Pakar ITB: Solar ber-CN tinggi bagai pangan bergizi bagi mesin diesel

Jakarta (ANTARA) – Masyarakat konsumen pengguna kendaraan mesin diesel diharapkan memakai Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang berkualitas, yaitu Dexlite dan Pertamina Dex, sebab memiliki kadar Cetane Number (CN) atau angka Setana tinggi sehingga meningkatkan performa atau unjuk kerja mesin.

Ahli motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman Kartolaksono Reksowardojo di Jakarta, Kamis, mengatakan jika mesin menggunakan solar kualitas bagus, maka pemakaian bahan bakar akan semakin efisien.

Menurut dia, salah satu indikator kualitas BBM bagi mesin kendaraan mesin diesel memang CN. Semakin tinggi CN, maka kualitas solar semakin baik.

“Ibarat makanan, solar berkualitas seperti Dexlite dan Pertamina Dex tentu lebih bergizi dibandingkan dengan solar subsidi. Karena, dengan mutu bahan bakar diesel yang baik, selain memberikan unjuk kerja yang baik dan motor lebih awet, emisi gas buang juga lebih baik,” kata Iman.

Selain Cetane Number, kandungan sulfur dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih solar. Dalam hal ini kandungan sulfur pada solar berkualitas seperti Dexlite dan Pertamina Dex, juga lebih rendah dibandingkan solar subsidi.

Kandungan sulfur yang cukup tinggi pada solar subsidi, menurut Iman, dapat merusak komponen injektor dan mengakibatkan pembakaran menjadi tidak baik.

Semakin rendah kandungan sulfur, maka emisi gas buang, saluran bahan bakar, filter solar, hingga ruang bakar akan lebih bersih.

“Sulfur juga berpengaruh terhadap umur mesin. Semakin tinggi sulfur yang bersifat asam akan membuat mesin jadi mudah berkarat,” tambah Iman.

Terkait kualitas BBM, menurut Iman, kualitas bahan bakar diesel akan meningkat jika dicampur dengan Biodiesel (FAME), karena akan meningkatkan Cetane Number serta membuat kadar sulfurnya menjadi nihil.

Seperti diketahui, saat ini Pertamina mengeluarkan tiga jenis bahan bakar diesel, yakni Bio Solar, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pertamina Dex memiliki Cetane Number 53 dengan kandungan sulfur di bawah 300 part per million (ppm).

Sementara Dexlite dengan CN 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 ppm. Sedangkan Bio Solar yang merupakan solar subsidi, memiliki CN 48 dengan kandungan sulfur 3.500 ppm.

Baca juga: Selera konsumsi BBM kualitas tinggi meningkat

Pewarta: S025
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019

Dipakai ponsel hingga mobil, penemu baterai lithium-ion sabet Nobel

Jakarta (ANTARA) – Revolusi teknologi penyimpanan daya pada baterai lithium-ion yang sangat berguna untuk kehidupan modern mengantarkan tiga penemunya John Goodenough, Stanley Whittingham, dan Akira Yoshino kepada hadiah Nobel Chemistry 2019.

“Mereka menciptakan dunia yang dapat ‘diisi ulang’,” demikian pengumuman Royal Swedish Academy Sciences, Stockholm, dilansir AFP, Rabu (9/10).

Ketiga penemu baterai lithium-ion itu mengubah dunia hanya kurang dari tiga dekade.

Masyarakat modern tidak dapat terlepas dari penggunaan baterai lithium-ion, mulai dari gadget, perangkat perkantoran, kedokteran dan rumah tangga, hingga kendaraan listrik.

“Lebih dari dua pertiga populasi dunia memiliki gadget baik itu smartphone, laptop atau tablet. Dan, hampir semuanya ditenagai oleh baterai lithium-ion yang dapat diisi ulang. Mereka bekerja dalam diam di era ponsel,” ujar Paul Coxon, perwakilan Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Metalurgi Universitas Cambridge kepada AFP.

Baca juga: Inka kembangkan trem bertenaga baterai

Baterai lithium-ion bentuknya kecil, tapi berpengaruh pada mobilitas manusia. Baterai itu membuat jutaan orang di negara-negara berkembang dapat mengakses informasi dan layanan daring hanya lewat ketukan ponsel.

Di sektor otomotif yang sedang berkembang, lithium-ion menjadi solusi untuk keluar dari ketergantungan pada bahan bakar minyak melalui program mobil listrik yang diterapkan di banyak negara.

“Penerapan sains yang praktis untuk kepentingan kemanusiaan, sains yang begitu mendasar untuk digunakan langsung oleh tangan Anda,” kata Coxon. “Saya benar-benar sedang memegang ponsel sekarang.”
  John B. Goodenough pemenang Nobel Chemistry 2019 (REUTERS/PETER NICHOLLS)

Perubahan penting

Perubahan penting pada baterai lithium-ion adalah daya yang dapat diisi ulang dan berbeda dengan baterai model timbal yang dikembangkan pada pertengahan abad ke-19. Lithium-ion lebih kecil, lebih ringan, lebih tahan lama, dan lebih kuat.

Baterai mobil listrik “tidak berbobot dua ton tetapi 300 kilogram,” kata Sara Snogerup Linse, profesor kimia fisik dan anggota Komite Nobel untuk Kimia.

Sistem kerja baterai lithium-ion adalah ion yang terisi listrik bergerak dalam baterai di antara dua elektroda, anoda dan katoda.

Baca juga: Kembangkan mobil listrik, 1 Januari 2020 tidak ada lagi ekspor nikel

Reaksi kimia yang terjadi pada masing-masing elektroda menciptakan penumpukan elektron pada salah satu ujungnya. Elektron itu berusaha menyeimbangkan diri sehingga bergerak melalui rangkaian di dalam baterai kemudian mengeluarkan energi listrik.

Elektroda positif terbuat dari komposit lithium, atau logam paling ringan yang ditemukan manusia dan menjadi kunci keberhasilan itu, menurut Olof Ramstroem, seorang anggota komite Nobel.

“Lithium memiliki sifat yang sangat menarik dan itu berarti Anda bisa mendapatkan baterai yang sangat ringan, kecil, dengan daya dan efisiensi tinggi,” kata Ramstroem seusai pengumuman Nobel di Stockholm.

“Lithium sangat reaktif… Tapi itu yang kita butuhkan. Kita membutuhkan elektron dari lithium. Itu semua tentang bagaimana menjinakkannya dan memasukkannya ke dalam paket baterai kecil yang benar-benar berguna bagi manusia,” katanya.

Baca juga: Kemenperin identifikasi teknologi daur ulang baterai lewat paten
  Stanley Whittingham pemenang Nobel Chemistry 2019 (REUTERS/ANDREAS GEBERT)

Tantangan

Para ilmuwan dan insinyur di seluruh dunia saat ini bekerja keras untuk mendesain baterai lithium-ion berukuran lebih kecil, lebih tahan lama, tapi dapat diisi daya dengan begitu cepat, terutama untuk penggunaan mobil.

Baterai lithium-ion punya masalah dengan suhu. Beberapa kasus yang terjadi adalah baterai itu dapat meledak, sedangkan biaya produksinya masih cukup mahal karena tingginya harga nikel dan kobalt.

“Ada kimia baru yang datang, memungkinkan kami membuat baterai lebih kecil,” kata Maeva Philippot, peneliti kelistrikan dari Universitas Brussels.

Baca juga: Kemristekdikti dorong penguasaan teknologi baterai lithium

Tantangan lainnya adalah baterai jenis itu harus bisa didaur ulang karena sejalan dengan semangat pengembangan mobil listrik untuk mengurangi polusi udara.

“Eropa membuat arahan baru untuk baterai yang habis masa pakainya, dan bagaimana baterai dapat didaur ulang dan digunakan kembali untuk perangkat lain,” kata Philippot.

“Misalnya, baterai kendaraan listrik dapat digunakan di rumah untuk menyimpan energi dengan diisi panel surya. Ada banyak proyek yang melihat potensi ‘kehidupan kedua’ atau daur ulang baterai,” ujarnya.

Baca juga: Sulsel miliki peluang bangun pabrik baterai litium

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Waymo bawa kendaraan otonom ke LA untuk uji coba

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan pengembangan teknologi swakemudi, Waymo yang berada dalam perusahaan induk Google Alphabet, akan membawa kendaraan otonom mereka ke Los Angeles (LA), untuk melakukan uji teknologi kendaraan otonom.

Divisi mengemudi otonom dari Alphabet pada awalnya akan membawa tiga minivan Chrysler Pacifica untuk memetakan kota.

Ketiga kendaraan akan dikendarai secara manual oleh pengemudi keselamatan yang dikendalikan oleh manusia saat perusahaan membangun peta 3D terperinci di area tersebut untuk menguji dalam mode otonom.

“Kami ingin membangun sesuatu yang menjadi bukti di masa depan,” kata manajer umum pengembangan proyek itu, Seleta Reynolds dilansir The Verge, Rabu.

Waymo memiliki lisensi untuk menguji kendaraan otonom di California selama beberapa tahun dan hanya perlu memberi tahu otoritas lokal yang sesuai untuk memperluas pengujian ke Los Angeles.

Di Los Angeles, Departemen Perhubungan menggunakan alat digital Spesifikasi Data Mobilitas (MDS) yang dapat melacak skuter listrik dan perangkat mobilitas lainnya yang beroperasi di jalanan.

Semua perusahaan skuter listrik yang beroperasi di LA harus berbagi data dengan kota untuk menerima izin beroperasi.

Mereka juga dapat memperluas MDS untuk memasukkan kendaraan otonom milik Waymo dan perusahaan lain yang menguji teknologi swakemudi, untul memberikan data lokasi kepada pihak berwenang.

“Tidak harus pasti tentang  peluang yang akan datang. Tapi kami ingin siap untuk itu karena kami tahu itu akan datang,” kata Departemen Perhubungan Amerika Serikat.

Baca juga: Bekas insinyur Google dituduh bersekongkol curi rahasia mobil otonom

Baca juga: Berambisi ke pasar global, Waymo gandeng Nissan dan Renault

Baca juga: Waymo cari investor baru, mungkin Volkswagen

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mitsubishi Motors resmikan studi pemanfaatan energi terbarukan Sumba

Sumba (ANTARA) – PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) meresmikan studi bersama pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk pengisian daya kendaraan listrik (quick charging) di Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, Kamis.

