Gaikindo: Pertumbuhan kendaraan listrik sangat bergantung pasar

Jakarta (ANTARA) – Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara dalam bincang-bincang bertema “GIIAS (Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show) Talk X Blibli.com” di Jakarta, Sabtu mengatakan bahwa sejumlah pelaku industri otomotif di Indonesia, telah melakukan proyek percontohan untuk kendaraan listrik.

“Pertumbuhan penggunaan kendaraan berbasis EV (electric vehicle) ini sangat bergantung pada pasar Indonesia, permintaan dapat tumbuh bila penawaran kendaraan EV dapat bersaing dengan kendaraan konvensional,” ujar Kukuh.

Ia menambahkan pembangunan infrastruktur pendukung dan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) atau “charging station” juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pengguna mobil listrik.

Di sisi lain, lanjut dia, perkembangan teknologi kendaraan yang semakin canggih dan ramah lingkungan, juga memungkinkan kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) menggunakan bahan bakar yang tidak berasal dari fosil yang saat ini ketersediaannya semakin menipis.

“Indonesia sudah menjadi bagian dari pergerakan ini dengan rencana pemerintah mengembangkan teknologi bahan bakar minyak ramah lingkungan (green fuel), bahan bakar yang berasal dari sumber daya alam nabati, yakni sawit,” katanya.

Baca juga: Mobil Jaguar listrik berpeluang masuk Indonesia

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara (tengah), SVP trade Partnership Blibli.com Lay Ridwan Gautama (kanan) dalam dalam bincang-bincang bertema “GIIAS Talk X Blibli.com” di Jakarta, Sabtu (29/6/20019). (ANTARA News/Zubi Mahrofi)

Dari sisi bahan baku, lanjut dia, penggunaan bio fuel sangat memungkinkan, karena beberapa daerah di Tanah Air merupakan penghasil sawit terbesar di dunia.

“Pengembangan green fuel disambut baik oleh Gaikindo. Pasalnya, ketersediaan sumber green fuel dan spesifikasi mesin tidak perlu perubahan yang signifikan,” papar Kukuh.

Kukuh mengatakan pihaknya akan terus mendukung perkembangan industri otomotif dan mengambil peran penting dalam perkembangan kemajuan industri melalui penyelenggaraan GIIAS 2019.

“Gaikindo berada di barisan terdepan untuk memberikan informasi dan edukasi awal tentang berbagai inovasi dari industri otomotif, sehingga Indonesia siap menyambut perubahan positifnya,” katanya.

Baca juga: Tanggapan Nissan Indonesia soal potensi Leaf jadi taksi listrik

Sedianya, Gaikindo akan menyelenggarakan GIIAS 2019 pada 18-28 Juli 2019 di ICE, BSD City yang mengusung tema “Future on Motion”, yang diartikan sebagai sebuah gerakan pengaruh teknologi pada kendaraan listrik, otonom, dan digital.

GIIAS 2019 akan menampilkan total 20 merek kendaraan penumpang, yakni Audi, BMW, Daihatsu, Datsun, DFSK, Honda, Hyundai, Isuzu, JEEP, Lexus, Mazda, Mercedes-Benz, MINI, Mitsubishi Motors, Nissan, Renault, Suzuki, Toyota, VW, dan Wuling.

Pagelaran itu juga menampilkan 10 merek kendaraan komersial dan karoseri, DFSK, FAW, Hino, Isuzu, Mitsubishi Fuso, Tata Motors, UD Truck.

Sementara dari karoseri akan hadir Adi Putro, Laksana, dan Tentrem. Terdapat juga 11 merek sepeda motor mulai dari Benelli, Harley Davidson, Honda, Kawasaki, Kymco, KTM, Nozomi, Piaggio, Suzuki, Vespa, dan Viar.

Baca juga: DFSK siapkan dua kejutan dalam GIIAS 2019

Baca juga: GIIAS 2019 tawarkan program baru

Baca juga: Ingin dongkrak penjualan otomotif, GIIAS 2019 bakal hadir lebih awal

 

Pewarta: SDP-128
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Kia akan produksi kendaraan listrik rendah biaya untuk pasar India

Makassar (ANTARA) – Kia dan Hyundai sedang mempertimbangkan kendaraan listrik dengan biaya rendah untuk pasar India, hal ini dimaksudkan untuk mendukung pemerintah di bawah skema FAME II di India.

