Menperin.

Ia menegaskan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyusun peta jalan untuk pengembangan industri otomotif nasional.

Salah satu fokusnya adalah memacu produksi kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), termasuk di dalamnya kendaraan listrik.

“Targetnya pada tahun 2025, populasi mobil listrik diperkirakan tembus 20 persen atau sekitar 400.000 unit dari 2 juta mobil yang diproduksi di dalam negeri,” ungkapnya.

Di samping itu, pada tahun 2025, juga dibidik sebanyak 2 juta unit untuk populasi motor listrik.

“Jadi, langkah strategis sudah disiapkan secara bertahap, sehingga kita bisa melompat untuk menuju produksi mobil atau sepeda motor listrik yang berdaya saing di pasar domestik maupun ekspor,” tuturnya.

Hal ini juga sejalan dengan implementasi program prioritas Making Indonesia 4.0.

Menperin menambahkan penyusunan Perpres sebagai payung hukum sedang diformulasikan terutama mengenai persyaratan yang akan menggunakan fasilitas insentif.

Dalam implementasinya nanti, pada tahap awal, diberlakukan dengan bea masuk nol persen dan penurunan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor listrik.

Menperin juga menilai, salah satu kunci pengembangan kendaraan listrik berada pada teknologi baterai. “Indonesia punya sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai, seperti dari nikel laterit yang merupakan material energi baru,” ujarnya.

Baca juga: “Mimpi” Luhut, Indonesia ekspor mobil listrik ke Australia dan Afrika

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019

Nissan Note terpopular di Jepang pada tahun lalu

Jakarta (ANTARA News) – Nissan Note adalah mobil yang paling diburu di Jepang selama 2018 lalu karena pelanggan menyukai powertrain e-Power yang ada di kendaraan itu, seperti halnya Nissan Serena yang juga menjadi minivan populer di negara tersebut. 1

“Teknologi Nissan memberi pelanggan kami pengalaman berkendara yang lebih aman, lebih menyenangkan, dan lebih nyaman,” kata Wakil Presiden Senior Nissan, Asako Hoshino, dikutip dalam laman resmi Nissan, Kamis.

Nissan telah menjual 136.324 Note mobil kompak di Jepang pada tahun yang 2018 lalu, melampaui peringkat penjualan kendaraan yang terdaftar. Peringkat tersebut tidak termasuk kendaraan mini dan merek asing.

Popularitas sistem e-POWER membantu Note menjadi model Nissan pertama yang meraih mahkota penjualan dalam setahun penuh. Sekitar 70 persen pelanggan Note memilih sistem ini.

Nissan telah menjual lebih dari 200.000 mobil Nissan Note dengan e-POWER sejak diperkenalkannya teknologi ini di Jepang pada November 2016. Sistem ini menampilkan drivetrain listrik dengan baterai yang diisi oleh mesin bensin.

Karena roda digerakkan semata-mata oleh motor listrik, model e-POWER menawarkan kelancaran, akselerasi instan dan kinerja tangkas yang sama dengan kendaraan listrik murni. Mesin bensin, yang hanya digunakan untuk mengisi baterai, beroperasi pada kecepatan optimal setiap saat untuk efisiensi bahan bakar maksimum.

“Kamu bisa berharap lebih banyak lagi di masa yang akan datang,” tambahnya.

Sistem e-POWER telah tersedia di Serena sejak Maret 2018. Nissan menjual 99.865 Serena pada 2018, menjadikannya minivan No. 1 di Jepang.

Baca juga: Carlos Ghosn demam tinggi, pemeriksaan lanjutan ditunda
Baca juga: Infiniti Motor umumkan presiden barunya
Baca juga: Nissan LEAF e+ jalani debut, hadir dengan powertrain baru

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019

Byton galang 500 juta dolar AS danai pertumbuhan mobil listrik

Jakarta (ANTARA News) – Pabrikan kendaraan listrik yang didanai China, Byton, berusaha mengumpulkan sedikitnya 500 juta dolar AS untuk membiayai pertumbuhan, nilai perusahaan yang hampir berusia tiga tahun itu diperkirakan lebih dari 4 miliar dolar AS, dua orang yang akrab dengan masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.

Dilansir Reuters, Selasa (8/1), rencana penggalangan dana terbaru datang ketika pemerintah China mempromosikan kendaraan energi baru, kategori yang terdiri dari mobil hybrid bertenaga baterai dan plug-in baterai-bensin, untuk membantu mengurangi polusi udara dan mendukung pengembangan teknologi tinggi.

Byton tertarik untuk mengajak investor asing, terutama dalam penggalangan dana terbaru dan hasilnya akan digunakan untuk membiayai produksi massal kendaraan SUV listrik premium pertamanya – Byton M-Byte serta untuk penelitian dan pengembangan, kata salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. 

Pabrikan kendaraan listrik Tesla Inc pada Senin (7/1) telah mendirikan pabrik di Shanghai, di mana mereka berencana untuk mulai memproduksi kendaraan listrik Model 3 pada akhir tahun, langkah pertama dalam lokalisasi produksi di pasar mobil terbesar di dunia.

Apa yang disebut Gigafactory adalah pabrik mobil pertama yang sepenuhnya milik asing di negara itu, sebuah cerminan dari pergeseran yang lebih luas di China untuk membuka pasar mobil, bahkan di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat.

