Mobil Anak Bangsa mampu rakit 100 bus listrik sebulan

Jakarta (ANTARA) – PT Mobil Anak Bangsa (MAB) selaku produsen bus bertenaga listrik dalam negeri mengklaim mampu merakit 100 bus ramah lingkungan itu dalam waktu sebulan.

“Kami dalam tahap pengembangan prototipe ketiga. Prosesnya pun telah masuk dalam tahap uji tipe di Kementerian Perhubungan,” ujar Presiden Direktur PT Mobil Anak Bangsa, Mayjen TNI (Purn) Leonard, di Jakarta, Kamis.

Setelah lolos dalam tahap pengujian di Kementerian Perhubungan, prototipe bus listrik itu akan diajukan ke Kementerian Perindustrian untuk mendapatkan lisensi produksi.

Prototipe ketiga itu dipamerkan dalam ajang Busworld South East Asia 2019 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta pada 20-22 Maret.

Leonard mengatakan bus listrik MAB juga akan diuji coba di jalanan Jakarta sebagai bagian kerja sama dengan PT Transportasi Jakarta (PT Transjakarta).

“Proses administrasinya sudah dimulai secara simultan. Kalau Transjakarta menghendaki, kami akan menyiapkan unitnya,” katanya.

Bahan baku karoseri, badan mobil, hingga desain sasis, menurut Leonard, sudah dikerjakan dengan bahan baku dalam negeri. Hanya baterai, motor listrik, dan pengendali (controller) yang masih harus dipasok dari negara lain.

Baca juga: Presiden Jokowi serukan integrasi segera transportasi Jabodetabek

“Kami masih bekerja sama dengan mitra kami di luar negeri. Dalam proses itu, kami menghendaki transfer of knowlegde. Kami juga berkerja sama dengan Institut Teknologi Bandung sehingga membuka peluang untuk memproduksi komponen dalam negeri yang jauh lebih layak,” ujarnya.

Bus listrik MAB berkapasitas 24 kursi dengan empat tempat duduk prioritas disabilitas, ibu hamil, serta lansia. Secara keseluruhan bus itu punya kapasitas 60 penumpang.

Bus itu berbekal mesin Lithium Fenno Phosphabe (LiFePo) dengan daya 259 kWh, serta tenaga maksimum 268 hp. Interval pengisian baterai adalah tiga jam dengan jarak jelajah sejauh 300 km untuk sekali pengisian. Satu bus dipasangi 12 baterai.

“Kami membatasi kecepatan laju bus 70 km/jam meskipun kecepatan bus bisa mencapai lebih dari 100 km/jam. Torsinya udah 0 karena tidak menggunakan bahan bakar dan ketika pedal ditekan bisa langsung melaju,” katanya.

Keuntungan penggunaan bus listrik selain mengurangi emisi adalah biaya operasional yang lebih hemat.

Baca juga: ITS operasikan bus listrik kampus

Leonard menyontohkan jika satu kilometer perjalanan bus berbahan bakar fosil membutuhkan biaya Rp100 ribu, bus listrik hanya berbiaya Rp30 ribu rupiah.

Terkait limbah baterai, piranti yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk keperluan industri rumah tangga, misalnya solar sel dan berbagai kebutuhan lainnya.

“Kami akan mengganti baterai yang sudah berusia lima tahun. Laju bus pun akan lebih halus dan tidak berisik,” kata dia.

Namun, bus listrik masih menyisakan persoalan yang harus dipenuhi seperti stasiun pengisian daya listrik.

Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan stasiun pengisian daya untuk bus listrik hanya terdapat dua stasiun di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

“Sudah ada dua unit pengisian daya (charging station) ang merupakan hasil kerja sama dengan operator di pool mereka di Pulo Gadung, Jakarta Timur,” kata Agung.

Baca juga: Transjakarta akan uji coba bus listrik

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Transjakarta akan uji coba bus listrik

Jakarta (ANTARA) – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) berencana menguji coba operasional bus listrik buatan dalam negeri dari PT Mobil Anak Bangsa (MAB) dan produk asal China yakni BYD Auto Co Ltd.

Rencana pengujian itu tertuang dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BYD, MAB, RAC-Danfoss, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam acara Busworld South East Asia 2019 di Jiexpo, Jakarta, Kamis.

“Wacana (penggunaan bus listrik) itu harus direalisasikan. Unit yang sudah ada akan dilakukan pengujian sesuai regulasi. Jika memenuhi syarat, kami akan mengoperasikannya di jalanan Jakarta,” ujar Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono selepas penandatanganan MoU itu.

