Pameran kendaraan listrik masa depan

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kanan depan) bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri depan) mengendarai motor listrik di arena Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan, kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Mobil listrik Renault debut di India pada 2022

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan otomotif Prancis Renault pada Kamis (29/8) mengumumkan akan merilis kendaraan listrik di India pada 2022, sehingga mereka menekankan kepada pemerintah agar lebih agresif dalam menyiapkan ekosistem pendukung kendaraan ramah lingkungan.

“Kami berpetualang ke arena mobil listrik. Anda pasti akan melihat sesuatu yang muncul pada 2022, tetapi sebelum saya mengatakan bahwa kami ingin masuk ke segmen mobil listrik, yang paling penting adalah ekosistem,” kata CEO dan Marketing Director Renault India, Venkatram Mamillapalle, dilansir Kantor Berita Press Trust India, Jumat.

Mamillapalle mengatakan India belum dilengkapi ekosistem mobil listrik, sehingga ia berpendapat belum waktunya Renault meluncurkan mobil listrik dalam waktu dekat.

“Mengucap janji yang salah jika kami akan meluncurkannya besok, kemudian mobil itu hanya berada di garasi secara tidak masuk akal,” katanya.

“Saya berharap pemerintah bekerja pada ekosistem dan saya yakin mereka sedang mengusahakannya. Kita perlu melihat dengan sangat agresif ekosistem dikembangkan sebelum ada mobil listrik yang terpaksa diluncurkan di India,” ujar dia.

Kendati demikian, Renault belum mengumumkan jenis kendaraan listrik yang akan beroperasi di India.

Saat ini, pabrikan lokal Tata Motors memiliki Tigor EV sebagai kendaraan listrik, sedangkan Mahindra menjual sedan listrik Verito. Baru-baru ini, perusahaan otomotif Korea Selatan, Hyundai, juga memperkenalkan SUV Kona berpenggerak listrik.

Pabrikan Jerman, Audi akan meluncurkan SUV E-tron listrik pada kuartal akhir 2019, dan BMW akan meluncurkan mobil listrik i3.

Baca juga: Renault Triber siap bersaing di pasar otomotif Indonesia

Baca juga: Triber akan diekspor ke pasar langganan Renault Kwid
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Curangi uji emisi, Volkswagen terancam denda dan pidana di Korsel

Jakarta (ANTARA) – Korea Selatan pada Selasa (20/8) mengumumkan akan menjatuhkan denda dan tuntutan pidana kepada Volkswagen dan Porsche karena memasang “perangkat terlarang” untuk mencurangi hasil emisi pada kendaraan diesel.

Kementerian Lingkungan Korea Selatan mengatakan, lebih dari 10.000 kendaraan Volkswagen dan Porsche yang dijual di Korea Selatan pada Mei 2015 hingga Januari 2018, diduga dilengkapi perangkat tersebut, menghasilkan emisi nitrogen oksida 10 kali lebih banyak daripada tingkat standar.

Baca juga: Kendaraan teruji emisi di Jakarta hanya lima persen

Sertifikasi hasil uji emisi pada delapan model — termasuk Audi A6, Volkswagen Touareg, dan Porsche Cayenne — akan dicabut dan para pembuat mobil bakal menghadapi denda 9,5 juta dolar AS, kata kementerian itu.

“Kami berencana untuk menangani secara tegas soal manipulasi emisi gas di masa depan,” kata seorang pejabat kementerian kepada wartawan.

Pengumuman itu dikeluarkan beberapa minggu setelah mantan bos eksekutif Audi, Rupert Stadler, dituduh melakukan penipuan dan terjerat kasus “perangkat kecurangan” untuk mengakali tes emisi pada 434.000 mobil Volkswagen, Audi dan Porsche.

Sebuah studi yang dirilis pada Maret 2017, mengatakan bahwa polusi 2,6 juta mobil Volkswagen yang dilengkapi perangkat tersebut dijual di Jerman, dan sebanyak lebih dari 410.000 pelanggan menuntut kompensasi.

Baca juga: Konsumsi BBM Mercy dan BMW tak sesuai hasil uji lab

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Antisipasi era mobil listrik, Mercy tinjau van bermesin diesel

Jakarta (ANTARA) – Daimler, induk perusahaan mobil mewah Mercedes Benz, meninjau keberlanjutan produk jenis van setelah penjualan mereka menurun akibat keraguan konsumen terhadap masa depan mesin diesel, di tengah perkembangan mobil listrik, kata eksekutif Mercedes-Benz Marcus Breitschwerdt dilansir Reuters, Selasa (20/8).