Kepala eksekutif dan co-founder Byton, Carsten Breitfeld mengatakan kepada Automobilwoche Jerman pada Oktober tahun lalu bahwa perusahaan dapat meluncurkan penawaran umum perdana untuk mendanai ekspansi dan akan mencari putaran penggalangan dana tambahan dari investor swasta sebelum IPO.

Baca juga: Elon Musk: Tesla mulai pembangunan pabrik di Shanghai

Sudah didukung raksasa ritel China Suning dan pengembang properti dan penyedia layanan kesehatan yang berbasis di Hong Kong Fullshare Holdings, Byton awal tahun lalu memikat investor baru termasuk pembuat mobil milik negara FAW Group dan pemasok baterai Contemporary Amperex Technology Co senilai 500 juta dolar AS dalam putaran pendanaan Seri B.

Perusahaan sedang mengerjakan putaran penggalangan dana Seri C, kata juru bicara Byton, tetapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.

Perusahaan yang menjalankan kantor di China, Amerika Serikat dan Jerman, adalah salah satu dari beberapa startup kendaraan listrik yang sebagian besar didanai China, bertaruh pada manfaat produksi lokal untuk bersaing dengan Tesla dan raksasa otomotif lainnya.

Saingan lokalnya termasuk NIO Inc yang terdaftar di Nasdaq dan Xpeng Motors, yang didukung oleh Alibaba Group.

Baca juga: Mobil listrik Inggris Laureti bangun pabrik di India, diluncurkan 2021

Sementara pasar mobil China yang lebih luas telah mendingin, pasar NEV-nya (new energy vehicle/kendaraan energi baru) tumbuh dengan cepat.

Penjualan NEV naik 37,6 persen pada November dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, dan melonjak 68 persen menjadi 1,3 juta kendaraan pada Januari-November, asosiasi industri otomotif utama negara itu mengatakan bulan ini.

NIO Inc, yang mengumpulkan 1 miliar dolar AS di salah satu IPO AS terbesar tahun lalu oleh sebuah perusahaan China, mengatakan bulan lalu telah mengirimkan 9.726 kendaraan SUV (sport utility vehicle) listrik ES8 pada 15 Desember, hampir mencapai target mereka sendiri yakni 10.000 kendaraan pada akhir 2018.

Mantan eksekutif BMW dan Nissan Motor ikut mendirikan perusahaan mobil listrik di China yakni Future Mobility Corp (FMC), yang pada September 2017 menamakan mereknya “Byton”.

FMC, perusahaan induk, berencana untuk meluncurkan kendaraan di Amerika Serikat dan Eropa segera setelah memulai penjualan di dalam negeri pada tahun 2019.

FMC Juni lalu memesan ke pemasok Jerman Duerr untuk sebuah toko cat yang mampu menangani 150.000 mobil per tahun, di kota Nanjing, Cina timur, salah satu markas Byton.

Baca juga: Byton andalkan SUV listrik di LA Auto Show

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2019

Fiat Chrysler kian dekati penyelesaian masalah emisi diesel

Jakarta (ANTARA News) – Fiat Chrysler Automobiles kian mendekati penyelesaian terkait tuduhan Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang menyatakan bahwa produsen mobil Italia-Amerika itu telah menggunakan perangkat lunak ilegal yang membuat 104.000 unit kendaraan diesel di AS mencemari udara di luar batas hukum, seseorang menjelaskan terkait masalah itu pada Selasa (8/1).

Dilansir Reuters, Rabu, penyelesaian yang dapat diumumkan paling cepat pada minggu ini, diharapkan meliputi denda sipil yang signifikan serta dana perusahaan untuk mengganti kerugian akibat kelebihan emisi diesel, kata sumber itu, dan akan mencakup klaim dari Departemen Kehakiman, negara bagian AS dan pemilik kendaraan.

Perusahaan, yang menolak berkomentar pada Selasa, telah membantah melakukan kesalahan dan sebelumnya mengatakan bahwa merela tidak pernah ada upaya membuat perangkat lunak untuk menipu aturan emisi. 

Pada bulan Oktober, Fiat Chrysler menyisihkan 713 juta euro (815 juta dolar AS) untuk menutup biaya potensial yang terkait dengan kasus ini.

Reuters juga sebelumnya melaporkan bahwa Departemen Kehakiman AS mencari denda sipil “substansial” dari Fiat Chrysler setelah menggugat pada Mei 2017, menuduh perusahaan itu menggunakan perangkat lunak ilegal yang menyebabkan emisi berlebih pada 104.000 kendaraan diesel AS yang dijual sejak 2014.

Fiat Chrysler memenangkan persetujuan dari regulator AS pada Juli 2017 untuk menjual kendaraan diesel dengan perangkat lunak yang diperbarui. 

Departemen Kehakiman menolak memberikan komentar pada Selasa.

Regulator AS dan California meningkatkan pengawasan kendaraan diesel setelah Volkswagen AG mengakui telah menginstal perangkat lunak ilegal pada kendaraan di AS selama bertahun-tahun untuk menghindari standar emisi.

Volkswagen setuju membayar lebih dari 25 miliar dolar AS di Amerika Serikat untuk klaim dari pemilik, regulator lingkungan, negara bagian dan diler.

Regulator mengatakan kendaraan diesel Fiat Chrysler memiliki kontrol emisi yang tidak diungkapkan, yang memungkinkan kendaraan untuk mengeluarkan polusi berlebih selama mengemudi normal.

