Miliuner Baru Tiongkok Terus Bertambah

New York: Bank investasi Swiss UBS menuturkan Tiongkok kerap melahirkan miliuner baru karena inovasi dan kewiraswastaan. Hal ini terungkap dalam laporan Billionaires Insights 2018 yang dirilis Jumat.

Laporan yang diterbitkan bersama oleh UBS Global Wealth Management dan konsultan PricewaterhouseCoopers, diberi judul “Visionari Baru dan Abad Tiongkok,” di mana para pengusaha Tiongkok dipuji sebagai “pelopor revolusi industri baru.”

Menurut laporan itu, jumlah miliarder dunia meningkat dari 1.979 pada 2016 menjadi 2.158 pada 2017 dengan total kekayaan yang dimiliki tumbuh 19 persen menjadi USD8,9 triliun.

Secara khusus, Tiongkok menambahkan 55 miliarder tahun lalu, meningkatkan totalnya menjadi 373 miliuner, dengan kekayaan gabungan melompat 39 persen menjadi USD1,12 triliun, terutama didorong oleh e-commerce sbobet indonesia yang kuat dan bisnis berbasis teknologi.

Dengan perkiraan UBS, 30 persen dari 199 wiraswasta baru di seluruh dunia pada 2017 mengakumulasi kekayaan mereka melalui inovasi lewat teknologi.

Sekitar 89 pengusaha Tiongkok menjadi miliarder untuk pertama kalinya pada 2017. Sementara hanya 30 pengusaha di Amerika Serikat yang mencapai level serupa. Selain itu, Tiongkok menghasilkan 50 unicorn dari 2016 hingga 2018, sedikit di belakang Amerika Serikat yang hanya menghasilkan 62 unicorn.

Laporan ini menyoroti peran perubahan struktural Tiongkok dalam menghasilkan kekayaan sementara Amerika Serikat terus membanggakan konsentrasi kekayaan terbesar yang didukung oleh teknologi, konsumen dan sektor ritel.

Namun, laporan tersebut juga memperkirakan bahwa jika perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok meningkat ke perang dagang habis-habisan, kedua negara dapat melihat pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah sebelum tanggapan kebijakan.

Laporan itu memperingatkan bahwa  ekuitas di Amerika Serikat dan negara-negara Asia kecuali Jepang dapat turun lebih dari 20 persen dari tingkat mereka di pertengahan musim panas 2018.

“Kita perlu mempertimbangkan bagaimana siklus ekonomi yang jatuh tempo dapat mempengaruhi investor, termasuk miliarder khususnya,” kata Kepala Investasi untuk Amerika dalam Global Wealth Management UBS Mike Ryan.

(SAW)