Gejala kendaraan penghasil emisi gas buang berbahaya

Jakarta (ANTARA) –

Salah satu yang diyakini jadi penyebab polusi adalah emisi gas buang kendaraan, bahkan Pemerintah DKI Jakarta bergerak cepat dengan mewacanakan rencana mewajibkan kendaraan untuk melakukan uji emisi pada tahun 2020 nanti.

Sebenarnya, tanpa aturan tersebut pengguna kendaraan seharusnya sadar untuk memastikan kendaraannya bebas dari bahaya emisi gas buang, manfaatnya tidak hanya bagi orang lain tetapi juga demi kepentingan kesehatan sendiri maupun keluarga.

Cara termudah untuk memastikan mobil atau motor kita tidak menjadi salah satu penyumbang racun yang bertebaran di udara yakni dengan mengunjungi bengkel resmi atau bengkel profesional lainnya yang memiliki alat uji emisi.

“Tapi kalau belum ada waktu untuk ke bengkel, kita sendiri bisa mengira-ngira dengan cara sederhana apakah kendaraan kita memiliki emisi gas buang yang buruk,” kata Kepala bengkel Carfix karawaci, Mardian Alfan, di Jakarta, Rabu.

Berikut ini merupakan cara sederhana mengecek apakah kendaraan kita ikut menjadi penghasil karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) atau hidro karbon (HC).

Cara pertama menurut Mardian yaitu dengan mengecek pengapian dan bunyi suara kendaraan, jika ada sesuatu yang ganjil bisa jadi menyebabkan kinerja mesin dan pembakaran tidak sempurna.

Kemudian, pengendara juga bisa merasakan tenaga dari mobil atau motor mereka, biasanya yang memiliki gas buang buruk tenaganya lebih lemah dari kendaraan bermesin sehat.

“Dari kenalpotnya akan keluar asap dengan warna keruh, atau kalaupun tidak mengeluarkan asap maka mengeluarkan bau berlebih,” kata dia.

Kendaraan yang tidak sehat juga terlihat dari konsumsi bahan bakarnya, biasanya kendaraan lebih boros BBM dari biasanya.

Mobil atau motor dengan gas buang berbahaya kata dia memiliki temperatur mesin yang lebih cepat panas saat dikendarai.

“Kalau menemukan salah satu gejala tersebut sebaiknya segera servis. Sebaiknya kendaraan harus masuk perawatan rutin berkala agar nantinya tidak membuat kita terpaksa menyiapkan dana besar untuk perbaikan,” ujarnya.

Baca juga: Dirjen: Kendaraan bermotor harus didorong berstandar emisi Euro 6

Pewarta: SDP-107
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Mantan pegawai Tesla dirikan unicorn sendiri, jadi pemasok Daimler

Jakarta (ANTARA) – Gene Berdichevsky merupakan seorang tim awal Tesla, perusahaan Amerika Serikat pembuat kendaraan luar angkasa dan mobil listrik beserta baterai dan teknologinya.

Berdichevsky sekarang membangun startup unicorn sendiri, Sila Nanotechnologies, setelah ia meninggalkan perusahaan saat Tesla memiliki 300 karyawan, bertambah 30 kali dalam empat tahun. Tesla sekarang memiliki lebih dari 45.000 karyawan dengan nilai kapitalisasi pasar 40 miliar dolar atau sekira Rp560,4 triliun, mengutip laporan Forbes, Senin.

Sila Nanotechnologies yang dipimpinnya sekarang telah memiliki valuasi lebih dari 1 miliar dolar, dan ketika menjadi tamu di Dealmakers Podcast, ia berbagi mengenai pengembangan mobil solar pertamanya serta bagaimana ia meningkatkan ratusan juta dolar untuk nilai perusahaan rintisannya.

Ia dilahirkan di Laut Hitam di Ukraina, menghabiskan waktu di St. Petersburg, Rusia, dan bahkan tinggal di utara lingkaran arktik selama lima tahun, sebelum kemudian mendarat dengan keluarganya di Richmond, Virginia, dan berkuliah di California.

Dalam tahun pertamanya di Stanford, ia terlibat dalam proyek mobil tenaga surya. Para siswa berlomba membangun mobil bertenaga surya dan mengkompetisikan mobilnya dikendarai menempuh jarak 2.300 mil, dari Chicago ke Los Angeles.

Berdichevsky melanjutkan, untuk mendapatkan gelar master di bidang teknik energi dari Stanford. Sebenarnya tidak ada program seperti itu pada saat itu. Jadi, dia menyusun kurikulumnya sendiri. Dia menekuni materi fisika semikonduktor, mekanika kuantum, dan Matahari.

Baca juga: Penjualan Tesla naik, tapi masih rugi 408 juta dolar

Gene kemudian menjadi karyawan Tesla ketujuh sebagai pemimpin teknologi untuk pengembangan arsitektur sistem baterai. Banyak tantangan pada awal-awal untuk Tesla. Mereka memulai penelitian dan pengembangan baterai dari baterai laptop untuk membuat paket baterai mobil listrik.

Kini, perusahaan rintisannya, Sila Nanotechnologies mengembangkan teknologi baterai untuk kendaraan listrik, elektronik konsumen, hingga kelistrikan pesawat terbang.

Pada 16 April lalu, perusahaan otomotif Jerman Daimler AG memimpin investasi 170 juta dolar di Sila Nanotechnologies, yang telah mengembangkan pengganti bahan silikon untuk grafit dalam baterai lithium-ion dan mampu meningkatkan kapasitas baterai sebesar 20 persen.

Bahan-bahan yang dikembangkan Sila akan memberikan komitmen elektrifikasi dari Daimler, karena Mercedes-Benz pada 2022 berencana memproduksi kendaraan yang seluruhnya bertenaga listrik.

Baca juga: BAIC China miliki 5 persen saham Daimler

Baca juga: Daimler tarik Mercedez GLK 220 sebanyak 60.000 di Jerman

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Punya mobil listrik? Hindari tiga hal ini

Tangerang, Banten (ANTARA) – Pemilik kendaraan listrik memang mendapatkan pengalaman mengemudi baru saat menggunakan mobil ramah lingkungan, mulai dari hemat biaya, tidak perlu antre mengisi BBM hingga laju kendaraan yang senyap karena bergerak menggunakan motor listrik.

Namun, bagi pemilik mobil ramah lingkungan seperti Mitsubishi Outlander PHEV, harus memperhatikan tiga hal utama untuk menjaga daya tahan baterai, antara lain lokasi parkir, pola pengisian dan sikap saat menerjang banjir.

Pertama, pemilik Outlander PHEV disarankan untuk memarkir kendaraan di lokasi teduh, atau tidak terpapar panas matahari.

Baca juga: Menkeu: Insentif pajak mobil listrik diteken Presiden pekan ini

“Karena di mobil ada baterai, pada PHEV terletak di bawah. Maka akan lebih baik jika parkir tidak di bawah sinar matahari langsung,” kata Head Technical Service CS Suport Departemen PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Boediarto, di GIIAS 2019.

Kedua, jangan memaksakan diri untuk melibas banjir apabila ketinggiannya melewati setengah ukuran ban mobil.

“Kalau banjir, perlakuannya sama seperti yang bukan PHEV. Setengah ukuran ban adalah titik paling tinggi kalau kena air. Kalau lebih jangan diterusin,” kata dia.

Ketiga, biasakan menggunakan mode pengisian normal selama semalaman melalui instalasi rumah, dan menghindari metode quick charging jika tidak diperlukan.

“Memang yang dianjurkan untuk maintain kondisi baterai adalah dengan normal charging atau dicas semalaman dibanding quick charge,” katanya. “Quick itu dilakukan dalam kondisi khusus, misalnya untuk perjalanan jauh”.

Kendati demikian, pengguna Outlander PHEV tidak perlu khawatir karena masa pakai baterai bisa mencapai 10 tahun. MMKSI juga memberikan garansi baterai selama 3 tahun atau 100 ribu kilometer.

Baca juga: Berapa rupiah yang dibutuhkan sekali isi baterai Outlander PHEV?

Baca juga: Outlander PHEV bisa jadi genset, bagaimana cara kerjanya?

Pewarta: A069
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Berapa rupiah yang dibutuhkan sekali isi baterai Outlander PHEV?

Tangerang, Banten (ANTARA) – Mitsubishi Indonesia memperkenalkan mobil ramah lingkungan Outlander PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) yang diklaim menawarkan efisiensi hingga 40 persen, ketimbang memakai kendaraan bermesin bakar konvensional (combustion engine).

Head Technical Service CS Suport Departemen PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Boediarto, menjelaskan bahwa sisi hemat yang dihitung bukanlah dari ukuran bahan bakar, melainkan dari nilai rupiah yang dikeluarkan, yakni hanya Rp20 ribu untuk sekali pengisian.

“Bukan konsumsi BBM yang dihitung, tapi rupiahnya. Dengan PHEV ini lebih hemat 40 persen dibanding yang bukan PHEV,” kata Boediarto di GIIAS 2019, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Boediarto menjelaskan, kendaraan itu membutuhkan daya setidaknya 3.600 watt untuk pertama kali pengisian pada instalasi listrik di rumah. Kemudian daya yang dibutuhkan akan turun menjadi rata-rata 2.000 watt secara konstan jika melakukan full charging.

“Ketika di-charge, biaya listrik full charging hanya 20ribu untuk sekali isi,” kata Boediarto, menambahkan bahwa mobil berkapasitas baterai 13,8 Kwh itu dapat melaju sejauh 55km untuk sekali pengisian penuh.

Perhitungan adalah, jika setiap 1 Kwh senilai Rp1.500, maka untuk mengisi 13.8 Kwh pengguna hanya mengeluarkan Rp20.700 untuk pengisian penuh.

Selain itu, teknologi PHEV yang dibawa Outlander memungkan mobil ini mengisi daya listrik dari mesin bensin saat baterai akan habis atau saat tersisa 20 persen.

Baca juga: Luhut: Hyundai akan bangun pabrik mobil listrik di Karawang

Baca juga: Perpres mobil listrik kesempatan “lompat katak” di industri otomotif
 

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Coba Toyota Prius PHV, Sri Mulyani sebut ingin pakai mobil itu, bila..

Tangerang (ANTARA) – Usai menyampaikan materi pada seminar “Future Technologi in Motion” di Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Rabu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkunjung ke sejumlah booth, di antaranya booth Toyota Astra Motor.

Sri Mulyani yang baru saja menyampaikan tren dan kebijakan pemerintah terkait mobil listrik pun berjalan di tengah kerumunan didampingi Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johannes Nangoi dan jajaran pengurus lainnya serta Presdir PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto.

Terlihat mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu antusias berjalan ketika diinformasi ada mobil Plug in Hybrid di Toyota.

Langkahnya terhenti pada sebuah mobil berwarna putih dengan desain sport, yang disampingnya ada semacam tempat charging. Itulah Toyota Prius Plug in Hybrid Vehicle (PHV) Seri Gazoo Racing (GR).
  Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengunjungi booth Toyota di Gaikindo Indonesia International Auto Show ( GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Rabu (ANTARA/Risbiani Fardaniah)

Manager PR PT Toyota Astra Motor (TAM) Rouli Sijabat yang berada di samping Sri Mulyani pun menjelaskan secara singkat mobil ramah lingkungan berteknologi hibrid yang dicharge dengan energi listrik, namun juga masih menggunakan bensin sebagai tenaga penggerak lainnya, sehingga irit bahan bakar.