Reuters melaporkan pada bulan Februari bahwa tawaran penyelesaian yang dikirim ke pengacara Fiat Chrysler oleh Departemen Kehakiman pada Januari 2018 mengharuskan perusahaan untuk mengganti kerugian akibat polusi yang berlebihan dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kelebihan emisi di masa depan.

Perusahaan dan pengacara pemerintah telah berdebat selama berbulan-bulan karena besarnya hukuman, kata sumber tersebut.

Departemen Kehakiman melakukan penyelidikan kriminal terpisah yang sedang berlangsung mengenai kelebihan emisi. Komisi Sekuritas dan Bursa AS dan sekelompok jaksa agung negara bagian AS juga telah menyelidiki.

Selain itu, regulator AS telah menyelidiki emisi diesel pada kendaraan Daimler AG. Daimler mengatakan dalam pengarsipan keuangan bahwa pihaknya menghadapi investigasi yang sedang berlangsung oleh otoritas AS dan Jerman terkait emisi diesel berlebih yang pada akhirnya dapat menyebabkan hukuman dan penarikan yang signifikan.

Tidak seperti VW dan Daimler, Fiat Chrysler masih menjual kendaraan penumpang bertenaga diesel di Amerika Serikat dan berencana untuk menawarkan versi diesel dalam dua SUV Jeep tambahan pada tahun 2020.

Baca juga: Prancis selidiki kemungkinan Fiat curangi emisi diesel

Baca juga: Uji diesel Fiat dilaporkan tunjukkan tingkat emisi tak biasa

Baca juga: Tak hadiri pertemuan soal emisi, Fiat didamprat Menteri Transportasi Jerman
 

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2019

Rivian R1T, mobil listrik bermodel truk pickup

Plymouth (ANTARA News) – Jika Tesla menawarkan mobil listik bermodel sedan, kini muncul perusahaan kendaraan elektrik Rivian Automotive yang menyuguhkan mobil-mobil bermodel truk pickup.

Rivian memamerkan truk pickup listrik bernama R1T pada pameran otomotif Los Angeles pada Senin (26/11). Mereka optimistis kendaraan tipe komersial itu akan diterima baik konsumen di Amerika Serikat, dilansir Reuters, Selasa.

CEO Rivian berusia 35 tahun, RJ Scaringe, mengatakan bahwa permintaan untuk pickup listrik “tidak terlayani secara besar-besaran.”

Rivian akan menjual pickup R1T pada musim gugur 2020.

Baca juga: TNI AL jajaki penggunaan kendaraan tempur bertenaga listrik

Kendati demikian, Rivian bukanlah pabrikan pertama yang memproduksi pickup listrik karena sudah ada Workhorse Group Inc asal Cincinnati yang akan memproduksi truk listrik pada 2019.

Jika Workhorse akan menjual pickup listrik kepada kalangan terbatas, Rivian justru mengicar pasar berbeda yakni konsumen individual yang gemar berpergian, karena pickup itu diklaim bisa melaju sejauh 400 mil berkat penyimpanan daya pada tiga pack baterai.

“Apa yang kita bicarakan di sini adalah mobil yang tidak diarahkan dengan baik, tidak ditangani dengan baik, memiliki tingkat bahan bakar ekonomis yang sangat buruk,” kata Scaringe kepada wartawan di Michigan.

Rivian belum mengumumkan harga mobil listrik itu, tetapi Scaringe mengatakan akan mulai menjualnya di bawah harga 70.000 dolar AS (sekira Rp1,01 miliar) sebelum dikenakan pajak.

Adapun varian yang dipasangkan paket baterai terkuat akan dijual dengan harga 90.000 dolar AS (sekira Rp1,3 miliar).

Baca juga: Musk: Tesla mungkin tertarik garap van Sprinter bersama Mercy

  Rivian R1T (Rivian Official)

Ragu

Pejabat industri dan analis otomotif meragukan potensi mobil listrik bermodel pickup ini. Mereka tidak yakin model ini akan terjual dengan jumlah yang besar, kecuali bisa menawarkan daya jelajah yang melampaui mobil bermesin kovensional.

Rivian menawarkan daya angkut 1.760 pon (790 kilogram) dengan kekuatan untuk menarik beban 11.000 pon (5 ton) yang dianggap kurang sebanding dengan pickup populer di AS yakni Ford F-150 atau GMC Sierra.

“Sebuah hybrid lebih masuk akal,” kata Sam Fiorani pengamat otomotif dari Auto Forecast Solutions yang menilai pickup berpenggerak hybrid akan lebih baik ketimbang listrik sepenuhnya.

Baca juga: Di China, harga Tesla turun hingga 26 persen

Di sisi lain, CEO Tesla Elon Musk mengatakan kepada para investor pada Agustus bahwa pickup listrik “mungkin favorit saya secara pribadi untuk produk berikutnya”.

Ford Motor Co menjanjikan pickup F-150 versi hybrid pada 2020 dan mengisyaratkan model listrik sepenuhnya di masa depan.

Sampai saat ini sebagian besar pasar pickup di AS masih menggandakan model-model bermesin konvensional, misalnya Jeep Gladiator terbaru yang akan diluncurkan di Los Angeles.

Adapun Rivian menyasar konsumen yang sama dengan Jeep Gladiator, yakni kalangan pengguna rekreasi yang menggunakan mobil pickup untuk penunjang gaya hidup, misalnya mengangkut jet-ski, berkemah atau mengangkut motor offroad.