Dalam dua tahun ke depan Kia Corps berencana untuk meluncurkan empat model baru di India, termasuk dari SUV Seltos yang akan datang. Kendati demikian, perusahaan mengatakan untuk proyek kendaraan listrik ini akan menjadi yang proyek terpisah.

“Kami masih bekerja tentang cara membuat EV berbiaya rendah. Saya sedang mempertimbangkan untuk mengembangkan EV untuk pasar India bersama dengan Hyundai,” kata Presiden dan CEO Kia Motors Corporation, Han-Woo Park yang dikutip dari Economic Times, Senin.

Ketika ditanya lebih lanjut, apakah EV berbiaya rendah akan menjadi salah satu dari empat model yang akan diperkenalkan di India dalam dua tahun mendatang, dia berkata tidak.

“Ini terpisah. Ini bukan salah satu dari mereka,” ungkpanya.

Pada 2018 Auto Expo, Kia telah mengumumkan bahwa mereka berencana untuk memperkenalkan beragam kendaraan di India, termasuk kendaraan listrik kompak eksklusif India antara tahun 2019 dan 2021.

Dia mengatakan Kia Motors sudah memiliki beberapa produk untuk hybrid, plug-in-hybrid, kendaraan listrik dan kendaraan sel bahan bakar yang dijual secara global.

“Kami siap untuk memperkenalkan mobil EV di India tetapi itu tergantung pada infrastrukturNSE 1,31% dan kebijakan dukungan pemerintah. Ketika pasar tepat, kami akan memperkenalkan EV kapan saja ke India,” tambahnya.

Hyundai, di sisi lain, bersiap untuk meluncurkan SUV Kona listriknya di India bulan depan.

Park menjelaskan saat ini biaya EV sangat tinggi, terutama untuk pasar India dan tanpa dukungan pemerintah akan menjadi tantangan besar untuk menjual EV di sini.

“Tahun lalu, skema FAME II diumumkan, mendukung terutama kendaraan roda dua dan roda tiga … Itu tidak termasuk kendaraan roda empat untuk penggunaan pribadi,” jelasnya.

Ketika ditanya apakah Kia ingin EV untuk penggunaan pribadi dipertimbangkan untuk dukungan pemerintah, dia berkata, “Ya, tanpa dukungan pemerintah itu tidak mungkin. Harganya terlalu tinggi. Tidak ada yang mau membeli EV.”

Skema Rs 10.000 crore FAME II membayangkan subsidi untuk kendaraan roda dua yang mencakup penggunaan pribadi. Untuk segmen tiga dan empat roda, insentif akan berlaku pada kendaraan yang digunakan untuk angkutan umum atau tujuan komersial terdaftar.

Melalui skema dukungan 10 lakh roda dua listrik, lima lakh roda tiga, 55.000 roda empat dan 7.000 bus akan disediakan.

Baca juga: Molor lagi, Luhut janjikan perpres kendaraan listrik rampung Lebaran

Pewarta: KR-CHA
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Bentley Bentagya listrik hadir di AS akhir tahun ini

Jakarta (ANTARA) – Kendaraan mewah terelektrifikasi milik Bentley yakni, Bentagya akan tiba di Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun ini dan sekaligus menjadi dorongan untuk membuat kendaraan elektrik lainnya untuk berkompetisi.

Dewan penjualan dan pemasaran Bentley, Chris Craft mengatakan, perusahaan berencana mengeluarkan model versi hibrida untuk semua jenis kendaraan pada akhir tahun 2023 mendatang.

“Kami informasikan bahwa kendaraan listrik pertama dari Bentley akan diluncurkan pada tahun 2025,” ungkap Chris Craft yang dikutip dari CarsCoops, Rabu.

Kendati demikian, informasi untuk kendaraan masa depan dari Bnetley itu sendiri masih sangat terbatas.