Studi kendaraan listrik tersebut merupakan proyek kolaboratif antara Balai Besar Teknologi Konversi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TKE-BPPT), MMKSI, PT PLN dan perusahaan asal Jepang Kyudenko Corporation.

Proyek tersebut berusaha melihat potensi pengembangan energi panel surya sebagai energi baru terbarukan di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bilacenge, Sumba Barat Daya yang kemudian disalurkan ke alat pengisian daya cepat mobil listrik.

“Dari studi bersama ini, kami berharap bisa mengetahui seberapa besar solar panel dari BPPT mampu menyuplai listrik stabil untuk quick charging mengingat kalau musim panas PLTS bisa bekerja dengan baik, namun saat musim hujan seperti apa?” kata President Director PT MMKSI Naoya Nakamura di Sumba Barat Daya.

“Selain itu, kami ingin tahu cara kerja energi manajemen sistem dari EMS apakah benar-benar bisa memberikan listrik yang stabil untuk charge kendaraan listrik,” ujarnya lebih lanjut.
  Toshinaga Kato, General Manager Indonesia Business Departement, ASEAN Div Mitsubishi Motors mengisi daya mobil listrik Mitsubishi i-MiEV di Sumba pada Kamis (3/10/2019) (ANTARA/Ida Nurcahyani)

Jika hasil studi kolaborasi itu sukses maka Mitsubishi menyatakan siap untuk melanjutkan kerja sama dengan instansi di daerah lain.

Senada dengan Nakamura, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto pada kesempatan yang sama mengatakan apabila proyek studi berhasil maka bisa direplikasi ke daerah terpencil lain.

Pilot projet ini bisa menjadi cikal bakal yang bisa direplikasi di daerah remote lain. Impiannya mungkin daerah-daerah terpencil di Indonesia bisa menjadi seperti Pulau Jeju di Korea Selatan yang sudah mendeklarasikan diri menjadi daerah tujuan wisata nol emisi, bisa jadi daya tarik turis yang akhirnya bisa meningkatkan perekonomian daerah,” kata Harjanto.
  (Ki ka) Toshinaga Kato, General Manager Indonesia Business Departement, ASEAN Div Mitsubishi Motors, Duta Outlander PHEV Nadine Candrawinata dan Presiden Direktur Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura di PLTS Bilacenge, Sumba pada Kamis (3/10/2019) (ANTARA/Ida Nurcahyani)

Untuk proyek itu, Mistubishi menyumbangkan satu unit kendaraan i-MiEV sebagai kendaraan listrik untuk diuji beserta perangkat pengisian daya cepat tipe chademo yang dipasangkan di kantor PLN Tambolaka.

Sebelumnya BPPT telah mengembangkan PLTS Bilacenge berkapasitas 700 kWp.

Pembangkit listrik itu dilengkapi dengan teknologi Sistem Manajemen Energi (EMS) bekerja sama dengan pemerintah Jepang melalui Kyudenko.co.

Dengan EMS, daya stabil 200 kW dapat disuplai ke jaringan listrik selama durasi tujuh jam, mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 15.00 sore, terlepas dari sifat intermiten (intermittency) dari pembangkit listrik tenaga surya.

Cara kerja pengisian daya kendaraan listrik menggunakan metode EMS dari PLTS Bilacenge, yakni pengiriman sinyal ke EMS dari smart meter yang terpasang saat mobil listrik terhubung ke pengisi daya.

EMS lalu menangkap informasi smart meter dan kapasitas muatan keluaran dari fasilitas EMS. Ketika pengisian selesai, sinyal akhir diterima dari smart meter secara bersamaan, maka transmisi daya dari EMS akan berhenti.

Baca juga: Mitsubishi pastikan Xpander di Indonesia tidak bermasalah
 

Pewarta: I027
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai-KNHP akan daur ulag baterai mobil bekas

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co. akan bermitra dengan pengembang energi terbarukan, Korea Hydro & Nuclear Power Co. (KHNP), yang dikelola negara untuk mendaur ulang baterai pada mobil bekas menjadi sistem penyimpanan energi.

“Karena permintaan untuk kendaraan listrik bertenaga baterai terus meningkat, jumlah baterai mobil bekas akan meningkat dari waktu ke waktu. Pengubahan baterai bekas menjadi sistem penyimpanan energi akan menjadi cara yang berguna untuk mendaur ulang mereka,” kata demikian pernyataan Hyundai yang dikutip dari Kantor Berita Yonhap, Jumat.

Dalam proyek percontohan yang akan berjalan hingga 2021 itu, Hyundai Motor dan KHNP akan mengoperasikan proyek penyimpanan energi yang menghasilkan listrik 10 megawatt/jam dari hasil penggunaan baterai mobil bekas Hyundai.

Hyundai dan KHNP bertujuan memasok sistem penyimpanan energi yang dapat menciptakan energi hingga tiga gigawatt/jam menggunakan tenaga surya, tenaga angin, atau sumber energi terbarukan lainnya dan menyimpannya dalam sistem yang terdiri dari baterai mobil bekas pada 2030.

Baca juga: Grup Hyundai gandeng startup Irlandia untuk platform swakemudi

Pewarta: KR-CHA
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

“Autopilot parking” jadi keunggulan Wuling E200

Cikarang (ANTARA) – Wuling Motors mengenalkan salah satu fitur unggulan dalam mobil listriknya E200 yaitu fitur autopilot parking yang bisa memarkirkan kendaraan secara otomatis melalui aplikasi.

Fitur tersebut merupakan salah satu terobosan Wuling dalam teknologi mengemudi yang disematkan ke dalam mobil E200, yang telah dipasarkan secara luas di China.

“Kami dengan bangga menampilkan Integrated Driving Technology yang didukukung konsep vehicle to everything,” kata Vice President Wuling Motors Cindy Cai saat ditemui di Pabrik Wuling Motors, Cikarang, Jawa Barat, Rabu.

“Ini menghubungkan antara orang, kondisi jalan, kendaraan, hingga komputasi awan yang membuat mobil pintar ini bisa beradaptasi dengan infrastruktur di sekitarnya,” tambah dia.

Selain mampu memarkir kendaraan secara otomatis, teknologi tersebut juga memiliki fitur lain seperti pendeteksi kondisi jalan di depan (forward collision warning) dan pembatas kecepatan (smart speed limit aid).

Selanjutnya terdapat pula pencegah tabrakan di persimpangan (intersection collision warning), pemberi informasi lalu lintas langsung (real time traffic navigation), dan rem darurat otomatis (auto emergency brake).

Mobil compact dua penumpang itu, memiliki desain bodi eksterior yang menonjolkan karakter futuristik.

Pada bagian dalam, bentuk dasbor tampil modern, dilengkapi dengan 11 kompartemen penyimpanan, mulai dari bagian pintu, konsol tengah, hingga di bawah bangku penumpang.

Fitur modern turut dihadirkan pada Wuling E200, mulai dari keyless entry, start stop button, electric parking brake (EPB), serta konektivitas untuk Bluetooth dan WiFi.

Baca juga: Wuling tampilkan E200 di IEMS 2019

Baca juga: Wuling E200 diklaim bisa cari parkir sendiri
 

Pewarta: A087
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Intip mobil listrik di CIIF Shanghai, harganya mulai Rp130 jutaan

Shanghai, China (ANTARA) – China merupakan pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, mencapai 1,2 juta unit kendaraan listrik dan hybrid pada 2018, menurut data Pusat Riset Energi dan Hidrogen Jerman Baden-Werttemberg (ZSW) pada 2019.

Jumlah itu tiga kali lipat dari penjualan di Amerika sebanyak 360.000 unit pada 2018. Untuk itu, tidak heran apabila kendaraan bertenaga listrik cukup mudah ditemui di Negeri Tirai Bambu.

Harga jual yang terjangkau dianggap menjadi daya tarik bagi konsumen untuk memboyong mobil listrik, ketimbang mobil bermesin bakar konvensional. Menurut warta Bloomberg, insentif mobil ramah lingkungan sebesar 25.000 yuan (Rp50 juta).

Subsidi itu, menurut Bloomberg, menjadi pendorong penjualan mobil ramah lingkungan di China. Angka penjualan yang menarik itu juga mendorong perusahaan otomotif berinovasi menciptakan teknologi baru.

ANTARA sempat berkunjung pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, yang memajang beberapa model mobil listrik. Harganya pun cukup menarik, mulai 65.800 yuan (Rp130,2 juta). Berikut ulasannya:

BAIC EC3 Mobil listrik BAIC EC3 terpajang pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, 19 September 2019. (ANTARA/Alviansyah P)

Pandangan mata langsung tertuju pada anjungan BAIC (Beijing Automotive Industry Holding Co) saat menampilkan tim penari di depan jajaran mobil listrik yang dipamerkan di National Exhibition and Convention Center Shanghai.

Setelah penari dengan iringan musik dance itu tuntas menyapa calon konsumen di anjungan BAIC, mata pengunjung langsung tertuju ke beberapa mobil, salah satunya BAIC EC3 yang berdiri sendiri di sisi kanan.

Mobil berjenis kelamin city car itu memang tampil berbeda ketimbang model lainnya yang rata-rata bertipe bongsor SUV (sport utility vehicle).

Tenaga penjual mengatakan BAIC EC3 menggunakan listrik dari baterai berkapasitas 30,7 kWh, berdaya jelajah 163 mil dan kecepatan puncak 75km/jam. Mobil itu dijual 65.800 yuan (Rp130,2 juta) setelah subsidi.

Weltmeister EX5 Pro Mobil listrik Weltmeister EX5 Pro terpajang pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, 19 September 2019. (ANTARA/Alviansyah P)

Weltmeister EX5 Pro merupakan mobil listrik bertampang crossover yang dijual mulai 139.800 yuan (Rp276,7 juta). EX5 Pro diklaim memiliki daya jelajah jauh, 400km-520km, dengan baterai berteknologi thermal system 2.0 yang diletakan di bagian bawah mobil.

Mobil ini menggunakan bahasa desain “skateboard” untuk menunjukkan kesan sporty dan dinamis. Tampilan luarnya juga terlihat futuristik dengan kenop pintu yang selaras dengan bodi. Kenop itu baru akan keluar ketika pintu hendak dibuka.