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018

Renault Samsung tawarkan lebih banyak Twizy untuk layanan berbagi mobil

Jakarta (ANTARA News) – Renault Samsung Motors Corp mengatakan akan menyediakan lebih banyak mobil listrik ultracompact Twizy ke layanan berbagi mobil (car-sharing) lokal, sebagai langkah untuk memperkuat posisi sebagai pembuat kendaraan listrik terdepan. 

Dilansir Yonhap pada Rabu, Renault Samsung secara bertahap akan memasok 45 model Twizy lainnya ke layanan berbagi mobil LH Happiness yang tersedia di 23 kompleks apartemen yang dibangun oleh Korea Land & Housing Corp (LH), perusahaan mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Renault Arkana diluncurkan di Moscow International Auto Show 2018

Baca juga: Renault Lodgy gagal dalam uji tabrakan Global NCAP

Pembuat mobil  telah menyediakan 45 model Twizyke 23 jaringan komplek apartemen milik LH sejak 2013, untuk membantu penghuni apartemen menggunakan mobil listrik seharga 3.000 won (2,70 dolar AS) per jam, kata juru bicara perusahaan.

Renault Samsung memiliki kendaraan Twizy, mengelola dan melakukan pembayaran untuk biaya pengisian mereka, kata dia. Apartemen LH biasanya dialokasikan untuk rumah tangga berpendapatan rendah.

Produsen mobil Perancis Renault S.A. memegang 80 persen saham di Renault Samsung.

Baca juga: Indeks CAC-40 Prancis ditutup melemah termasuk saham Renault

Baca juga: VW-Renault akan pelopori penggunaan WiFi 5G pada mobil
 

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2018

Jonan sebut tidak mampu beli mobil listrik

Jakarta,  (ANTARA News) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut tidak mampu membeli mobil listrik pribadi, karena gajinya tidak cukup untuk itu. 

“Saya disuruh jadi contoh dulu untuk memiliki mobil listrik. Lha bagaimana, harganya masih sekitar Rp 5 miliar untuk sejenis Mercy S Class dari Tesla kalau impor. Tidak cukup gaji saya,” canda Jonan dalam acara Pertamina Energy Forum 2018 di Jakarta, Kamis. 

Namun Jonan mengakui telah memiliki motor listrik senilai Rp15 juta. Setidaknya menurutnya itu menjadi langkah mengawali era kendaraan listrik. 

Jonan menjelaskan permasalahan mahalnya kendaraan listrik di Indonesia juga menjadi kendala untuk memulai era elektrifikasi industri otomotif. 

Hal itu, menurutnya, akan mungkin menjadi masif apabila dukungan berupa pemberian insentif bagi pengembang mobil listrik di Indonesia. 

Tentu saja juga didukung dengan infrastruktur SPBU listrik yang sudah banyak tersedia di beberapa daerah. 

Sedangkan, jika era kendaraan listrik tidak dimulai,  maka pada tahun 2025 diperkirakan impor minyak dan gas bumi bisa dua kali lipat. 

Gini saja,  tidak perlu beli kendaraan listrik sekarang,  pakai saja kompor listrik,  kan sudah murah juga sekarang banyak dijual,  itu sudah mengurangi gas,” katanya. 

Upaya mendorong pengembangan kendaraan listrik merupakan usaha pemerintah untuk mengurangi beban impor migas,  selain itu juga dapat mengurangi emisi gas buang. 

Baca juga: Tahun depan bakal dibuat pembangkit listrik tenaga sawit

Baca juga: Jonan canangkan SPBU berfasilitas isi daya mobil listrik

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2018

BMW pertimbangkan mobil hybrid yang bisa diubah ke mode listrik

Los Angeles (ANTARA News) – BMW menyatakan akan mempertimbangkan untuk membuat mobil bermesin hybrid yang bisa beralih ke mode khusus berpenggerak listrik secara otomatis, untuk dijual di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi yang tinggi.

Ini merupakan cara BMW bersaing dengan kompetitor yang menggunakan mobil listrik sepenuhnya guna menyediakan mobilitas ramah lingkungan.

“Mobil mematikan mesin pembakaran secara otomatis,” kata anggota dewan direksi BMW, Klaus Froehlich, kepada Reuters di Los Angeles, Jumat.

Berkat konektivitas dan sistem navigasi BMW, mobil-mobil itu dapat dikonversi secara otomatis untuk mematikan mesin bakar, kata Froehlich, menambahkan bahwa BMW X5 bisa menjelajah 80 kilometer dalam mode listrik.

Baca juga: All New BMW M2 Competition resmi diperkenalkan

Saat ini, BMW mendemonstrasikan teknologi itu kepada otoritas di kota-kota Jerman yang akan melarang mobil bermesin diesel karena mencemari udara, untuk menaati peraturan lingkungan yang digalakkan Uni Eropa.

Gara-gara skandal emisi diesel Volkswagen pada 2015, berbagai kota termasuk London, Paris, dan Stuttgart mempertimbangkan larangan kendaraan bermesin bakar.

Di sisi lain, banyak calon konsumen berpikir ulang untuk membeli mobil listrik. Alasan utamanya adalah infrastruktur pengisian daya yang kurang memadai sehingga memilih kendaraan bermesin hibrida.

