Volvo Polestar 2 digadang-gadang bakal saingi Tesla Model 3

Jenama otomotif Swedia, Volvo Cars, meluncurkan kendaraan listrik pertamanya Polestar 2 pada Rabu (27/2), yang digadang-gadang akan menjadi kompetitor sedan berpenggerak listrik asal Amerika Serikat Tesla Model 3.

Volvo Polestar 2 dan Tesla Model 3 punya kesamaan dalam menawarkan harga jual yang lebih terjangkau ketimbang mobil listrik buatan pabrikan otomotif lain. Keduanya berupaya merebut pelanggan dengan jumlah besar sehingga berani menawarkan produk dengan harga yang lebih miring.

Polestar hadir saat Tesla menggenjot produksi Model 3 untuk memenuhi pasar Eropa dan China, yang didukung adanya subsisi untuk kepemilikan mobil ramah lingkungan.
  Volvo Polestar 2 (Polestar Media)

Pimpinan Polestar, Thomas Ingenlath mengatakan kepada Reuters, menargetkan penjualan 50ribu unit Polestar 2 dalam 2-3 tahun setelah pengiriman pertama yang di mulai pada paruh pertama 2020.

Kendati demikian, kapasitas produksi pabrik perusahaan itu akan ditentukan berdasarkan kondisi pasar, atau seberapa banyak permintaan yang datang untuk mobil listrik itu.

“Jika pasar berkembang dengan baik, saya tidak berpikir volume produksi akan menjadi batasan. Ini lebih tergantung pada bagaimana mobil ini menggema di pasar, bagaimana pasar berkembang dan bagaimana tarif berkembang,” katanya, dilansir Reuters, Rabu (27/2).

Raksasa otomotif Jerman, termasuk Volkswagen, Mercedes-Benz hingga BMW akan memulai pengiriman mobil listrik kelas mewah, setelah diperkenalkan pada tahun lalu.

Polestar 2 merupakan kendaraan pertama dari lima mobil listrik yang dijanjikan Volvo Cars. Mobil itu tersedia secara online untuk pasar China, Amerika Serikat dan Kanada, serta enam negara di Eropa.

Baca juga: Volvo kenalkan mobil segala musim

Baca juga: Tesla dapat lampu hijau kirimkan Model 3 ke Eropa

Baca juga: Tesla desak pembebasan tarif untuk “otak mobil” buatan China

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Suzuki Wagon R listrik bakal dilengkapi sistem pengisian daya cepat

Produsen mobil Maruti Suzuki akan memasang opsi pengisian daya cepat arus AC dan DC untuk Suzuki Wagon R versi berpenggerak listrik yang akan dirilis pada 2020.

Dilansir Economic Times, Selasa (26/2), Suzuki Wagon R listrik akan dijual dengan rentang harga Rp137,6 juta hingga Rp196,9 juta untuk pasar India.

Menurut berbagai laporan, Wagon R versi listrik memiliki dua colokan untuk pengisian daya, untuk arus listrik AC berada di depan dan socket untuk arus DC berada di belakang.

Pengisian cepat yang menggunakan arus listrik direct current (DC) memungkinkan baterai mobil itu terisi daya 80 persen, selama satu jam charging.

Sedangkan pengisian daya menggunakan arus bolak-balik atau alternating current (AC) memerlukan 7 jam untuk pengisian hingga baterai penuh.

Suzuki Wagon R yang juga disebut Suzuki Karimun di Indonesia, untuk versi listriknya diklaim bisa menempuh 200km untuk sekali pengisian daya. 

Jarak tempuh sejauh itu dibutuhkan untuk menyiasati masih kurangnya infrastruktur pengisian daya di India. Kendati demikian, pihak Maruti Suzuki belum mengumumkan spesifikasi mobil dan baterai yang akan dipakai untuk Wagon R.

Maruti Suzuki telah menguji lebih dari 50 Wagon R listrik di bawah kondisi jalan dan cuaca yang berbeda. Model itu dibangun menggunakan platform baru Suzuki “Heartech”.

Untuk target konsumen, Maruti Suzuki tidak hanya mengincar pembeli pribadi melainkan akan menawarkan untuk armada taksi dan kendaraan operasional perusahaan.