Agung mengatakan materi uji coba bus listrik itu meliputi kapasitas angkut penumpang, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, jam operasional, hingga daya tahan baterai sebagai sumber pemasok tenaga.

Selain itu, uji coba itu juga untuk memastikan kesiapan infrastruktur pengisian daya, perawatan, dan bengkel. Khusus untuk pengisian daya, saat ini baru terdapat dua mesin pengisian daya listrik.

Baca juga: Presiden Jokowi serukan integrasi segera transportasi Jabodetabek

“Sudah ada dua unit pengisian daya (charging station) ang merupakan hasil kerja sama dengan operator di pool mereka di Pulo Gadung, Jakarta Timur,” kata Agung.

Namun, Agung tidak menyebut secara rinci kapan bus listrik akan mengaspal di jalanan Jakarta. Uji coba itu, lanjut Agung, akan tergantung kesiapan operator (PT MAB dan BYD) serta fasilitas pendukungnya.

Bus ini diproyeksikan sebagai armada untuk Transjakarta, sesuai dengan arahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang meminta untuk mengkaji bus bertenaga listrik.

“Uji coba kita bukan menetapkan jumlah minimal, tapi yang betul-betul memenuhi syarat. Pak Gubernur menginstruksikan operasional bus listrik mencapai 10 armada. Paling tidak, hari ini sudah ada tiga (bus),” katanya.
  Bagian dalam bus listrik dari PT MAB di JIExpo Kemayoran Jakarta. (ANTARA News/Asep Firmansyah)

Agung juga belum dapat memastikan penggunaan bus-bus listrik sebagai armada sepenuhnya Transjakarta menyusul kepastian komponen seperti baterai, stasiun pengisian daya, hingga pemeliharaan.

Komponen-komponen seperti baterai, motor listrik, dan pengendali (controller) juga masuk dalam kategori komponen berbiaya mahal karena pemenuhan kebutuhan berasal dari luar negeri.

“Secara jangka panjang, kami punya cita-cita demikian. Tapi tentu secara bertahap. Kami harus melihat kesiapan dari industri dan peralihan teknologinya,” katanya.

Dalam uji coba itu, Transjakarta membuka kesempatan luas bagi perusahaan penyedia bus listrik selain perusahaan yang telah menandatangani MoU, asalkan dapat memenuhi syarat yang telah ditentukan.

Baca juga: Transjakarta sediakan lagi empat rute baru integrasi

“Transjakarta dalam posisi menunggu dan dunia pasar sedang bergerak. Kami akan lihat apakah mereka akan melakukan penawaran atau tidak,” kata dia.

Dua bus listrik yang akan di-uji coba itu punya kapasitas 24 kursi dengan empat tempat duduk prioritas difabel, ibu hamil, serta lansia. Secara keseluruhan, bus listrik itu mampu mengangkut 60 penumpang.

Kedua bus itu tidak memiliki perbedaan dari aspek dapur pacu yaitu mesin Lithium Fenno Phosphabe (LiFePo), berdaya 259 kwh, serta tenaga maksimum 268 hp.

Interval pengisian baterai bus adalah tiga jam, dengan jarak jelajah sejauh 300 km untuk sekali pengisian sumber daya.

Baca juga: ITS operasikan bus listrik kampus

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Tesla rilis SUV Model Y, harga mulai Rp555 juta

Jakarta (ANTARA) – Produsen mobil listrik AS, Tesla, telah merilis mobil SUV listrik terbarunya, Model Y, dalam empat varian dengan harga mulai 39.000 dolar (sekira Rp555 juta), sedikit lebih mahal dibanding Model 3 untuk varian terendahnya.

SUV yang desainnya lebih mirip sedan ini akan hadir dalam empat varian, yakni versi Standard Range, Long Range, Dual-Motor All-Wheel Drive, dan Performance.

Model Y cukup luas untuk membawa tujuh orang dewasa berikut perlengkapan mereka dan menawarkan jangkauan terdepan, kinerja superior, dan teknologi paling canggih, kata Tesla dalam pernyataan resminya, dikutip Jumat.

Dilengkapi dengan powertrain efisiensi tinggi dan motor ultra-responsif, Model Y mampu berakselerasi dari 0-100 km per jam dalam waktu hanya 3,5 detik, dan kecepatan maksimal 150 mil per jam (sekitar 241 km per jam), serta diklaim tangguh di kondisi jalan apa pun.