Kendaraan bermesin hibrida sangat penting bagi konsumen Eropa karena biasanya mereka hanya mengandalkan satu jenis mobil untuk berbagai keperluan.

Pengadilan administratif Jerman pada Februari lalu memutuskan bahwa kota-kota dapat melarang penggunaan kendaraan diesel di sejumlah ruas jalan guna meningkatkan kualitas udara kota.

Baca juga: BMW pertimbangkan bangun pabrik manufaktur kedua di AS

Baca juga: BMW i8 Roadster, supercar hybrid 369 tenaga kuda

Pewarta:
Editor: Monalisa
Copyright © ANTARA 2018

Tesco dan Volkswagen kembangkan stasiun pengisian kendaraan listrik di Inggris

Jakarta (ANTARA News) – Peritel terbesar Inggris Tesco dan pembuat mobil Jerman Volkswagen mengumumkan pada Jumat, telah menjalin kerja sama untuk mengembangkan jaringan pengisian kendaraan listrik di Inggris.

Tesco dan Volkswagen meluncurkan lebih dari 2.400 tempat pengisian kendaraan listrik di 600 toko Tesco dalam tiga tahun ke depan, seperti dilaporkan Reuters.

Mobil listrik dan kendaraan lain yang menggunakan bahan bakar alternatif mencapai sekitar 6 persen dari penjualan di Inggris dan merupakan bagian pasar yang tumbuh paling cepat, naik 22 persen sepanjang tahun ini, dibantu oleh skema pemerintah yang mendukungnya.

Stasiun pengisian akan dipasang oleh Pod Point, yang telah memasang lebih dari 2.500 stasiun yang tersedia di lokasi termasuk pengecer, stasiun servis dan hub transportasi.

Pod Point mengatakan kesepakatan Tesco dan Volkswagen akan memberikan peningkatan 14 persen jumlah stasiun pengisian publik di Inggris.

Pelanggan akan dapat mengisi daya mobil listrik menggunakan pengisi daya 7kW normal secara gratis atau charger 50 kW cepat untuk biaya sesuai dengan harga pasar.

Tesco mengatakan inisiatif ini dibangun di atas komitmennya untuk menggunakan 100 persen listrik terbarukan pada tahun 2030.

Baca juga: Volkswagen berencana bangun pabrik kendaraan listrik di Amerika Utara

Baca juga: Inggris disarankan larang penjualan kendaraan bermesin bakar mulai 2032

Baca juga: Kemenperin umumkan isi aturan kendaraan rendah emisi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018

Mitsubishi apresiasi BPPT resmikan dua stasiun pengisian daya mobil listrik

Jakarta (ANTARA News) – PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), distributor resmi kendaraan penumpang dan niaga ringan Mitsubishi Motors Corporation (MMC) di Indonesia, menyambut positif langkah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Republik Indonesia (BPPT RI) meresmikan dua stasiun pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia.

BPPT hari ini meresmikan dua fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia, yakni stasiun pengisian daya cepat (fast charging station) 50 kW di gedung BPPT Jakarta, dan stasiun pengisian daya “pintar” (smart charging station) 20 kW di Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan.

“Mitsubishi Motors turut berpartisipasi dalam proses sosialisasi dan studi bersama terkait pengembangan kendaraan listrik di Indonesia,” ucap Director of Coordination & Development Division PT. MMKSI, Ogi Ikematsu di Jakarta, Rabu.

Dalam peresmian itu, dua model kendaraan listrik Mitsubishi, i-MiEV dan Outlander PHEV turut berpartisipasi sebagai model kendaraan penumpang yang didemonstrasikan dalam pengisian daya kendaraan listrik, bersama dengan model kendaraan listrik lainnya, seperti bus listrik, sepeda motor listrik, dan sepeda listrik.
  Mitsubishi i-MiEV (ANTARA News/HO)

Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah yang mempercepat pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, Mitsubishi juga telah mendonasikan 2 unit i-MiEV dan 8 unit Outlander PHEV, serta 4 unit fasilitas pengisian daya cepat kepada pemerintah melalui Kementerian Perindustrian.

Baca juga: Mitsubishi Motors serahkan 10 kendaraan listrik untuk Indonesia

“Di mana Mitsubishi I-MiEV sebagai salah satu kendaraan tersebut diterima oleh BPPT dan berpartisipasi dalam acara (peresmian) ini,” ucap Ogi.

Kendaraan-kendaraan itu akan disertakan dalam serangkaian studi pemodelan tentang bagaimana infrastruktur transportasi yang ada di Indonesia saat ini dapat mengakomodasi kendaraan listrik. 

Termasuk menilai penggunaan kendaraan listrik di berbagai lingkungan, seperti kawasan perkotaan, wisata dan pulau terpencil.

Rangkaian peresmian fasilitas pengisian daya cepat yang dilakukan BPPT dilanjutkan dengan road trip kendaraan listrik yang melibatkan peserta yang merupakan pengguna kendaraan listrik dan juga merek otomotif produsen kendaraan listrik dengan rute kantor BPPT Jakarta yang terletak di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat menuju fasilitas pengisian daya kendaraan listrik yang terletak di gedung B2TKE-BPPT di Serpong, Tangerang.