Baca juga: Suzuki All New Ertiga diperkaya fitur baru

Baca juga: Suzuki luncurkan GSX-RR untuk MotoGP musim 2019

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Shell Eco-marathon Asia kembali digelar di Malaysia

Jakarta (ANTARA News) – Malaysia akan kembali menjadi tuan rumah ajang Shell Eco-marathon Asia (SEM Asia) 2019 yang merupakan bagian dari program global “Make the Future Live”.

Bertempat di Sirkuit Internasional Sepang, Kuala Lumpur, kompetisi tersebut akan digelar di tempat pertama kali SEM Asia diadakan pada 2010.

Ajang tahun ini sekaligus menandai 10 tahun diselenggarakannya kompetisi yang menantang para mahasiswa untuk mendesain dan merakit beragam mobil hemat energi dan berkompetisi di lintasan balap.

“Setiap tahun, kami menyaksikan standar performa tim yang semakin meningkat, begitu juga semangat dan kegigihan para mahasiswa peserta Shell Eco-marathon Asia,” kata Direktur Teknis Shell Eco-marathon Global Shanna Simmons seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Antara, Senin.

“Sirkuit Internasional Sepang di Malaysia adalah lokasi sempurna yang akan menjadi saksi lahirnya berbagai inovasi baru desain kendaraan. Kami menantikan kembali tahun yang menarik di ajang Shell Eco-marathon Asia,” tambahnya.

Di acara Shell Eco-marathon Mileage Challenge yang berlangsung pada 29 April hingga 2 Mei itu, lebih dari 100 tim dari seluruh kawasan di Asia dan Timur Tengah akan menguji mobil-mobil hemat energi rakitan mereka untuk menentukan siapa yang dapat menempuh jarak terjauh dengan konsumsi energi paling sedikit.

Pada 2018, ketika Singapura menjadi tuan rumah, tim pemenang berhasil melaju sejauh 2.341 kilometer–setara dengan jarak Jakarta-Bangkok, Thailand –dengan menggunakan satu liter bahan bakar.

Baca juga: Cara Shell ekspansi jaringan pengisian daya kendaraan listrik
Baca juga: Alasan mengapa supercar perlu pelumas khusus

Partisipasi Indonesia
 
Para tim mahasiswa juga memiliki kesempatan bertanding di ajang Shell Eco-marathon Driver’s World Championship.

Ajang yang pertama kali diperkenalkan di program Shell Eco-marathon 2016 ini, menantang tim-tim UrbanConcept terbaik untuk memadukan tingkat efisiensi energi kendaraan mereka dengan kecepatan dan keahlian pengemudi di lintasan balap guna menentukan siapa yang tercepat mencapai garis finis dengan konsumsi bahan bakar paling efisien.

Tim-tim pemenang akan berkesempatan bertanding di London melawan para penantang dari kawasan Eropa dan Amerika.

Tahun lalu, ITS Team 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berhasil menjadi pemenang Drivers’ World Championship. ITS Team 2 merupakan tim Asia kedua yang menjuarai ajang yang telah berlangsung selama tiga tahun tersebut.

Sementara itu, Bumi Siliwangi 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung menjadi tim dari Asia dan Indonesia pertama yang menjuarai Drivers’ World Championship 2016, dengan mengalahkan tim dari Amerika dan Eropa.  

Indonesia akan kembali berpartisipasi di Shell Eco-marathon Asia, dengan menghadirkan 28 mobil masa depan dari 22 universitas, yang akan bertanding untuk meraih gelar mobil paling hemat energi.

Indonesia berpartisipasi di kategori sumber energi hidrogen untuk pertama kali di Shell Eco-marathon Asia 2012. 

Pada SEM Asia tahun ini, Bumi Siliwangi I dari Universitas Pendidikan Indonesia dan ITS Team5 akan mewakili Indonesia di kategori UrbanConcept.