Baterai Standar Model Y akan memiliki jangkauan 230 mil sekitar 321 km, sementara Model Y Long Range akan dapat melakukan perjalanan hingga 300 mil (482 km) dengan sekali pengisian daya penuh pada baterainya.

Di dalam, atap kaca panoramik Model Y dan tempat duduk tinggi menciptakan perasaan lapang dan menawarkan pemandangan luas dari setiap kursi di kendaraan. Trunk depan dan jok baris kedua lipat menyediakan ruang penyimpanan total 66 kaki kubik (1,9 meter kubik).

Seperti Model 3, Model Y tidak memerlukan tombol, melainkan menghubungkan ke ponsel cerdas Anda untuk masuk dan keluar tanpa hambatan, dengan antarmuka layar sentuh tunggal 15 inci di dalam untuk semua kontrol mobil.

Model Y juga terhubung dengan aplikasi Tesla Mobile untuk fitur unik dan mudah diakses seperti membuka kunci jarak jauh, panggilan telepon, pra-pengkondisian jauh, pelacakan lokasi, mode batas kecepatan, dan banyak lagi.

Model Y juga kompatibel dengan jaringan pengisian daya Supercharger Tesla yang berjumlah lebih dari 12.000 Supercharger di 36 negara, serta Supercharger V3 terbaru.

Mobil ini akan dikirimkan kepada pelanggan mulai musim gugur 2020 untuk varian Performance, Long Range, dan Dual-Motor All-Wheel Drive, sedangkan untuk varian terendah (Range Standar) berharga 39.000 dolar baru tersedia pada 2021.

Baca juga: Mercedes siap serang Tesla dengan SUV listrik

Baca juga: Tesla mulai produksi SUV Model Y akhir 2019

Baca juga: Tesla tarik 11.000 SUV model X karena masalah kursi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Tidak penuhi standar emisi, Fiat Chrysler tarik 862.520 mobil di AS

Jakarta (ANTARA) – Fiat Chrysler akan menarik kembali (recall) sebanyak 862.520 unit kendaraan bermesin bensin di Amerika Serikat karena tidak memenuhi standar emisi, menurut Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency/EPA) dilansir Reuters, Rabu (13/3).

Penarikan tersebut meliputi Dodge Journeys produksi 2011-2016, Chrysler 200s dan Dodge Avengers produksi 2011-2014, Dodge Calibers 2011-2012 dan Jeep Compass/Patriots model tahun 2011-2016.

EPA mengatakan kepada Reuters, akan terus menyelidiki kendaraan Fiat Chrysler lainnya yang berpotensi tidak mematuhi aturan emisi. Kendati demikian, pihak Fiat Chrysler tidak berkomentar mengenai masalah ini.

“EPA menyambut tindakan Fiat Chrysler yang secara sukarela menarik kembali kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi AS,” kata administrator EPA Andrew Wheeler dalam sebuah pernyataan.

“Kami akan memberikan bantuan kepada konsumen untuk menavigasi penarikan kembali dan terus memastikan bahwa produsen mobil mematuhi hukum di negara kami untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan,” kata dia.

Pada Januari, Fiat Chrysler menyetujui denda 800 juta dolar AS (Rp11,4 triliun) atas klaim Departemen Kehakiman dan negara bagian California karena penggunaan perangkat lunak ilegal yang mengaburkan hasil uji emisi pada kendaraan diesel.

Pada 2015, Volkswagen juga didenda setelah mengakui memasang perangkat lunak ilegal untuk mencurangi hasil uji emisi.

Baca juga: Fiat tarik 882.000 pikap karena masalah kemudi dan pedal
Baca juga: FCA tarik 1,4 juta kendaraan, terakhir terkait kantong udara Takata

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Honda bidik penjualan mobil listrik hingga 100 persen pada 2025

Jakarta (ANTARA) – Honda mengumumkan ambisinya untuk mendukung kontribusi mobil listrik hingga 100 persen terhadap total penjualan produk Honda di Eropa pada tahun 2025.

Target tersebut merupakan revisi dari target Honda sebelumnya yakni, dua pertiga penjualan di Eropa berasal dari mobil listrik.

“Sejak visi Honda 2030 pertama kali diumumkan pada Maret 2017 lalu, kami terus melangkah menuju dimana seluruh penjualan kami di Eropa kelak berasal dari mobil listrik,” kata Senior Vice President Honda Motor Europe, Tom Gardner, dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/3).