EX5 Pro menggunakan kecerdasan buatan yang dapat menerima 330 jenis perintah suara yang diucapkan pengemudi dalam bahasa China maupun Inggris.

Mobil ini menggunakan sistem Xiaomi Mijia yang terkoneksi ponsel untuk menghidupkan dan mengontrol bebarapa fitur.

BAIC Senova Zhida X3 BAIC Senova Zhida X3 terpajang pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, 19 September 2019. (ANTARA/Alviansyah P)

Senova Zhida X3 berada di panggung yang sama dengan EC3. Namun karakter SUV yang mencolok dan desain wajah yang futuristik membuat mobil ini juga menjadi perhatian.

Sebuah grille besar dengan lampu LED di pinggirannya membuat wajah Zhida X3 terlihat maskulin, ditambah desain bodi yang kekar namun mudah dikenali.

Mobil berlogo “Beijing” itu memang tidak sepenuhnya listrik, kombinasi mesin bakar dan motor listrik. Namun harga 95.900 yuan (Rp189 juta) yang ditawarkan membuat crossover itu menjadi menarik untuk dilirik.

Enovate ME7
  Enovate ME7 terpajang pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, 19 September 2019. (ANTARA/Alviansyah P)

Mungkin ini adalah salah satu mobil yang cukup mahal di antara kompetitornya, yakni Enovate ME7 yang dijual 366.800 yuan (Rp726,1 juta). Harga sebanding dengan mobil listrik NIO yang juga populer di China.

Enovate ME7 tergolong produk segar karena baru dipamerkan pada Shanghai Auto Show 2019. Lantas apa kelebihannya dengan harga tersebut?

Menurut tenaga penjual di lokasi, Enovate ME7 menggunakan desain Sci-fi yang tajam dengan efek visual pada lampu-lampu di sekitar bodi mobil. Lampu LED bahkan disematkan juga pada taillights, dengan lampu belakang bergaris yang terlihat cantik dan futuristik.

Hampir seluruh bagian dashboard berisi layar-layar. Pada pengemudi terlihat layar informasi, layar navigasi pada tengah, dan layar hiburan pada kursi penumpang.

Mobil ini sudah menggunakan teknologi otonom L2.5 yang memanfaatkan kinerja radar dan gelombang sensor, serta berbagai fitur otomatis lainnya.

Velite 6 EV
  Velite 6 terpajang pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, 19 September 2019. (ANTARA/Alviansyah P)

Buick membawa model Velite 6 EV untuk pasar China dengan harga yang menggiurkan, 165.000 yuan (Rp326,6 juta), untuk mobil di kelas sedan atau liftback. Mobil itu mampu menjelajah 301km dengan konsumsi energi 13.3 kWh/100 km.

Sebagai produk kolaborasi SAIC-General Motor, maka Velite 6 EV tidak hanya diperuntukkan untuk pasar China, melainkan global. Butuh tiga tahun bagi SAIC-General Motor untuk mematangkan produk yang model konsepnya dikenalkan pada 2016.

Velite 6 EV tersedia dalam tiga varian yang semuanya sudah dilapis dengan subsidi dari pemerintah China.

Hozon U
  Hozon U terpajang pada pameran China International Industry Fair (CIIF) di Shanghai, 19 September 2019. (ANTARA/Alviansyah P)

Hozon U pertama kali membuka selubung mobilnya pada Shanghai Auto Show 2019, dan langsung menyatakan bahwa mobil itu dijual mulai 150ribu yuan (Rp296,9 juta).

Mobil bermodel crossover itu mengedepankan desain futuristik dengan lampu-lampu LED pada sejumlah titik, misalnya LED yang menyambung pada dua lampu belakang dan LED depan yang tersambung dari kiri ke kanan hingga berbentuk huruf H.

Hozon U menggunakan listrik dari baterai yang mampu menjelajah sejauh 310km dengan waktu pengisian cepat 30 menit untuk 80 persen kapasitas baterai.

Salah satu fitur unik pada Hozon U adalah layar LCD pada pilar A yang menjadi solusi blind-spot saat berbelok.

Baca juga: Porsche pertimbangkan baterai dari China

Baca juga: DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Baca juga: Dua pabrikan mobil listrik China berminat relokasi ke Indonesia

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Mobil konsep Mitsubishi SUV PHEV akan hadir di Tokyo Motor Show 2019

Jakarta (ANTARA) – Mitsubishi Motors Corporation (MMC) menyiapkan satu model baru yang akan debut pada Tokyo Motor Show ke-46 2019, yakni mobil konsep SUV PHEV.

Dikutip dari keterangan resmi yang diterima Antara pada Rabu, mobil konsep itu akan mengadopsi teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), sama seperti yang digunakan pada Outlander PHEV namun dalam skala lebih kecil.

SUV mungil ramah lingkungan itu menggabungkan elektrifikasi dan teknologi terkini yang menghubungkan tenaga ke semua roda penggerak. Model konsep global itu akan dipamerkan untuk umum mulai 24 Oktober hingga 4 November 2019.

“Sebuah SUV listrik yang memberikan kesenangan berkendara di semua medan, MMC akan menawarkan nilai-nilai baru yang menggabungkan SUV, PHEV, dan 4WD,” tulis pernyataan MMC.

“Mobil ini akan memiliki bobot yang lebih ringan, penggerak hybrid (PHEV), serta sistem 4WD listrik.”

SUV listrik itu menjadi wujud komitmen Mitsubishi Motors untuk menghadirkan pengalaman kenyamanan berkendara di perkotaan hingga di jalanan dengan beragam kondisi.

Baca juga: Tokyo Motor Show 2019 usung tema “Open Future”
 

Pewarta: A087
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Bus listrik Hyundai sudah dilengkapi informasi terkini

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co, pembuat mobil papan atas di Korea Selatan, pada Senin (16/9) mengatakan telah mengembangkan sistem pemantauan jarak jauh untuk bus listrik yang menyediakan informasi real time seperti lokasi kendaraan dan daya listrik pada  baterai kendaraan.

Dilansir dari Kantor Berita Yonhap, Selasa, sistem manajemen armada untuk bus listrik yang dikembangkan bersama dengan KT Corp, perusahaan telekomunikasi utama di Korea Selatan, awalnya akan diterapkan pada 14 bus listrik yang saat ini beroperasi di Seoul dan nantinya akan diperluas ke wilayah lain.

Baca juga: Hyundai Kona listrik meledak di garasi

Hyundai Motor mengatakan “sistemnya akan membantu dalam alokasi dan pengoperasian bus listrik yang efisien dan akan memastikan keselamatan,” kata Hyundai.

Hyundai Motor memperkenalkan bus bertenaga baterai pertamanya, Elec City, pada 2017. Pembuat mobil ini berencana menambah tujuh model bertenaga sepenuhnya listrik dan 10 kendaraan hidrogen pada 2025.

Baca juga: Hyundai kenalkan mobil konsep EV 45 di Frankfurt Motor Show 2019

Baca juga: Hyundai i10 akan hadir sebelum Frankfurt Auto Show 2019

Pewarta: KR-CHA
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Mobil eropa bermesin seperti “Tank”, pegiat iklim protes di Frankfurt

Jakarta (ANTARA) – Aktivis lingkungan Jerman pada akhir pekan ini menggelar aksi protes kepada industri otomotif, bertepatan dengan pameran Frankfurt Auto Show (IIA), 12-22 September 2019.

Pegiat lingkungan mengkritik mobil-mobil besutan Eropa yang menggunakan mesin berkapasitas (cc) besar, layaknya “tank”, yang tidak hanya mengganggu lingkungan karena polutan yang dihasilkan, juga ikut membahayakan pejalan kaki.

Mereka juga menghendaki kendaraan yang benar-benar ramah lingkungan dan meminta industri untuk meninggalkan sistem pembakaran internal (combustion engine), terutama jenis mesin diesel.

“Industri mobil bermain curang dengan mesin diesel, juga berkontribusi atas krisis iklim yang memburuk,” kata juru bicara kelompok lingkungan Campact, Gerald Neubauer, yang akan mengorganisir demonstrasi pada Sabtu, dilansir AFP.

Kepolisian Frankfurt menyebut bahwa sekitar demonstran akan berjalan kaki dan bersepeda menuju pameran itu. Polisi menduga pada aktivis akan mengganggu pameran dengan cara memblokir jalan di sekitar pameran pada Minggu (15/9).

“Kami menginginkan revolusi moda transportasi,” kata juru bicara kelompok lingkungan lainnya “Sand in the Gearbox”.

AFP menulis bahwa aksi masyarakat itu menunjukkan bahwa industri otomotif yang “nyaris tidak tersentuh kritik” karena pernah menjadi primadona di Eropa, kini mulai menjadi sorotan masyarakat karena perubahan iklim.

Minat masyarakat Eropa, terutama Jerman, terhadap mobil bermesin diesel pun menurun, didorong skandal kecurangan emisi “dieselgate” oleh Volkswagen pada 2015.

Kendati demikian, pameran di Frankfurt akan memamerkan sejumlah mobil bertenaga listrik yang ramah lingkungan, namun para pegiat iklim mempertanyakan keseriusan industri terhadap produk-produk itu. Aktivis Greenpeace menaiki mobil di sebuah anjungan pada pameran Frankfurt Motor Show (IAA) 2019. (REUTERS/WOLFGANG RATTAY)

SUV bermesin besar

Kendaraan sport utility vehicle (SUV) bermesin besar menjadi sorotan setelah menabrak empat pejalan kaki, termasuk anak berusian tiga tahun yang tewas pada bulan ini di Berlin.

Aktivis lingkungan menyebutkan bahwa mobil bermesin besar dengan bodi yang tinggi diperuntukkan untuk medan off-road, perdesaan, atau pehobi petualang, sehingga tidak tepat jika dipakai di perkotaan.

“Mobil seperti tank itu bukan untuk di kota,” kata Stephan von Dassel, politisi yang fokus pada lingkungan dan walikota distrik Mitte Berlin, kota di mana kecelakaan fatal itu terjadi.

“Mereka adalah ‘pembunuh iklim’, bahkan tanpa kecelakaan — setiap kesalahan mengemudi akan mengancam jiwa orang-orang yang tidak bersalah (pejalan kaki),” lanjutnya.