Breitschwerdt memprediksi akan terjadi pergeseran produk dari van bermesin diesel ke van berpenggerak listrik dengan populasi 15 sampai 25 persen pada 2025.

“Untuk mengoptimalkan kinerja kami, yang juga berarti meninjau dan menyelaraskan kembali orientasi strategis kami,” kata Breitschwerdt, pada peluncuran van listrik Mercedes-Benz.

“Kami melihat apa yang kami miliki dan apa yang bisa kami dapatkan,” kata Breitschwerdt, seraya menambahkan bahwa pickup kelas menengah X-Class juga tidak menghasilkan volume penjualan yang diharapkan perusahaan.

Breitschwerdt mengatakan bahwa divisi mobil van memiliki lapisan manajemen yang tidak efisien sehingga perusahaan terpaksa merampingkan jumlah pegawai demi efisiensi.

Divisi van Daimler saat ini mempekerjakan 26.000 staf.

Sebelumnya, Mercedes-Benz meluncurkan van listrik EQV yang dapat menjelajah sejauh 400 kilometer dengan kemampuan mengisi daya baterai hingga 80 persen selama 45 menit.

Mercedes-Benz EQV akan didistribusikan ke diler pada awal 2020.

Baca juga: Mercedes-Benz S-Class 2020 tertangkap kamera saat diuji

Baca juga: Mercedes-Benz B-Class generasi ketiga lebih ramah keluarga?
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Gemopai Ryder, skuter listrik yang bisa diisi daya dari laptop

Jakarta (ANTARA) – Sebuah startup di India mampu memecahkan masalah minimnya infrastruktur pengisian daya baterai kendaraan listrik dengan menciptakan skuter berbaterai portabel dan ringan yang bahkan bisa diisi ulang (charge) dari laptop.

Diluncurkan pada Oktober 2018, Gemopai Ryder adalah roda dua listrik yang memecahkan dua kekhawatiran kritis konsumen India yang ingin beralih dari kendaraan bertenaga bahan bakar fosil ke kendaraan ramah lingkungan.

Baca juga: Harley-Davidson serius garap skuter listrik

Gemopai Ryder adalah gagasan dari Gemopai Electrics, perusahaan patungan antara Goreen E-Mobility, startup yang berbasis di Delhi dan Opai Electric, raksasa di ruang kendaraan listrik (EV) dengan lebih dari 15 tahun pengalaman menjual lebih dari 15 juta skuter listrik di seluruh dunia.

Ryder ditenagai dengan baterai ion lithium, dan dipasarkan dengan harga di bawah 60.000 rupee. Dengan lebih dari 50 dealer di seluruh negeri, Gemopai Electric sudah membuat perbedaan nyata dalam mobilitas hijau.

Gemopai Ryder merupakan skuter listrik bertenaga baterai lithium ion–yang bisa dilepas–pertama dan mampu menempuh perjalanan 90 km untuk satu kali pengisian penuh, kata Amit Raj Singh, pendiri Gemopai Electric, dikutip dari The Better India, Selasa.

Gemopai Ryder tersedia dalam lima warna dan dilengkapi dengan berbagai pilihan aksesori untuk pasar India. Spesifikasi skuter tambahan yang termasuk dalam opsi mobilitas Gemopai adalah suspensi hidrolik, rem cakram, speedometer digital, lampu LED, entri tanpa kunci, alarm anti-pencurian, dan pengisian daya USB mobile.

Baca juga: Kymco tatap peluang skuter listrik di Indonesia

Ada kekhawatiran nyata mengenai kendaraan listrik, yakni tentang waktu yang diperlukan baterai untuk mengisi dan tidak tersedianya pengisian terutama mengingat infrastruktur pengisian yang sangat tidak memadai di India.

Ketika negara ini berjuang dengan menyediakan infrastruktur pengisian untuk EV, produsen roda dua listrik beralih ke baterai yang dapat dilepas untuk memudahkan proses pengisian.

“Pertanyaan utama yang dimiliki konsumen saat ini tentang skuter listrik adalah baterai. Oleh karena itu, dengan membuat baterai di skuter kami dapat dilepas, kecil, dan sangat efisien, adalah masalah pertama yang kami coba pecahkan ketika kami meluncurkan Ryder.”