“Seiring dengan perkembangan transisi energi, kami harus terus meningkatkan kualitas bahan bakar dan pelumas Shell untuk memastikan tercapainya efisiensi maksimum pada mesin konvensional. Dan seiring berjalannya waktu, berbagai bahan bakar baru akan semakin penting bagi Shell,” jelas Presiden Direktur dan Country Chairman Shell Indonesia Darwin Silalahi

“Melalui Shell Eco-marathon Asia, kami ingin mendorong ratusan anak muda Indonesia yang bertalenta untuk berperan besar dalam mencari inovasi baru untuk mendapatkan beragam solusi,” tuturnya.

Sebanyak 11 dari 28 kendaraan hemat energi yang dibawa oleh tim mahasiswa Indonesia berbahan bakar baterai listrik.

Sejak kemenangan Tim Bumi Siliwangi 4 di ajang Drivers’ World Championship pada 2016, melalui kendaraan bertenaga baterai listrik, Indonesia telah mencatat pertumbuhan penggunaan energi bertenaga baterai listrik di antara para tim yang berpartisipasi di Shell Eco-marathon Asia.

Generasi muda Indonesia merasa percaya diri dan memiliki ketertarikan dalam pengembangan kendaraan listrik. Hal ini merupakan aset berharga bagi Indonesia seiring dengan Keputusan Presiden tentang kendaraan listrik yang ditargetkan akan berlaku pada kuartal pertama 2019.

“Kami benar-benar bangga karena sejak ajang SEM Asia di tahun 2010, tim mahasiswa Indonesia telah memimpin kategori kendaraan mesin pembakaran dalam, dan telah mulai pula memimpin kategori kendaran listrik. Kami yakin pengalaman mereka di Shell Eco-marathon ini akan memberikan kontribusi pada peningkatan kapasitas dan mobilitas yang lebih cerdas dan lebih bersih di masa depan di Indonesia,” tambah Darwin.

Baca juga: Pelumas Shell diklaim cocok untuk kendaraan berat biodiesel
Baca juga: Mahasiswa UGM juara inovasi teknologi internasional
Baca juga: Tim Sapuangin dari ITS Team 2 Surabaya juara DWC di London

 

Pewarta: Monalisa
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Samsung SDI tampilkan baterai kendaraan listrik terbaru di NAIAS 2019

Jakarta, 14/1 (Antara) – Produsen baterai utama di Korea Selatan, Samsung SDI Co. mengatakan pada Senin akan memperkenalkan jajaran baterai terbaru untuk kendaraan listrik (EV) dan model hibrida dalam ajang North American International Auto Show (NAIAS) 2019 yang berlangsung di Detroit.

Dilansir Yonhap, Senin, unit pembuat baterai dari Samsung Electronics Co. itu akan memamerkan beragam sel, modul, dan paket baterai di NAIAS, yang berlangsung mulai 14 hingga 27 Januari di Detroit, Michigan.

Samsung SDI akan menghadirkan baterai berkapasitas tinggi dan cepat untuk kendaraan listrik dan kendaraan listrik hibrida plug-in (PHEVs) dengan tema “Charged for Auto 2.0” untuk menarik minat produsen mobil global yang mencari produk khusus untuk kendaraan listrik mereka.

Auto 2.0 sendiri merupakan konsep yang diperkenalkan oleh bank investasi Amerika Serikat Goldman Sachs pada tahun 2017, mengacu pada industri otomotif generasi berikutnya yang dipimpin oleh kendaraan listrik dan otonom, dikombinasikan dengan model bisnis baru untuk ekonomi berbagi.

Samsung SDI juga berencana mengungkap peta jalan bisnisnya untuk baterai solid-state, yang dianggap lebih aman daripada baterai lithium-ion yang dibuat dengan elektrolit cair dan memiliki potensi lebih besar untuk kepadatan energi yang lebih tinggi.

Perusahaan sebelumnya mengatakan berencana untuk membangun fasilitas manufaktur paket baterai volume tinggi senilai 62,7 juta dolar AS di Michigan, dan akan menjadi yang pertama pada jenisnya di Amerika Serikat.

Pasar global kendaraan listrik diperkirakan akan mencapai 22 juta unit pada tahun 2025, kenaikan tajam dari perkiraan pada tahun ini yakni 6,1 juta unit, menurut SNE Research, sebuah perusahaan riset pasar yang berfokus pada energi terbarukan.