Baca juga: Beda penggunaan mobil listrik Mitsubishi dan Toyota dalam studi Kemenperin

Baca juga: Soal arah kebijakan mobil listrik di Indonesia, Mitsubishi yakini PHEV teknologi paling pas

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Soal pabrik mobil listrik, Mitsubishi tunggu antusiasme pasar Tanah Air

Jakarta (ANTARA News) – Mitsubishi masih menunggu antusiasme masyarakat terhadap kendaraan listrik sebelum memutuskan untuk membangun pabrik perakitan kendaraan listrik di Indonesia. Demikian disampaikan oleh Director of Coordination & Development Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia Ogi Ikematsu, di Jakarta, Rabu.

“Untuk pabrik perakitan lokal masih sulit, bukan karena teknologi, tapi kami butuh pasarnya terlebih dahulu,” ucap Ogi.

Dia mengatakan bila pasar mobil listrik telah terbentuk di Tanah Air, maka pihaknya baru bisa mempertimbangkan untuk mempelajari pengembangan sekaligus promosi bisnis mobil listrik di Indonesia.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa untuk bisa membangun pabrik perakitan mobil listrik di Indonesia, diperlukan juga sejumlah faktor penunjang lainnya, seperti keberadaan perusahaan produsen baterai.

“Banyak kabar tentang pabrik baterai, yang juga dibutuhkan dalam perakitan lokal. Baterai merupakan komponen penting bagi mobil listrik. Jika ada pabrik baterai di Indonesia, itu akan membuat lebih mudah untuk kami membangun pabrik perakitan lokal,” ujar Ogi.

Terkait langkah pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang meresmikan fasilitas stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik pertama di Indonesia, Ogi mengapresiasi hal tersebut.

“Mitsubishi Motors turut berpartisipasi dalam proses sosialisasi dan studi bersama terkait pengembangan kendaraan listrik di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Mitsubishi apresiasi BPPT resmikan dua stasiun pengisian daya mobil listrik

Baca juga: Mitsubishi Motors serahkan 10 kendaraan listrik untuk Indonesia

BPPT hari ini meresmikan dua fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia, yakni stasiun pengisian daya cepat (fast charging station) 50 kW di gedung BPPT di kawasan jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat dan stasiun pengisian daya “pintar” (smart charging station) 20 kW di Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan.

Ogi berharap ke depannya fasilitas stasiun pengisian daya untuk kendaraan listrik bisa semakin menjamur di Indonesia. Dengan begitu, secara lambat laun pasar kendaraan listrik di Nusantara bisa segera terbentuk.

“Kita memang membutuhkan pendorong untuk bisa menaruh stasiun pengisian daya, seperti di mall, toko, atau bahkan di rumah dan apartemen. Itu yang harus ditekankan untuk dipasang. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah juga sudah harus mempersiapkan hal tersebut,” ujar Ogi.

Baca juga: BPPT : pengisian daya mobil listrik bisa lebih cepat

Baca juga: BPPT : perlu ada regulasi mobil listrik

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2018

Volkswagen bisa bikin 15 juta mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan

Jakarta (ANTARA News) – Volkswagen mengumumkan akan memiliki kapasitas untuk membangun hingga 15 juta mobil listrik selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan laporan Reuters yang dilansir Fortune, Jumat (7/12).

Perusahaan asal Jerman itu menginvestasikan lebih dari 11 miliar euro (12,5 miliar dolar AS) untuk kendaraan listrik dan otonom pada 2023, di mana lebih dari 80 persen di antaranya (9 miliar euro) akan dialokasikan untuk mobil listrik.

Angka 15 juta itu merupakan koreksi atas pernyataan Chief Executive Volkswagen, Herbert Diess yang sebelumnya menyebut angka 50 juta unit, dalam sebuah wawancara dengan Automotive News.

Baca juga: Volkswagen bisa produksi hingga 50 juta mobil listrik

Volkswagen sebelumnya mengatakan pihaknya berencana membangun 10 juta kendaraan dalam gelombang pertama mobil elektrik dengan harga terjangkau.

VW merencanakan untuk memiliki 27 model kendaraan listrik yang diproduksi pada akhir tahun 2022, dengan mobil-mobil di bawah merek Volkswagen, Audi, dan Skoda.

Model pertama diharapkan keluar tahun depan.

Ini adalah bagian dari strategi pembuat mobil untuk keluar dari model mesin pembakaran setelah mobil generasi berikutnya menggunakan teknologi “tradisional”, menurut Automotive News.

Volkswagen mengatakan bahwa mereka juga membangun aliansi dengan Ford, dan mungkin menggunakan pabrik perusahaan itu untuk membangun kendaraan di Amerika Serikat. Perusahaan saat ini mengkonversi beberapa pabriknya di Eropa untuk membangun kendaraan listrik daripada mobil bermesin pembakaran.

Baca juga: Volkswagen berencana bangun pabrik kendaraan listrik di Amerika Utara

Baca juga: Volkswagen gelontorkan investasi Rp734 triliun demi mobil listrik
 

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Honda akan pasarkan PCX listrik di Asia Tenggara

Jakarta (ANTARA News) – Honda mengumumkan akan segera memasarkan motor matic PCX listrik di Asia Tenggara, dengan penjualan untuk pelanggan bisnis maupun perorangan diawali dari Filipina.

Tidak seperti model-model lainnya, PCX ELECTRIC ini dipasarkan dengan skema penjualan sewa baik untuk pelanggan bisnis maupun perorangan.