Setelah itu Sri Mulyani yang mengenakan baju tunik hitam dan kain tenun dengan warna senada itu pun masuk ke ruang kabin Toyota Prius PHV Seri GR itu dan duduk dikursi pengemudi.

“Interiornya bagus juga ya,” kata Menteri yang dalam seminar menyatakan bahwa dalam pekan ini Presiden Joko Widodo kemungkinan menandatangani Peraturan Pemerintah yang memberi insentif pada mobil ramah lingkungan pada pekan ini. Ruang Kabin dan dashboard Toyota Prius Seri GR yang dicoba Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengunjungi booth Toyota di Gaikindo Indonesia International Auto Show ( GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Rabu (ANTARA/Risbiani Fardaniah)

Ia pun bertanya terkait panel layar besar di tengah dashboard. “Layar besar ini untuk apa?” tanya Sri Mulyani yang memundurkan dulu kursi kemudi agar posisi duduknya nyaman.

Rouli Sijabat pun menjelaakan bahwa layar besar ini seperti ruang kontrol dan informasi tentang mode tenaga penggerak yang sedang beroperasi saat mobil berjalan, antara mesin bensin dan listrik.

“Bagus, saya kalau sudah pensiun jadi menteri mau juga mobil ini,” ujar Sri Mulyani yang mengaku ketika tinggal selama enam tahun di Amerika Serikat memiliki mobil hibrid Toyota Prius dan sempat mencoba mobil listrik Tesla yang sedang hit di Amerika kala itu.

Baca juga: Gaikindo: Infrastruktur mutlak dibangun sebelum produksi mobil listrik

Baca juga: Sekitar 20 mobil model baru siap meluncur di GIIAS 2019

Pewarta: R016
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2019

Kendaraan hybrid mahal, ini tanggapan TAM

Tangerang (ANTARA) – Banyak masyarakat menilai harga kendaraan berteknologi hybrid mahal, hal itu karena beberapa faktor mulai dari pajak dan faktor produk yang masih diimpor dari negara asalnya.

“Kan dipersepsikan mahal…PPnBM tinggi 40 persen, termasuk import duty juga. Nah mereka merasa kendaraan tersebut bisa di atas Rp1 miliar lebih, jadi waktunya supaya ada insentif untuk mengurangi agar harganya, agar terjangkau,” kata Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto di GIIAS 2019, beberapa waktu lalu.

Dari pihak TAM, sebetulnya bukan harga yang menjadi perhatian utama. Bagi mereka, ada sudut pandang lain dari konsumen yang membuat gambaran tersebut terkesan mahal. Sebagai contoh, biaya perawatan yang masih dianggap lebih mahal dari mobil bermesin konvensional.

“Nah itu merupakan suatu insentif, kalau buat saya pribadi, sebenarnya yang namanya insentif dalam bentuk PPnBM ini hanya one time, orang masih mikirinnya itu running cost sebetulnya,” katanya.

Baca juga: Tren kendaraan hybrid berubah, tidak cuma untuk kalangan dewasa

“Jadi dalam hal pemakaian sehari-hari itu bagaimana caranya, konsennya mereka itu adalah baterai salah satunya. Tapi itu sudah dijelaskan, bahwa baterai kan bisa didaur ulang, nah kita sih melihatnya ada benefit lain tidak nih yang bisa dipakai oleh konsumen,” kata dia.

Di tengah polusi udara yang semakin bertambah, dia juga berharap mobil hybrid tidak dikenakan aturan plat ganjil dan genap.

“Sebagai contoh di Jakarta ya mungkin kalau memang Jakarta emisinya sudah jelek kenapa tidak kita ubah saja,” katanya.

“Jadi mobil hybrid boleh masuk dan tidak terkena ganjil genap. Yang kedua misalnya di jalan tol, sekarang bayar tol semakin mahal dan naik terus, khusus untuk hybrid bisa bayar setengahnya, dan dibuat saja kelasnya, nah itu benefit-benefitnya yang bisa didapat sebagai contoh,” imbuhnya.

PT Toyota Astra Motor telah merilis beberapa mobil-mibil hybrid dan plug in hybrid Indonesia. Beberapa model yang telah dipasarkan antara lain adalah Prius Hybrid, Camry Hybrid, Alphard Hybrid, dan yang terbaru adalah C-HR Hybrid.

Baca juga: Alasan Rio Haryanto beli Toyota CHR hybrid

Baca juga: Toyota kenalkan mobil ramah lingkungan TS050 Hybrid, Prius PHEV GR

Baca juga: Minat konsumen meningkat, Toyota genjot penjualan mobil hybrid

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Glory E3 siap dipasarkan jika regulasi kendaraan listrik rampung

Tangerang (ANTARA) –

“Ini pertama kali DFSK membawa mobil listrik ke pasar Indonesia, satu mobil utuh beserta dengan kelengkapan fiturnya,” kata Head of Marketing Team PT Sokonindo Automobile, Major Qin, dalam Media Talk yang digelar saat pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Selasa.

Major menjelaskan saat ini pemerintah sedang menyiapkan regulasi terkait mobil listrik, DFSK sebagai pabrikan otomotif akan mendukung segala kebijakan pemerintah yang terkait dengan manufaktur kendaraan.

“Untuk itu kita berkomitmen dalam menjalankan hal tersebut dari segi produk dan teknologi, DFSK mengatakan sudah siap untuk memasarkan mobil listrik Glory E3 di Indonesia. Tinggal menunggu regulasi dari pemerintah, baik dari kebijakan dan juga infrastrukturnya,” kata Major.

Baca juga: Glory E3 bebas emisi karbon

Major menjelaskan, DFSK dalam menyambut era kendaraan listrik akan menyiapkan segalanya, mulai dari produknya, purna jual, layanan, dan suku cadangnya.

“Glory E3 sebenarnya sudah diluncurkan di Shanghai, China pada Mei 2019 lalu,” kata Major.

Deputy Product Division Head DFSK Ricky Gumisar menambahkan meski baru diperkenalkan, Glory E3 siap dipasarkan jika peraturan pemerintah terkait kendaraan listrik sudah rampung.

“Sebenarnya kita sudah siap desain sudah oke, mobil utuh sudah siap. Tinggal tunggu regulasi dari pemerintah. Jika regulasi sudah oke, kami siap,” ujar Ricky.

Baca juga: Tesla ikut bangun pabrik baterai lithium di Morowali

Kehadiran DFSK di GIIAS ini juga untuk mendapatkan masukan dari masyarakat tentang mobil listrik Glory E3.

“Ada proses riset yang harus kita lakukan, proses pengetesan, menjamin kualitas produk dan layanan purna jualnya, apalagi ini barang yang benar-baner baru, kita juga harus lihat kebijakan pemerintahnya seperti apa,” kata Ricky.

Baca juga: PLN Disjaya jamin penerangan selama balapan mobil listrik Formula E

Baca juga: Mobilitas listrik, sedikit tentang Indonesia dan dunia

Pewarta: SDP-112
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Alasan Honda Accord hybrid belum masuk Indonesia

Alasan Honda Accord hybrid belum masuk Indonesia
(Kiri-kanan) Sales and Marketing General Manager Honda Prospect Motor Yusak Billy, Assistant Large Project Leader Honda Accord, Honda R&D Masao Nakano, Marketing and Aftersales Service Director Honda Prospect Motor Jonfis Fandy. Business Planning Director Honda Prospect Motor Takayuki Uotani, Project Leader of Honda Sensing, Honda R&D Yasuhiro Nakano dan Project Leader of Honda Accord, Honda R&D Yasushi Nakoji, saat acara test drive Honda Accord di Karawang, Jawa Barat, Selasa (23/7/2019). (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)
Jakarta (ANTARA) – PT Honda Prospect Motor, agen pemegang merk mobil Honda di Indonesia, belum memiliki rencana untuk membawa Accord versi hybrid untuk pasar sedan di Indonesia.

“Belum ada rencana (membawa Accord hybrid) karena regulasi,” kata Marketing and Aftersales Service Director Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy, saat acara test drive Honda Accord di Karawang, Jawa Barat, Selasa.

Mobil hybrid menggunakan tenaga dari bahan bakar bensin dan listrik dari baterai, diyakini mampu mengurangi konsumsi bahan bakar.

Baca juga: All New Accord seharga Rp698 juta diluncurkan dalam GIIAS 2019
  Sejumlah Jurnalis mengendarai All New Honda Accord saat uji kendara (test drive) di Bridgestone Test Course, Karawang, Jawa Barat, Selasa (23/07/2019). ANTARA FOTO/Zarqoni maksum/ama.

Pemerintah saat ini belum menetapkan regulasi untuk mobil jenis hybrid, namun, pada Mei lalu Kementerian Perindustrian berjanji akan mempercepat regulasi untuk mobil hybrid.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi menyatakan proses legal regulasi mobil hybrid dan mobil ramah lingkungan (low cost and green car) akan dipercepat dengan memberikan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kepada prinsipal, seperti dikutip dari laman resmi kemenperin.go.id.

Kemenperin berpendapat investor akan tertarik menanamkan modal untuk LCGC ketika regulasi sudah ada.

Honda baru saja meluncurkan All New Honda Accord pada acara otomotif terbesar Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pekan lalu, seharga Rp698 juta.

Mobil yang dilengkapi dengan sistem keamanan terbaru Honda Sensing ini menyasar segmen eksekutif muda yang menyukai desain dan teknologi otomotif terkini.

Baca juga: Uji gaya mengemudi Anda lewat Honda Sensing di GIIAS 2019

Baca juga: Honda umumkan tiga finalis Brio Music Project

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny

Pewarta: N012
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Glory E3 bebas emisi karbon

Tangerang (ANTARA) – DFSK mengklaim kendaraan ini 100 persen bebas emisi gas buang karbon, sehingga sangat ramah lingkungan di jalan-jalan dan bisa menjadi solusi untuk kebutuhan kendaraan yang hijau.

“DFSK Glory E3 akan menjadi contoh bagaimana DFSK menatap masa depan, dan menjadi awal kendaraan listrik yang diciptakan rendah emisi karbon,” kata Head of Marketing Team PT Sokonindo Automobile Major Qin pada pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Selasa.

DFSK Glory E3 tersedia dengan tiga pilihan warna Interstellar Blue, White Pearl, dan Flaming Red.

Baca juga: Menghitung biaya perawatan Glory dan Super Cab

DFSK Glory E3 menggunakan teknologi listrik dengan model Battery Electric (BE) yang sepenuhnya mengandalkan baterai dan motor listrik sebagai tenaga penggeraknya.

Tenaga penggeraknya mengandalkan motor listrik “Permanent Magnet Synchronous Motor” bertenaga 163 ps dan torsi 300 Nm.