Baca juga: SK Korea Selatan tingkatkan produksi 10 kali lipat pada 2022

Baca juga: Pendiri Blackwater guyurkan dana untuk berinvestasi logam baterai mobil

Baca juga: Pengembangan mobil listrik mesti selaras pembangunan infrastruktur

Baca juga: GM jual 200.000 kendaraan listrik di AS pada 2018, picu penghapusan kredit pajak

Penerjemah: Fathur Rochman
Copyright © ANTARA 2019

Cara Shell ekspansi jaringan pengisian daya kendaraan listrik

Jakarta (ANTARA News) – Shell membuka peluang untuk bermitra dengan produsen mobil guna memperluas jaringan pengisian daya kendaraan listrik, di luar jaringan pengisian bahan bakar minyak yang sudah mereka miliki, menurut pimpinan Shell dilansir Reuters, Jumat (1/2).

Untuk bersaing di sektor pengisian daya mobil listrik yang sedang berkembang, pekan ini Shell membeli penyedia pengisian daya AS, Greenlots, yang menjadi suplier untuk Volvo dan anak perusahaan Volkswagen di AS, serta beberapa fasilitas pengisian daya rumahan dalam jumlah yang tidak diungkapkan.

“Kami menyadari bahwa pelanggan tidak hanya perlu mengisi ulang di jaringan ritel, mereka mau mengeluarkan biaya di tempat kerja dan rumah, jadi kami pindah ke segmen ini,” wakil presiden eksekutif Shell New Energies, Mark Gainsborough, kepada Reuters.

Shell memulai kiprahnya dalam mobilitas listrik pada 2017 dengan mengakuisisi NewMotion, salah satu jaringan pengisian listrik terbesar di Eropa. Mereka juga meraih kesepakatan dengan perusahaan patungan IONITY yang melibatkan BMW, Daimler, Ford dan Volkswagen.

Badan Energi Internasional memperkirakan jumlah mobil listrik akan meningkat menjadi 125 juta pada 2030, sejalan dengan peningkatan kebutuhan alat pengisian daya listrik.

Saat ini tersebar 3 juta alat pengisi daya di rumah maupun kantor yang dijual pihak swasta. Sedangkan stasiun pengisian listrik umum berjumlah 430.000 unit, menurut data tahun 2017.

Gainsborough mengatakan bahwa bisnis pengisian daya mobil listrik hanya memiliki peluang pasar yang “kecil”, ditambah kurangnya investasi dan tantangan dari sistem energi terbarukan lainnya.

“Sulit untuk menentukan secara spesifik berapa banyak kami akan berinvestasi karena pasarnya sangat muda. Tetapi jika kami melihat mobil listrik berkembang dan berpeluang tumbuh lebih cepat, kami siap mengarahkan lebih banyak investasi ke dalamnya,” kata dia.

Shell juga berdiskusi dengan produsen kendaraan sebagai pelanggan potensial atau mitra dalam mengembangkan infrastruktur pengisian mobil listrik, kata Gainsborough

“Kami berbicara dengan semua produsen mobil… Mereka semua adalah pelanggan potensial dan mitra bagi kami… Ini adalah ruang di mana kami akan memiliki banyak kerja sama,” katanya.

“Sebagian besar sulit memiliki hubungan yang eksklusif, dan industri akan berkembang melalui kemitraan dan konsorsium yang melibatkan beberapa produsen untuk bekerja sama dalam mengembangkan sistem pengisian cepat,” kata dia.

Baca juga: Tambah empat jaringan, Shell sudah punya 94 SPBU di Indonesia

Baca juga: Pelumas Shell diklaim cocok untuk kendaraan berat biodiesel

Baca juga: Alasan mengapa supercar perlu pelumas khusus

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

VW akan sediakan penyimpanan baterai di 100 stasiun pengisian di Amerika

Jakarta (ANTARA News) – Unit Volkswagen AG Electrify America mengatakan pada Senin (4/2) WIB, bahwa mereka akan memasang (install) paket penyimpanan baterai Tesla Inc di lebih dari 100 stasiun pengisian daya di seluruh Amerika Serikat untuk menekan biaya bagi pengemudi yang mengisi kendaraan listriknya.