PCX ELECTRIC dikembangkan berdasarkan PCX yang populer berdesain stylish, dengan mesin yang lebih ramah lingkungan berkat unit daya listrik kompak baru yang dikembangkan Honda, kata Honda dalam pernyataan resminya, dikutip Minggu.

Honda mengatakan, motor listrik PCX ini menggunakan Struktur Interior Permanen Magnet (IPM) yang menyediakan torsi yang cukup dari revs rendah, mewujudkan kinerja akselerasi dan menanjak yang kuat dan halus.

Dengan baterai listrik yang digendongnya, PCX ELECTRIC, yang menyasar pengguna perkotaan dan butuh kenyamanan, mampu menempuh perjalanan 41km untuk satu kali isi daya baterai penuh.

Baterai PCX ELECTRIC bisa diisi daya dengan menggunakan konektor yang sudah disediakan atau dengan charger eksternal opsional.

Sepeda motor dengan kapasitas 125cc ini akan disewakan di resor wisata di distrik Tokyo mulai musim semi 2019, dengan penggunaan akan terus dipantau Honda guna mendapatkan banyak masukan dari konsumen.

Kendaraan listrik yang dilengkapi dengan baterai berkapasitas total 96V yang terbagi dalam dua baterai lithium-ion 48V high-energy ini akan diproduksi untuk pasar domestik dalam jumlah 250 unit setahun. Masih sangat terbatas.

Untuk satu kali pengisian daya, baterai PCX ELECTRIC membutuhkan waktu enam jam untuk terisi penuh saat terhubung dengan kendaraan, sementara jika diisi dengan charger opsional—dengan baterai dicopot dari kendaraan—akan memakan waktu sekitar empat jam.

Baca juga: AHM optimistis pasar hybrid berkembang di Indonesia

Pewarta: Suryanto
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2018

Mobil listrik mewah penantang Tesla

Los Angeles (ANTARA News) – Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Tesla, kini bukanlah satu-satunya produsen yang mampu memproduksi mobil listrik di segmen mewah, karena sejumlah model dari pabrikan lain pun bermunculan.

Pada pameran Los Angeles Auto Show 2018 yang digelar hingga Minggu, sejumlah merek mobil ternama antara lain Audi, BMW dan Volkswagen, maupun jenama baru seperti Rivian dan Byton hadir untuk memamerkan teknologi kendaraan listriknya, dilansir USA Today, Sabtu (8/12).

Kendati demikian, pengamat otomotif menilai Tesla tetap menjadi unggulan dalam industri otomotif ramah lingkungan karena produsen yang memiliki pabrik bernama Gigafactory itu hanya fokus menggarap segmen mobil listrik.

“Tidak ada yang bisa membunuh Tesla. Mereka tangguh, meskipun Anda tidak mempercayainya,” kata Ron Cogan dari Green Car Journal.

“Ada banyak diskusi mengenai penantang Tesla,” kata Jessica Caldwell, analis dari Edmunds.com, menambahkan bahwa para penantang memiliki tugas berat untuk menyaingi Tesla.

“Mereka selalu menjadi topik pembicaraan. Sulit bagi merek-merek lain untuk melawan itu,” katanya.

Berikut mobil listrik pesaing Telsa:

Audi e-tron GT

Pabrikan mobil mewah Jerman, Audi, memperkenalkan SUV e-tron GT dengan tampilan elegan dan motor listrik yang kuat.

Motor listrik e-tron GT menghasilkan 590 tenaga kuda, dengan akselerasi hanya 3,5 detik untuk mencapai kecepatan dari 0 sampai 100 kilometer per jam.

Mobil ini diperkirakan akan masuk dapur produksi pada dua tahun mendatang, tergantung minat konsumen terhadap mobil bermodel empat pintu ini. Audi juga berencana menawarkan 12 kendaraan listrik di pasar dunia pada 2025. Audi e-Tron (Audi Pressroom)

BMW Vision iNEXT

Pabrikan mobil mewah lainnya, BMW, juga memperkenalkan mobil listrik dengan model SUV yang dinilai memiliki desain unik.

BMW Vision iNEXT memiliki tampilan wajah yang besar namun terlihat futuristik dengan model lampu dan grille, dilengkapi roda kemudi bergaya kokpit pesawat.

Selain sebagai mobil listrik, BMW Vision iNEXT juga digadang-gadang sebagai kendaraan swakemudi

“BMW Vision iNEXT menghadirkan era baru kesenangan berkendara,” kata pimpinan BMW Harald Kruger. “Ini menggarisbawahi peran utama yang dimainkan Jerman di masa depan mobilitas.”
  BMW Vision iNEXT. (BMW Global Press)

Volkswagen I.D.Buzz Cargo

Hadir di pameran kendaraan ini, Volkswagen membawa beberapa inovasi terbarunya untuk sektor teknologi, salah satunya adalah van konsep I.D. Buzz Cargo.

VW mengatakan, van yang masih dalam bentuk kendaraan konsep ini didesain untuk perusahaan atau pebisnis yang melayani pelanggan di perkotaan, baik itu untuk pelayanan pemeliharaan atau pengantaran barang pesanan.

I.D. Buzz dilengkapi konektivitas dengan unit kontrol fungsional. Pekerjaan dan pemesanan dari pelanggan dapat diimplementasikan dengan cara ini.