Sementara itu, kendati penjualan kendaraan listrik hanya mewakili bagian kecil dari keseluruhan pasar otomotif, Bentley meyakini model itu akan semakin populer dan Craft mencatat, “akan ada lebih dari 30 persen pembeli kendaraan mewah tertarik pada mobil listrik.”

Dalam wawancara terpisah dengan Car & Driver, Craft mengungkapkan kendaraan listrik cocok untuk Bentley karena motor listrik dapat memberikan torsi instan yang merupakan ciri khas merek tersebut.

Kendaraan listrik dengan suara mesin yang sunyi menjadi nilai tambah bagi merek-merek ultra mewah seperti Bentley dan Rolls-Royce.

Baca juga: Ulang tahun ke-100, Bentley pamerkan dua mobil terbarunya di GIMS

Baca juga: Bentley Bentayga SUV tercepat di dunia
 

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

China memimpin penjualan mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – China menjadi pemimpin pasar mobil listrik setelah menjual sebanyak 1,2 juta kendaraan secara global pada tahun lalu, menyumbang sekitar 56 persen dari total penjualan global.

Kepala divisi pasar dan industri minyak dari International Energy Agency (IEA), Neil Atkinson mengatakan, kebijakan di China dalam meningkatkan kualitas udara perkotaan, penggunaan bahan bakar alternatif di sektor truk dan bus hingga taksi mendorong permintaan mobil listrik.

“Ini adalah perubahan besar di Cina,” kata Atkinson dilansir Xinhua, Rabu.

Dia mengatakan ada sekitar 500.000 bus listrik di China, lebih banyak dibandingkan bus-bus listrik di Amerika Serikat.

Adapun permintaan bahan bakar konvensional pun menunjukkan perlambatan, yang mencerminkan kenaikan ekonomi konsumen yang mampu membeli kendaraan listrik.

Baca juga: Fisker bocorkan tampilan SUV listrik jelang peluncuran Desember

Baca juga: Taksi terbang Uber bakal mengudara di Melbourne

Baca juga: Mobil listrik Geely akan gunakan baterai dari LG

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Fisker bocorkan tampilan SUV listrik jelang peluncuran Desember

Jakarta (ANTARA) – Fisker telah merilis cuplikan desain SUV listrik terbaru berupa tiga perempat bagian belakang mobil, jelang peluncuran pada akhir tahun 2019.

Pendiri perusahaan Henrik Fisker melalui akun Facebook pribadinya, membocorkan gambar SUV itu dengan sebuah unggahan yang menunjukkan atap mobil bergaya mengambang karena terdapat yang dapat dilepas otomatis, pegangan pintu menyala, lampu belakang tipis yang membentang melintasi fender dan lampu sign yang dipasang pada pilar D.

Fisker mengumumkan bahwa kendaraan tanpa emisi itu akan muncul perdana pada Desember 2019, dengan harga perkiraan di bawah 40ribu dolar AS.

“Oke, saya akan menunjukkan lebih banyak dari indikator pilar-D yang akan memberikan keamanan ekstra ketika Anda berpindah jalur. Untuk harga SUV all-electric mungkin akan di bawah 40.000 dolar AS. Peresmian Desember tahun ini. Lihat spatbor belakang itu,” kata Fisker yang dikutip dari CarsCoops, Sabtu.
  Tampilan SUV listrik Fisker (Fisker Inc)

SUV yang belum punya nama itu menampilkan gril besar pada bumper depan, lampu depan kecil dengan DRL LED yang dimasukkan pada bawah.

Mobil itu akan menggunakan dua motor listrik, satu di depan dan satu di belakang, dengan kekuatan baterai 80 kWh yang memungkinkan daya jelajah 300 mil (483 km) untuk sekali pengisian daya.

Baca juga: Mobil listrik Geely akan gunakan baterai dari LG

Baca juga: Taksi terbang Uber bakal mengudara di Melbourne

Baca juga: Rivian dapat isi baterai dari mobil listrik sesamanya

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Greaves Cotton akan bangun 100 stasiun pengisian daya listrik di India

Jakarta (ANTARA) – Pembuat mesin Greaves Cotton Ltd, yang meluncurkan skuter listrik kelas beratnya pada bulan lalu, berencana untuk mendirikan setidaknya 100 stasiun pengisian daya listrik untuk kendaraan roda dua di India dalam tiga bulan ke depan, karena pemerintah mendorong lebih banyak kendaraan listrik (EV) untuk mengurangi polusi.