Bersumber baterai listrik berkapasitas 52,5 kWh, kendaraan ini sanggup menempuh jarak hingga 405 Kilometer dalam kondisi full baterai.

Baca juga: DFSK ajak konsumen berembuk bikin komunitas Glory pertama

Glory E3 juga memiliki teknologi “Mileage Extended Range Technology” yang mampu menempuh jarak hingga 1.000 Kilometer.

Glory E3 sudah dilengkapi dengan teknologi fast charging yang dapat dilakukan di rumah.

Tercatat mengisi baterai 20 persen hingga 80 persen hanya membutuhkan waktu 30 menit, dan untuk slow charging membutuhkan waktu 8 jam.

Glory E3 dilengkapi dengan fitur floating head unit yang berukuran 10,25 inci dan didukung sistem Lin OS 4.0 versi terbaru.

Head unit didukung dengan teknologi voice command yang lebih sensitif sehingga dapat dilakukan perintah suara tanpa terlalu keras untuk mempermudah penumpang melakukan berbagai aktivitas di dalam kabin.

Kemudian, DFSK Glory E3 dilengkapi dengan Anti-Lock Brake System (ABS) yang didukung dengan Electronic Brake Distribution (EBD) untuk memaksimalkan pengereman, Electronic Stability Program (ESP) untuk menjaga traksi kendaraan, ISOFIX untuk mengunci baby car seat, 360 degrees Panoramic Parking untuk memudahkan ketika parkir, serta Vehicle Running Recorder untuk merekam segala kondisi selama perjalanan.

DFSK melengkapi konsumen yang membeli Glory E3 dengan garansi panjang hingga 120.000 kilometer. Garansi ini akan menjamin semua kerusakan komponen dari pabrik atau kesalahan proses pemasangan. Sehingga konsumen tidak perlu khawatir terhadap permasalahan yang melanda DFSK Glory E3.

Baca juga: Pabrikan China jajaki peluang ekspor lewat Super Cab

Baca juga: DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Baca juga: DFSK siapkan kejutan di GIIAS, mobil listrik Glory E3

Pewarta: SDP-112
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Tren kendaraan hybrid berubah, tidak cuma untuk kalangan dewasa

Tangerang (ANTARA) – PT Toyota Astra Motor (TAM) menyatakan bahwa tren kendaraan hybrid terus berkembang dan mengalami perubahan, tidak hanya diminati oleh kalangan dewasa saja.

“Kendaraan hybrid kalau dulu itu lebih cocoknya orang dewasa, punya uang, konsen dengan lingkungan. Namun, sekarang anak muda juga banyak yang minat, karena adanya teknologi hybrid yang kekinian,” ungkap Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto kepada media, di ICE BSD, beberapa waktu lalu.

Hal itu didukung penjualan kendaraan C-HR hybrid kian meningkat di kalangan generasi muda.

​​​​​”Penjualan kendaraan C-HR hybrid itu lebih besar dari Camry hybrid, sekarang rata-rata 70 unit C-HR hybrid per bulannya.
​​​​​C-HR yang biasa sejak adanya hybrid, konsumen sebagian besar lari ke hybrid,” kata Soerjopranoto.

Baca juga: Toyota Yaris hingga Prius Hybrid bisa dijajal di GIIAS 2019

Toyota menyadari bahwa kendaraan hybrid tergolong mahal untuk kalangan muda, untuk itu mereka menyediakan C-HR dengan harga Rp500 jutaan.

“Saat ini kan teman-teman tahu, harga hybrid ga murah, harga kendaraan itu sekitaran Rp 800 juta. Kita kenalin C-HR hybrid dengan spesial harga yang memiliki selisih Rp30 juta,” jelasnya.

Saat ini, PT TAM juga menunggu keputusan pemerintah akan kebijakan mengenai pengimplementasian kendaraan hybrid di pasar Indonesia ke depannya.

“Saat ini langkah yang kami lakukan adalah menungu kebijakan pemerintah, bagaimana keinginan pemerintah ke depannya dan bagaimana mengenai implementasi hybrid itu sendiri,” tutupnya.

Pada ajang GIIAS 2019, PT TAM juga membawa kendaraan Gazoo Racing (GR) Prius PHEV yang bertujuan untuk menarik hati dari kaum muda Indonesia.

Baca juga: Toyota Fotuner TRD Sportivo baru tampangnya kian agresif

Baca juga: Toyota bakal luncurkan satu lagi mobil hibrid tahun ini setelah C-HR

Baca juga: Toyota Digifest ajak anak muda menggali peluang dunia digital

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mobilitas listrik, sedikit tentang Indonesia dan dunia

Jakarta (ANTARA) – Penggunaan secara luas kendaraan ramah lingkungan, termasuk mobil listrik, sedang gencar dikampanyekan di sebagian belahan dunia, sebagai misi bersama mengurangi emisi CO2 yang dituduh punya peran besar dalam peningkatan pemanasan globall.

Mengutip World Resources Institute, emisi karbon dioksida dunia pada 2017 telah mencapai lebih dari 36,2 gigaton, kemudian naik pada 2018 menjadi 37,1 gigaton, dengan Indonesia berada di antara 15 negara penyumbang terbesar.

Menurut estimasi Global Carbon Project (GCP), emisi karbon dioksida di Indonesia pada 2017 sebanyak 487 juta ton (MtCO2), naik 4,7 persen dari tahun sebelumnya, sebelum kemudian naik lagi 2 persen pada 2018.

Di DKI Jakarta saja, emisi CO2 setiap tahunnya mencapai 206 juta ton, dengan penyumbang terbesar sektor transportasi yang angkanya mencapai 182,5 juta ton, sedangkan sektor rumah tangga dan industri masing-masing berkontribusi 23,9 juta ton dan 350,3 ribu ton.

Bercermin dari data itu, tentu sudah mendesak bagi Indonesia untuk menekan produksi karbon dioksida di sektor transportasi, selain melalui bauran energi yang memperbanyak peran energi terbarukan, dan pelestarian hutan.
  Daftar 15 negara penyumbang utama emisi CO2 di dunia pada 2017. (ANTARA News/World Economy Forum)

Membangun dan memperbanyak penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia harus sudah dimulai walaupun ini tidak mudah karena membutuhkan banyak instrumen—yang sejauh ini sangat minim—, baik itu infrastruktur, teknologi, kebijakan atau regulasi berupa insentif, serta inisiatif.

Kita sedikit lega setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan sinyal keseriusan pemerintah dalam membangun mobilitas listrik (e-mobility) meskipun sejauh ini masih belum jelas peta jalannya. JK mengatakan peraturan pemerintah tentang mobil listrik akan diterbitkan tahun ini.

“Segera karena ini disinkronkan dengan beberapa kementerian apakah itu industri, keuangan, perhubungan, dan juga kemampuan industri dalam negeri, tahun depan,” kata Wapres JK saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Kamis lalu (18/7).

Satu lagi yang membuat banyak pihak lega adalah mulai diperkenalkannya beberapa mobil listrik dari sejumlah pabrikan mobil besar yang hadir di GIIAS. Meskipun pasar masih bertanya-tanya di mana mereka bisa menemukan stasiun pengisian daya baterai mobil, kehadiran beberapa mobil listrik itu membuat masyarakat menjadi sedikit lebih akrab dengan kendaraan listrik.

Melengkapi Toyota Prius dan Camry hybrid yang sudah lebih dulu hadir, di GIIAS diperkenalkan sederetan kendaraan ramah lingkungan terbaru, sebut saja BMW i8 Roadster, BMW i3S, Mercedes-Benz E300 e, DFSK Glory E3, Renault Twizy, Daihatsu HYFun, Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota C-HR Hybrid, Toyota Camry dan Alphard hybrid teranyar, dan Hino Dutro Hybrid.

Yang menarik, di antara mobil penumpang ramah lingkungan kelas menengah dan mewah itu hadir Hino Dutro Hybrid, seolah memberi “peringatan” bahwa kendaraan ramah lingkungan dalam sektor transportasi publik dan angkutan barang juga penting, mengingat masih buruknya kontrol emisi gas buang pada sub-sektor ini.

Butuh peran besar pemerintah dan industri untuk mengimplementasikan kendaraan ramah lingkungan pada sektor transportasi publik atau massal, sekalian memberikan contoh baik bagi masyarakat untuk mulai beralih dan punya kesadaran tinggi untuk menggunakan kendaraan pribadi yang lebih ramah lingkungan, dengan didahului kebijakan pengetatan uji emisi tentunya.
  Hino Dutro Hybrid (ANTARA/Yogi Rachman)

Inisiatif dan insentif

Dalam pengembangan mobilitas listrik (e-mobility), inisiatif dan insentif sama-sama pentingnya. Inisiatif tanpa insentif tak akan jalan, demikian juga sebaliknya.

Di Amerika Serikat, yang menyediakan insentif pengurangan pajak antara 2.500 – 7.500 dolar per kendaraan berdasarkan kapasitas baterai dan bobot mobil, tingkat adopsi kendaraan listrik di pasar domestik pada 2018 mencapai 360.800 unit, naik drastis 81 persen dibanding 2017, menurut pusat data penjualan global kendaraan listrik EV Volume.

Dari angkat tahun lalu itu, 66 persen di antaranya merupakan kendaraan murni listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) dan 34 persen Plug-in Hybrid (PHEV). Ini berarti penggunaan kendaraan bertenaga listrik sepenuhnya, naik tajam dari tahun 2017 angkanya baru 53 persen mobil murni listrik dan 47 persen PHEV.

AS sangatlah beruntung memiliki Tesla, grup produsen mobil listrik dan kendaraan luar angkasa punya Elon Musk yang visioner. Dari peningkatan adopsi mobil listrik yang tumbuh 81 persen dibanding 2011-2013, penjualan Tesla Model 3 naik cepat dalam persaingan dengan Chevy Volt dari GM, Toyota Prius Plug-in, dan Nissan LEAF.

Pada kuartal pertama tahun ini Tesla mampu menjual 77.550 unit Model 3, naik 50 persen dari periode sama tahun 2018, dan masing-masing 17.650 unit untuk Model S dan Model X. Satu pencapaian yang patut bagi Tesla, perusahaan cerdas yang memproduksi baterai mobil sendiri dan menciptakan teknologi pengisian cepat daya baterai kendaraan listrik.

Tesla telah membangun banyak stasiun pengisian daya baterai untuk pelanggannya di tempat-tempat strategis di pasarnya di seluruh dunia, termasuk China. Belakangan ini, teknologi pengisian daya baterai listrik Tesla V3 (versi 3) mampu mengisi hingga 1.500 kendaraan dalam sehari.

Eropa, kawasan dengan banyak pabrikan mobil besar, telah membuat banyak inisiatif untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah di kawasan ini dibantu asosiasi dan pabrikan membangun infrastruktur dan percontohan mobilitas listrik di sejumlah negara.