“Berbagai tantangan yang dihadapi, menuntut kami untuk menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan bagi mobilitas manusia. Teknologi terus berkembang pesat dan masyarakat juga mulai mengubah pandangannya terhadap mobil itu sendiri,” kata dia.

Komitmen Honda untuk pengembangan mobil listrik diwujudkan melalui Honda e Prototype yang diluncurkan pertama kali di Jenewa. Mobil tersebut memperlihatkan wujud mobil listrik pertama Honda untuk pasar Eropa yang akan diproduksi massal akhir 2019.
  Honda e Prototype at Geneva International Motorshow

Honda e Prototype mampu melaju hingga 200 km dalam kondisi baterai terisi penuh, dengan fitur fast charging yang dapat mengisi daya listrik hingga 80 persen dalam 30 menit. Honda e Concept juga dirancang untuk memberikan pengalaman berkendara yang emosional dan menyenangkan, didukung penggerak motor elektrik pada roda belakang.

Hingga saat ini, Honda telah menerima 15.000 pendaftar di website terhadap e Prototype. Tidak hanya itu, pada awal 2019, Honda juga meluncurkan All New Honda CR-V Hybrid yang didukung teknologi full hybrid i-MMD dengan dua motor penggerak.

Di Jenewa Motor Show, Honda juga memperkenalkan bisnis energy management solutions di Eropa yang pernah diperkenalkan di Frankfurt Motor Show 2017 melalui Power Manager bi-directional charging concept.

“Ini adalah langkah signifikan bagi Honda, dengan menghadirkan inovasi terdepan di industri melalui peluncuran layanan manajemen energi. Teknologi ini diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi operator sistem energi dan konsumen mobil listrik,” kata Tom Gardner.
  Honda e Prototype at Geneva International Motorshow

Honda bekerja sama dengan EVTEC untuk membangun teknologi bi-directional Honda Power Manager (kompatibel dengan baterai pada mobil listrik, seperti Honda e Prototype) dan berencana memasarkan produk tersebut dalam beberapa tahun kedepan.

Honda juga mengumumkan kemitraan dengan dua rekan eksternal, yakni Moixa sebagai perusahaan yang memiliki spesialisasi di bidang agregator sumber daya yang memungkinkan konsumen mendapatkan keuntungan dengan membagikan kapasitas listrik dari kendaraannya.

Kemudian Ubitricity, sebagai perusahaan penyuplai alat pengisian daya, yang menyediakan pendekatan inovatif pada pengisian daya di jalan perkotaan.

Langkah selanjutnya adalah melakukan studi terhadap teknologi tersebut di London, Inggris dan Offenbach, Jerman. Perkembangan dari penelitian tersebut akan diumumkan pada akhir tahun ini.

Baca juga: Honda bocorkan tampilan interior purwarupa mobil listrik terbaru

Baca juga: Honda akan luncurkan prototipe mobil listrik di Geneva Motor Show

Baca juga: Honda RS Concept dirancang khusus untuk Indonesia

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Tesla perkenalkan V3 Supercharging, 50 persen lebih cepat

Jakarta (ANTARA) – Produsen mobil listrik AS, Tesla, memperkenalkan V3 Supercharging, perangkat pengisian daya baterai mobil listrik generasi baru yang mampu memangkas 50 persen waktu pengisian dibanding sebelumnya.

V3, yang lahir dari pengalaman Tesla memproduksi baterai terhubung-jaringan terbesar dunia, memungkinkan kendaraan Tesla untuk mengisi daya lebih cepat daripada kendaraan listrik lainnya di pasaran, kata Tesla dalam siaran persnya, dikutip Minggu.

V3 merupakan arsitektur yang sepenuhnya baru untuk Supercharging. Kabinet listrik 1MW baru mendukung tingkat beban puncak 250kW per mobil. Pada tingkat ini, sedan Tesla Model 3 misalnya bisa mengisi baterai untuk menjangkau 75 mil (120 km) dalam waktu hanya 5 menit.

Itu berarti, untuk V3 Supercharging mampu mengisi daya baterai beberapa mobil listrik yang secara gabungan menjangkau 1.000 mil dalam waktu hanya satu jam.

“Dikombinasikan dengan perbaikan lain yang kami umumkan hari ini, V3 Supercharging pada akhirnya akan memangkas jumlah waktu yang dihabiskan pelanggan untuk pengisian daya baterai rata-rata 50 persen,” jelas Tesla.