“Baterai kami ringan, tetapi kuat, baterai lithium-ion yang portabel dan dapat diisi saat Anda bepergian. Kami juga berencana untuk meluncurkan dua skuter listrik dalam bulan ini untuk menambah portofolio kami,” kata Singh.

Pengguna dapat mengisi baterai hanya dalam empat jam dan skuter ini dapat mencapai kecepatan tertinggi 25 km per jam. Baterai ini dapat diisi di rumah dan di laptop juga.

“. . . kedatangan baterai yang dapat dilepas telah meningkatkan kenyamanan bagi pengguna karena dapat diisi ulang di mana saja, misalnya, di dalam rumah, tanpa perlu kendaraan hadir. Ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga menghemat kerja ekstra untuk menemukan stasiun pengisian daya,” jelas Singh menambahkan.

Baca juga: Sepeda listrik Lyft ditangguhkan karena kebakaran baterai

Baca juga: Mau bersepeda gratis dengan “Gowes”? Begini caranya

Pewarta: S026
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Shell buka gerai pengisian daya listrik pertama di Asia Tenggara

Jakarta (ANTARA) – Shell membuka gerai pengisian daya kendaraan listrik pada beberapa pompa bensin di Singapura, diklaim menjadi perusahaan pertama yang membuka fasilitas itu di Asia Tenggara, dilansir Reuters, Senin.

Layanan pengisian kendaraan listrik bernama “Shell Recharge” itu akan tersedia di 10 pompa bensin Shell Singapura pada Oktober tahun ini, atau 20 persen dari jaringan ritel di negara itu, kata perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Fasilitas pengisian daya itu dapat mengisi kendaraan listrik dari 0 persen hingga 80 persen hanya dalam waktu 30 menit, dan diklaim dapat digunakan untuk seluruh merek mobil listrik yang dijual di Singapura.

Menurut riset Shell tentang perilaku konsumen, sebesar 52 persen responden yang terdiri orang Singapura merasa terhalang untuk membeli atau menggunakan mobil listrik karena belum tersedianya stasiun pengisian di Singapura.

“Untuk memenuhi tujuan iklim negara itu, Singapura membutuhkan lebih banyak dan solusi energi yang lebih bersih untuk menghidupkan lingkungan, bisnis dan transportasi secara berkelanjutan,” kata Pimpinan Shell Singapura Aw Kah Peng.

Aw Kah Peng menambahkan Shell akan terus mengembangkan teknologi ramah lingkungan untuk Singapura dan negara lainnya.

Baca juga: Cara Shell ekspansi jaringan pengisian daya kendaraan listrik
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

DKI Jakarta mau pakai bus listrik? Tengok penerapannya di Shenzhen

Jakarta (ANTARA) – DKI Jakarta akan menjadi kota acuan di Indonesia dalam menerapkan transportasi terelektrifikasi yang bakal dimulai dari transportasi umum, misalnya bus Transjakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun sudah menghadap Presiden Joko Widodo guna membahas penerapan mobil listrik hingga Formula E di Ibu Kota, menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo pada pekan lalu yang mendorong DKI Jakarta agar memberikan insentif kepada masyarakat yang ingin membeli kendaraan listrik, termasuk pada armada bus maupun taksi bertenaga listrik.

“Mobil listrik juga dibahas, justru karena obrolin Formula E, kita obrolin mobil listrik dan rencana DKI bahwa semua kendaraan angkutan umum baru di Jakarta, bus-bus itu, akan bertenaga listrik,” kata Anies di depan Wisma Negara dalam kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (13/8).

“(Bus listrik) untuk Transjakarta sedang dalam proses, tapi Transjakarta tidak mengadakan bus, kita membeli jasa. Busnya adalah dari perusahaan-perusahaan swasta. Perusahaan-perusahaan itu diharuskan menggunakan bus bertenaga listrik,” jelas Anies.

Sebelum memikirkan bagaimana cara Transjakarta bertransformasi menjadi kendaraan listrik, Anda bisa menengok China yang sukses mengoperasikan transportasi massal tanpa mesin bakar itu di kota Shenzhen.

Dilansir City Lab, dari 425.000 layanan bus listrik yang beroperasi di dunia, 99 persen di antaranya berada di China, didorong upaya kota industri Shenzhen untuk mengurangi polusi. Perusahaan dan pabrik di kota itu secara bertahap mengoperasikan bus listrik sebagai armada utama dalam beberapa tahun belakangan.