Ketika pameran mobil Frankfurt dibuka untuk pers pada Kamis (12/9), aktivis Greenpeace menggelembungkan balon hitam raksasa di luar arena bertuliskan CO2.

Pengunjuk rasa kemudian membentangkan spanduk “Pembunuh Iklim” di anjungan Volkswagen dan BMW, saat Kanselir Jerman Angela Merkel berkunjung ke sana.

“Industri otomotif masih belum memahami krisis iklim,” kata aktivis Greenpeace, Benjamin Stephan. “Alih-alih merayakan SUV yang boros bahan bakar, produsen harus menyudahi penjualan tank-tank perkotaan dan mematikan mesin pembakaran.”

Baca juga: Frankfurt Auto Show perketat keamanan gara-gara aksi “anti-mobil”

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Toyota uji Prius panel surya, mobil listrik tanpa “colokan” steker

Jakarta (ANTARA) – Toyota Motor Corp menyiapkan Prius terbaru, mobil listrik tanpa colokan listrik atau steker untuk mengisi daya, dengan memanfaatkan panel surya guna menangkap cahaya matahari lalu diolah menjadi tenaga listrik.

Dilansir Reuters, Jumat (13/9), dalam proyek demonstrasi yang didanai pemerintah Jepang, insinyur Toyota memasang panel surya yang dirancang Sharp Corp pada kap, atap, jendela belakang dan spoiler untuk melihat berapa banyak daya yang bisa dihasilkan oleh sinar matahari.

Listrik dari panel kemudian dialirkan ke baterai, sehingga Prius dapat mengisi daya saat bergerak atau ketika parkir.

Pada hari yang cerah, kekuatan baterainya bisa menempuh jarak 56 kilometer, lebih dari rata-rata penggunaan mobil orang Amerika sejauh 47 kilometer, menurut studi AAA Foundation Traffic Safety.

Namun teknologi itu membuat mobil bergantung pada cuaca. Saat cuaca mendung, kinerja Prius akan menurun, sehingga dibutuhkan pengembangan lain untuk mengantisipasi hal itu.

Panel surya yang dipasang pada Prius berukuran 0,03 milimeter dengan ukuran yang menyesuaikan lekuk bodi mobil. Namun karena adanya cangkang penyangga di antara panel dan bodi mobil, ketebalan perangkat itu menjadi hampir 1 cm.

Selain itu, fungsi bagasi akan berkurang untuk menempatkan baterai panel surya seberat 80 kilogram.

Satoshi Shizuka, insinyur utama Toyota untuk proyek itu mengatakan bahwa tantangan dalam pengembangan ini adalah menciptakan perangkat yang lebih ringan dan menekan biaya produksi sehingga bisa dijual dengan harga yang sesuai dengan kantong masyarakat, demikian Reuters.

Baca juga: Coba Toyota Prius PHV, Sri Mulyani sebut ingin pakai mobil itu, bila..

Baca juga: Zach King ungkap mobil pertamanya: Toyota Prius hadiah dari kakek

Baca juga: Toyota digugat Rp220 miliar soal cacat Prius

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Toyota Corolla generasi ke-12 masuk Indonesia, tersedia varian hybrid

Jakarta (ANTARA) – PT Toyota Astra Motor (TAM) resmi menjual sedan legendaris Corolla generasi ke-12 di pasar Indonesia, tersedia dalam tiga varian yang salah satunya sudah bermesin hibrida (hybrid).

All New Corolla Altis itu juga sudah dilengkapi platform Toyota New Global Architecture (TNGA), yang dilengkapi fitur keamanan Toyota Safety Sense (TSS).

“Penggunaan platform TNGA pada pengembangan All New Corolla Altis merupakan bagian komitmen Toyota untuk senantiasa menghadirkan mobil yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan teknologi yang ada saat ini,” kata President Director PT TAM, Yoshihiro Nakata di Jakarta, Kamis.

All New Corolla Altis hadir dalam tiga varian yang semuanya memiliki transmisi CVT yaitu All New Corolla Altis 1.8 G dan 1.8 V dengan mesin berbahan bakar bensin dan All New Corolla Altis hybrid electric vehicle (HEV) dengan teknologi Hybrid generasi keempat.

Kehadiran Corolla HEV tidak hanya menempatkan Toyota sebagai brand dengan varian kendaraan elektrifikasi terbanyak di Indonesia, sekaligus juga menawarkan pilihan yang semakin luas kepada pelanggan. Saat ini, Toyota  memiliki lima varian kendaraan elektrifikasi yaitu Prius, Camry HEV, Alphard HEV, C-HR HEV dan Corolla Altis HEV.

“Melalui kehadiran All New Corolla Altis varian HEV, Toyota juga ingin makin menegaskan dukungan sepenuhnya kepada Pemerintah Indonesia dalam rangka akselerasi pengembangan kendaraan elektrifikasi dengan menghadirkan model mobil elektrifikasi yang lengkap,” kata Yoshihiro Nakata.

Penggunaan platform TNGA membuat performa driving pada All New Corolla Altis jauh lebih mengesankan. Dengan center of gravity lebih rendah 20 mm dibandingkan generasi sebelumnya, All New Corolla Altis kini jauh lebih stabil.
  All New Corolla Altis (ANTARA News/HO)

Penggunaan platform TNGA dalam rancangan struktur, membuat dimensi kendaraan ini tampak lebih kokoh dengan panjang 4.630 mm, lebar 1.780 mm, dan tinggi 1.435 mm.

Untuk menunjang faktor keselamatan, All New Corolla Altis dilengkapi 7 (tujuh) airbags dan fitur Blind Spot Monitor pada varian 1.8 V  dan HEV. Khusus untuk varian HEV, juga dilengkapi dengan Rear Cross Traffic Alert (RCTA) dan generasi terbaru dari Toyota Safety Sense (TSS).

“Kami optimis, kehadiran 3 varian All New Corolla Altis ini akan memberikan dinamika baru pada pasar otomotif nasional, terutama di segmen sedan,”kata Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Kazunori Minamide.

Sejak generasi pertama diluncurkan pada 1966, Toyota Corolla tampil sebagai salah satu kendaraan populer di pasar dunia.  Total penjualan Corolla dari generasi pertama sampai 2019 sudah mencapai lebih dari 47,6 juta unit, di lebih dari 150 negara. Di Indonesia, Corolla hadir sejak 1972 dengan total penjualan sampai saat ini sudah mencapai lebih dari 147 ribu unit.

All New Corolla Altis HEV

All New Corolla Altis varian HEV menggunakan motor listrik P610 HEV transaxle dengan power 72 PS atau setara dengan Hybrid 4-cylinder yang dikombinasikan dengan mesin 2ZR-FXE.

All New Corolla Altis HEV juga merupakan model pertama Toyota di Indonesia dengan fitur-fitur keselamatan yang lengkap dan canggih dari Toyota Safety Sense (TSS) yaitu Pre-Collision System (PCS), Dynamic Radar Cruise Control (DRCC), Lane Departure Alert (LDA), serta Automatic High Beam (AHB).
 
“Kehadiran mobil dengan fitur-fitur keselamatan Toyota Safety Sense yang lengkap dan canggih ini makin menegaskan komitmen Toyota yang tak hanya sekedar menekankan kenyamanan berkendara namun senantiasa serius memperhatikan faktor keselamatan pengemudi dan penumpangnya pada setiap mobil baru yang diluncurkan ke pasar,” ujar Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Anton Jimmi Suwandy.

Untuk makin mewujudkan fun to drive dan kenyamanan berkendara yang semakin kental, pada All New Corolla Altis HEV juga disematkan multimedia system yang dilengkapi dengan 8 inci head unit display yang terintegrasi dengan sistem monitor hybrid, bluetooth dan wifi, Apple car play, Smart Device Link (SDL), dan miracast.

“Multimedia system yang disematkan pada All New Corolla Altis HEV tak hanya mendukung fitur – fitur entertainment, tapi juga untuk operasional fungsi – fungsi lainnya seperti door lock, sistem AC, dan lainnya. All New Corolla Altis HEV sengaja dihadirkan untuk mewujudkan pengalaman berkendara mobil HEV yang aman dan nyaman melebihi ekspektasi pengemudi dan penumpangnya,” kata Anton.

Harga Toyota Corolla Altis baru antara lain Rp468.200.000 untuk New Altis G CVT, Rp489.300.000 untuk New Altis V CVT dan Rp566.300.000 Hybrid AT.

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai kenalkan mobil konsep EV 45 di Frankfurt Motor Show 2019

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co meluncurkan mobil konsep listrik di Frankfurt Motor Show 2019, yang menjadi upaya Hyundai untuk memperkuat jajaran kendaraannya di segmen ramah lingkungan.

Dikutip dari Kantor Berita Yonhap, Kamis, mobil konsep yang diberi nama EV 45 itu mengadopsi desain terbaru dari generasi “Sporty Sensuous” yang didefinisikan oleh empat elemen dasar yakni proporsi, arsitektur, gaya dan juga teknologi terkini.

Angka 45 itu mewakili 45 tahun sejak 1974, ketika pembuat mobil itu meluncurkan mobil konsep yang diberi nama Pony Coupe di Torino Motor Show.

Baca juga: VW ID.3 bintang mobil listrik di Frankfurt

Dalam pameran mobil terbesar di dunia Frankfurt Motor Show pada 10-22 September, Hyundai juga akan memperkenalkan i10 N Line all-new yang memiliki performa tinggi, dan mobil balap dar Veloster N ETCR. ETCR adalah singkatan dari Electric Touring Car Racing.

Sementara itu, Hyundai akan meluncurkan i10 baru di pasar Eropa pada kuartal pertama tahun depan. Kendaraan mini yang dikembangkan, dirancang dan diproduksi di Eropa itu, akan dijual kepada pelanggan Eropa.

Model i10 N Line akan menjadi model N Line ketiga Hyundai yang akan tersedia di Eropa setelah i30 N Line dan Tucson N Line, kata Hyundai.