Tesla saat ini mengoperasikan lebih dari 12.000 Supercharger di seluruh Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Jaringannya terus bertambah setiap hari, dan mampu menjangkau 99 persen populasi AS, sedangkan daya jangkau sama akan segera diwujudkan Tesla di Eropa akhir 2019.

Baru-baru ini, Tesla mampu menjangkau 90 persen populasi di China dan tumbuh dengan cepat. Namun, untuk mendorong berlanjutnya adopsi kendaraan listrik dan lebih mempercepat transisi dunia ke energi berkelanjutan, pengisian harus lebih cepat, dan jumlah kendaraan yang dapat mengisi daya di suatu lokasi dalam sehari perlu ditingkatkan.

Baca juga: Nio pesaing Tesla batalkan rencana pembangunan pabrik
Baca juga: Tesla umumkan waktu peluncuran crossover listrik Model Y

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Nissan Leaf masuk pasar Indonesia tahun depan

Jakarta (ANTARA) – Mobil listrik New Nissan Leaf akan tersedia di pasar Indonesia dan Filipina pada tahun 2020, menunjukkan komitmen Nissan dalam mendorong mobilitas terelektrifikasi di Asia Tenggara.

Nissan juga menargetkan seperempat dari jumlah penjualan mereka adalah kendaraan listrik, sesuai dengan rencana jangka menengah Nissan M.O.V.E 2022. Rencana percepatan itu termasuk lokalisasi dan perakitan komponen kendaraan listrik di pasar-pasar utama Asia Tenggara.

“Nissan memimpin upaya untuk mendorong kesadaran dan mewujudkan mobilitas yang terelektrifikasi di Asia dan Oceania,” kata Regional Senior Vice President and Head of Asia & Oceania, Yutaka Sanada, dalam keterangan tertulisnya kepada Antara, Sabtu.

“Menghadirkannya ke Indonesia dan Filipina adalah langkah utama dalam upaya ini. Hal ini memungkinkan pelanggan mendapatkan pengalaman langsung atas manfaat kendaraan listrik bagi mereka sendiri dan masyarakat,” kata dia.

Baca juga: Nissan LEAF e+ jalani debut, hadir dengan powertrain baru

Sejak tahun 2010, Nissan Leaf terjual sebanyak 400.000 unit, dan menjadi kendaraan listrik murni terlaris di dunia. Tahun ini, Nissan telah memperkenalkan kendaraan listrik itu ke Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia.

Kehadiran New Nissan Leaf, bersama jajaran model e-POWER, menandai langkah penting dalam mobilitas yang terelektrifikasi di Asia dan Oceania.

e-POWER merupakan teknologi milik Nissan yang memberi pelanggan manfaat atas kendaraan listrik, tanpa memerlukan tempat pengisian daya dari luar. Nissan Serena e-POWER akan menjadi model e-POWER pertama yang diluncurkan di kawasan ini, dimulai dengan Singapura pada tahun ini.

“Selain memperkenalkan mobilitasi yang terelektrifikasi, Nissan berupaya membuatnya lebih mudah diakses melalui lokalisasi dan perakitan komponen kendaraan listrik di pasar-pasar utama di Asia Tenggara,” kata Sanada.

Baca juga: Leaf Nismo RC, mobil balap listrik dari Nissan

Baca juga: Nissan Dongfeng tingkatkan produksi mobil listrik di China

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Honda berambisi hanya jual kendaraan listrik di Eropa

Jakarta (ANTARA) – Honda Motor berambisi untuk menjual hanya kendaraan listrik di Eropa pada 2025, dan hanya akan memproduksi kendaraan bermesin konvensional sepertiga dari total produksinya di seluruh dunia.

“Sejak kami membuat janji pertama pada Maret 2017, perubahan menuju elektrifikasi telah berkembang pesat. Tantangan lingkungan terus mendorong permintaan untuk mobilitas yang lebih bersih,” kata Wakil Presiden Senior Honda Motor Eropa, Tom Garner, di pameran otomotif Jenewa, dikutip Sabtu.

Menurut Garner, teknologi terus bergerak tanpa henti dan orang-orang mulai mengubah pandangan tentang mobil itu sendiri.

Bukti dari ambisi Honda itu, menurut Garner, antara lain dengan diluncurkannya model kendaraan listrik baru Honda e Prototype. Mobil ini mampu menjangkau lebih dari 200 km untuk satu kali pengisian daya baterai penuh.

e Prototype juga dilengkapi dengan teknologi pengisian daya cepat, mampu mengisi 80 persen kapasitas daya baterai dalam waktu hanya 30 menit.