Dilansir Guardian, Shenzhen yang menyandang gelar Kota Nelayan hingga 1980, menjelma jadi zona industri yang berpolutan, sehingga pemerintah berharap pengoperasian bus listrik dapat memangkas 48 persen emisi CO2 pada 2020. Grup Bus Shenzhen bahkan menaksir mampu menghemat 160.000 ton batubara per tahun dan mengurangi emisi CO2 tahunan hingga 440.000 ton.

Awalnya, pengoperasian bus listrik mencemaskan sejumlah kalangan, misalnya orang tua dengan anak-anak atau lansia, karena bus listrik tanpa mesin bakar — bergerak dengan motor listrik — berjalan senyap sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan yang tidak mendengar suara mesin. Apalagi lalulintas di China juga padat.

“Faktanya, kami menerima permintaan untuk membuat suara buatan pada bus sehingga orang dapat mendengarnya. Kami mempertimbangkannya, ” kata Joseph Ma, wakil manajer umum Grup Bus Shenzhen, dilansir Guardian

“Dengan bus diesel saya ingat berdiri di halte dan kepanasan, kebisingan, dan emisi yang mereka hasilkan membuatnya tidak tertahankan di musim panas,” kata Ma. “Bus listrik telah membuat perbedaan yang luar biasa.”

Penerapan bus listrik di Shenzhen juga tidak mudah karena harga armada bus yang mencapai 208.000 euro (Rp3,3 miliar) per unit. Untuk itu, pemerintah menerapkan subsidi kepada pembeli kendaraan listrik.

“Biasanya, lebih dari setengah harga bus disubsidi oleh pemerintah,” kata Ma, kemudian menambahkan ada subsidi tambahan apabila bus-bus itu telah beroperasi sejauh 60.000 km.

“Pemerintah memandang angkutan umum begitu penting sebagai dari kesejahteraan sosial,” kata dia.

Setelah memberikan subsidi, pemerintah kota kemudian menyediakan titik pengisian daya listrik seantero kota Shenzhen, dengan menggandeng perusahaan pengelola bus. Totalnya ada 180 terminal pengisian dengan terminal Futian menjadi yang terbesar karena dapat mengisi daya 20 bus secara berbarengan.

Setelah ekosistem kendaraan listrik siap, mulai dari kebijakan pemerintah kota, fasilitas, produk hingga subsidi, Kota Shenzhen kemudian mengembangkan pengoperasian kendaraan listrik pada armada taksi, yang kini sudah berjumlah 22.000 unit.

“Untuk armada taksi, kami tidak terlalu memusingkan titik pengisian listrik, karena taksi rutenya tidak tetap dan bisa melintasi semua tempat,” kata dia.

Hingga saat ini, setidaknya ada 30 kota di China yang menggunakan angkutan umum terelektrifikasi. Namun sayangnya, pemerintah berencana mengurangi subsidi pembelian kendaraan listrik karena harganya kini semakin mahal.

Baca juga: Organda dukung penerapan bus listrik Jabodetabek

Baca juga: Penerapan bus listrik Transjakarta masih terkendala regulasi

Baca juga: Anies melakukan pra uji coba bus listrik dari Transjakarta
 

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

B30 lolos uji “start ability”, kendaraan menyala kurang dari 2 detik

Wonosobo (ANTARA) – Bahan bakar B30 berhasil lolos uji kemampuan menghidupkan mesin kendaraan (start ability), yakni kurang dari dua detik pada mobil yang tidak digunakan selama 21 hari.

“Dari Gaikindo menyampaikan bahwa waktu maksimal untuk menyalakan kendaraan yang dites ini harus kurang dari lima detik, namun tadi semua di angka satu detik,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM), Dadan Kusdiana di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu.

Hasil itu didapat dari pengujian terhadap tiga kendaraan, yang dilakukan di dataran tinggi Dieng. Uji pada unit mobil pertama menggunakan bahan bakar solar murni (B0) dengan suhu di lokasi sekitar 15 derajat Celsius. Kendaraan itu mampu menyala dalam waktu 1,05 detik.

Baca juga: Bio-solar B30 sukses diuji pada suhu dingin Dieng

Berlanjut ke uji kendaraan kedua menggunakan bahan bakar B30 dengan kadar monogliserida 0,4 persen. Suhu lokasi sekitar 17,3 derajat Celsius dan kendaraan menyala dalam waktu 1,18 detik.

Pengujian pada mobil ketiga, mencatatkan hasil mengesankan dengan memakai B30, kadar monogliserida 0,55 persen. Hanya butuh 0,997 detik saja bagi kendaraan untuk menyala.