Perdana Menteri India Narendra Modi telah menetapkan target untuk kendaraan listrik sebesar 30 persen dari penjualan mobil baru dan kendaraan roda dua pada tahun 2030, hal itu masih jauh dari yang ditargetkan, saat ini masih kurang dari 1 persen.

Baca juga: BMW dan Jaguar Land Rover kolaborasi komponen mobil listrik

“Kami berharap akan memiliki 5.000 outlet pengisian pada akhirnya,” kata Presiden Greaves Cotton, Vijay Kumar yang dikutip dari Reuters, Sabtu.

Perusahaan yang sudah berusia 160 tahun, yang membeli saham mayoritas di pembuat skuter listrik Ampere Vehicle tahun lalu, bersaing dengan pembuat roda dua ramah lingkungan lainnya termasuk Ather Energy, Hero Electric dan Okinawa.

Pada bulan Februari, India mengusulkan insentif sebagai bagian dari upayanya untuk mendorong penjualan kendaraan listrik yang lebih tinggi, dengan mengatakan pihaknya berharap untuk menyempatkan powertrain listrik untuk semua kendaraan baru pada tahun 2030.

“Menengah hingga jangka panjang, kami melihat manfaat dari perubahan kebijakan,” tambah Chief Executive Officer Greaves Cotton, Nagesh Basavanhalli.

Baca juga: Mobil listrik Geely akan gunakan baterai dari LG

Baca juga: Rivian dapat isi baterai dari mobil listrik sesamanya

Pewarta: KR-CHA
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Mobil listrik Geely akan gunakan baterai dari LG

Jakarta (ANTARA) – Produsen baterai Korea Selatan, LG Chem Ltd, mengumumkan telah meneken perjanjian dengan manufaktur otomotif China, Geely Automobile, guna membuat baterai kendaraan listrik yang kelak akan digunakan pada kendaraan Geely mulai 2022.

LG dan Geely membentuk perusahaan patungan yang memiliki kapasitas produksi tahunan hingga 10 GWh (Giga Watt hour) pada akhir 2021, kata kedua perusahaan dalam pernyataan yang dilansir Reuters, Sabtu.

Baca juga: Geely bangun pabrik baru demi target penjualan 2juta

Baca juga: Geely bantah jual saham Daimler

Kedua perusahaan juga bakal menginvestasikan dana 94 juta dolar AS untuk bisnis elektrifikasi itu.

Kendati baterai yang dibuat perusahaan Korea Selatan tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah China, namun LG tetap optimistis untuk memperluas kapasitas produksinya di China.

LG berharap pemerintah China akan menghapus subsidi itu dalam beberapa tahun ke depan, sehingga posisi pabrikan asing dan lokal akan menjadi sejajar di pasar.

“Melalui usaha patungan itu, LG Chem telah mengamankan struktur yang stabil untuk menyediakan baterai kendaraan listrik di pasar China,” kata LG Chem dalam sebuah pernyataan.

LG juga menyatakan akan menyodorkan proposal kerja sama kepada sejumlah pabrikan mobil lain untuk memperluas cakupan pasar mereka.

Baca juga: Geely buka pusat riset mobil listrik mewah di Jerman

Baca juga: Ini tampilan sedan listrik pertama Geely untuk pasar global

Pewarta: A069
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Suzuki Wagon R listrik siap mengaspal 2020

Jakarta (ANTARA) – Manufaktur otomotif terbesar India, Maruti Suzuki, tengah mengevaluasi peluncuran Suzuki Wagon R versi listrik pada 2020.

Mobil mungil yang dikenal bernama Karimun Wagon di Indonesia itu akan diproduksi secara komersial di India kendati industri otomotif masih berkutat dengan harga mobil listrik yang mahal dan keterbatasan fasilitas pengisian daya.