Semua barang dalam rak di mobil ini bisa dilacak. Semua pintu mobil bisa dibuka secara elektrik, dan sistem rak dapat dikustomisasi. Volkswagen I.D Buzz Concept (http://newsroom.vw.com/)

Byton K-Byte

Perusahaan otomotif China, Byton, mengandalkan konsep mobil listrik jenis SUV yang diberi nama Byton K-Byte. Mobil ini tidak sekadar berpenggerak listrik, namun mengusung teknologi semi swakemudi, sebagai langkah awal menuju era mobil otonom.

Mobil ini memanfaatkan tampilan layar pada dashboard untuk memberikan berbagai informasi kepada pengemudi atau penumpang.

Byton setidaknya telah memiliki tiga model kendaraan listrik antara lain bermodel sedan, SUV K-Byte dan M-Byte yang menggunakan elemen digital untuk digerakkan melalui sistem kecerdasan artifisial (AI).
  M-Byte mobil listrik jenis SUV buatan China yang akan mengawali debutnya di Los Angeles Auto Show 2018. (Istimewa)

Rivian R1T

Jika Tesla menawarkan mobil listik bermodel sedan, kini muncul perusahaan kendaraan elektrik Rivian Automotive yang menyuguhkan mobil-mobil bermodel truk pickup.

Rivian memamerkan truk pickup listrik bernama R1T pada pameran itu, sebelum menjualnya pada musim gugur 2020.

Rivian belum mengumumkan harga mobil listrik itu, kendati pimpinan perusahaan mengatakan akan mulai menjualnya di bawah harga 70.000 dolar AS (sekira Rp1,01 miliar) sebelum dikenakan pajak.

Adapun varian yang dipasangkan paket baterai terkuat akan dijual dengan harga 90.000 dolar AS (sekira Rp1,3 miliar). Rivian R1T (Rivian Official)
 

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2018

Pertamina diminta temukan teknologi “fast charging” untuk mobil listrik

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta kepada PT Pertamina untuk menemukan atau mencari teknologi fast charging di bawah 10 menit. 

“Saya rasa sudah ada itu teknologinya, tinggal dicari saja dan disesuaikan, biar tidak kelamaan kalau ngisi mobil listrik, ” kata Jonan di Jakarta, Senin. 

Ia menyatakan teknologi pengisian listrik di Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) milik Pertamina sudah baik,  hanya saja waktu sekitar 20 menit untuk pengisian penuh masih dirasa lama. 

Jonan juga menjelaskan beralihnya dunia otomotif global dari Internal Combustion Engine (ICE) ke Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Electric Vehicles (EV) diprediksi akan mengakibatkan pengisian baterai kendaran jenis PHEV dan EV akan menjadi substitusi bagi pengisian fuel (bahan bakar minyak/BBM) kendaraan yang saat ini merupakan bisnis Pertamina.

Di masa mendatang, Menteri ESDM mengungkapkan, mobil listrik akan bersaing dengan kendaraan combustion engine. “Mobil listrik akan menjadi masa depan dunia, energi yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
 
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan Pertamina siap menghadapi disruption business dari kendaraan konvensional berbahan bakar minyak ke arah kendaran listrik. Pertamina akan menghadirkan fasilitas pengisian listrik untuk kendaraan listrik dalam rangka mengembangan Ekosistem Bisnis Kendaraan Listrik kedepan.

Dia menjelaskan konsep utama Green Energy Station (GES) memiliki tiga konsep. Konsep Pertama, Konsep Green yang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area SPBU yang dimiliki. Kedua, Konsep Future yang memiliki EV Charging Station. 

Serta ketiga, Konsep Digital yaitu MyPertamina yang menjadikan pembayaran di SPBU cashless serta adanya self-service. “Ke depan GES diproyeksikan akan menjadi tempat untuk pengisian baterai EV serta tempat untuk swapping baterai yang didedikasikan untuk sepeda motor listrik kecil,” ujar Nicke.
 
Saat ini pilot project GES telah hadir menjawab tantangan tersebut. Di SPBU ini telah terpasang empat unit charging station di mana dua unit merupakan tipe fast charging yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik dalam waktu kurang dari 15 menit dan dua unit merupakan tipe normal charging

Dalam pengembangan konsep tersebut, Pertamina mendapatkan dukungan penuh dari berbagai sektor mulai dari pemerintah melalui Kementerian ESDM, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, serta sinergi BUMN dengan Telkom dan PLN, Lembaga Pendidikan melalui UI dan pelaku bisnis kendaraan listrik BMW, Toyota, Mitsubishi, dan Gesits serta pelaku bisnis charging station Bosch. 

“Seluruh pihak berada dalam satu visi yang sama untuk menghadirkan suatu ekosistem energi masa depan terbaik untuk Indonesia,” tambah Nicke.
 
GES diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan ritel Pertamina melalui sistem yang cepat dan handal. Kecepatan tersebut didukung dengan sistem digitalisasi SPBU melalui standarisasi POS System dan cashless payment melalui MyPertamina. 

Pertamina telah bersinergi dengan Telkom dalam menghadirkan konsep cashless payment MyPertamina dan dashboard monitoring system untuk mempermudah Management maupun stakeholder terkait untuk memantau secara langsung penjualan yang terjadi di setiap titik SPBU.
 
Pada SPBU GES nantinya juga akan disediakan fasilitas swapping battery untuk menjawab kebutuhan motor listrik. Saat ini Pertamina telah bekerja sama denga GESITS untuk pengembangan motor listrik.

Baca juga: Jonan resmikan stasiun pengisian listrik umum pertama 

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2018