“Jadi dengan hasil ini kita akan menjalankan program B30 dengan kandungan monogliserida 0.55,” kata Dadan.

Pengujian di lokasi dataran tinggi dengan suhu dingin itu dilakukan untuk memastikan kemampuan dan ketahanan bahan bakar B30.

Baca juga: Tahapan uji coba bahan bakar B30 berakhir Oktober 2019
 

Pewarta: KR-CHA
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Nissan pastikan mobil listrik Leaf masuk Indonesia sesuai rencana awal

Jakarta (ANTARA) – Nissan Motor Indonesia tidak mau terburu-buru memboyong model mobil listriknya, Nissan Leaf ke Indonesia, melainkan sesuai rencana awal pada 2020, kendati Presiden Joko Widodo telah menandatangani peraturan soal mobil listrik.

“Tetap seperti semula, Nissan Leaf masuk ke Indonesia pada 2020, saya belum ada informasi akan dipercepat atau tidak, terkait peraturan kita pelajari dulu nanti kita lihat seperti apa,” kata Head of Communications PT Nissan Motor Indonesia, Hana Maharani di Jakarta, Jumat.

Setelah mempelajari Peraturan presiden soal mobil listrik itu nantinya baru Nissan bisa menjelaskan waktu yang tepat membawa mobil listriknya ke Indonesia, jumlah serta ekosistem elektrik sebagai sarana pendukung.

“Di kesempatan selanjutnya kita akan menjelaskan lebih soal mobil listrik ini, yang jelas saat ini kita sudah memperkenalkan Nissan Leaf, waktu kita hadirkan di GIIAS 2019 dan Indonesia Electric Motor Show 2019 pada September mendatang,” katanya.

Sejak 2010, Nissan Leaf sudah terjual sekitar 400.000 unit, dan menjadi model kendaraan listrik murni terlaris di dunia.

Pasa 2019 ini Nissan mulai memperkenalkan kendaraan listrik itu ke Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia.

Kemudian, pada 2020 Nissan Leaf akan merambah pasar Indonesia dan Filipina, hal tersebut kata Nissan juga sebagai komitmen mereka mendorong mobilitas terelektrifikasi di Asia Tenggara.

Baca juga: Nissan transformasi empat diler di Jabodetabek

Baca juga: Tanggapan pabrikan otomotif terkait aturan mobil listrik

Baca juga: Dacia Duster 2020 mendapatkan mesin baru yang lebih ekonomis

Pewarta: SDP-107
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Tanggapan pabrikan otomotif terkait aturan mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik yang bertujuan mendorong perusahaan otomotif agar mempersiapkan industri mobil listrik di Indonesia.

Presiden Jokowi berharap DKI Jakarta bisa memulai penerapan kendaraan elektrifikasi dengan memberikan insentif kepada pengguna mobil listrik, misalnya parkir gratis atau subsidi pembelian.

“Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dolar untuk membeli mobil listrik. Dan (bisa) dimulai seperti di Jakarta, busnya, mendorong taksi-taksinya. Bisa saja motor listrik didorong, digunakan di DKI Jakarta dulu,” kata Jokowi usai peresmian gedung baru ASEAN di Jakarta, Kamis (9/8).

Menyikapi hal itu, sejumlah pabrikan memberikan tanggapan positifnya, kendati mereka juga tidak mau terburu-buru menuju ke sana, karena ada proses studi yang harus dijalani.

“Kami melihat hal ini sebagai langkah perkembangan industri otomotif Indonesia yang positif. Dengan adanya peraturan tersebut dapat memberikan dukungan dalam pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air,” kata Senior Brand Manager Wuling Indonesia, Dian Asmahani, kepada Antara, Jumat.

Dian mengatakan bahwa Wuling, di negara asalnya China, sudah memiliki model listrik yang dipasarkan.

“Kami sudah memiliki platform kendaraan listrik seperti E200 dan E100. Namun, untuk membawanya ke pasar Indonesia, kami tetap harus melakukan studi atau riset pasar terlebih dahulu, sebagaimana yang selalu kami lakukan dalam menghadirkan produk baru di Indonesia,” jelas Dian.

Sebelum Perpres itu diteken Presiden Joko Widodo, sejumlah pabrikan juga sudah mempersiapkan diri menuju era elektrifikasi di Indonesia. Namun, mereka juga berharap pemerintah menyiapkan infrastrukur guna mempercepat penerimaan produk itu untuk masyarakat.