Baca juga: Mercedes GLE Coupe 2020 tebar pesona sebelum di Frankfurt Motor Show

Baca juga: Skoda Kamiq Dan Scala Monte Carlo akan meluncur Frankfurt Motor Show
 

Pewarta: KR-CHA
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Hyundai kenalkan mobil konsep EV 45 di Frankfrut Motor Show 2019

Jakarta (ANTARA) – Hyundai Motor Co meluncurkan mobil konsep listrik di Frankfrut Motor Show 2019, yang menjadi upaya Hyundai untuk memperkuat jajaran kendaraannya di segmen ramah lingkungan.

Dikutip dari Kantor Berita Yonhap, Kamis, mobil konsep yang diberi nama EV 45 itu mengadopsi desain terbaru dari generasi “Sporty Sensuous” yang didefinisikan oleh empat elemen dasar yakni proporsi, arsitektur, gaya dan juga teknologi terkini.

Angka 45 itu mewakili 45 tahun sejak 1974, ketika pembuat mobil itu meluncurkan mobil konsep yang diberi nama Pony Coupe di Torino Motor Show.

Baca juga: VW ID.3 bintang mobil listrik di Frankfurt

Dalam pameran mobil terbesar di dunia Frankfurt Motor Show pada 10-22 September, Hyundai juga akan memperkenalkan i10 N Line all-new yang memiliki performa tinggi, dan mobil balap dar Veloster N ETCR. ETCR adalah singkatan dari Electric Touring Car Racing.

Sementara itu, Hyundai akan meluncurkan i10 baru di pasar Eropa pada kuartal pertama tahun depan. Kendaraan mini yang dikembangkan, dirancang dan diproduksi di Eropa itu, akan dijual kepada pelanggan Eropa.

Model i10 N Line akan menjadi model N Line ketiga Hyundai yang akan tersedia di Eropa setelah i30 N Line dan Tucson N Line, kata Hyundai.

Baca juga: Mercedes GLE Coupe 2020 tebar pesona sebelum di Frankfurt Motor Show

Baca juga: Skoda Kamiq Dan Scala Monte Carlo akan meluncur Frankfurt Motor Show
 

Pewarta: KR-CHA
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

EVLink, alat pengisian daya mobil listrik dari Schneider

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan asal Perancis, Schneider Electric, memperkenalkan EVLink (Electric Vehicle Link) sebagai alat pengisian daya pintar (smart charging) untuk mobil listrik.

“Stasiun pengisian daya pintar dapat menyediakan layanan yang membantu meningkatkan kualitas daya, dan mendorong peningkatan efisiensi energi,” papar Country President Schneider Electric Indonesia Xavier Denoly di sela-sela acara “Electric and Power Indonesia 2019”, di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu.

Produk EVLink memiliki beberapa tipe pengisian daya mobil listrik yang dapat memenuhi kebutuhan solusi pengisian daya rumahan, bangunan komersial, ruang publik, hingga solusi pengisian daya cepat (smart, fast charging).

Baca juga: Porsche pertimbangkan baterai dari China

Selain itu, Xavier mengatakan bahwa Schneider Electric dapat mengintegrasikan pengembangan energi dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi pemenuhan kebutuhan listrik.

Melaui produk EVlink Energy Management, pemilik atau operator infrastruktur pengisian daya dapat mengelola infrastruktur pengisian daya secara lebih efisien.

Efisiensi yang ditawarkan adalah ketika stasiun pengisian daya kendaraan listrik memiliki permintaan daya tinggi yang dapat melebihi kapasitas ketersediaan daya, namun sistem itu dapat mengidentifikasi dan mengelola permintaan sehingga overload dapat dicegah.

Hal ini kemudian diharapkan dapat mendukung optimalisasi penggunaan energi listrik.

Baca juga: Mitsubishi layani pembelian mobil listrik dari seluruh Indonesia

Baca juga: VW ID.3 bintang mobil listrik di Frankfurt

Baca juga: Pemerintah Jepang uji coba mobil swakemudi sebelum Olimpiade 2020

Pewarta: A087
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

VW ID.3 bintang mobil listrik di Frankfurt

Jakarta (ANTARA) – Mobil listrik Volkswagen ID.3 akan menjadi bintang utama dalam gelaran otomotif Frankfurt Motor Show pada 12-22 September 2019.

Menyebut mobil listrik berdesain hacthback itu sebagai bintang pameran rasanya tidak berlebihan karena mobil itu memang sudah dipesan hingga 30.000 unit untuk beberapa negara Eropa meliputi Jerman, Norwegia, Belanda, Swedia dan Inggris.

VW akan memproduksi 33 model kendaraan listrik berbeda berdasarkan platform MEB dalam tiga tahun ke depan. Rencana itu akan diterapkan pada merek-merek yang berada di bawah naungan grup VW.
  Ralf Brandstaetter, CEO Volkswagen Passenger Cars bersama mobil listrik ID.3 di Frankfurt Motor Show (Reuters/WOLFGANG RATTAY)

VW belum mengumukan spesifikasi lengkap mobil itu, kendati taksiran harganya bisa mencapai 30 ribu Euro (Rp467 juta).

Selain mobil listrik terbaru itu, pameran juga akan menampilkan bintang-bintang lain yakni Audi RS6 Avant, Bugatti Chiron Super Sport 300+, Porsche Taycan dan Lamborghini Sian, demikian CarScoop.

Baca juga: Porsche pertimbangkan baterai dari China

Baca juga: Volkswagen Passat GTE pakai baterai lebih besar

Baca juga: VW punya teknologi robot pengisian mobil listrik di AS

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Porsche pertimbangkan baterai dari China

Jakarta (ANTARA) – Porsche mempertimbangkan untuk membeli baterai mobil listrik dari perusahaan China, Contemporary Amperex Technology Ltd (CATL), dilansir Reuters, Senin.

Pembuat mobil Jerman dan CATL “dalam pembicaraan yang baik,” kepala pimpinan riset dan pengembangan Porsche Michael Steiner di Fuzhou, China.

Ia menambahkan bahwa telah bertemu dengan manajemen CATL secara berkala dengan respons yang baik. Komponen baterai menjadi salah satu peranti penting dalam industri mobil listrik di masa mendatang.

Sebelumnya, Porsche menggunakan produk baterai dari Korea Selatan, LG Chem, kendati saat ini induk perusahaan Porsche, Volkswagen sudah memilih CATL.

Kehadiran Porsche sebagai pelanggan baru CATL akan menguntungkan pabrikan China itu di tengah persaingan produk baterai dengan perusahaan Asia lainnya.

CATL sedang membangun pabrik di Jerman untuk memperkuat kehadirannya di Eropa, lokasinya bahkan dekat dengan pabrik Porsche. Pembuat baterai itu juga sudah menjalin kerja sama dengan BMW AG.

Merek baterai populer lainnya, Panasonic, juga sudah menjalin kerja sama cukup lama dengan Tesla, kendati pabrik mobil listrik Amerika itu juga tertarik memakai baterai dari LG Chem.

Terkait dengan pemberlakuan pajak kendaraan di China, Porsche berharap mendapatkan keringanan karena menjual model Taycan yang sepenuhnya berpenggerak listrik.

“Kami bekerja intensif dengan otoritas China,” kata Puttfarcken, demikian Reuters.

Baca juga: Pemerintah incar investasi baterai kendaraan listrik

Baca juga: Berapa rupiah yang dibutuhkan sekali isi baterai Outlander PHEV?

Baca juga: VW perkuat aliansi dengan pemasok baterai untuk produksi mobil listrik

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Superb dan Citigo, dua mobil listrik baru dari Skoda

Jakarta (ANTARA) – Skoda, anak perusahaan Jerman Volkswagen, sudah menyiapkan deretan kendaraan yang akan ditampilkan pada pameran Frankfurt Motor Show 2019 pada 12-22 September 2019.

Dikutip dari CarsCoops, Minggu, perusahaan yang berkantor di Mlada Boleslav, Republik Ceko itu akan memperkenalkan dua kendaraan terbaru berteknologi hibrida dan listrik, yakni Superb iV dan Citigo iV.
  Skoda Citigo (ANTARA/Skoda Official)

Citigo iV adalah kendaraan pertama Skoda yang menggunakan tenaga listrik. Mobil mungil itu dapat menempuh jarak hingga 265 km dan sudah dilengkapi dengan baterai lithium-ion 36,8 Kwh.

Skoda Superb iV juga menjadi model hybrid plug-in pertama merek tersebut, menggunakan powertrain yang sama dengan VW Passat GTE.
  Skoda Superb (ANTARA/Skoda Official)

Layaknya kendaraan hibrida pada umumnya, sedan itu memakai mesin bensin 1,4 liter TSI dengan output gabungan mencapai 215 hp dan torsi 400 Nm.

Berkat paket baterai 13kWh, Superb iV mampu berjalan dengan daya listrik sejauh 55 km.

Skoda juga berkomitmen untuk memasang 7.000 titik pengisian daya listrik di lokasi yang dekat dengan pabriknya di Ceko maupun beberapa kota di Eropa dengan nilai investasi 35 juta euro.

Baca juga: Skoda Kodiaq RS versi ABT Sportsline lebih bertenaga

Baca juga: Skoda iV, mobil konsep yang mirip Lamborghini Urus

Baca juga: Pertama kalinya, Skoda ungkap tampilan hatchback Scala

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

VW “kodok” 1973 jadi mobil listrik, berapa ongkos modifikasinya?

Jakarta (ANTARA) – Volkswagen Beetle yang dikenal dengan nama VW “kodok” keluaran tahun 1973 tampil menyita perhatian pengunjung pada pameran Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Kamis.

Kendaraan lawas itu menjadi perhatian karena menggunakan tenaga listrik berkat penggunaan Electric Vehicle Conversion Kit yang dibeli pemiliknya, Rudi Susanto, dari California, Amerika Serikat, seharga Rp240 juta.

Rudi Susanto mengatakan, secara total sudah menggelontorkan uang Rp1 miliar untuk menyelesaikan proyek kendaraan lawas bertenaga listrik itu.

“Sebagai pencinta kendaraan klasik, pandangan saya pada 2040 internal combustion engine (ICE) akan mengalami kepunahan. Tapi, kebanyakan penggemar mobil klasik tidak akan membiarkan mesin original itu akan digantikan dengan motor listrik. Menurut saya, pada masa yang akan datang sudah tidak ada lagi bahan bakar bensin, maka menjadi sia-sia kendaraan ini jika tidak diubah ke listrik,” ungkap Rudi di Balai Kartini, Jakarta, Kamis.

