Separuh Mesin ATM di India Akan Ditutup Tahun Depan

Mumbai: Sebanyak 50 persen mesin Automated Teller Machines (ATM) di India kemungkinan akan ditutup Maret tahun depan. Ketidakstabilan operasi seiring berkembangnya kebijakan digitalisasi menjadi salah satu pemicunya.

Hal tersebut diumumkan Konfederasi Industri ATM (CATMi) pada Rabu, 21 November 2018, seperti dilansir dari NDTV, Kamis, 22 November 2018.

“Saat ini, India memiliki sekitar 238 ribu mesin ATM, di mana 100 ribu ATM di antaranya off-site, dan lebih dari 15 ribu ATM dengan white label,” ujar Direktur CATMi V Balasubramanian.

Menurut dia ini akan sangat berdampak pada jutaan penerima manfaat program inklusi keuangan Mantri Jan Dhan Yojana, yang menarik subsidi dalam bentuk uang tunai melalui ATM.

Balasubramanian mengatakan pihaknya terpaksa mengikuti pedoman yang mengatur peningkatan perangkat keras dan perangkat lunak ATM. Adapun mandat terbaru pada standar manajemen kas dan sistem Cassette Swap mencakup uang tunai, termasuk melibatkan investasi besar dari industri.

Untuk mengimplementasikan Cassette Swap, kata Balasubramanian, dibutuhkan pengeluaran tambahan setidaknya 3.500 crore rupee untuk CATMi atau senilai 35 miliar rupee.

Pada April 2018, Bank Sentral India atau Reserve Bank of India (RBI) memberlakukan panduan ketat untuk penyedia layanan ATM yang telah disetujui Kementerian Dalam Negeri.

Ini termasuk persyaratan kekayaan bersih minimum 100 crore rupee, ukuran armada minimum dari 300 cash yang lengkap, dua kustodian, dua penjaga bersenjata ditambah supir, serta tersedianya GPS dan CCTV.

Peraturan tersebut akan diperketat pada Juni 2019, di mana penyedia ATM harus meng-upgrade perangkat lunak dari WindowXP ke Window10.

“Untuk mengimplementasikan semua keamanan ini, perangkat lunak dan keras yang direkomendasikan memerlukan biaya tambahan minimum 150 ribu rupee per ATM per bulan. Ini akan berpengaruh pada seluruh 238 ribu ATM di negara ini,” kata Balasubramanian.

“Bagaimanapun, meski arahan RBI-MHA harus dilaksanakan bank-bank penyedia biaya, mereka tidak mau membahas masalah ini. Itu sebabnya, mulai Januari dan seterusnya, kami akan secara progresif mematikan ATM,” katanya.

Adapun dari sekitar 238 ribu ATM di India, sekitar 10 persen tidak berfungsi pada waktu tertentu karena berbagai alasan. Padahal, kebutuhan penduduk negara ini hampir tiga-empat kali lebih banyak, atau sekitar satu juta ATM.

Hampir 80 persen ATM terletak di daerah perkotaan atau semi-perkotaan, dan sisanya di daerah pedesaan.

Pemain industri besar mengatakan, kecuali dekat layanan Metro dan pusat kota, masyarakat di negara-negara seperti Uttar Pradesh, Maharashtra, Bihar, Bengal Barat, dan Madhya Pradesh harus menempuh perjalanan 40 km atau lebih untuk mengakses ATM.

“Sesuai data resmi, hampir 30 persen dari pemegang rekening bank di India secara teratur menggunakan kartu ATM, sementara sisanya lebih suka bertransaksi tunai. Ada masalah infrastruktur dan konektivitas yang menghambat pertumbuhan jaringan ATM,” pungkasnya.

India memiliki penetrasi ATM terendah secara global, rata-rata 8,9 ATM per 100 ribu penduduk, angka yang jauh dibandingkan Afrika Selatan dengan rata-rata 60 ATM per 100 ribu penduduk.

(AHL)