“Pastinya DFSK akan mendukung ke mana arah pasar yang didukung pemerintah,” kata CO-CEO PT Sokonindo Automobil Alexander Barus, beberapa waktu lalu.

DFSK pun menyatakan siap memasarkan kendaraan listrik di Indonesia setelah kebijakan dan infrastruktur rampung.

“DFSK mengatakan sudah siap untuk memasarkan mobil listrik Glory E3 di Indonesia. Tinggal menunggu regulasi dari pemerintah, baik dari kebijakan dan juga infrastrukturnya,” kata Head of Marketing Team Sokonindo Automobile, Major Qin, belum lama ini.

Pabrikan Jepang, misalnya Toyota, Honda, Nissan dan Mitsubishi bahkan sudah memasarkan mobil ramah lingkungan. Mobil hybrid Toyota pun sudah terlihat melintas di jalanan, misalnya Camry Hybrid, Alphard Hybrid dan C-HR.

Mitsubishi juga resmi menjual Outlander PEHV, setelah mereka memberikan 10 unit mobil listrik kepada pemerintah untuk keperluan riset. Sedangkan Nissan menjual Xtrail Hybrid, adapun Honda pernah menjual Civic Hybrid dan CRZ.

Selain itu, Suzuki Indonesia juga mengatakan pabrikan berlogo huruf S itu memiliki kendaraan ramah lingkungan, Swift Hybrid, namun belum bisa dipastikan apakah model itu akan masuk Indonesia.

“Teknologinya kami punya untuk mobil ramah lingkungan, tapi tahun ini kami rasa belum saatnya untuk munculkan itu,” Kepala Pengembangan Produk dan Aksesoris Roda Empat PT SIS, Yulius Purwanto, beberapa waktu lalu.

“Full hybrid ada, tahun lalu ada Swift Hybrid itu salah satu yang kami punya dari ramah lingkungan. Swift itu dari Jepang, di India juga ada,” katanya. “Studi sedang berjalan, maka kami tunggu regulasinya.”

Terkait keringanan mobil listrik, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah akan memberi insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan bertenaga listrik berdasarkan tingkat kadar emisi.

“Insentifnya apabila itu ‘full electric, atau ‘fuel cell’ yang emisinya 0, (maka) PPnBm-nya 0,” kata Airlangga ditemui di Istana Negara, Jakarta pada Rabu.

Pemerintah dalam Perpres mobil listrik juga mengatur penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri kendaraan listrik, sebesar 35 persen, kemudian akan dinaikkan pada periode berikutnya.

Baca juga: Perpres mobil listrik diteken, industri dipacu bentuk strateginya

Baca juga: Jakarta diminta bersiap hadapi konversi ke mobil listrik

Baca juga: Intip insentif mobil listrik di berbagai negara

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Intip insentif mobil listrik di berbagai negara

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik dengan tujuan mendorong perusahaan otomotif agar mempersiapkan mobil listrik di Tanah Air.

Presiden Jokowi berharap DKI Jakarta bisa memulai penerapan kendaraan elektrifikasi dengan memberikan insentif kepada pengguna mobil listrik, misalnya parkir gratis atau subsidi pembelian.

“Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dolar untuk membeli mobil listrik. Dan (bisa) dimulai seperti di Jakarta, busnya, mendorong taksi-taksinya. Bisa saja motor listrik didorong, digunakan di DKI Jakarta dulu,” kata Jokowi usai peresmian gedung baru ASEAN di Jakarta, Kamis.

Perpres yang diteken Joko Widodo pada Senin (5/8) juga mengatur penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 35 persen sehingga dapat menekan harga jual produk kendaraan listrik dan terjangkau bagi masyarakat.

Sejumlah negara telah menerapkan skema insentif atau subsidi untuk pengguna kendaraan ramah lingkungan, baik itu keringanan pajak hingga potongan harga beli untuk kendaraan baru. Berikut ulasan singkatnya:

Baca juga: Presiden berharap produk kendaraan elektrik Tanah Air lebih murah

Amerika Serikat

Di lansir Times, setidaknya lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat menerapkan insetif untuk mobil listrik. Nilai dan jenisnya pun bervariasi, New York, misalnya, menawarkan insentif 2.000 dolar AS (Rp29 juta) dengan tambahan diskon 10 persen biaya tol.

California menawarkan insentif 5.000 dolar AS (Rp71 juta) dan tambahan 3.000 dolar AS (Rp42,6 juta) apabila mobil listrik itu digunakan di wilayah itu. Adapun Colorado menawarkan insentif hingga 20.000 dolar AS (Rp284,3 juta) yang tergantung jenis kendaraan dan penggunaannya.