Pelanggan di Eropa sudah bisa memesan e Prototype pada awal musim panas mendatang, dan pabrikan Jepang ini mengaku telah menerima pesanan 15.000 unit untuk e Prototype.

Selain lebih masif mengembangkan mobil listrik, Honda juga berniat untuk terjun ke bisnis solusi manajemen energi yang sedang berkembang di Eropa. Pengembangan ini didasarkan pada konsep pengisian dua arah Power Manager yang pertama kali diperkenalkan di pameran otomotif Frankfurt 2017.

Honda akan membangun portofolio produk dan layanan manajemen energi yang menawarkan solusi komprehensif untuk pelanggan kendaraan listrik dan operator layanan di Eropa.

Honda telah bekerja sama dengan EVTEC untuk mengembangkan lebih lanjut teknologi Honda Power Manager dua arah (kompatibel dengan kendaraan baterai-listrik, seperti Honda e Prototype) dan akan menawarkan versi komersial di tahun-tahun mendatang.

Brand ini juga sudah menjalin kemitraan dengan Moixa, perusahaan yang berspesialisasi dalam teknologi agregator sumber daya, kemudian dengan Ubitricity, pemasok solusi pengisian daya inovatif untuk stasiun pengisian di daerah perkotaan.

Baca juga: Mobil terbang Pal-V dan hypercar Battista jadi bintang di Geneva
Baca juga: 15 mobil top yang akan meluncur di Geneva Motor Show 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai kenalkan NEXO di Smart Mobility Summit 2019

Jakarta (ANTARA) – Dalam Smart Mobility Summit 2019 yang digelar di Austin,  Hyundai akan pamerkan SUV Nexo berbahan bakar sel karena dianggap telah menggunakan teknologi terdepan.

SUV itu rencananya akan dipamerkan di Wards Intelligence dan C3 Group Smart Mobility Summit pada 9 Maret, di Empire Garage Austin. Itu adalah penampilan pertama NEXO di negara bagian Texas.

Manajer grup senior Strategi Kendaraan Alternatif, Hyundai Motor America, Gil Castillo, akan mendemonstrasikan fitur-fitur teknologi mutakhir, sekaligus menjawab pertanyaan teknis tentang kendaraan ramah lingkungan itu.

Hal itu juga menandai momentum dan kepemimpinan berkelanjutan Hyundai melalui jajaran SUV paling beragam di industri.

Wakil Presiden Perencanaan Produk Perusahaan dan Digital Hyundai Motor America, Mike O’Brien mengatakan saat ini konsumen mencari berbagai solusi transportasi demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

“NEXO Fuel Cell memimpin rencana Hyundai dalam pengembangan kendaraan tanpa emisi dan kami bersemangat untuk memperkenalkan NEXO di Austin yang berfokus lingkungan, merayakan masa depan mobilitas pintar dan teknologi baru,” kata Mike yang dikutip dalam laman resmi Hyundai, Jumat.

Jangkauan 

NEXO Blue memiliki jangkauan sekitar 380 mil, 115 mil lebih banyak dari Tucson Fuel Cell Electric Vehicle.

Waktu pengisian bahan bakar NEXO dapat dicapai hanya dalam lima menit, menunjang gaya hidup konsumen yang praktis dan serba cepat.

NEXO menggunakan sejumlah bahan ekologis dalam konstruksinya, termasuk cat poliuretan berbahan dasar minyak kedelai, kain bio berbasis bambu, serta bio-plastik dan bio-karpet yang diekstraksi dari tebu.

Bahan berbasis bio diaplikasikan pada 47 bagian yang berbeda dan mengurangi emisi CO2 hingga 26 pon selama proses pembuatan.

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Pengembangan mobil otonom terhambat mahalnya biaya teknologi

Jakarta (ANTARA) – Mobil otonom atau swakemudi membutuhkan waktu hingga lima tahun ke depan agar benar-benar diterima konsumen.

Saat ini pengembangan swakemudi terhambat mahalnya harga riset serta tingkat kerumitan teknologi yang harus selalu dikembangkan oleh produsen otomotif, kata Thomas Sedran kepala kendaraan komersial Volkswagen.

Swakemudi membutuhkan infrastruktur berteknologi tinggi, sistem radar sangat mahal, serta kerja sama bisnis antara perusahaan teknologi yang melibatkan cloud computing dan pemetaan wilayah, kata Sedran.