Baca juga: ABB Indonesia siapkan stasiun pengisian daya mobil listrik

Baca juga: Hino Hybrid diklaim cocok untuk pasar Indonesia

Untuk mewujudkan impiannya mengubah VW Kodok menjadi berpenggerak listrik, Rudi dibantu AutoLube Motorsport, dengan harapan jika proyek itu berhasil, dapat mempertahankan eksistensi mobil klasik di masa depan.

“Hal ini saya lakukan semata-mata untuk mempertahankan eksistensi mobil klasik di masa mendatang. Apalagi sekarang perkembangan mobil listrik di dunia mulai merambah ke Indonesia,” jelasnya.

Proses pengerjaan memakan waktu enam bulan. Kini, VW Kodok listrik itu menjadi kendaraan harian dari Rudi karena dapat menempuh jarak hingga 150 km dan dapat melaju dalam kecepatan 100km/jam. VW berwarna krem cerah itu membutuhkan waktu 4-5 jam untuk pengisian daya listrik.

Baca juga: PLN siapkan “ultra fast charging” pengisi daya mobil listrik

Baca juga: Wuling tampilkan E200 di IEMS 2019

Baca juga: Toyota i-ROAD, si mungil penyita perhatian di IEMS 2019

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

ABB Indonesia siapkan stasiun pengisian daya mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan teknologi kelistrikan dan otomatisasi PT ABB Sakti Industri (ABB Indonesia) menyatakan dukungannya atas kebijakan pemerintah dalam percepatan program kendaraaan listrik berbasis baterai di Indonesia.

Direktur ABB Indonesia, Dodon Ramlie mengatakan bahwa ABB menghadirkan stasiun pengisian daya listrik untuk kendaraan yang kini sudah terpasang di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong, Tangerang, Banten.

“Kami sudah hadir dilebih dari 68 negara dengan memiliki 80.000 charging station yang salah satunya sudah ada di Indonesia yang ada di Serpong, Tangerang,” ungkap Dodon Ramlie di Balai Kartini, Jakarta, Kamis.

Baca juga: ABB: Indonesia bisa menjadi pusat energi terbarukan

Menurutnya, sejak diperkenalkan pada 2010 hingga saat ini kendaraan listrik yang sudah beroperasi di seluruh dunia mencapai 6 juta kendaraan.

“Setiap tahun penjualan kendaraan listrik semakin meningkat, hampir saat ini sudah ada enam juta yang sudah jalan. Atas dasar itu kami siap memberikan solusi terbaik agar (mobil listrik) bisa berjalan dengan nyaman dengan pengisian yang lebih cepat,” kata Dodon.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagai perusahaan teknologi yang memproduski alat charging, juga akan mengajak pihak swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk bekerja sama.

“Kami juga akan riset kebutuhan ini bersama dengan pihak yang terkait, karena semakin lama kebutuhan daya ini semakin besar. Sampai saat ini kami memiliki teknologi yang sudah memenuhi standar internasional,” jelasnya.

Alat-alat yang diproduksi oleh ABB Indonesia masih diimpor dari pusatnya di Italia. Mereka masih menunggu aturan pemerintah terkait standarisasi sebelum menggelar riset dan pengembangan di nusantara.

“Standarisasi itu penting agar adanya keseragaman dalam hal plug dari charging itu sendiri, agar tidak semua produsen sembarangan menciptakan plug yang berbeda,” tutupnya.

Baca juga: ABB perkenalkan robot YuMi di Indonesia

Baca juga: ABB resmikan pabrik AIS tegangan menengah

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

DFSK tawarkan solusi kendaraan listrik lewat Glory E3

Jakarta (ANTARA) – Pabrikan otomotif asal China, Dongfeng Sokonindo (DFSK) membawa Glory E3 pada pameran Indonesia Electric Motor Show 2019 (IEMS 2019) di Balai Kartini, Jakarta, 4-5 September 2019, yang diklaim sebagai salah satu solusi kendaraan terlektrifikasi untuk Indonesia yang masih minim infrastruktur pengisian daya listrik.

Deputy Product Division Head PT Sokonindo Automobile, Ricky Humisar Siahaan mengungkapkan, infrastruktur yang masih minim dengan kualitas tegangan listrik di Indonesia yang tidak selalu stabil membuat masyarakat khawatir menggunakan mobil listrik. Namun ia memastikan bahwa perkembangan teknologi baterai memungkinkan orang Indonesia memakai mobil listrik.

“Efisiensi kendaraan listrik terus ditingkatkan, khususnya di komponen baterai karena itu adalah sumber utama dari kendaraan listrik. Baterai-baterai yang digunakan sekarang ini memiliki tenaga besar yang sanggup membawa kendaraan listrik bepergian jauh, dan proses pengisian dibuat lebih singkat dengan fast charging,” ungkap Deputy Product Division Head PT Sokonindo Automobile, Ricky Humisar Siahaan, Kamis.

Glory E3 yang diperkenalkan pada Gaikindo Indonesia Internatioanl Auto Show (GIIAS) 2019, dapat menjadikan sebuah solusi awal bagi kendaraan elektrifikasi di tanah air. Mobil itu diklaim siap dipasarkan di Indonesia.

Baca juga: DFSK minta masukan konsumen untuk harga Glory i-Auto

“Tapi kami masih menunggu aturan turunan dari Perpres No 55 Tahun 2019 yang menyangkut insentif kendaraan listrik itu sendiri bagaimana nantinya,” katanya.

Kendati demikian, dalam acara ini DFSK Glory E3 masih belum terlihat di area test drive, kendaraan ini hanya dipajang di anjungan DFSK.

“Segera akan kita akomodir untuk itu, harusnya iya, banyak situasi dan kondisi yg dipertimbangkan kenapa cuma satu, dan enggak ada test drive. Karena memang banyak pertimbangannya,” jelasnya.

DFSK Glory E3 menggunakan motor listrik Permanent Magnet Synchronous Motor bertenaga 120 kW dan Torsi 300 Nm, dengan tiga mode berkendara yaitu Normal, ECO, Sport Multi-Driving Mode.

“Kami yakin bahwa lambat laun fasilitas untuk kendaraan listrik ini akan lebih baik, dan teknologi kendaraan listrik akan jauh lebih efisien yang akhirnya mempermudah konsumen menggunakannya. DFSK Glory E3 sudah diniagakan di China, terbukti mobil ini mendapatkan penerimaan yang baik di pasar sana,” tutupnya.

Baca juga: Glory E3 bebas emisi karbon

Baca juga: Glory E3 siap dipasarkan jika regulasi kendaraan listrik rampung

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Hino Hybrid diklaim cocok untuk pasar Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Truk ramah lingkungan produksi Hino Motors, yakni Hino Hybrid dipamerkan dalam pameran kendaraan listrik pertama di Indonesia, Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 yang berlangsung 4-5 September di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan.

Kendati belum sepenuhnya menggunakan daya listrik, Presiden Direktur PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Hiroo Kayanoki mengatakan truk dengan teknologi hybrid dapat digerakkan dengan tenaga listrik dan biodiesel sehingga lebih ramah lingkungan dan juga irit bahan bakar.

“Truk ini cocok digunakan di Indonesia, menjelang era peralihan kendaran bermesin diesel ke kendaran bertenaga listrik setelah penandatangan perpres kendaraan listrik oleh Presiden Joko Widodo,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Hino Hybrid menggunakan diesel electric hybrid system dengan kelebihan emisi gas buang yang lebih bersih dan dapat menurunkan konsumsi bahan bakar karena sistem hybrid bekerja saat penurunan akselerasi atau keadaan idle.

Baterai akan menjadi sumber energinya, sehingga pemakaian bahan bakar menjadi lebih hemat karena saling melengkapi antara bahan bakar solar dan tenaga baterai.

Hino Hybrid menggunakan baterai NiMH, mengadopsi PCU yang merupakan gabungan dari ECU, inverter, dan baterai yang mendukung hybrid system.

Ada pula teknologi Diesel Particulate Active Reduction System (DPR) dan Selective Catalytic Reduction (SCR) yang dapat menghilangkan partikel berbahaya dan juga mengurangi N0x.

Tak hanya itu, Hino Hybrid juga bisa memanfaatkan CPO produksi dalam negeri melalui biodiesel seperti yang dicanangkan oleh pemerintah untuk B30 di awal 2020 dan juga target B50 di akhir tahunnya.

Baca juga: Penjualan Hino naik di GIIAS 2019

Baca juga: Hino tambah fitur kamera belakang dan ABS

Baca juga: Penjualan melampaui target, Hino optimistis di tahun 2019

Pewarta: A087
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Toyota i-ROAD, si mungil penyita perhatian di IEMS 2019

Jakarta (ANTARA) – Kendaraan listrik roda tiga yang mungil milik Toyota, i-ROAD, menjadi penyita perhatian dalam pameran kendaraan listrik pertama di tanah air, Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 yang berlangsung 4-5 September di Balai Kartini, Jakarta.

Kendati i-ROAD sudah pernah “mejeng” dan dijajal oleh beberapa penggemar otomotif di Indonesia dalam sejumlah acara, kendaraan ramping itu masih menjadi primadona di IEMS 2019. Terlebih, i-ROAD mewakili Toyota untuk teknologi kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV).

“Toyota akan terus berupaya untuk menghadirkan teknologi kendaraan elektrifikasi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen di setiap negara termasuk Indonesia,” ujar Presiden Direktur PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia Warih Andang Tjahjono di sela acara IEMS, Rabu.

Baca juga: Kepala BPPT dorong ibu kota ramah lingkungan lewat IEMS 2019

Selain i-ROAD yang digemari di negara asalnya itu, Toyota membawa serta tiga mobil listrik dengan ragam teknologi terkini, yakni Toyota C-HR Hybrid, Prius PHEV, dan Mirai.

C-HR Hybrid mewakili teknologi kendaraan listrik hibrida (Hybrid Electric Vehicle/EV), kemudian Prius untuk Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Mirai untuk teknologi Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV).

Toyota menilai bahwa kendaraan bermotor listrik, memberikan keuntungan dalam mengurangi emisi karbondioksida dan menurunkan ketergantungan pada konsumsi bahan bakar.