Adopsi pasar terhadap kendaraan listrik di Eropa pada 2018 tercatat mencapai 408.000 unit, naik 33 persen dibanding 2017, itu sudah termasuk PHEV dan BEV baik kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial.
  Mobil listrik Tesla Model X di jalanan kota Hong Kong, Jumat (25/1). (ANTARA News/Alviansyah P)

Untuk meningkatkan sumbangsih industri otomotif terhadap penciptaan udara bersih, Eropa juga memberlakukan aturan emisi baru WLTP (the Worldwide Harmonised Light Vehicle Test) dengan menoleransi hanya emisi di bawah 50gram CO2 per kilometer.

Untuk kawasan Asia Pasifik, semua bisa berkaca dari China, pasar terbesar dunia yang juga sudah mulai diperhitungkan dalam percaturan pasar mobil global, berkat kemajuan pesat pabrikan dalam negerinya, seperti NIO, baik dalam teknologi maupun kualitas produknya.

China, telah menelorkan kebijakan subsidi mobil listrik untuk mendorong penetrasi Kendaraan Energi Baru (New Energy Vehicle/NEV). Penjualan NEV di China naik drastis sejauh ini. Secara volume naik 106 persen pada semester pertama dan 68 persen pada paruh kedua tahun 2018, sedangkan untuk tahun ini 79 persen.

China masih menjadi pasar terbesar kendaraan plug-in sejauh ini, dengan penjualan NEV tahun 2018 mencapai 1.160.000 unit, mencakup kendaraan penumpang maupun komersial ringan. Jauh dibanding Eropa yang 410.000 unit dan AS dalam kisaran 360.000 unit.

Banyak analis memperkirakan bahwa pada 2019 penjualan kendaraan energi baru di China mencapai 1,8 juta unit (Cars, SUVs, MPVs, dan LCVs) di pasar kendaraan ringan domestik yang mencapai 26,7 juta unit, turun 3 persen dibanding 2018.

Melihat apa yang terjadi di dunia, jelas bahwa pengembangan mobilitas listrik di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif segelintir orang atau satu institusi saja. Ini membutuhkan inisiatif bersama, kolaborasi, antara pemerintah dan para swasta berkemampuan tinggi, yang ditunjang dengan kebijakan dan ekosistem yang baik pula. Mobil Listrik DFSK Glory E3 di GIIAs 2019 (ANTARA News/Alviansyah P)

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Era mobil ramah lingkungan kian dekat, tapi kemana arahnya?

Jakarta (ANTARA) – Pada setiap pameran otomotif dalam dua tahun terakhir, pengunjung begitu mudah menemukan kendaraan ramah lingkungan, baik listrik maupun hibrida yang dipajang sejumlah produsen di panggung utama.

Beberapa pabrikan boleh jadi memajang model itu sebagai pemanis pameran. Tapi, sebagian pabrikan benar-benar serius memperkenalkan teknologi non-bahan bakar minyak itu untuk mengedukasi masyarakat Indonesia.

Sebagaimana pameran sebelumnya, teknologi terbaru pun muncul dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019.

Toyota, sebagai salah satu merek besar, begitu serius memperkenalkan kendaraan hybrid, mulai dari C-HR untuk kalangan muda serta model Camry dan Alphard untuk kalangan yang dewasa. Bagi Toyota, hal itu bukanlah sesuatu yang baru karena mereka sudah satu dekade memasarkan kendaraan hybrid melalui model Prius.

“Pada tahun 2017 rata-rata penjualan mobil hibrida Toyota hanya 14 unit per bulan. Tapi, tahun ini tumbuh pesat,” kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy, pada Jumat (19/7).

Peningkatan penjualan itu setidaknya menjadi pertanda era mobil terelektrifikasi atau yang lebih ramah lingkungan sudah semakin dekat. Industri otomotif eletrik tinggal menunggu payung hukum dari pemerintah.

Baca juga: Menperin sebut dua industri otomotif siap investasi Rp50 triliun
  Kerangka Mitsubishi Outlander PHEV di GIIAS 2019 (ANTARA/Alviansyah P)

Pabrikan Jepang lainnya, Mitsubishi, sudah mulai menjual Outlander PHEV yang dibanderol Rp1,2 miliar dengan target penjualan lima unit selama pameran GIIAS 2019 pada 18-28 Juli.

Dua pabrikan Jerman, BMW dan Mercedes-Benz, juga memboyong mobil listrik mereka antara lain BMW i3 dan Mercy E300 EQ Power. Renault juga memajang mobil listrik mungil Twizy, kendati hanya sebagai pemanis pameran.

Jenama China, Wuling telah memperkenalkan kendaraan listrik E100 pada 2018. Kemudian pada 2019, giliran Dongfeng Sokonindo (DFSK) memamerkan mobil listrik Glory E3.

Tidak tanggung-tanggung, DFSK menyatakan kesiapannya untuk memproduksi mobil terelektrifikasi apabila Pemerintah Indonesia sudah memantapkan regulasi terkait kendaraan ramah lingkungan.

“Persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat DFSK Glory E3 akan dipasarkan secara global, termasuk di kawasan ASEAN,” kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang, dalam GIIAS 2019, Jumat (19/7).

“Indonesia berpeluang menjadi basis produksi untuk pasar ASEAN mengingat fasilitas produksi di Indonesia sangat memungkinkan dan mendukung,” kata Franz.

Baca juga: Kepala BPPT: Inovasi KBL dorong kesiapan Indonesia hadapi industri 4.0
  DFSK Glory E3 GIIAS 2019 (ANTARA/Alviansyah P)

Dorong investasi

Pada pembukaan GIIAS, Kamis (18/7), Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyempatkan diri berkeliling arena pameran. Mereka melihat-beberapa anjungan produsen otomotif, termasuk yang memajang mobil ramah lingkungan.

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa pemerintah akan mendukung industri otomotif karena memiliki efek luas untuk memajukan ekonomi dari berbagai segmen, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga mendorong pelaku bisnis lain yang berkaitan dengan sektor ini.

“Pemerintah mendukung industri mobil dengan infrastruktur yang berkembang, baik sistem jalan juga logistiknya,” kata Wapres dalam sambutannya.

Terkait dukungan pemerintah, Airlangga juga mengatakan pemerintah dalam lima tahun ke depan akan menyambut investasi baru untuk pengembangan otomotif, tentunya meliputi teknologi mesin ramah lingkungan.

“Saya optimistis dalam waktu lima tahun yang akan datang, menargetkan akan ada Rp100 triliun investasi baru sektor otomotif,” ujar Airlangga.

Pada Juni, Airlangga membeberkan bahwa Toyota bakal menanamkan investasi hingga Rp28,3 triliun untuk empat tahun ke depan. Selain Toyota, pabrikan Korea Selatan Hyundai Motor juga berencana meletakkan modalnya di Indonesia.

Kendati tidak merinci investasi itu, Airlangga menyatakan akan ada investasi lain pada baterai untuk kendaraan listrik.

Baca juga: Tesla turunkan harga jual Model 3 menjadi Rp542 juta
  Outlander PHEV GIIAS 2019 (ANTARA/HO)

Listrik atau hibrida?

Kendaraan ramah lingkungan terbagi dalam beberapa jenis, ada yang listrik sepenuhnya, hybrid, juga plug-in hybrid (PHEV). Bedanya adalah kendaraan listrik sepenuhnya (EV) hanya menggunakan motor listrik dan baterai tanpa mesin pembakaran.

Sedangkan mobil hibrida menggunakan dua mesin yakni pembakaran dan motor listrik yang berkolaborasi menghasilkan efisiensi bahan bakar. Mobil jenis itu tetap membutuhkan bensin untuk menjalankan mesin dan mengisi baterai.

Plug-in hybrid adalah pengembangan lebih lanjut dari hybrid. Mobil jenis PHEV itu bisa menggunakan mesin bensin ataupun pengisian daya listrik sehingga menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh dengan dua opsi mesin.

Lantas, mobil ramah lingkungan jenis manakah yang cocok untuk Indonesia?

Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan Indonesia berpeluang besar untuk bersaing di segmen mobil listrik, apabila fokus pada jenis kendaraan berbasis baterai.

Artinya, menurut dia, mobil listrik yang menggunakan baterai sepenuhnya akan membuka peluang industri baterai yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Kementerian perindustrian pun mengundang investor untuk berinvestasi dalam produksi baterai agar mengakselerasi pengembangan mobil listrik Tanah Air. Mereka juga sudah melakukan uji coba baterai motor listrik yang menggandeng beberapa perusahaan dan organisasi teknologi.

Kendati demikian, pemerintah masih merumuskan peraturan kendaraan ramah lingkungan yang akan menaungi berbagai hal terkait mobil elektrifikasi.

Para produsen mobil di Indonesia pun menanggapi undangan pemerintah untuk investasi produksi baterai dengan berbagai pandangan. Sebagaian produsen mobil menyatakan Indonesia harus membangun infrastruktur pendukung, sebagian lain bahkan sudah siap menjual mobil listrik.

Baca juga: Dua pabrikan mobil listrik China berminat relokasi ke Indonesia

“Pendapat kami, kondisi sekarang kalau langsung EV (mobil listrik), infrastruktur kita belum siap. Membangun charging station tidak akan begitu cepat. Budaya kita juga belum terbiasa dengan mobil listrik,” kata CO-CEO Sokonindo Automobile (DFSK), Alexander Barus, dalam GIIAS 2019.

Alexander Barus mengatakan DFSK masih menunggu peraturan pemerintah sebelum memutuskan jenis mobil ramah lingkungan yang bakal dipasarkan atau diproduksi di Indonesia.

“Mana yang di-drive duluan oleh pemerintah dengan insentif (EV atau hybrid). Pastinya DFSK akan mendukung kemana arah pasar yang didukung pemerintah,” ujarnya.

Pandangan berbeda disampaikan Mitsubishi yang menyatakan dapat langsung memasarkan Outlander PHEV di Indonesia. Kendati pasar hybrid masih kecil, mereka yakin teknologi itu secara perlahan akan diterima masyarakat.

“Itu baru pionir, dan baru distribusi di GIIAS. Tentu pasar untuk segmen itu kecil. Kami targetkan dua sampai lima unit terjual selama GIIAS,” kata Imam Chaeru Cahya, Head of Sales and Marketing Group PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), dalam GIIAS 2019, Jumat (19/7).

Honda tidak membawa mobil listrik dalam GIIAS 2019 karena masih menunggu peraturan pemerintah. Sedangkan Toyota yang merayakan 10 tahun menjual kendaraan hybrid berupaya mengampanyekan cara kerja mobil elektrifikasi dengan menggelar “Electrification Day.”

Electrification Day adalah aktivitas berkelanjutan dari Toyota dalam menunjang program pemerintah untuk mendukung teknologi ramah lingkungan dan kendaraan elektrifikasi,” ungkap Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Kazunori Minamide. Jumat.

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Mercedes-Benz siap dilibatkan bahas pajak mobil listrik

Tangerang (ANTARA) –

“Jika pajak mobil listrik dan hybrid diturunkan maka harga mobil listrik dan hybrid bisa ditekan. Dengan begitu akan lebih banyak masyarakat yang bisa menikmati mobil listrik atau hybrid,” kata Presiden Direktur Mercedes-Benz distribusi Indonesia, Choi Duk Jun saat pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Jumat.

