Mobil eropa bermesin seperti “Tank”, pegiat iklim protes di Frankfurt

Jakarta (ANTARA) – Aktivis lingkungan Jerman pada akhir pekan ini menggelar aksi protes kepada industri otomotif, bertepatan dengan pameran Frankfurt Auto Show (IIA), 12-22 September 2019.

Pegiat lingkungan mengkritik mobil-mobil besutan Eropa yang menggunakan mesin berkapasitas (cc) besar, layaknya “tank”, yang tidak hanya mengganggu lingkungan karena polutan yang dihasilkan, juga ikut membahayakan pejalan kaki.

Mereka juga menghendaki kendaraan yang benar-benar ramah lingkungan dan meminta industri untuk meninggalkan sistem pembakaran internal (combustion engine), terutama jenis mesin diesel.

“Industri mobil bermain curang dengan mesin diesel, juga berkontribusi atas krisis iklim yang memburuk,” kata juru bicara kelompok lingkungan Campact, Gerald Neubauer, yang akan mengorganisir demonstrasi pada Sabtu, dilansir AFP.

Kepolisian Frankfurt menyebut bahwa sekitar demonstran akan berjalan kaki dan bersepeda menuju pameran itu. Polisi menduga pada aktivis akan mengganggu pameran dengan cara memblokir jalan di sekitar pameran pada Minggu (15/9).

“Kami menginginkan revolusi moda transportasi,” kata juru bicara kelompok lingkungan lainnya “Sand in the Gearbox”.

AFP menulis bahwa aksi masyarakat itu menunjukkan bahwa industri otomotif yang “nyaris tidak tersentuh kritik” karena pernah menjadi primadona di Eropa, kini mulai menjadi sorotan masyarakat karena perubahan iklim.

Minat masyarakat Eropa, terutama Jerman, terhadap mobil bermesin diesel pun menurun, didorong skandal kecurangan emisi “dieselgate” oleh Volkswagen pada 2015.

Kendati demikian, pameran di Frankfurt akan memamerkan sejumlah mobil bertenaga listrik yang ramah lingkungan, namun para pegiat iklim mempertanyakan keseriusan industri terhadap produk-produk itu. Aktivis Greenpeace menaiki mobil di sebuah anjungan pada pameran Frankfurt Motor Show (IAA) 2019. (REUTERS/WOLFGANG RATTAY)

SUV bermesin besar

Kendaraan sport utility vehicle (SUV) bermesin besar menjadi sorotan setelah menabrak empat pejalan kaki, termasuk anak berusian tiga tahun yang tewas pada bulan ini di Berlin.

Aktivis lingkungan menyebutkan bahwa mobil bermesin besar dengan bodi yang tinggi diperuntukkan untuk medan off-road, perdesaan, atau pehobi petualang, sehingga tidak tepat jika dipakai di perkotaan.

“Mobil seperti tank itu bukan untuk di kota,” kata Stephan von Dassel, politisi yang fokus pada lingkungan dan walikota distrik Mitte Berlin, kota di mana kecelakaan fatal itu terjadi.

“Mereka adalah ‘pembunuh iklim’, bahkan tanpa kecelakaan — setiap kesalahan mengemudi akan mengancam jiwa orang-orang yang tidak bersalah (pejalan kaki),” lanjutnya.

Ketika pameran mobil Frankfurt dibuka untuk pers pada Kamis (12/9), aktivis Greenpeace menggelembungkan balon hitam raksasa di luar arena bertuliskan CO2.

Pengunjuk rasa kemudian membentangkan spanduk “Pembunuh Iklim” di anjungan Volkswagen dan BMW, saat Kanselir Jerman Angela Merkel berkunjung ke sana.

“Industri otomotif masih belum memahami krisis iklim,” kata aktivis Greenpeace, Benjamin Stephan. “Alih-alih merayakan SUV yang boros bahan bakar, produsen harus menyudahi penjualan tank-tank perkotaan dan mematikan mesin pembakaran.”

Baca juga: Frankfurt Auto Show perketat keamanan gara-gara aksi “anti-mobil”

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019