Baca juga: Puluhan ragam kendaraan listrik “unjuk gigi” dalam IEMS 2019
 

Pewarta: A087
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

PLN siapkan “ultra fast charging” pengisi daya mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – General Manager PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya) Ikhsan Asaad mengatakan bahwa PLN telah menyiapkan satu Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) dengan kemampuan Ultra Fast Charging Station untuk mengisi daya kendaraan listrik di Jakarta.

Ultra fast charging-nya ada satu, 150 kilo watt, kalau nge-charge 20 menit langsung full,” kata Ikhsan saat ditemui usai seminar yang ia hadiri di Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019, Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu.

Baca juga: Toyota i-ROAD, si mungil penyita perhatian di IEMS 2019

Ketika disinggung mengapa PLN hanya mendirikan satu tempat untuk Ultra Fast Charging, Ikhsan menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut, kendati masih terus digodok oleh pihaknya.

“Ya kita coba dulu ya, selain investasinya cukup mahal, Rp1,5 miliar sampai Rp2 miliar untuk satu ultra fast charging. Makanya tahun ini (satu), tahun depan kami rencananya tambah lagi. Minimal memberi keyakinan ke masyarakat dulu ya,” paparnya.

Walaupun hanya ada satu pos, Ikhsan meminta masyarakat untuk tidak khawatir, karena PLN juga akan membangun tiga stasiun fast charging, dan 10 normal charging di lokasi-lokasi strategis di Jakarta.

“Ada 10 normal charging, lalu tiga fast charging. Targetnya hingga akhir tahun ini (stasiun pengisian daya listrik dibangun),” ujar dia.

Sementara itu, terkait lokasinya, Ikhsan mengatakan bahwa pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menempatkan pos-pos pengisian daya tersebut di beberapa titik strategis Tanah Betawi.

“Saya lagi minta izin sama Gubernur, agar posisinya nanti di dekat Monas, atau HI, biar aksesnya gampang,” pungkasnya.

Baca juga: Wuling tampilkan E200 di IEMS 2019

Baca juga: Nissan kenalkan generasi kedua LEAF, apa keunggulannya?

Baca juga: Mitsubishi bawa Outlander PHEV dan i-MIEV di IEMS 2019

Pewarta: A087
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Wuling tampilkan E200 di IEMS 2019

Jakarta (ANTARA) – Wuling Motors menampilkan mobil listrik generasi kedua dan terbaru, E200, dalam pameran kendaraan listrik pertama di Tanah Air, Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 yang berlangsung 4-5 September di Balai Kartini, Jakarta.

“Secara spesifikasi, E200 tidak jauh berbeda dengan E100. Perbedaan lebih ke arah kenyamanan berkendara yakni dengan adanya NVH (noise, vibration, and harshness),” ujar Danang Wiratmoko dari Perencanaan Produk Wuling Motors , di IEMS, Rabu.

Menurut Danang, NVH membuat kabin kendaraan lebih kedap.

Baca juga: Wuling E200 diklaim bisa cari parkir sendiri

Mobil compact dua penumpang itu, memiliki desain bodi eksterior yang menonjolkan karakter futuristik.

Pada bagian dalam, bentuk dasbor tampil modern, dilengkapi dengan 11 kompartemen penyimpanan, mulai dari bagian pintu, konsol tengah, hingga di bawah bangku penumpang.

Fitur modern turut dihadirkan pada Wuling E200, mulai dari keyless entry, start stop button, electric parking brake (EPB), konektivitas untuk Bluetooth dan WiFi, hingga Intelligent Auto-driving.

Mobil itu juga memiliki tiga mode berkendara yaitu Eco, Normal, dan Sport.

Pengunjung dapat menjajal Wuling E200 dan E100 pada uji kemudi (test drive) di IEMS 2019 hingga esok hari.

Baca juga: Kepala BPPT dorong ibu kota ramah lingkungan lewat IEMS 2019

Baca juga: Puluhan ragam kendaraan listrik “unjuk gigi” dalam IEMS 2019
 

Pewarta: A087
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Nissan kenalkan generasi kedua LEAF, apa keunggulannya?

Jakarta (ANTARA) – Nissan membawa generasi kedua dari mobil listriknya, LEAF, pada pameran kendaraan listrik pertama di Tanah Air, Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 yang berlangsung 4-5 September di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan.

Nissan LEAF generasi kedua dilengkapi teknologi terdepan yang memberikan pengalaman berkendara yang lebih percaya diri, menyenangkan dan terhubung. Mobil ini juga diklaim tidak menghasilkan emisi buangan atau zero emissions, sehingga ramah lingkungan.

”Kendaraan listrik dapat membantu mengurangi polusi udara dan suara, serta ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” tutur Isao Sekiguchi, Presiden Direktur Nissan Indonesia melalui keterangan tertulis di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu.
  Nissan Leaf, salah satu model Nissan yang dilengkapi teknologi ProPILOT. (ANTARA News/Alviansyah)

Baca juga: All New Nissan Juke 2020 hadir di pasar Eropa

“Manfaatnya tidak hanya untuk masyarakat saat ini, tetapi juga untuk generasi selanjutnya di masa depan,” lanjutnya.

E-Pedal merupakan salah satu teknologi baru yang ditawarkan pada seri kedua mobil ini, dan memungkinkan pengemudian dengan satu pedal. Rencananya, Nissan LEAF terbaru akan masuk ke Indonesia pada 2020.

Selain LEAF, dalam IEMS 2019 ini, Nissan mengenalkan teknologi e-POWER yang menggabungkan motor listrik 100 persen dengan mesin bensin yang mengisi daya baterai motor listrik.

Sehingga, akan memberikan pengalaman mengemudi dengan akselerasi instan seperti kendaraan listrik pada umumnya tanpa perlu mengisi ulang daya dari luar.

Baca juga: Beda rasa mengemudi All New Livina dengan versi sebelumnya

Baca juga: Nissan 370Z edisi ulang tahun hadir di Australia, harganya Rp516 juta

Baca juga: Nissan pastikan mobil listrik Leaf masuk Indonesia sesuai rencana awal

Pewarta: A087
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mitsubishi bawa Outlander PHEV dan i-MIEV di IEMS 2019

Jakarta (ANTARA) – Distributor resmi Mitsubishi di Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menghadirkan dua mobil listrik compact pada pameran mobil listrik pertama di Indonesia bertajuk Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019 yang berlangsung hingga besok di Balai Kartini, Jakarta.

Dua mobil listrik yang dibawa oleh Mitsubishi kali ini adalah i-MIEV dan Outlander PHEV, yang keduanya diklaim sebagai pionir dari kendaraan listrik Mitsubishi Motors.

“Kami ingin mulai memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia kendaraan yang tidak hanya dapat menunjang mobilitas, namun sekaligus menghemat energi,” papar Kepala Divisi Penjualan dan Pemasaran MMKSI Irwan Kuncoro di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan.

Outlander PHEV sendiri sebelumnya telah resmi diluncurkan pada awal Juli 2019 lalu dan diperkenalkan kepada publik di ajang GIIAS 2019.

Mobil ini menggunakan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle, sehingga bisa melaju menggunakan tenaga listrik yang lebih nyaman dengan kabin super senyap.

Dalam pemakaian normal, Mitsubishi mengklaim baterai yang ada bisa bertahan hingga 10 tahun. Sementara untuk pengisiannya bila memakai fitur quick charge selama 25 menit, maka baterai bisa terisi hingga 80 persen. i-MIEV yang dipamerkan di booth Mitsubishi Motors di IEMS 2019 yang berlangsung di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira)

Sementara itu, mobil lainnya yang Mitsubishi pamerkan, yakni i-MIEV (Mitsubishi innovative Electric Vehicle), telah hadir di Indonesia sejak satu periode lalu dan menjadikannya kendaraan listrik pertama di Indonesia yang lulus uji tipe.

i-MiEV telah dijual di Jepang dan beberapa negara lainnya sejak 2009, harganya sekira Rp400 jutaan. Mitsubishi membawanya ke Indonesia untuk mendukung sosialisasi kendaraan listrik di Indonesia.

Outlander PHEV dan i-MiEV akan ikut berpartisipasi bersama dengan model kendaraan listrik lainnya dalam konvoi kendaraan listrik dengan rute kantor BPPT di Jalan Thamrin, Jakarta, menuju fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di gedung B2TKE-BPPT di Serpong, Tangerang, Sabtu (7/9) mendatang.

Baca juga: New Triton boleh “minum” solar biasa?

Baca juga: Punya mobil listrik? Hindari tiga hal ini

Baca juga: Berapa rupiah yang dibutuhkan sekali isi baterai Outlander PHEV?

Pewarta: A087
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Puluhan ragam kendaraan listrik “unjuk gigi” dalam IEMS 2019

Jakarta (ANTARA) – Puluhan kendaraan berenergi listrik “unjuk gigi” dalam pameran pertama kendaraan listrik bertajuk “Indonesia Electric Motor Show” (IEMS) 2019 yang berlangsung di Balai Kartika, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/9) dan Kamis (5/9).

​”Pameran itu merupakan wujud pelaksanaan kami dalam industri dan daya saing kendaraan bermotor listrik,” ujar Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza di Balai Kartika, Rabu.​​​​​​

Sebanyak 45 peserta pameran dari berbagai instansi pemerintah ataupun perusahaan swasta turut memamerkan kendaraan-kendaraan listrik mereka. Teknologi terbaru mobil dan sepeda motor listrik itu juga datang dari para produsen otomotif Jepang, China, produsen-produsen Eropa, serta berbagai perusahaan dalam negeri dan BUMN.

Baca juga: Luhut sebut saatnya Indonesia jadi produsen kendaraan listrik

Selain pameran kendaraan listrik, IEMS 2019 juga menyuguhkan seminar industri kendaraan listrik mengenai perkembangan teknologi kendaraan listrik nasional, termasuk aspek keamanan dan legalitas kendaraan listrik di jalan raya.

Komponen pendukung dalam ekosistem kendaraan listrik seperti stasiun pengisian daya (charging station) juga turut diperkenalkan dalam acara bertema Electric Vehicle for Smart Transportation itu.

Pameran dapat dikunjungi pada pukul 10.00 hingga 21.00 WIB dan terbuka secara gratis untuk umum.