“Butuh lima tahun lagi untuk mengembangkan teknologi untuk mencapai tingkat otonomi yang lebih tinggi. Bisakah Anda melihat bisnis dengan biaya setinggi itu dalam periode ini? Itu terlalu mahal,” kata Sedran, dilansir Reuters, Kamis (7/3).

Sedran mengungkap, biaya untuk sensor, prosesor dan perangkat lunak pada kendaraan swakemudi bisa mencapai 56.460 dolar AS, sekira Rp804,2 juta.

“Kami ingin biaya teknologi sensor turun menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 euro,” kata Sedran. “Ini membutuhkan lompatan kuantum, misalnya terkait inovasi teknologi Lidar”.

Sedran saat ini berupaya mengevaluasi strategi swakemudi Volkswagen di bidang kendaraan komersial, meliputi layanan pengiriman jarak jauh yang menggunakan kendaraan van tanpa tanpa pengemudi.

Kendaraan itu akan berjalan seusai koordinat yang ditetapkan pada peta digital, melintasi rute-rute yang telah ditetapkan.

Di sisi lain, industri otomotif dan perusahaan teknologi Google dan Uber, menghabiskan dana besar untuk menciptakan kendaraan tanpa sopir. Di masa depan, strategi ini dinilai dapat menurunkan biaya layanan perjalanan dan pengiriman barang.

“Kompleksitas masalah ini seperti misi ke Mars,” kata Sedran.

Sebelumnya, Volkswagen dan Ford sedang menggelar pembicaraan untuk berkolaborasi menciptakan kendaraan swakemudi. Namun keduanya belum menemukan titik temu terkait nilai investai dan hal-hal yang akan dikembangkan di masa mendatang.

Baca juga: Mobil swakemudi Tesla tabrak robot jelang CES 2019

Baca juga: Startup pengiriman barang nirawak Nuro dapat kucuran dana Rp13 triliun

Baca juga: Amazon ikut berinvestasi teknologi swakemudi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Volvo luncurkan bus listrik tanpa pengemudi di Singapura

Jakarta (ANTARA) – Volvo dan universitas Singapura meluncurkan bus listrik tanpa pengemudi, Selasa (5/3), yang akan segera diujicoba di negara-kota tersebut, sebuah langkah terbaru menuju meluncurkan kendaraan tanpa pengemudi untuk transportasi umum.

Dilansir AFP, Rabu (6/3), Singapura yang berteknologi tinggi telah menjadi tempat percobaan untuk teknologi teknologi tanpa pengemudi dan taksi tanpa pengemudi pertama di dunia yang mulai beroperasi dalam uji publik terbatas di negara itu pada 2016.

Produsen otomotif Swedia Volvo Buses dan mitra lokal Nanyang Technological University (NTU) meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai bus listrik otonom berukuran standar dan mengatakan kendaraan itu akan segera diuji coba di kampus universitas yang luas.

Data dari uji coba akan digunakan untuk memperbarui teknologi sebelum bus tanpa pengemudi itu diuji di jalan umum, kata Volvo dan NTU dalam sebuah pernyataan.

Presiden Volvo Buses Hakan Agnevall mengatakan kendaraan itu “merupakan langkah penting menuju visi kami untuk kota yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih cerdas”.

Kendaraan ini memiliki panjang 12 meter yang bisa mengangkut kapasitas hampir 80 penumpang.

Bus listrik menggunakan energi 80 persen lebih sedikit daripada bus diesel dengan ukuran yang sama dan dilengkapi dengan sensor dan kontrol navigasi yang dikelola oleh sistem kecerdasan buatan.

Baca juga: Volvo Polestar 2 digadang-gadang bakal saingi Tesla Model 3

Baca juga: Volvo pertahankan pusat ekspor di China

Baca juga: Volvo 360c, mobil swakemudi bak kabin jet pribadi

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Tesla umumkan waktu peluncuran crossover listrik Model Y

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan teknologi Amerika Serikat, Tesla, berencana meluncurkan kendaraan “crossover” listrik yang akan dinamai Model Y pada 14 Maret, yang akan berukuran lebih besar dan lebih mahal ketimbang Tesla Model 3, kata Elon Musk dilansir AFP, Selasa.

Musk mencuit di Twitter bahwa Tesla Model Y yang sudah dibahas dalam beberapa bulan belakangan itu, akan dirilis di sebuah studio desain di Los Angeles.