“The WagonR listrik sedang diuji dan akan siap tahun depan,” kata Pimpinan Maruti Suzuki RC Bhargava dilansir Economic Times, Senin.

“Tetapi, apa yang dapat diproduksi dan dijual perusahaan akan bergantung pada keinginan pelanggan untuk membeli kendaraan mengingat keterbatasan biaya dan ruang pengisian,” kata Bhargava.

Maruti Suzuki sedang menguji 50 unit Wagon R listrik.

Suzuki Wagon R listrik akan dijual dengan rentang harga Rp137,6 juta hingga Rp196,9 juta untuk pasar India.

Baca juga: Suzuki Wagon R terbaru meluncur bulan ini

Menurut berbagai laporan, Wagon R versi listrik memiliki dua steker untuk pengisian daya, untuk arus listrik AC berada di depan dan socket untuk arus DC berada di belakang.

Pengisian cepat yang menggunakan arus listrik direct current (DC) memungkinkan baterai mobil itu terisi daya 80 persen, selama satu jam pengisian.

Sedangkan pengisian daya menggunakan arus bolak-balik atau alternating current (AC) memerlukan tujuh jam untuk pengisian hingga baterai penuh.

Suzuki Wagon R versi listrik diklaim bisa menempuh 200 kilometer untuk sekali pengisian daya.

Jarak tempuh sejauh itu dibutuhkan untuk menyiasati masih kurangnya infrastruktur pengisian daya di India. Kendati demikian, pihak Maruti Suzuki belum mengumumkan spesifikasi mobil dan baterai yang akan dipakai untuk Wagon R.

Baca juga: Suzuki Wagon R listrik bakal dilengkapi sistem pengisian daya cepat

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai kirim Nexo hydrogen ke perusahaan energi di Malaysia

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co., pada Selasa (28/5) mengatakan, bahwa pihaknya telah mengirimkan dua kendaraan listrik sel Nexo yang berbahan bakar hidrogen ke perusahaan energi Malaysia sebagai bagian dari strategi ekspansi otomatis hidrogennya.

Sarawak Energy Berhad, pemasok listrik milik pemerintah Malaysia, mendorong proyek untuk membangun fasilitas keluaran hidrogen dan stasiun pengisian. Kedua Nexos akan digunakan sebagai kendaraan uji di sektor publik Malaysia, kata Hyundai Motor dalam sebuah pernyataan.

“Dimulai dengan pasokan dua Nexos di Malaysia, Hyundai Motor berencana untuk mempromosikan kendaraan bertenaga hidrogen di Asia Tenggara,” kata seorang pejabat Hyundai dalam pernyataannya yang dikutip dari Kantor Berita Yonhap, Selasa.

Pada periode Januari-Mei, Hyundai Motor mengatakan telah menjual lebih dari 1.000 Nexos di pasar global.

Baca juga: Hyundai sepakati kerjasama hasilkan hidrogen dari listrik

Pewarta: KR-CHA
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Produsen mobil listrik Nio cari mitra untuk bangun pabrik di Beijing

Jakarta (ANTARA) – Produsen kendaraan listrik China, Nio Inc sedang mencari mitra untuk membangun pabrik di Beijing, kata pendiri dan pimpinan perusahaan William Li, dilansir Reuters, Sabtu.

Pernyataan untuk mencari mitra itu muncul setelah Nio mengumumkan pada Selasa (28/5), sedang membentuk usaha patungan dengan Beijing E-Town International Investment and Development Co Ltd, yang akan menginvestasikan 1,45 miliar dolar untuk entitas baru itu.

“Basis manufaktur Nio saat ini berada di Anhui sebelah timur dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 100.000 unit, namun belum mencukupi,” kata Li.

Perusahaan yang berkantor pusat di Shanghai itu mengoperasikan pabrik di Hefei bersama Jianghuai Automobile Group. Nio pun menghasilkan 3.989 unit kendaraan pada kuartal pertama, hampir setengah dari jumlah yang diluncurkan pada kuartal sebelumnya.

“Kami akan mengevaluasi segala kemungkinan dan tidak akan sepenuhnya mengesampingkan rencana membangun pabrik di Beijing secara mandiri. Pilihan pertama masih membentuk manufaktur dengan mitra, yang merupakan pemikiran strategis kami yang konsisten,” kata Li.