Baca juga: Mercedes-Benz tampilkan dua debut baru dalam GIIAS 2019

Choi menjelaskan semua negara besar memiliki masalah dengan polusi termasuk Indonesia.

“Mobil bertenaga listrik adalah solusi yang kami berikan untuk negara dengan permasalahan polusi,” kata Choi.

Choi menjelaskan dengan mobil listrik dan hybrid efek jangka panjangnya polusi udara bisa ditekan. Sebab Choi mengklaim mobil listrik buatan Mercedes-Benz sangat minim emisi.

Baca juga: BMW perkenalkan mobil listrik seharga Rp1,299 miliar

Choi berharap Mercedes dengan pemerintah bisa menjalin kerja sama untuk memberikan lebih banyak pilihan pada konsumen untuk membeli mobil listrik atau mobil hybrid.

“Khusus untuk Jakarta, kita akan memiliki lebih banyak mobil dengan minim emisi,” kata Choi.

Perlu diketahui, saat ini pemerintah sedang merampungkan regulasi tentang mobil listrik, agar ada kepastian hukum bagi pengembang kendaraan listrik supaya memperlancar pembangunan infrastrukturnya.

Kini, regulasi tersebut masih dalam kajian Kementerian Keuangan karena be­lum adanya titik temu mengenai skema pengenaan pajak.

Baca juga: DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Pewarta: SDP-112
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Produsen mobil asal China Dongfeng Sokonindo (DFSK) membuka peluang untuk memproduksi mobil listrik Glory E3 di Indonesia agar bisa memasarkannya di wilayah Asia Tenggara.

“Persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat DFSK Glory E3 akan dipasarkan secara global, termasuk di kawasan ASEAN,” kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang, di GIIAS 2019, Jumat (19/7).

“Indonesia berpeluang menjadi basis produksi untuk pasar ASEAN mengingat fasilitas produksi di Indonesia sangat memungkinkan dan mendukung,” kata Franz.

Franz menjelaskan bahwa DFSK sudah memperhitungkan potensi kendaraan listrik di Indonesia, sehingga mereka menanamkan nilai investasi sebesar 150 juta dolar AS untuk pabrik perakitan di Cikande, Banten, yang sudah mengusung teknologi industri 4.0.

DFSK yang mampu memproduksi 50ribu unit mobil per tahun bisa saja menambah nilai investasinya di Indonesia, apabila pasar otomotif Indonesia terus berkembang. Franz mengatakan, DFSK sudah memiliki jaringan pengembangan di Silicon Valey, Amerika Serikat, yang juga digunakan untuk membangun Glory E3.

Mobil berdesain sport utility vehicle (SUV) itu sudah tampil perdana pada Shanghai Auto Show 2018.

Sistem penggerak yang dipakai Glory E3 adalah motor listrik dan baterai dengan jarak tempuh mulai dari 405 kilometer berkat kapasitas baterai 52,56 kwh yang disandingkan dengan motor listrik tipe Permanent Magnet Synchronous Motor.

Untuk pengisian baterai, Glory DFSK E3 hanya memerlukan waktu 30 menit untuk mencapai 80 persen daya baterai dengan menggunakan teknologi fast charging.

Baca juga: BMW perkenalkan mobil listrik seharga Rp1,299 miliar

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Toyota ungkap keunggulan mesin hybrid

Jakarta (ANTARA) – PT Toyota Astra Motor (TAM) beberkan lima keunggulan kendaraan bermesin hibrida (hybrid) dibandingkan kendaraan konvensional.

“Terdapat lima keunggulan dari kendaraan hybrid di antaranya, fuel eficiency, fun to drive, comfortable, good for environment dan easy affordable maintanance,” ungkap Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Anton Jimmy Suwandi di ICE BSD, tangerang, Jumat.

Dalam kesempatan yang sama ia juga menjelaskan, bahwa tahun adalah momen yang spesial bagi konsumen karena tidak cuma bisa melihat kendaraan hybrid, melainkan bisa merasakan dan memilikinya.

“Tahun ini memang tahun yang sangat menarik untuk kendaraan elektrifikasi, termasuk hybrid karena konsumen tidak hanya bisa merasakan, melihat namun bisa membeli kendaraan tersebut,” kata dia.

Lima keunggulan tersebut antara lain:

1. Irit bahan bakar

Keunggulan utama kendaraan hybrid adalah efisiensi bahan bakar. Anton mengambil contoh kendaraan C-HR konvensional mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 12,3km/l. Sedangkan versi hybrid lebih irit dengan 20,8km/l.

“Hal ini adalah kelebihan yang sangat nyata yang bisa dirasakan langsung oleh konsumen,” kata Anton.
  Toyota CHR Hybrid. (ANTARA News/Alviansyah P)

2. Fun to Drive

“Pengalaman saya sendiri saat menggunakan hybrid, instan akselerasi bisa kita rasakan secara langsung. Karena memang ada power dari baterainya jadi ada dua sumber power yang kita rasakan dari mesin maupun dari baterai,” jelas Anton.

“Jadi misal kita bandingkan C-HR hybrid dan konvensional, untuk yang konvensional dari 0 sampai 50km/h dapat menempuh 4.78 detik, sedangkan C-HR hybrid 0-50km/h membutuhkan waktu 4.12 detik,” ujar dia, menambahkan bahwa hybrid memberikan percepatan lebih baik dibanding konvensional.

3. Comfortable

Mesin hybrid memberikan sensasi keheningan tersendiri, ditambah getaran mesin yang sangat minim sehingga memberikan kenyamanan bagi pengendara.

“Sebuah penelitian menerangkan, jika kendaraan hybrid melewati sebuah perpustakan, kendaraan itu tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di dalamnya karena sangat senyap. Kendaraan ini memberikan kesenyapan hingga 50 persen dibanding konvensional,” kata dia.
  Mesin Toyota Camry Hybrid (ANTARA News/Try Reza Essra)

4. Good for Environment

Ramah lingkungan adalah salah satu misi yang diusung para produsen dan pengguna mobil hybrid. Anton menjelaskan, kendaraan berjenis hibrida mengeluarkan polutan yang lebih sedikit.

“Jika bandingkan dengan C-HR konvensional itu gas buangnya mencapai 150 g co2/km, sedangkan untuk C-HR hybrid gas buangnya jauh lebih sedikit 95 g co2/km.”

5. Perawatan mudah dan terjangkau

“Sebenernya biaya perawatan dari kendaraan hybrid tidak jauh berbeda dengan kendaraan konvensional,” kata Anton.

Ia mencontohkan Toyota Camry konvensional perawatan service berkala 5 tahun biayanya Rp3,6 juta sedangkan untuk Camry Hybrid cuma Rp100 ribu lebih mahal yakni, Rp3,7 juta, sedangkan proses pengerjaan relatif sama.

“Tahun ini kami mengerjakan produk PHEV. Produk ini akan lebih baik lagi performanya, kita lihat dari emisi gas buang nya lebih rendah dibawah 100g c02/km. Di sini contohhnya Prius PHEV gas buangnya hanya 28g co2/km jadi sangat rendah sekali,” tutupnya.

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Baca juga: Toyota electric day rayakan sedekade hybrid, dukung program pemerintah

Baca juga: Yaris Rhythm hingga C-HR, sederet “dress up” menawan dari Toyota

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Tangerang (ANTARA) – PT Toyota Astra Motor (TAM) pada Jumat memberikan kesempatan kepada awak media untuk menjajal mobil listrik yang teknologinya dikembangkan Toyota Global, berlokasi di kawasan QBig BSD City, Tangerang, Banten.

Acara yang dilaksanakan oleh TAM ini diikuti beberapa jurnalis otomotif maupun nasional, supaya peserta memahami cara kerja mobil terelektrifikasi dan sejalan dengan program pemerintah.

“Kendaraan elektrikfikasi akan semakin berkembang di masa depan, sehingga masyarakat butuh pengertian untuk itu,” kata Direktur Marketing PT TAM, Kazunori Minamide di ICE BSD, Tangerang, Jumat.

Baca juga: Toyota electric day rayakan sedekade hybrid, dukung program pemerintah

Di lokasi yang berbeda Executive General Manager PT. Toyota-Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto menjelaskan bahwa Toyota selalu sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam percepatan penerapan teknologi ramah lingkungan.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian dari upaya Toyota untuk lebih mengenalkan konsumen terhadap elektrifikasi Toyota, dimana di Indonesia sendiri sudah hampir 2.100 unit kendaraan elektrifikasi Toyota yang menemani masyarakat Indonesia,” jelas Soerjopranoto di QBiq BSD City, Tangerang, Jumat.

Baca juga: Yaris Rhythm hingga C-HR, sederet “dress up” menawan dari Toyota

Pada kegiatan test drive mobil elektrifikasi ini, setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk merasakan langsung 12 unit mobil elektrifikasi Toyota yang dikembangkan dengan platform Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

“Melalui peran serta dari teman-teman jurnalis, kami berharap masyarakat Indonesia akan semakin mengerti dan memahami manfaat dari keberadaan elektrifikasi  ini terhadap lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan serta kemajuan industri otomotif nasional,” tambahnya.

Baca juga: Yaris Rhythm hingga C-HR, sederet “dress up” menawan dari Toyota

TAM tidak hanya membawa masing-masing satu unit Camry dan C-HR hybrid, namjn ada juga Alphard Hybrid sebanyak dua unit.

Mereka juga menyediakan Prius Hybrid dan Prius PHEV yang masing-masing berjumlah empat unit agar para jurnalis bisa merasakan langsung performa dari mobil-mobil elektrifikasi yang diantaranya juga telah dipasarkan Toyota selama 10 tahun ini.

“Sejalan dengan komitmen Toyota untuk menghadirkan ever better cars melalui kehadiran kendaraan advance technology yang ramah lingkungan di Indonesia. Ke depannya, kami berkomitmen untuk terus menambah pilihan kendaraan elektrifikasi bagi masyarakat Indonesia,” kata Soerjopranoto.

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny

Baca juga: Toyota luncurkan GR Supra senilai Rp2 Miliar

Baca juga: Toyota kenalkan mobil ramah lingkungan TS050 Hybrid, Prius PHEV GR

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mitsubishi targetkan lima unit Outlander PHEV terjual di GIIAS 2019

Tangerang (ANTARA) – PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales (MMKSI) berharap bisa menjual lima unit SUV Outlander PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicles) selama ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 yang digelar di ICE BSD, Tangerang.

Target penjualan lima unit kendaraan ramah lingkungan itu cukup beralasan. Sebab, segmen pasar dari kendaraan hybrid di Indonesia belum terlalu banyak.

“Target penjualan PHEV terus terang ini bukan sepeti Pajero dan Xpander. Ini baru pionir dan baru distribusi di GIIAS, tentu pasar untuk segmen ini kecil. Kami targetkan dua sampai lima unit terjual selama di GIIAS,” kata Imam Chaeru Cahya, Head of Sales and Marketing Group MMKSI, dalam jumpa pers di GIIAS 2019, Jumat.

Baca juga: Mitsubishi Outlander PHEV terjual 200 ribu secara global

Sebelumnya, PT MMKSI telah meluncurkan secara resmi Outlander PHEV di ajang GIIAS 2019, Kamis (18/7). Mobil ramah lingkungan ini dijual dengan harga Rp1,289 miliar.

Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang dapat mencicipi Outlander PHEV. Kendaraan ini memiliki keunggulan dibandingkan lainnya, yaitu dapat menjadi sumber listrik cadangan saat diperlukan.

Dalam kesempatan berbeda, Chairman of Mitsubishi Motors Corporation, Osamu Masuko, mengatakan bahwa saat ini pihaknya fokus agar masyarakat Indonesia bisa lebih jauh mengenal dan mengetahui manfaat teknologi mobil ramah lingkungan melalui peluncuran Outlander PHEV.

Baca juga: Indonesia negara pertama di Asean cicipi Mitsubishi Outlander PHEV

Baca juga: Penyebab harga Outlander PHEV selangit

Pewarta: SDP-127
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Toyota electric day rayakan sedekade hybrid, dukung program pemerintah

Tangerang (ANTARA) – PT Toyota Astra Motor (TAM) menggelar eksibisi Electrification Day bertema “How Hybrid Are You”, guna menunjang program pemerintah terkait teknologi elektrifikasi bagi perkembangan industri otomotif nasional, sekaligus merayakan satu dekade Toyota Hybrid di Indonesia.

Electrification Day ini adalah aktivitas berkelanjutan dari Toyota dalam menunjang program pemerintah untuk mendujung teknologi ramah lingkungan dan kendaraan elektrifikasi,” ungkap Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Kazunori Minamide. Jumat.

Toyota Hybrid System (THS) yang digunakan pada Toyota Prius menjadikan model itu kendaraan pertama ramah lingkungan dengan energi efisien di seluruh dunia, dan telah menjadi duta kendaraan ramah lingkungan.

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny

Hingga kini, THS telah berkemabng sangat pesat dibandingkan generasi sebelumnya, THS kini mampu memberikan efisiensi bahan bakar hingga 25 persen atau sanggup memberi keiritan BBM hingga 40,8 km/l.

Sejalan dengan itu, Toyota berkomitmen menghadirkan varian elektrikfikasi pada semua modelnya hingga 2025. Kesuksesan dari pengembangan THS juga berarti teknologi Elektrik Hybrid dapat di implementasikan pada jajaran kendaraan Toyota yang sangat beragam.

Baca juga: Toyota kenalkan mobil ramah lingkungan TS050 Hybrid, Prius PHEV GR

Toyota telah meluncurkan Prius di Indonesia pada tahun 2009. Selama satu dekade kehadiran di Indonesia, Toyota menawarkan jajaran kendaraan elektrifikasi yang memenuhi setiap segmen mobil penumpang.

Dalam lokasi yang sama, Direktur Marketing PT Toyota-Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy menambahkan, bahwa memasuki 10 tahun teknologi elektrifikasi Toyota di Indonesia, TAM ingin sejalan dengan rencana pemerintah untuk memperluas kegunaan teknologi itu, sehingga Electrification Day digelar GIIAS.

“Kami harapkan semakin banyak yang mengenal teknologi elektrifikasi yang ternyata tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga fun to drive,” tambah Anton Jimmi Suwandy.

Baca juga: Yaris Rhythm hingga C-HR, sederet “dress up” menawan dari Toyota

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

DSFK antisipasi era mobil listrik lewat Glory E3

Tangerang, Banten (ANTARA) – Produsen mobil asal China Dongfeng Sokonindo (DFSK) mengantisipasi perkembangan mobil listrik di Indonesia dengan memboyong Glory E3, meski kendaraan bermodel sport utility vehicle (SUV) itu belum dijual di Tanah Air.

“Kami sengaja membawa DFSK Glory E3 untuk diperkenalkan kepada konsumen di Indonesia,” kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang, di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, ICE BSD, Tangerang, Jumat.

Franz menjelaskan bahwa DFSK memiliki jaringan riset dan pengembangan di Silicon Valley, Amerika Serikat, sehingga tidak heran jika mereka sudah memiliki mobil listrik meski baru masuk ke pasar Indonesia pada dua tahun lalu.

Glory E3 yang tampil perdana pada Shanghai Auto Show 2018, berdimensi 4385mm x 1850mm x 1647mm (panjang x lebar x tinggi) dengan wheelbase 2655mm yang memberikan nuansa urban untuk penggunanya, terutama pada tampilan eksterior dan kaki-kaki berukuran 18 inci.

Sistem penggerak yang dipakai Glory E3 adalah motor listrik dan baterai dengan jarak tempuh mulai dari 405 kilometer berkat kapasitas baterai 52,56 kwh yang disandingkan dengan motor listrik tipe Permanent Magnet Synchronous Motor.

Untuk pengisian baterai, Glory DFSK E3 hanya memerlukan waktu 30 menit untuk mencapai 80 persen daya baterai dengan menggunakan teknologi fast charging.

Meski bisa melaju jauh, DFSK tetap memperhatikan performa. Glory E3 bertenaga 163 PS dan torsi mencapai 300 Nm, yang mampu berakselerasi 0-50 km dalam waktu 3,9 detik. Tersedia juga tiga mode berkendara Normal/Eco/Sport.

Sistem kontrol kendaraan menggunakan sistem operasi Lin OS 4.0, ditambah i-talk yang bisa menjalankan perintah melalui suara pengemudi.

DFSK menyatakan masih menunggu peraturan pemerintah tentang mobil ramah lingkungan, termasuk mobilitas terelektrifikasi, kemudian menyiapkan model ini untuk dipasarkan di Tanah Air.

“Mengenai harga, kami masih riset pasar. Nanti akan diumumkan lebih lanjut,” pungkas Franz Wang.

Baca juga: DFSK Glory I-Auto bidik konsumen melek teknologi

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Toyota kenalkan mobil ramah lingkungan TS050 Hybrid, Prius PHEV GR

Tangerang (ANTARA) – PT Toyota-Astra Motor (TAM) tidak hanya menampilkan produk andalan, namun juga mengusung semangat “Start Your Impossible” dengan menampilkan mobil berteknologi canggih dan ramah lingkungan pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang Banten, 18-28 Juli.

Kendaraan khusus (special exhibit) yang dihadirkan yaitu Toyota Fine Comfort Ride (F-CR) yang merupakan kendaraan konsep untuk solusi mobilitas masa depan berteknologi tinggi, serta beberapa special exhibit lainnya yang merupakan teknologi ramah lingkungan yaitu TS050 Hybrid dan Prius PHEV GR.

“Semangat dan komitmen Toyota tidak hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan pasar melalui produk – produk, tapi juga teknologi dan layanan untuk masa depan kehidupan yang lebih baik,” kata Vice president Director, PT Toyota-Astra Motor, Henry Tanoto, di GIIAS 2019, Kamis.

Baca juga: Jusuf Kalla sambangi anjungan Toyota, langsung lirik Yaris Sport
  Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) melihat produk terbaru mobil Toyota usai membuka GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) ke- 27 tahun 2019 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (18/9/2019). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/pras.

Semangat “Start Your Impossible” menjadi representasi tema anjungan Toyota di GIIAS untuk memberi pesan kepada pengunjung mengenai komitmen Toyota yang bertransformasi dari perusahaan otomotif menjadi perusahaan mobilitas.

“Pada GIIAS 2019 ini Toyota senantiasa menegaskan komitmennya untuk selalu mendukung dan memberdayakan mobilitas pelanggan untuk melampaui serta memotivasi mereka dalam berpikir dan mencapai sesuatu di luar batasan mereka, khususnya untuk merasakan dan mewujudkan mobilitas dengan teknologi canggih guna meraih kehidupan yang lebih baik,” katanya.

Pada perhelatan GIIAS 2019 ini TAM menghadirkan booth dengan konsep dan desain yang bernuansa muda (youthful), mencerminkan semangat baru dengan menekankan pencapaian dalam pengembangan teknologi otomotif canggih untuk menghadapi berbagai tantangan dan membuat mobilitas semakin mudah dan nyaman.

Dalam nuansa youthful, pada anjungan seluas 3.013,5 m2, atau lebih luas dibanding tahun sebelumnya (2.870 m2), Toyota menampilkan 23 line-up kendaraan dari semua segmen yang dimiliki oleh Toyota, baik passengers maupun commercials, dan juga special exhibit.

Dan untuk semakin memberikan kemudahan dan kenyamanan, keseluruh produk-produk tersebut akan di tampilkan dan dibagi ke dalam 6 zona, yaitu Everyday Life Zone yang diisi dengan Avanza, Veloz, Kijang Innova, HiAce, serta Calya. Toyota GR supra (Antara News/Chairul Rohman)

Baca juga: Saksikan seni debus, cara komunitas Etios Valco rayakan hari jadi

Pada Fun factor zone diisi dengan Rush TRD Sportivo, Fortuner TRD Sportivo, Yaris TRD Sportivo. Ride With Pride Zone diisi dengan Alphard Hybrid, Camry Hybrid, Vellfire, dan Voxy.

Semangat Beyond Technology diwujudkan Toyota dengan menghadirkan Beyond Technology Zone yang akan menampilkan C-HR Hybrid, TS050 Hybrid, Prius PHEV GR dan Hybrid X-Ray.

Zona selanjutnya yaitu Push The Limit Zone yang akan menghadirkan C-HR dan GR Supra yang merupakan produk terbaru dari Toyota. Zona terakhir adalah Highlight Zone yang akan akan menampilkan 3 produk yang benar-benar eye-catching, yaitu GR Supra, Toyota 86, dan juga C-HR.

Kehadiran Customer Lounge Area dihadirkan sebagai wujud implementasi semangat Beyond Service, dimana pada area ini akan hadir pula TARRA corner. Sedangkan Special Zone diwujudkan dengan menghadirkan Start Your Impossible Corner dan juga Media Lounge.

Baca juga: Toyota luncurkan GR Supra senilai Rp2 Miliar

Baca juga: Toyota kenalkan tiga kendaraan baru di GIIAS 2019

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mobil listrik Lowo Ireng Reborn

Mahasiswa mengemudikan mobil Lowo Ireng Reborn di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). Mobil Lowo Ireng Reborn buatan Pusat Unggulan Iptek – Sistem Kontrol Otomotif (PUI-SKO ITS) bersama Departemen Teknik Elektro ITS dan Departemen Teknik Mesin ITS itu merupakan mobil listrik yang ramah lingkungan serta mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 160 km per jam. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc.

Van dari Mercedes Benz punya baterai dan nama baru

Jakarta (ANTARA) – Van penumpang dari Mercedes Benz kini ditenagai baterai listrik dan menyandang nama baru, yakni eVito Tourer. Kendati demikian, kendaraan ini belum bisa didapatkan karena kendaraan ini baru diluncurkan untuk layanan berbagi kendaraan, Berlkonig, di Berlin, sebagai bentuk dari usaha patungan ViaVan yang juga beroperasi di Amsterdam, London dan Milton Keynes.

eVito Tourer baru kini dilengkapi dengan tenaga motor listrik yang menghasilkan 85 kW (116 PS / 114 hp) dan torsi 295 Nm (218 lb-ft). Fitur baterai 41 kWh yang dipasang di bagian bawah bodi, yang menawarkan jangkauan hingga 156-186 km (97-116 mil), dengan sekali pengisian daya, yang membutuhkan enam jam untuk pengisiannya.