Pengguna listrik banyak dikenai biaya yang mahal dari utilitas di AS ketika mereka  harus menarik banyak energi dari jaringan ketika orang-orang mengisi daya kendaraan listrik sekaligus di satu stasiun.

Chief operating officer Electrify America Brendan Jones mengatakan jika Anda harus meneruskan biaya ke pelanggan di pasar yang sangat mahal, yaitu berkisar antara 70 dolar AS hingga 110 dolar AS atau sekitar Rp900 ribu hingga Rp1 juta, sebagai biaya kendaraan listrik, maka itu akan membebani konsumen.

“Jika kamu melakukan itu, jelas tidak ada yang akan membeli kendaraan listrik,” kata Brendan, dikuti dari laporan Reuters, Selasa.

Sistem baterai Tesla Powerpack menarik daya dari jaringan dan menyimpannya untuk digunakan selama jam sibuk guna menghindari atau mengurangi biaya pengisian daya baterai kendaraan listrik.

Electrify America akan memasang sebagian besar paket baterainya di wilayah Amerika Serikat di mana terdapat konsentrasi yang lebih tinggi dari pemilik kendaraan listrik, terutama di Pantai Barat dan Timur Laut.

Selama panggilan konferensi dengan analis minggu ini, Kepala Eksekutif Tesla Elon Musk mengatakan “penyimpanan stasioner” adalah peluang pertumbuhan bagi pembuat mobil.

“Saya berharap itu tumbuh, maksud saya, mungkin dua kali lebih cepat dari otomotif……untuk waktu yang lama,” kata Musk.

VW telah setuju untuk membelanjakan 2 miliar dolar AS secara nasional untuk infrastruktur mobil sebagai bagian dari perjanjian dengan regulator federal setelah mengakui kecurangan emisi diesel.

Kurangnya infrastruktur pengisian ulang EV dipandang sebagai penghalang utama untuk adopsi massal karena konsumen tetap khawatir atas jangkauan terbatas kendaraan listrik.

Pada Juni nanti, Electrify America akan memiliki 484 stasiun pengisian daya yang dibangun di seluruh Amerika. Perusahaan sedang mendiskusikan menggunakan lebih banyak paket penyimpanan baterai dengan regulator untuk putaran berikutnya dari investasi infrastruktur, kata perusahaan CTO Jones.

Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi biaya bagi konsumen, Electrify America akan memeriksa kemungkinan penjualan energi yang tersimpan untuk menurunkan biaya di stasiun pengisian.

Pembuat mobil global sedang merencanakan peningkatan 300 miliar dolar AS dalam pengeluaran untuk teknologi kendaraan listrik selama lima sampai 10 tahun ke depan, dengan hampir setengah dari uang yang ditargetkan di China, mempercepat transisi industri dari bahan bakar fosil dan mengalihkan sumber tenaga kendaraan ke baterai dan pemasok teknologi kendaraan listrik Asia.

Baca juga: Penjualan truk China meningkat di Januari
Baca juga: Subaru Amerika catatkan kenaikan penjualan Januari 2019
Baca juga: Romano Artioli jajal Chiron saat kunjungi pabrik Bugatti

Penerjemah: Chairul Rohman
Copyright © ANTARA 2019

Tesla beli perusahaan baterai Maxwell Technologies

Jakarta (ANTARA News) – Perusahaan kendaraan listrik, Tesla, sepakat membeli perusahaan penyimpanan energi Maxwell Technologies senilai 218 juta dolar AS (sekira Rp3,04 triliun), dilansir Reuters, Selasa (5/2).

Hadirnya Maxwell akan membantu Tesla dalam menghasilkan baterai yang mampu menyimpan lebih banyak energi dan bertahan lebih lama, sekaligus menghemat biaya perusahaan untuk menyediakan komponen itu.

Tesla memang membutuhkan baterai dalam jumlah banyak, sejalan dengan peningkatan produksi sedan Model 3 yang menyasar segmen konsumen lebih luas.