China

China sebagai pasar kendaraan listrik terbesar dunia — lebih dari 1 juta unit menurut EV-Volumes.com — menawarkan insentif 50.000 yuan (Rp101 juta), kendati menurut warta Bloomberg insentif itu akan dipangkas setengahnya menjadi 25.000 yuan.

Subsidi itu, menurut Bloomberg, menjadi pendorong penjualan mobil ramah lingkungan di China. Angka penjualan yang menarik itu juga mendorong perusahaan otomotif berinovasi menciptakan teknologi baru.

Baca juga: Sedang diuji coba, mobil listrik Blits buatan ITS singgah di Mataram

Kanada

Pasar otomotif Kanada mengalami kenaikan penjualan mobil “hijau” sebesar 30 persen berkat penerapan insentif 5.000 dolar AS oleh pemerintah sejak Maret 2019.

Kanada serius memberikan insentif karena ingin seluruh mobil yang terjual pada 2040 merupakan kendaraan berpenggerak listrik, menurut Green Car Report.

Norwegia

Hampir 60 persen kendaraan baru yang terjual di Norwegia pada Maret 2019 adalah berpenggerak listrik, menurut Forbes, yang didominasi penjualan Tesla Model 3, Nissan Leaf, dan Volkswagen Golf.

Insentifnya bukan uang semata, melainkan penghapusan pajak pembelian hingga fasilitas menggunakan jalur khusus bus dan keringanan biaya tol untuk pengguna mobil listrik.

Sementara, Indonesia belum memberlakukan insentif mobil listrik sehingga harga jual produk itu masih tinggi, misalnya Tesla Model X dan Mercedes E300 yang mencapai harga di atas Rp2 miliar. Sedangkan mobil listrik dengan kisaran harga Rp1 miliar antara lain Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota Alphard hybrid, dan BMW i3.

Baca juga: Menperin sebut insentif mobil listrik tergantung emisi

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Sedang diuji coba, mobil listrik Blits buatan ITS singgah di Mataram

Mataram (ANTARA) – Rombongan Tim PLN Blits ITS Explore Indonesia 2019 dari Institut Teknologi Surabaya (UTS) singgah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah melakukan pengujian perjalanan prototipe mobil listrik dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTB), Selasa.

Sebanyak enam anggota tim yang membawa prototipe mobil listrik yang dinamakan Alap-Alap diterima oleh Senior Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Unit Induk Wilayah NTB, Chairuddin, beserta jajarannya.

Anggota Tim PLN Blits ITS Explore Indonesia 2019, Juniono Raharjo, menjelaskan perjalanan pengujian mobil listrik tersebut dimulai sejak Oktober 2018 dengan rute Surabaya-Jakarta, kemudian dilanjutkan ke Sumatera, Sabang, Sulawesi, hingga Merauke.

Kemudian perjalanan uji coba etape keenam dimulai dari Labuan Bajo, NTT, menuju Sape, Kabupaten Bima hingga Kota Mataram, NTB, dan akan dilanjutkan menuju Bali pada Rabu (7/8/2019).

“Pengujian perjalanan prototipe mobil listrik tersebut dilakukan bekerja sama dengan PLN sebagai penyedia energi melalui Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang ada di setiap daerah yang disinggahi,” kata Juniono, mahasiswa program pascasarjana Fakultas Teknik Mesin ITS.

Yoga Uta Nugraha, yang juga anggota Tim PLN Blits ITS Explore Indonesia 2019 menambahkan tidak ada kendala berarti selama dalam perjalanan, hanya ada beberapa baut yang perlu dikencangkan.

Baterai mobil yang berisikan energi listrik juga masih tetap bagus, meskipun sudah menempuh perjalanan jauh sejak 2018.

Ia menyebutkan energi listrik yang tersimpan dalam baterai berkapasitas 20 kilo Watt hours (kWh) yang bisa tahan hingga jarak tempuh 150 kilometer. Setelah menempuh jarak tersebut, baterai harus diisi dalam jangka waktu 3-4 jam di SPLU.

“Kalau untuk pengisian energi baterai tidak ada kendala sama sekali, karena fasilitas SPLU milik PLN sudah ada di mana-mana, termasuk di wilayah paling timur NTB, yakni Kecamatan Sape, Kabupaten Bima,” ujar mahasiswa program pascasarjana ITS itu.