Van listrik baru ini akan sanggup menampung hingga sembilan penumpang, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan memilih dari beberapa varian tempat duduk, dan tersedia dalam dua dimensi yang berbeda (5.140 mm dan 5.370 mm – 202.4-211.4 in). Apa pun konfigurasi yang dipilih memiliki berat kotor maksimum adalah 3.200 kg (7.055 pon).

“Integrasi eVito Tourers pertama di dunia dalam armada kami adalah langkah lebih lanjut menuju tujuan kami bekerja sama dengan kota-kota dan penyedia angkutan umum untuk membuat mobilitas perkotaan lebih berkelanjutan,” kata General Manager ViaVan Berlin, Valerie von der Tann yang diktuip dari CarsCoops, Minggu.

“Kami senang hari ini sudah lebih dari setengah armada kami di Berlin menggunakan tenaga listrik. Pada akhir tahun 2020, kami ingin melihat seluruh armada kami di Berlin dilengkapi dengan penggerak listrik,” tambahnya.

Selain dari dua versi eVito, Mercedes-Benz Vans akan memperluas portofolionya dengan eSprinter yang akan diluncurkan akhir tahun ini. Selain itu, versi produksi Concept EQV, yang ditampilkan di Jenewa musim semi ini, akan diluncurkan di Frankfurt Motor Show pada bulan September.

Baca juga: Musk: Tesla mungkin tertarik garap van Sprinter bersama Mercy

Baca juga: VW kenalkan Buzz Cargo, van listrik canggih untuk bisnis

Pewarta: KR-CHA
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Nissan LEAF “mendarat” di Australia

Jakarta (ANTARA) – Mobil listrik Nissan LEAF tiba di Australia pada Jumat (12/7) waktu setempat, akan dijual di 89 diler di seluruh penjuru Negeri Kanguru, merupakan jaringan kendaraan listrik terbesar secara nasional sejauh ini.

“Nissan sangat senang memiliki Nissan LEAF baru yang dijual di Australia,” kata Stephen Lester, direktur pelaksana Nissan Australia dalam pernyataan resmi Nissan, dikutip Sabtu.

“Sebagai pelopor kendaraan listrik secara global, Nissan LEAF baru yang sepenuhnya listrik mewakili masa depan kendaraan bermotor Australia. Kami berharap untuk melihat lonjakan penjualan EV di Australia,” tambahnya.

Menawarkan pengalaman pembelian EV yang holistik, kolaborasi dengan JET Charge akan membantu pelanggan dengan semua kebutuhan infrastruktur pengisian daya baterai di rumah mereka.
  Mobil listrik Nissan LEAF digunakan untuk Final Liga Champions 2019. (ANTARA News/Nissan)

Bermitra dengan Chargefox, Nissan berharap kesadaran penggunaan kendaraan ramah lingkungkan makin tinggi dan bisa menyiapkan Australia dalam menghadapi melonjaknya penjualan kendaraan listrik.

Di Chile, Amerika Latin, Nissan juga memperkenalkan teknologi Vehicle-to-Grid dengan memanfaatkan Nissan LEAF sebagai kendaraan ujicoba. Proyek ini bekerja sama dengan ENEL X dan Badan Energi Berkelanjutan setempat.

Sistem Vehicle-to-Grid tidak hanya memungkinkan pengisian daya baterai kendaraan listrik, tapi kendaraan listrik melalui baterainya juga bisa memasok listrik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kantor.

Baca juga: Nissan kerahkan 363 mobil listrik untuk final Liga Champions

Baca juga: Tanggapan Nissan Indonesia soal potensi Leaf jadi taksi listrik

Baca juga: Nissan LEAF e+ jalani debut, hadir dengan powertrain baru

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Fiat 500 bakal hadir dalam versi listrik

Jakarta (ANTARA) – Grup otomotif Italia-Amerika, Fiat Chrysler (FCA), akan menanamkan modal 700 juta euro (Rp11,1 triliun) untuk menghadirkan mobil ikonis Fiat 500 versi penggerak listrik.

“Rencana itu sudah dikonfirmasi,” kata Pimpinan FCA Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, Pietro Gorlier, dilansir Reuters, Kamis (11/7).

Dia mengatakan FCA menginvestasikan 700 juta euro untuk membangun lini produksi baru di Mirafiori, Italia, yang mampu membuat 80.000 unit Fiat 500 listrik.

Menurut rencana, model yang pertama kali diproduksi pada 1957 itu akan dipasarkan di Eropa kemudian Amerika Serikat.

Baca juga: Seniman Italia buat patung Fiat 500 dari marmer

Produksi akan dimulai pada kuartal kedua 2020 dengan kapasitas yang akan diperluas secara bertahap, menurut Gorlier.

Investasi 700 juta euro adalah tahap awal dari rencana investasi Fiat senilai 5 miliar euro di Italia hingga 2021.

Pada masanya, Fiat 500 merupakan kompetitor Volkswagen Beetle. Namun keduanya berbeda nasib. Beetle telah berhenti diproduksi, sedangkan Fiat 500 akan terus dipasarkan dengan teknologi yang dikembangkan.

Baca juga: Fiat akan perkenalkan dua mobil edisi khusus di Amerika

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Minat konsumen meningkat, Toyota genjot penjualan mobil hybrid

Jakarta (ANTARA) – Toyota Indonesia bakal menggenjot penjualan mobil hybrid di Indonesia seiring dengan minat konsumen yang cenderung meningkat pada kendaraan yang memiliki tenaga pengerak ganda yaitu mesin biasa (bensin) dan listrik itu.

“Sejak satu dekade penjualan mobil hybrid Toyota di Indonesia sudah mencapai 2 000 unit, dan awarenessnya terus meningkat,” kata Wakil Presdir PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto di Jakarta, Selasa.

Penjualan sebesar 2.000 unit itu, kata dia, terdiri dari beberapa model mobil Toyota yang telah disematkan teknologi hybrid, termasuk Prius, Camry, Alphard, Lexus, dan terakhir CH-R.

Dalam enam bulan terakhir, lanjut Henry, permintaan mobil hybrid menunjukkan pertumbuhan. “Contohnya Camry Hybrid tahun lalu porsinya hanya tiga persen (dari total penjualan Camry), sekarang sudah 10 persen. Demikian pula dengan mobil CH-R hybrid porsinya di atas 50 persen,” katanya.

Kendati permintaan terus tumbuh, Henry mengakui belum banyak konsumen teredukasi tentang kendaraan hybrid.

“Mobil hybrid itu bukan hanya hemat bahan bakar, tapi juga fun to drive lebih baik. Banyak konsumen berpikir, aftersale-nya sulit, padahal tidak ada bedanya dengan mobil biasa,” kata Henry.

Ditambahkan Direktur Pemasaran TAM Anton Jimmi, pihaknya akan makin fokus dan menggenjot pemasaran mobil hybrid.

“Kalau sebelumnya penjualan mobil hybrid hanya 30 unit sebulan, kami targetkan bisa naik 40-50 unit per bulan,” kata Anton.

Diakuinya, sampai saat ini sedan Camry hybrid mendominasi penjualan mobil hybrid Toyota di Indonesia. Sedan Camry hybrid, lanjut dia, banyak dipakai para eksekutif perusahaan.

“Test yang kami lakukan pada Camry dan CH-R, varian hybrid irit (bahan bakar) hingga 70 persen dibanding yang biasa,” kata Anton.

Ia optimistis permintaan kendaraan hybrid akan terus meningkat seiring pemahaman masyarakat tentang manfaat mobil tersebut yang tidak hanya hemat bahan bakar, ramah lingkungan, tapi juga makin nyaman dikendarai.

“Apalagi jika pemerintah nanti pengeluaran aturan pajak baru tentang mobil low emisi, maka harga mobil hybrid akan semakin murah, mendekati mobil biasa,” kata Anton.

Baca juga: Toyota akan pamerkan kendaraan elektrik dalam GIIAS 2019

Pewarta: R016
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2019

Mengenal Harley-Davidson listrik LiveWire

Jakarta (ANTARA) – Pabrikan moge (motor gede) Harley-Davidson tidak ketinggalan dalam hiruk pikuk tren kendaraan ramah lingkungan, dengan memperkenalkan motor listrik teranyarnya LiveWire. Lalu apakah khas suara mesin Harley hilang?

“Suara bising yang kamu dengar akan menjadi jantung balapmu,” demikian slogan yang diberikan pabrikan motor AS ini untuk LiveWire guna menyakinkan penggemar Harley-Davidson bahwa suara mesin motor listrik ini tetap “garang”.

Motor yang dibanderol 29.799 dolar atau sekira Rp421,4 juta ini, mengutip spesifikasi yang dirilis Harley-Davidson, Senin, dapat melaju dari 0-100 km per jam dalam waktu hanya 3 detik saja.

Sebagai versi bertenaga baterai listrik, LiveWire tidak dilengkapi dengan kopling dan roda gigi.

“Dapatkan kekuatan instan saat Anda memutar throttle. Tidak ada kopling untuk dilepas. Tidak ada roda gigi untuk dijalankan. Yang Anda lakukan hanyalah menggerakkan pergelangan tangan Anda dan lepas landas,” kata Harley-Davidson. Motor listrik Harley-Davidson LiveWire. (ANTARA News/Harley-Davidson)

Harley-Davidson LiveWire memiliki baterai bertegangan tinggi (atau RESS; Sistem Penyimpanan Energi yang Dapat Diisi Ulang) yang terdiri dari sel-sel lithium-ion yang dikelilingi oleh selubung aluminium bersirip.

Baterai tegangan tinggi ini membuat LiveWire bisa menjangkau 140 mil (225 km) untuk satu kali pengisian daya penuh baterai.

Sementara pada kondisi lalu lintas tersendat atau macet, motor ini mampu menjangkau 88 mil (142 km).

Jika daya baterainya diisi dengan pengisian standar di rumah, ini akan terisi penuh dalam pengisian semalam. Dan, untuk pengisian yang lebih cepat, pengguna bisa mengunjungi stasiun pengisian cepat DC Level 3—belum tersedia di Indonesia.

Dengan teknologi pengisian Level 3, baterai LiveWire terisi 80 persen dalam waktu 40 menit dan 100 persen dalam satu jam.

LiveWire dilengkapi dengan sistem Kontrol Chassis Elektronik (ECC). Fungsi terpisah ECC bekerja bersama untuk memberi pengendara lebih banyak kepercayaan dan kontrol dalam situasi yang kurang ideal.

ECC mengelola Sistem Anti-lock Braking (ABS), Sistem Kontrol Traksi (TCS) dan Sistem Kontrol Slip-Tarik Torsi (DSCS) dengan memodulasi torsi yang tersedia di roda belakang.