Pasar kendaraan listrik di China merupakan yang terbesar di dunia. Sejumlah pabrikan global pun membangun pabrik di negara Tirai Bambu itu, salah satunya adalah pabrik Tesla di Shanghai.

Baca juga: Tesla Model 3 buatan China akan dijual mulai Rp626 juta

Baca juga: Di Swedia, jalan bisa isi daya mobil listrik yang melintas di atasnya

Baca juga: Tesla terjunkan tim selidiki ledakan mobil di Shanghai

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Ferrari bakal gunakan mesin hybrid, bisa melaju 340km per jam

Jakarta (ANTARA) – Ferrari menampilkan mobil sport mewah bermesin hibrida (hybrid) yang berjalan dengan suara mesin senyap karena menggunakan mesin listrik, namun tetap melaju kencang dengan kecepatan puncak 340 km per jam.

Ferrari bermesin ramah lingkungan itu dinamai 4WD SF90 Stradale hybrid yang memakai mesin berkekuatan 1.000 tenaga kuda hasil pengembangan Formula One.

Kepala Eksekutif Ferrari, Louis Camilleri menggambarkan mobil baru itu adalah kendaraan yang “mencengangkan, cepat dan sepenuhnya revolusioner”.

Selain menawarkan sensasi kecepatan dan kinerja tinggi, mobil baru itu dapat menggunakan daya listrik sepenuhnya dalam jarak 25 km, sehingga pengguna Ferrari ini dapat melintasi lalulintas perkotaan tanpa menggunakan mesin khas Ferrari yang cukup bising.

“Itu akan menjadi sunyi, kami tidak ingin menyembunyikan bahwa mobil ini juga dapat dijalankan dengan listrik,” kata Chief Technology Officer Michael Leiters, dilansir Reuters, Sabtu.

Ferrari sebelumnya sudah memiliki satu model hibrida yakni LaFerrari yang dijual terbatas, sedangkan model SF90 Stradale akan menjadi model pertama yang diproduksi massal.

Sekitar 2.000 pelanggan terpilih dari seluruh dunia telah diundang oleh Ferrari pada Rabu hingga Jumat (31/5) untuk melihat dan memesan mobil baru yang akan dikirimkan dalam waktu 12 bulan. Harganya akan diumumkan menyusul pada pekan depan.

Ferrari pada tahun lalu mengumumkan akan merilis 15 model baru, termasuk bermesin hibrida dan edisi khusus, demikian Reuters.

Baca juga: Ferrari 488 Pista kini hadir di Indonesia

Baca juga: Ferrari “recall” 2.071 unit di China karena masalah airbag

Baca juga: Ferrari siapkan 15 mobil baru termasuk hibrida dan SUV

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Sepeda listrik Arc’s mirip motor bisa dipesan

Jakarta (ANTARA) – Sepeda listrik Arc’s Vector EV dijadwalkan akan memasuki tahapan produksi di fasilitas baru yang ada di South Wales, Inggris pada 2020 dan sudah dapat dipesan dengan harga 90.000 euro (Rp1.4 miliar).

Kendaraan itu diproduksi dengan jumlah terbatas hanya 399 unit yang akan dirakit sesuai pesanan dalam 18 bulan pertama.

Keterbatasan unit Arc’s Vector itu bertujuan agar calon pembeli semakin semangat untuk membeli kendaraan yang diklaim sebagai “sepeda motor listrik paling canggih di dunia.”

Sepeda listrik itu memiliki teknologi human interface, karbon monocoque, kemudi hub-center steering, roda yang terinspirasi oleh ras, dan banyak lagi.

Arc sebagai pembuat kendaraan itu bertujuan membangun sepeda yang gesit dan memiliki banyak tenaga, tapi tetap ramah pengguna dan menyenangkan untuk dikendarai baik di kota maupun di jalan terbuka.

