Waktunya Negara di Dunia Saling Bekerja Sama

Shanghai: Ketika Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terus mengobarkan perang dagang terhadap satu sama lain, seorang pejabat Eropa menyampaikan pesan sederhana bahwa kondisi tersebut harus segera dihentikan. Sewajarnya perang dagang dihentikan demi kepentingan bersama, terutama memacu pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi.

Komisioner Eropa untuk Kesehatan dan Keamanan Pangan Vytenis Andriukaitis mengecam proteksionisme dan menilai sudah waktunya menjaga negara dan orang-orang didalamnya melihat keberhasilan sebanyak mungkin. Negara-negara di dunia harus bersama-sama mengubah situasi tersebut dan kembali lagi ke aturan yang sudah ada sebelumnya.

“Mari kita mengirim pesan sederhana. Setiap perang tidak dapat diterima. Kita perlu mengubah situasi. Kami di sini bukan karena perang antara AS dan Tiongkok, tetapi karena kami adalah pendukung kuat untuk multilateralisme atau untuk sistem berbasis aturan,” katanya, seperti dikutip dari CNBC, Selasa, 6 November 2018.

Andriukaitis menekankan pengulangan kebijakan tradisional di kalangan ekonom di mana perdagangan dapat membantu semua pihak untuk memiliki situasi yang saling menguntungkan. Namun sayangnya, pertentangan yang telah lama menjadi perdebatan dalam beberapa tahun terakhir yang akhirnya memicu konflik perdagangan.

“Selama naik ke kursi kepresidenan di AS, Donald Trump berulang kali mempertanyakan keampuhan transaksi perdagangan Amerika, dengan alasan bahwa banyak bentuk perdagangan tidak adil bagi negaranya,” tuturnya.

Bahkan, Trump terus berusaha untuk menegosiasikan kembali beberapa perjanjian perdagangan dengan mitra dagang utama terutama menyusun kembali NAFTA ke dalam Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada, serta telah mengalihkan sebagian besar perhatiannya ke Tiongkok.

Ketika negosiasi awal dengan Beijing tidak menghasilkan kesepakatan, Gedung Putih menetapkan tarif baru untuk barang-barang Tiongkok. Sekarang, dengan penalti tit-for-tat pada barang satu sama lain, situasi telah berkembang menjadi apa yang banyak anggap sebagai perang dagang besar-besaran.

Andriukaitis bersikeras bahwa pemberlakuan tarif yang tinggi dan tindakan perdagangan sepihak pada akhirnya akan merugikan semua yang terlibat. Tentu hal itu sangat disayangkan terjadi karena kedua negara bisa membicarakan hubungan dagang secara baik-baik, tanpa keduanya memberlakukan pengenaan tarif.

“Tidak masalah karena petani AS, petani Uni Eropa, dan petani Tiongkok serta kita perlu menghindari rintangan itu. Tapi, sekarang saatnya, sekali lagi, untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi kita semua. Tidak ada yang akan menang dengan cara konflik dan konfrontasi. Tidak ada seorang pun,” pungkasnya.

(ABD)