Hal itu menggabungkan kontrol elektronik dan hidraulik jika diperlukan, memanfaatkan unit pengukuran inersia enam-sumbu (IMU) terbaru dan teknologi sensor ABS. Motor listrik Harley-Davidson LiveWire. (ANTARA News/Harley-Davidson)

Terdapat layar lumayan besar di tengah stang kemudi LiveWire, dan sistem itu terhubung dengan jaringan seluler dengan teknologi Panasonic. Pengguna bisa terhubung dari jarak jauh dengan motor melalui telepon pintar dan aplikasi Harley-Davidson terbaru.

Pengguna dapat memeriksa indikator-indikator vital kendaraan, seperti status pengisian daya baterai, lihat lokasinya di peta, dan mendapatkan peringatan ketika motor ditabrak, dirusak, atau dipindahkan.

Dari sisi desain, LiveWire sangat berbeda dari kebanyakan motor Harley-Davidson. Motor ini seperti kebanyakan motor sport bergaya futuristik lainnya, lebih ramping, tidak begitu panjang, dan simpel. Hanya pada tabung tempat konektor pengisian daya listrik yang didesain seperti tangki bahan bakar motor-motor Harley-Davidson sebelumnya.

Baca juga: Harley-Davidson serius garap skuter listrik

Baca juga: Harley-Davidson perkenalkan dua motor listrik konsep

Baca juga: ABS dan ESC bakal jadi fitur standar sepeda motor AS

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi investasi di Mobility House

Jakarta (ANTARA) – Aliansi otomotif Renault-Nissan-Mitsubishi melalui sayap modal venturanya, Alliance Ventures, mengumumkan investasinya di Mobility House, sebuah perusahaan teknologi yang menyediakan platform untuk mengintegrasikan baterai kendaraan dengan jaringan listrik cerdas.

Investasi baru Alliance Ventures ini merupakan tahap awal dalam usahanya menjadi ujung tombak pengembangan teknologi generasi lanjut untuk industri otomotif, khususnya untuk aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi. Mobility House berbasis di Jerman, Swiss, dan Silicon Valley, Kalifornia.

“Alliance Ventures bertujuan untuk menyediakan ekosistem yang tepat dari inovasi terbuka untuk memastikan perusahaan anggota Alliance memberikan mobilitas untuk hari esok,” kata François Dossa, Wakil Presiden Global Alliance untuk Ventures dan Open Innovation serta Ketua Alliance Ventures, dikutip Minggu.

Transisi mobilitas dan energi akan berkontribusi pada komitmen Aliansi terhadap kendaraan tanpa emisi dan pencapaian visi kami: “membentuk masa depan mobilitas”, kata Dossa menambahkan.

Baca juga: Berambisi ke pasar global, Waymo gandeng Nissan dan Renault

Perusahaan anggota Alliance dan The Mobility House telah memulai beberapa proyek bersama, di antaranya melalui proyek Vehicle-to-Grid (V2G) di Jerman yang menggunakan Nissan LEAF.

Bekerja sama dengan Renault, Mobility House akan memasarkan sistem penyimpanan energi stasioner terbesar yang dibuat dengan baterai kendaraan listrik di Eropa dan berkontribusi melalui platform energi pintar untuk membuat pulau Portugis, Porto Santo, dekat Madeira, sebagai pulau pintar pertama di dunia.

“Alliance Ventures adalah investor yang sempurna untuk The Mobility House,” kata Thomas Raffeiner, pendiri dan CEO The Mobility House. “Fakta bahwa visi dan keahlian perusahaan kami cocok dengan baik telah terbukti berkali-kali di masa lalu. Kami senang bahwa kami dapat memulai lebih banyak proyek dan membuat visi bersama kami tentang energi berkelanjutan menjadi kenyataan lebih cepat.”

Investasi di Mobility House oleh Alliance Ventures ini merupakan yang terbaru setelah di 11 perusahaan rintisan lainnya, termasuk perusahaan baru yang berbasis di Amerika Utara, Eropa, dan China.

Nilai investasi di Mobility House tersebut tidak diungkapkan.

Baca juga: Triber akan diekspor ke pasar langganan Renault Kwid

Baca juga: Pemegang saham Mitsubishi lengserkan Carlos Ghosn

Baca juga: Honda, Audi dan Renault pakai speaker pintar Alibaba

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Nedo, Sharp dan Toyota akan uji coba baterai tenaga surya

Jakarta (ANTARA) – Nedo, Sharp Corporation (Sharp) dan Toyota Motor Corporation (Toyota) pada Kamis (4/7) waktu setempat telah mengumumkan rencananya untuk menguji coba kendaraan berlistrik pada akhir Juli mendatang.

Uji coba dilakukan untuk menilai seberapa efektif perbaikan untuk jarak tempuh serta seberapa efisiensi pemakaian bahan bakar dari kendaraan listrik yang sudah dilengkapi dengan baterai bertenaga surya tingkat tinggi.

Untuk memfasilitasi pelaksanaan uji coba ini, Sharp memodulasi sel baterai bertenaga surya berkelas dunia dengan tingkat tinggi, yang sebelumnya dikembangkan untuk proyek yang dipimpin Nedo, untuk membuat onboard panel baterai bertenaga surya. Toyota memasang panel ini di atap kap pintu palka belakang, dan bagian lain dari “Prius PHV” dan menghasilkan mobil demo untuk uji coba jalan umum.

Dengan meningkatkan efisiensi panel baterai bertenaga surya dan memperluas area onboard-nya, Toyota mampu mencapai output generasi daya pengenal sekitar 860 W, hampir sekitar 4,8 kali lebih tinggi dibandingkan dengan model komersial Prius PHV (dilengkapi dengan solar sistem pengisian).

Selain secara substansial meningkatkan output pembangkit listriknya, mobil demo ini sudah menggunakan sistem yang mengisi daya baterai penggerak saat kendaraan diparkir dan juga saat sedang dikendarai, sebuah pengembangan yang diharapkan akan mengarah pada peningkatan yang cukup besar dalam jangkauan jelajah bertenaga listrik dan efisiensi bahan bakar.

Dikutip dalam laman resmi Toyota, Juma, pada uji coba nanti, Toyota berencana akan melakukannya di berbagai kondisi seperti di Toyota City, Prefektur Aichi, Tokyo, dan area lainnya.

Setelah uji coba nanti, berbagai data termasuk keluaran pembangkit listrik dari panel baterai surya dan jumlah baterai drive yang terisi akan diperoleh dan terverifikasi. Kemduian nantinya data-data tersebut akan digunakan sebagai bahan untuk pengembangan sistem pengisian solar onboard.

Toyota berencana untuk berbagi pilihan hasil data uji coba dengan Nedo dan Sharp. Komite Strategi Kendaraan bertenaga PV yang disponsori oleh NEDO dan entitas lainnya akan mengevaluasi manfaat berdasarkan peningkatan pengurangan emisi CO2 serta kenyamanan berkendara, seperti berapa kali kendaraan membutuhkan pengisian ulang. Tujuannya adalah untuk berkontribusi pada penciptaan pasar panel baterai surya baru, termasuk sektor transportasi, dan menemukan solusi untuk masalah energi dan lingkungan.

Baca juga: Garuda jadi BUMN pertama pengguna bus listrik produksi dalam negeri

Pewarta: KR-CHA
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Mobil berbahan bakar hidrogen ITS bertarung di kompetisi DWC Inggris

Jakarta (ANTARA) – Para mahasiswa yang tergabung dalam ITS Team 5 atau Tim Antasena, dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, membawa mobil Urban Concept berbahan bakar hidrogen untuk bertarung pada kompetisi Drivers World Championship di London pada 29 Juni – 5 Juli 2019.

Tim Antasena telah mengalahkan lebih dari 100 tim inovator berbakat yang berasal dari berbagai negara Asia Pasifik dan Timur Tengah dalam Drivers’ World Championship Qualifier atau Shell Eco-marathon Asia 2019 di Sepang, Malaysia.

Dalam babak penyisihan tersebut, ITS Team 5 meraih capaian baru dalam kompetisi adu cepat kendaraan ultra-efisien serta penghargaan Off-track Hydrogen Newcomer Award. Sebagai catatan, ITS Team 5 berhasil meraih capaian jarak tempuh sejauh 90 km/m3, jauh melampaui hasil yang diraih juara tahun lalu untuk kategori yang sama pada 46 km/m3.

ITS Tim 5 menurunkan mobil Antasena FCH 1.0 dan berhasil membawa pulang peringkat runner-up kategori Urban Concept – Hydrogen di ajang bergengsi Shell Eco-Marathon Asia 2019 di Malaysia yang membawa mereka melaju ke ajang Drivers’ World Championship Qualifier Regional Asia.

Dalam adu balap tersebut, tim Antasena kembali menorehkan prestasi dengan menjadi juara kedua, menjadikan mereka satu-satunya perwakilan dari Indonesia.

“Kami bangga bahwa kompetisi Shell Eco-marathon Asia yang sudah 10 tahun berjalan ini berhasil melahirkan inovator-inovator muda berbakat. Kami berharap kompetisi sejenis ini dapat membantu menciptakan talenta-talenta muda Indonesia yang mampu berinovasi dan menjadi agen perubahan yang lebih baik lagi untuk negeri tercinta,” kata Presiden Direktur dan Country Chairman PT Shell Indonesia, Darwin Silalahi, dalam keterangannya, Selasa.

“Prestasi Tim Antasena menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi tinggi dalam berkreasi merancang teknologi dan inovasi otomotif terbaik untuk mendobrak pardigma efisiensi dan transformasi energi,” kata dia.

Ghalib Abyan selaku General Manager Tim ITS 5 mengatakan bahwa Perjuangan di Drivers’ World Championship akan lebih berat, ketimbang kompetisi sebelumnya.

“Kalau di arena Shell Eco-marathon Asia, peserta diminta untuk membuktikan mobil yang paling efisien di masing-masing kategori yang dilombakan. Sedangkan untuk menjadi pemenang di DWC, diperlukan kesinergisan antara teknologi, inovasi serta kerjasama yang baik antar anggota tim untuk menekan batasan efisiensi energi,” kata Ghalib.

Ia menambahkan, “Untuk itu, keahlian dan strategi dalam menangani kendaraan dan mengatur efisiensi energi merupakan keharusan guna membantu tim menjadi yang pertama dalam mencapai garis finis.”

Pada tahun-tahun sebelumnya, Indonesia umumnya unggul di kelas ICE (mesin pembakaran internal) dan listrik. Untuk itu, dengan masih minimnya teknologi di Asia dan Amerika, maka tantangan terbesar tim Indonesia adalah menghadapi lawan dari Eropa dan juga negara tetangga Singapura yang memiliki fasilitas Fuel-Cell yang mumpuni.

Kesuksesan Antasena diraih dengan kerja keras oleh kurang lebih 25 anggota tim yang terdiri dari tim teknis dan juga tim non-teknis yang merupakan mahasiswa jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Infrastruktur Sipil, Teknik Mesin Industri dan Manajemen Bisnis.

Baca juga: Hyundai sepakati kerjasama hasilkan hidrogen dari listrik

Baca juga: China mulai kembangkan truk berbahan bakar hidrogen

Baca juga: Toyota genjot penjualan mobil berbahan bakar hidrogen mulai 2020

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019