“Sistem yang kami kembangkan memberikan kontrol kecepatan rendah pada sepeda. Ada beberapa produsen yang telah menerapkan kemudi hub-center di masa lalu. Tapi, mereka melakukannya dengan sistem pengereman anti-menukik,” kata pendiri dan CEO Arc, Mark Truman yang dikutip dari CarsCoops, Kamis.

Baca juga: General Motors gelar sayembara penamaan sepeda listrik terbaru

Truman mengatakan setiap pengendara ingin sepeda menukik saat pengereman, itulah yang biasa mereka lakukan sebelumnya. “Untuk Vector, kami telah menciptakan sistem yang memiliki semua manfaat HCS tetapi terasa seperti serangkaian garpu. Keuntungannya adalah kekakuan yang memungkinkan untuk sudut yang curam dan sasis yang memungkinkan perubahan arah yang cepat dengan stabilitas pada kecepatan tinggi.”

“Apa yang kami rancang adalah yang terbaik dari kedua dunia dengan tidak ada yang negatif,” ujarnya.

Arc’s Vector EV punya motor berdaya listrik 399 volt dan menghasilkan tenaga 133 HP dan torsi 148 Nm. Bobot 220 kilogram menjadikan sepeda listrik itu lebih berat dibandingkan sepeda listrik konvensional.

Sepeda itu mampu menembus kecepatan hingga 60 mph atau 96 km/jam dalam tiga detik dan kecepatan maksimal hingga 125 mph (201 km/jam).

Di kawasan perkotaan, sepeda listrik Arc’s Vector punya jangkauan hingga 387 mil (623 km), sedangkan di jalan raya ia dapat menempuh jarak hingga 230 mil (370 km).

Baca juga: Harley-Davidson perkenalkan dua motor listrik konsep

Pewarta: KR-CHA
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

BMW dan JLR akan berkolaborasi penggerak listrik mendatang

Jakarta (ANTARA) – BMW grup dan Jaguar Land Rover yang dimiliki oleh grup Tata mengumumkan akan berkolaborasi dalam unit penggerak listrik generasi mendatang demi mendukung kemajuan teknologi elektrifikasi yang diperlukan untuk transisi ke masa depan ACES yang merupakan singkatan dari otonom, terhubung, listrik, dan saling berbagi.

Unit penggerak listrik masa depan yang akan dikembangkan oleh kedua pabrikan tersebut, nantinya akan didasarkan pada teknologi elektrifikasi dari BMW Group yang paling canggih saat ini.

Teknologi eDrive generasi kelima (Gen 5) menampilkan motor listrik, transmisi, dan elektronik daya dalam satu tempat. Menurut pabrikan asal Bavaria Jerman itu, motor listrik ini tidak memerlukan bahan dasar yang langka dan memungkinkan perusahaan untuk mengurangi ketergantungannya dari ketersediaan bahan dasar langka itu.

Baca juga: Gerbang menuju era kendaraan listrik

Mulai 2020, BMW Group akan memperkenalkan Gen 5 eDrive pada BMW SUV iX3 mendatang yang berpenggarak listrik sepenuhnya. Selanjutnya, BMW dan Jaguar Land Rover akan membuat evolusi lebih lanjut berdasarkan unit penggerak listrik Gen 5.

Dengan berbagi biaya pengembangan dan perencanaan produksi, BMW Group dan JLR akan dapat menghemat banyak biaya yang akan dikeluarkan. Unit daya motor berbasis Gen 5 itu akan dikembangkan oleh tim bersama dengan BMW Group dan ahli dari Jaguar Land Rover yang berlokasi di Munich, Jerman. Produksi mesin penggerak listrik itu akan dilakukan oleh masing-masing mitra di fasilitas manufaktur mereka sendiri.

“Dengan Jaguar Land Rover, kami menemukan mitra yang memenuhi persyaratan untuk unit penggerak listrik generasi mendatang secara signifikan yang sesuai dengan kriteria kami. Bersama-sama, kami memiliki kesempatan untuk melayani lebih efektif sesuai kebutuhan pelanggan dengan mempersingkat waktu pengembangan dan membawa kendaraan dan teknologi canggih lebih cepat ke pasar,” kata Anggota Dewan Manajemen BMW AG, Klaus Frohlich yang dikutip dari CarsCoops, Kamis.