Eksekutif Maxwell mengatakan kepada investor pada Januari lalu bahwa mereka telah mengembangkan dan mematenkan teknologi “elektroda kering” yang secara signifikan dapat meningkatkan daya jelajah kendaraan dan mengurangi biaya baterai.

Dalam sebuah presentasi, Maxwell berharap aliansi strategis itu akan fokus pada pengembangan teknologi baterai mobil listrik “dalam waktu enam bulan”.

Perusahaan juga membuat “ultra-capacitors” yang mampu mengeluarkan energi lebih cepat daripada baterai biasa.

Ultra-capacitors, mengombinasikan energi baterai dengan respons yang cepat sehingga dapat memperpanjang masa pakai baterai hingga dua kali lipat, menurut keterangan di laman Maxwell.

Pemilik Volvo, Geely Holding Group, pada tahun lalu mengumumkan kesepakatan dengan Maxwell. Mereka menggambarkan teknologi ultra-capacitor sebagai dorongan untuk memberikan “kekuatan tertinggi” pada mobil berjenis hybrid.

“Tesla membutuhkan manufaktur elektroda baterai dari Maxwell sebagai langkah yang tepat untuk menurunkan biaya baterai,” kata Craig Irwin, pengamat investasi dari Roth Capital Partners. 

“Pesaing yang sebenarnya sudah muncul sekarang, jadi Tesla harus bergerak cepat,” kata dia.

Selain itu, Maxwell juga dikenal memiliki pelanggan-pelanggan besar, yakni General Motors dan Lamborghini.

Baca juga: Musk lepas hak paten Tesla, jika digunakan untuk kepentingan dunia

Baca juga: Nio kompetitor Tesla di China kumpulkan Rp9 triliun dari obligasi

Baca juga: Kenapa mobil listrik mudah dijumpai di Hong Kong?

Baca juga: Tesla pangkas tenaga kerja sebanyak 7 persen

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Harley-Davidson serius garap skuter listrik

Jakarta (ANTARA News) – Harley-Davidson berencana menggarap sepeda motor listrik bermodel skuter, dengan harapan teknologi ramah lingkungan itu dapat menarik konsumen dari segmen usia yang lebih muda.

Pabrikan Amerika yang terkenal melalui produk sepeda motor ikonik berukuran besar dengan suara mesin yang menggelegar itu, mengalami penurunan penjualan dalam empat tahun terakhir, dilansir Daily Mail, Selasa (5/2).

Dua konsep kendaraan listrik itu diperkenalkan di X Games, sebuah acara snowboarding dan ski, di Colorado pada pekan lalu.

Rencana untuk menarik minat konsumen muda memang perlu didalami Harley. Menurut data terbaru, sekitar 46 persen dari pemakai Harley-Davidson berusia di atas 50 tahun, dan hanya 10 persen yang berusia 30-34 tahun.

Jika kendaraan model itu benar-benar dipasarkan, pemilik akan lebih dimudahkan karena baterai dapat di-charge di rumah.

Pada acara X Games, Harley menujukkan dua model. Yang pertama berdesain layaknya skuter, sedangkan satunya lagi lebih mirip sepeda gunung.

Juru bicara Harley mengatakan kedua model itu “meliputi powerplants” dan “mengusung emosi liar ke dalam masa depan” melalui “desain yang unik”.

Kendati demikian, pihak Harley belum mengumumkan rincian harga pada model itu.

Perusahaan dikabarkan telah menanamkan model 50 juta dolar AS demi mengembangkan teknologi listrik. Harley juga akan meluncurkan sepeda motor listrik LiveWire di Amerika Utara dan Eropa Barat pada tahun ini.

Purwarupa kendaraan itu bahkan sudah pernah ditunggangi Scarlett Johansson dalam film The Avengers: Age of Ultron.

Baca juga: Harley-Davidson perkenalkan dua motor listrik konsep

Baca juga: Harley-Davidson Indonesia umumkan harga sepeda motor baru

Baca juga: Harley Davidson dirikan pusat riset sepeda motor listrik

Pewarta:
Editor: Monalisa
Copyright © ANTARA 2019