Yoga menyebutkan prototipe mobil listrik yang sedang diuji coba merupakan kendaraan bermotor ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan bakar minyak yang menghasilkan polusi di udara. Selain itu, tidak menimbulkan suara bising mesin dan tanpa knalpot.

Prototipe mobil listrik yang diciptakan juga efisien dibandingkan menggunakan bahak bakar minyak. Sebab jarak tempuh sepanjang 150 kilometer hanya membutuhkan Rp30.000 dengan asumsi harga listrik Rp1.500 per kWh dikali daya baterai sebesar 20 kWh.

“Kalau menggunakan bahan bakar minyak jenis Pertalite dengan harga total harga Rp30.000, katakanlah untuk lima liter, hanya menempuh jarak 45 kilometer,” ucap Yoga.

Sementara itu, Senior Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Unit Induk Wilayah NTB,Chairuddin mengatakan kampanye penggunaan mobil listrik merupakan program nasional.

Oleh sebab itu, pihaknya sangat mendukung uji coba perjalanan keliling Indonesia prototipe mobil listrik hasil karya anak bangsa, yakni mahasiswa ITS.

“PLN mendukung secara korporasi dalam hal berbagi teknologi selain sebagai sponsor. Kami juga mendukung kesiapan dari sisi ketersediaan energi listrik melalui SPLU untuk menjamin kelancaran selama perjalanan uji coba,” katanya.

Pewarta: KR-WLD
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019

Sepeda listrik Lyft ditangguhkan karena kebakaran baterai

Jakarta (ANTARA) – Penggunaan sepeda listrik (e-Bike) milik perusahaan startup Lyft terpaksa ditangguhkan menyusul laporan dua kasus kebakaran baterai di San Francisco, AS.

“Keselamatan pengendara adalah perhatian utama kami, kami sementara menangguhkan armada e-Bike kemudian menyelidiki dan memperbarui teknologi baterai kami,” demikian cuitan Lyft Baywheels, dilansir AFP, Minggu.

“Terima kasih kepada pengguna kami atas kesabarannya, dan kami berharap bisa segera menyediakan e-Bike kembali,” katanya.

Baca juga: Alphabet Google dikabarkan merapat ke Lyft

Kasus kebakaran sepeda listrik itu terjadi dua kali dalam sepekan terakhir.

Lyft pada awal tahun ini mengganti nama e-Bike, dengan namanya sendiri sebagai strategi branding dalam menyediakan transportasi ramah lingkungan di perkotaan.

Lyft maupun Uber, sama-sama mengoperasikan sepeda dan skuter listrik, mengajak masyarakat kota meninggalkan mobil kemudian beralih menggunakan moda transportasi tanpa emisi itu.

Baca juga: Armada swakemudi Lyft sudah bisa melayani pesanan di Amerika

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

VW punya teknologi robot pengisian mobil listrik di AS

Jakarta (ANTARA) – Volkswagen Electrify America mengumumkan pada Kamis (1/8), telah meneken perjanjian kerja sama dengan penyedia stasiun daya mobil listrik Stable Auto, guna menyediakan sistem pengisian berteknologi robot untuk mobil swakemudi.

Perusahaan mengatakan bahwa proyek percontohan itu akan dimulai di San Francisco sehingga fasilitas stasiun pengisian daya listrik dapat dibuka pada awal tahun depan.

Melalui teknologi itu, mobil swakemudi dapat mengisi daya listrik tanpa bantuan operator untuk menyambungkan sumber listrik pada lubang konektor di mobil.

Berdasarkan perjanjian itu, Electrify America yang berbasis di Virginia bertanggung jawab pada unit perangkat keras, jaringan, operasional, dan penagihan biaya dari sistem pengisian.

Adapun pihak Stable Auto akan mengelola stasiun pengisian secara keseluruhan, termasuk menjadwalkan pembaruan perangkat lunak dan perawatan teknologi robotik dengan pihak Electrify America yang berada di bawah naungan VW.

General Motors (GM), pabrikan mobil Amerika, juga sudah mengumumkan rencana investasi bernilai puluhan miliar dolar untuk kendaraan listrik selama beberapa tahun ke depan, guna menyaingi Tesla.

Baca juga: Berambisi ke pasar global, Waymo gandeng Nissan dan Renault

Baca juga: Ford-Volkswagen umumkan aliansi global mobil listrik dan swakemudi

Baca juga: Hyundai-Kia akan pakai teknologi radar dan kamera Driver Aurora

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019