Konferensi Investasi di Saudi Terancam Kasus Khashoggi

Jakarta: Arab Saudi menjadi tuan rumah penyelenggaraan Future Investment Initiative (FII) pekan depan. Konferensi investasi bertaraf internasional yang dijuluki Davos in the desert, dibayangi kasus pembunuhan jurnalis kawakan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi, Istanbul.

Kasus kematian Khashoggi yang disinyalir tewas secara mengenaskan mendorong gelombang pemboikotan dari pemangku kebijakan maupun investor raksasa. Dengan jadwal konferensi internasional sudah di depan mata, Kerajaan Saudi pun berupaya meredakan krisis internasional. 

Setelah berulang kali menyangkal, pihak kerajaan akhirnya mengakui Khashoggi meninggal di dalam gedung konsulat. Dalam pernyataannya, Saudi mengklaim sang jurnalis tewas dalam perdebatan yang berujung pada perkelahian.

Akan tetapi, pihak kerajaan enggan mengungkapkan keberadaan jasad Khashoggi. Pengakuan tersebut tidak mampu membendung skeptisisme kalangan internasional. Penyelenggara konferensi bahkan mengurangi daftar pembicara yang tercantum dalam situs resmi.

Puluhan eksekutif utama, mulai dari bankir JP Morgan hingga produsen otomotif Ford, berikut aplikasi layanan transportasi Uber, membatalkan kehadiran. Media raksasa, seperti Bloomberg, CNN dan Financial Times, juga memilih mundur dari partisipasi acara. Pemerintah Australia bahkan menarik perwakilannya dengan alasan konferensi tersebut tidak layak dihadiri pasca mencuatnya kasus Khashoggi.

Pihak penyelenggara FII mengungkapkan jumlah pembicara yang terkonfirmasi hadir sekitar 120 orang. Besarannya turun dari publikasi awal, yakni sekitar 150 pembicara. Konferensi bertujuan membuka prospek investasi di Timur Tengah khususnya Arab Saudi, yang mulai gencar mendiversifikasi sektor usaha, agar perekonomian tidak selamanya bergantung pada industri minyak dan gas. Investor global pun akan mendapat kesempatan menggarap proyek bernilai miliaran dolar.

Pada perhelatan FII tahun lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman dinilai sebagai sosok visioner karena berhasil memukau sejumlah investor. Anak Raja Salman itu menunjukkan robot pintar, sekaligus memaparkan pengembangan kota masa depan bernama NEOM. Namun, penyelenggaraan FII tahun ini memicu kemarahan global atas pembungkaman sang kritikus.

Eurasia Group menyebut pangeran yang biasa dipanggil MBS, tengah menghadapi krisis kepercayaan akut dari masyarakat luas. Khashoggi, kontributor Washington Post, memang kerap mengkritik kebijakan Pangeran Muhammad. Dia terakhir kali terlihat sejak memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

Di lain sisi, banyak perusahaan Barat yang belum mengambil keputusan lantaran mempertimbangkan risiko apabila absen dari penyelenggaraan FII. Sebagian sudah mempersiapkan mengirim perwakilan dari level eksekutif hingga karyawan biasa dalam konferensi tersebut. 

Bloomberg News melaporkan bankir senior dari HSBC dan Credit Suisse masih berencana hadir di tengah gelombang pembatalan dari sejumlah eksekutif utama. Sementara itu, perusahaan Tiongkok dan Rusia mulai menujukkan rencana untuk menarik diri. Meski beberapa pemimpin Barat seperti Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengonfirmasi pembatalan kehadiran, Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan berkomitmen mendatangi acara tersebut. 

Hal itu tidak lepas dari upaya pemerintahannya mencari sumber pendanaan baru guna mengurangi beban keuangan negara yang kian memburuk. Hanya saja, meluasnya aksi pemboikotan dari dunia Barat terhadap konferensi, meningkatkan risiko politik di Arab Saudi. Utamanya dari sisi investasi asing langsung (FDI) yang melemah dalam beberapa tahun terakhir.

“Memang pembicaraan dalam konferensi mengusung reformasi, namun aliran FDI ke Saudi diperkirakan tetap rendah. Skandal kematian Khashoggi memicu ketidakpastian bagi investor,” sebut perusahaan riset Capital Economics.

(SAW)