Baca juga: Demi mobil listrik, BMW ajukan permohonan pengembangan sel baterai

Pewarta: KR-CHA
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

BMW dan Jaguar Land Rover kolaborasi komponen mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – BMW pada Rabu (5/6) mengumumkan akan berkolaborasi dengan Jaguar Land Rover dalam pengembangan komponen motor listrik dan transmisi elektronik guna menekan biaya riset dan produksi mobil listrik.

“Bersama-sama, kami berkesempatan untuk melayani lebih efektif untuk kebutuhan pelanggan dengan mempersingkat waktu pengembangan serta membawa kendaraan berteknologi canggih ke pasar secara lebih cepat,” ujar anggota dewan BMW, Klaus Froehlich, dilansir Reuters.

BMW dan Jaguar Land Rover mengatakan, jika rencana itu berjalan lancar maka terdapat beberapa bidang yang akan dihemat, meliputi pengembangan, perencanaan produksi, dan pembelian komponen, karena seluruhnya dikerjakan bersama-sama.

Kedua perusahaan juga akan memproduksi kereta penggerak listrik di fasilitas manufaktur mereka masing-masing, kata BMW.

Direktur teknik Jaguar Land Rover, Nick Rogers, mengatakan bahwa kolaborasi tersebut sejalan dengan upaya pabrikan asal Inggris itu untuk menciptakan produk yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Kami telah membuktikan bahwa kami dapat menciptakan mobil listrik yang dipandang dunia, tetapi kami juga perlu meningkatkan teknologi guna mendukung produk Jaguar Land Rover generasi berikutnya,” ucap Rogers.

Baca juga: BMW dan JLR akan berkolaborasi penggerak listrik mendatang

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Toyota dan Subaru kerja sama bikin mobil listrik satu model

Jakarta (ANTARA) – Toyota Motor Corporation dan Subaru Corporation menjalin bekerja sama pengembangan mobil listrik baterai (battery electric vehicles/BEV) untuk kendaraan kelas menengah hingga besar, termasuk model sport utility vehicle (SUV) yang akan dijual dengan model yang sama, tapi dengan merek masing-masing perusahaan.

“Dengan memadukan masing-masing kekuatan, seperti teknologi all-wheel-drive yang dikembangkan Subaru selama bertahun-tahun dan teknologi elektrifikasi yang dikerjakan Toyota, kedua perusahaan ingin mengambil tantangan dalam menciptakan produk menarik dengan daya tarik yang hanya dapat ditawarkan oleh BEV,” demikian keterangan resmi Toyota pada Jumat (7/6), dikutip laman resmi perusahaan, Sabtu.

Sejak berkolaborasi pada 2005, Toyota dan Subaru telah memperdalam kerja sama di berbagai bidang, termasuk pengembangan, produksi, dan penjualan kendaraan.

Contohnya, proyek Toyota 86 dan Subaru BRZ pada 2012 yang dikembangkan bersama-sama di atas platform teknologi kendaraan listrik plug-in hybrid (Hybrid electric vehicle/HEV) yang dijual di Amerika Serikat.

Pergeseran teknologi kendaraan ke era mobilitas listrik juga mendorong dua perusahaan Jepang itu bekerja sama di bidang powertrain, swakemudi, hingga mobil terkoneksi.

Salah satu tantangan memasarkan mobil jenis BEV adalah penggunaan dan ketersediaan baterai berkapasitas besar. Baterai jenis itu dianggap mampu menjawab kebutuhan konsumen akan kendaraan listrik ramah lingkungan dengan daya jelajah yang tinggi.

Toyota menyatakan, sebagai langkah awal mempopulerkan BEV, mereka akan mempercepat produksi dengan menyatukan teknologi yang mewakili kekuatan kedua perusahaan.

Toyota dan Subaru juga bersama-sama mengembangkan platform BEV, yang akan dipakai pada berbagai jenis kendaraan, termasuk sedan dan SUV.

Baca juga: BMW dan Jaguar Land Rover kolaborasi komponen mobil listrik

Baca juga: Produsen mobil listrik Nio cari mitra untuk bangun pabrik di Beijing

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019