Berita peluncuran itu muncul tak lama setelah Tesla mengumumkan harga dasar Model 3 senilai 35.000 dolar AS (Rp495,2 juta) — varian mobil listrik dengan harga terjangkau — yang dijanjikan akan dikirimkan kepada konsumen dalam satu bulan ke depan.

Musk memastikan bahwa harga Model Y lebih mahal dari Model 3.

“Model Y, menjadi SUV, sekitar 10 persen lebih besar dari Model 3, jadi biayanya sekitar 10 persen lebih tinggi dan memiliki jangkauan yang lebih pendek untuk baterai yang sama,” kata Musk.

Hadirnya kendaraan baru itu menunjukkan bahwa Tesla dapat menangani hambatan produksi pada Model 3. Dalam pengumuman pekan lalu, Tesla juga mengindikasikan akan menutup ruang pamer dan menjual semua mobilnya secara online.

Baca juga: Showroom Tesla di Inggris kebakaran jelang peluncuran sedan Model 3

Baca juga: Tesla Model 3 berharga 35.000 dolar sekarang tersedia

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai bentuk konsorsium global bangun SPBU hidrogen

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co mengatakan telah membentuk konsorsium dengan lima perusahaan global untuk mengembangkan standar pengisian hidrogen untuk kendaraan listrik dan hidrogen (Fuel Cell Electric Vehicles).

“Pekan lalu, Hyundai telah menandatangani perjanjian awal dengan pemasok gas industri Prancis, Air Liquide, perusahaan fasilitas pengisian hidrogen Norwegia Nel. Pembuat truk hidrogen Nikola Corp, perusahaan minyak dan gas yang berbasis di Belanda, Royal Dutch Shell Plc, dan Toyota Motor Corp,” kata Hyundai sebagaimana dilaporkan Yonhap, dikutip Selasa.

Upaya bersama ini bertujuan untuk menciptakan teknologi pengisian daya yang diterima secara universal untuk bus dan truk yang menggunakan bahan bakar hidrogen.

Keenam perusahaan konsorsium tersebut akan berencana untuk mengembangkan komponen-komponen utama untuk fasilitas pengisian FCEV dan teknologi pengisian 700-bar dengan tekanan tinggi yang diperlukan untuk kendaraan komersial.

Baca juga: Hyundai akan terapkan kontrol mobil via smartphone

Baca juga: Hyundai dan Kia tarik 534.000 kendaraan karena risiko kebakaran mesin

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Pembuat mobil Jerman siapkan investasi besar untuk mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Ketua asosiasi industri mobil Jerman (VDA) jelang Geneva Motor Show mengatakan bahwa industri mobil di negara itu akan menginvestasikan hampir 60 miliar euro (setara dengan Rp963 triliun) selama tiga tahun ke depan untuk mobil listrik dan kendaraan otonom.

“Kami akan menginvestasikan lebih dari 40 miliar euro dalam mobilitas listrik selama tiga tahun ke depan, dan 18 miliar euro lainnya akan diinvestasikan dalam digitalisasi dan kemudi otomotis serta terhubung,” kata presiden VDA, Bernhard Mattes, dilaporkan Reuters, dikutip Minggu.

“Kisaran model mobil listrik dari pabrikan Jerman nantinya akan berlipat tiga kali lebih banyak, yaitu menjadi sekitar 100 pada periode tersebut,” tambahnya.

Baca juga: Volkswagen gelontorkan investasi Rp734 triliun demi mobil listrik

Geneva International Motor Show, tempat pabrikan memamerkan model dan konsep terbaru mereka, berlangsung dari 7 hingga 17 Maret.

“Peningkatan mobilitas listrik akan datang di Eropa. Tanpa itu, target CO2 UE tidak dapat tercapai pada tahun 2030,” tambahnya, menyerukan apa yang disebutnya kondisi peraturan yang sesuai di seluruh Eropa.

Jerman, bersama-sama dengan beberapa ekonomi besar Eropa lainnya, diatur untuk memiliki pangsa kendaraan listrik yang jauh lebih tinggi di antara registrasi mobil baru dari rata-rata di Uni Eropa, katanya.

Infrastruktur pengisian untuk mobil listrik harus diperluas dan insentif ditawarkan kepada pembeli mobil elektronik.

Baca juga: Volvo Polestar 2 digadang-gadang bakal saingi Tesla Model 3

Baca juga: Volkswagen bisa bikin 15 juta mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019