Baca juga: Kepala BPPT: IEMS 2019 gugah kesadaran ramah lingkungan

Pewarta: A087
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Kepala BPPT: IEMS 2019 gugah kesadaran ramah lingkungan

Kepala BPPT: IEMS 2019 gugah kesadaran ramah lingkungan
(Dari kiri ke kanan) Kepala BPPT Hammam Riza, Menristekdikti Moh. Nasir, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan perwakilan dari Kemenhub RI meresmikan pembukaan IEMS 2019 di Balai Kartika, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/9/2019). (ANTARA News/Dea N. Zhafira)
Jakarta (ANTARA) – Pameran Kendaraan Listrik Indonesia (Indonesia Electric Motor Show) 2019 di Balai Kartika, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/9) dan Kamis (5/9), diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat Indonesia untuk menggunakan kendaraan ramah lingkungan, demikian disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza.

“Pameran itu merupakan perwujudan industri dan daya saing kendaraan bermotor listrik,” ujar Hammam selepas meresmikan IEMS 2019 yang juga dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, dan Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko.

Baca juga: Luhut sebut saatnya Indonesia jadi produsen kendaraan listrik

Hammam mengatakan IEMS 2019 dapat memperdalam pemahaman masyarakat tentang kendaraan listrik.

Pameran yang diprakarsai BPPT dan didukung berbagai instansi lain pemerintahan itu menampilkan berbagai mobil listrik, sepeda motor listrik, termasuk komponen pendukung.

Komponen pendukung kendaraan listrik yang juga “unjuk gigi” dalam pameran pertama kendaraan listrik itu antara lain baterai kendaraan dan stasiun pengisian energi (charging station).

Baca juga: BPPT harap Indonesia tidak hanya jadi pasar kendaraan listrik

Pewarta: A087
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Citroen C3 Aircross Flair rendahkan emisi untuk pasar Inggris

Jakarta (ANTARA) – Produsen kendaraan asal Prancis, Citroen mengumumkan serangkaian pembaruan terhadap C3 Aircross terutama pada emisi karbon dioksida (C02) yang lebih rendah.

Dikutip dari CarsCoops, Rabu, kendaraan itu menggunakan mesin PureTech 1,2 liter yang sesuai dengan standard Euro 6.3. Pembakar bensin berubah pada 130 PS (128 hp / 95 kW) dan digabungkan ke transmisi otomatis enam kecepatan.

Sebagai level standarnya, C3 Aircross Flair akan menggabungkan model interior Urban Red yang disandingkan dengan sandaran tangan pengemudi dan kantong kursi pengemudi yang ergonomis.

Baca juga: Peugeot Citroen akan uji mobil swakemudi di Singapura

Kendaraan itu juga telah memuat fitur berlangganan Citron Connect Nav selama tiga tahun. Fitur lain yang juga disematkan seperti TomTom Live, keyless entry and go, kamera mundur, Rem Keselamatan Aktif, Sistem Kotak Bantuan Darurat, dan velg 17 inci.

Kendaraan yang akan tersedian di pasar Inggris pada Oktober 2019 itu tersedia dalam beberapa warna seperti Pepper Red, Cumulus Grey dan Perla Nera Black yang ditambahkan ke warna sebelumnya yaitu Natural White, Breathing Blue, Platinum Grey, Orange, dan Soft Sand.

Baca juga: Deretan mobil-mobil klasik mungil bersejarah

Pewarta: KR-CHA
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Wuling E200 diklaim bisa cari parkir sendiri

Jakarta (ANTARA) – Kendaraan penumpang Wuling E100 yang sudah dipasarkan sejak Agustus 2017 di China, dan E200 pada September 2018, akan berkenalan dengan masyarakat Indonesia pada pameran Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019, 4-5 September.

Wuling E200 yang mengusung intelegent auto driving, diklaim mampu mencari parkiran sendiri melalui koneksi antara mobil dengan telepon pintar penggunanya.

“Kendaraan itu dapat mencari parkir sendiri jika kita turun di lobi dan juga sebaliknya,” Danang Wiratmoko selaku Product Planning SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) di Jakarta, Selasa.

Kendati demikian, fitur tersebut membutuhkan koneksi internet yang kuat untuk mengarahkan mobil menggunakan ponsel.

“Namun, itu semua harus diimbangi dengan infrastruktur yang dapat terhubung dengan internet agar itu bisa berjalan dengan lancar,” kata Danang Wiratmoko.

Mobil listrik E200 juga diklaim lebih senyap, sehingga menawarkan pengalaman berkendara yang lebih nyaman.

“Pengembangan yang paling terasa dari Wuling E200 adalah kurangnya tingkat kebisingan sehingga E200 lebih kedap. Secara performa sama dengan yang E100,” katanya.

Kendaraan kecil yang masih menggunakan setir kiri dengan bobot kurang dari satu ton itu memiliki dua tempat duduk. Alasannya, menurut riset kendaraan seperti itu yang disukai masyarakat China.

“Dua tempat duduk itu memang sudah menjadi kebiasan masyarakat di China. Apabila hari kerja mereka kebanyakan mengisi kendaraan itu hanya dua orang dengan jarak tidak lebih dari 50 km,” ungkap Danang Wiratmoko.

Baca juga: Wuling E100 dan E200 akan hadir di EIMS 2019

Kendati demikian, kata dia, kebanyakan masyarakat di sana memiliki dua kendaraan berbeda. Yang pertama untuk bekerja, dan lainnya untuk hari libur dengan membawa keluarga.

Kendaraan yang dikenal dengan nama Baojun di negara asalnya memiliki powertrain listrik dengan baterai lithium, dengan tenaga yang dihasilkan sebesar 29 kW dengan torsi maksimum 110 Nm, berkecepatan hingga 100km/ jam dengan jarak tempuh 250 km jika baterai penuh.

Wuling E100 dan Wuling E200 sudah dilengkapi fitur canggih yang dapat menunjang penampilan dan kenyaman dalam berkendara.
  Bagian dalam dari Wuling E100 (Antara News/Chairul Rohman)

Keduanya sudah dilengkapi keyless entry, start stop button, electric parking brake (EPB), konektivitas Bluetooth dan WiFi, hingga Intelligent Auto-driving dengan pemilihan tiga mode berkendara yaitu Eco, Normal, dan Sport.

Kedua mobil listrik asal China itu juga punya fitur keselamatan Electronic Stability Control (ESC), Rear Parking Sensor, Parking Camera, ISOFIX, SRS Airbag, Tyre Pressure Monitoring System (TPMS), hingga sistem deselerasl ABS dan EBD.

Kendaraan itu membutuhkan waktu 8-12 jam saat pengisian daya diisi 3.300 kw. Sedangkan jika dicas dengan sumber listrik yang lebih besar membutuhkan waktu 5 jam.

Dalam kesempatan yang sama Senior Brand Manager Wuling Motors, Dian Asmahani mengatakan, Wuling Indonesia belum berniat untuk memasarkan kendaraan ini di Indonesia dan masih melakukan studi untuk kendaraan listrik.

“Kita masih menunggu turunan dari peraturan terkait. Buat kami, karena ini baru, kami juga butuh waktu dan studi lebih dalam untuk mewujudkannya menjadi lebih baik,” kata Dian.

Kendati demikian, ia juga menjelaskan bahwa nantinnya tidak memutup keungkinan kendaraan listrik dari Wuling akan diproduksi di pabrik Cikarang, Jawa Barat.

“Yang jelas dari awal segala produk untuk Indonesia, kami akan usahakan akan memproduksinya di pabrik kita yang memiliki lahan seluas 60 hektar di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat,” tutupnya.

Baca juga: Tanggapan pabrikan otomotif terkait aturan mobil listrik

Baca juga: Almaz dominasi penjualan Wuling di GIIAS 2019

Baca juga: Wuling pajang mobil listrik mungil dan SUV di GIIAS

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mengenal teknologi SHVS dari Suzuki

Jakarta (ANTARA) – PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mendukung kebijakan penerapan kendaraan bermotor ramah lingkungan oleh pemerintah, dengan mengusung teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS).

“Suzuki turut mendukung pemerintah memasuki era kendaraan listrik yang ramah lingkungan dan minim kadar emisi CO2 dengan menghadirkan teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki,” kata Donny Saputra, Marketing Director 4wheel PT SIS, dalam keterangan tertulisnya, Senin.

Donny menjelaskan, pada tahun 2017, Suzuki sudah memulai teknologi tersebut melalui kendaraan Ertiga Diesel Hybrid yang mengadaptasi teknologi SHVS.

“Maka dari itu, kami siap mendukung pemerintah menuju masa transisi era mobil listrik, untuk menuju Indonesia bersih udara dan hemat energi,” kata dia.

SHVS adalah teknologi mesin mild hybrid yang telah dikembangkan Suzuki secara global. Khusus di Indonesia, teknologi SHVS masih dalam tahap penelitian agar bisa disesuaikan dengan karakter dan kondisi jalanan di dalam negeri.

Teknologi itu dibuat untuk sistem penggerak mesin dan telah dilengkapi Integrated Starter Generator (ISG) sebagai pengganti alternator konvensional guna memberikan dukungan tenaga pada mesin, sehingga dapat meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Teknologi SHVS juga dilengkapi Lithium Ion Battery yang dirancang untuk menyimpan tenaga yang dihasilkan oleh ISG dan akan digunakan ketika mesin membutuhkan dukungan tenaga. SHVS mencakup efisiensi bahan bakar, ringan, dan kompak sehingga merupakan sistem yang ideal untuk mobil-mobil kompak.

Cara kerja

Teknologi SHVS memiliki sistem kerja sederhana, diawali saat kendaraan berhenti serta pengemudi tidak menginjak pedal, gigi persneling pada posisi netral, kemudian secara otomatis kendaraan akan melakukan Engine Auto Stop yang berfungsi mematikan mesin, namun sistem kelistrikan tetap menyala.

Kemudian apabila pedal diinjak, secara otomatis ISG akan menyalakan kembali mesin kendaraan. Saat melakukan akselerasi awal, tenaga atau listrik yang tersimpan pada baterai akan memberikan dukungan tenaga pada mesin.

Ketika kendaraan dalam posisi melaju, tenaga atau listrik yang tersimpan pada baterai akan dialihkan pada komponen elektrik, seperti lampu, audio, air conditioner, serta multi-information display, sehingga kerja mesin hanya akan dipusatkan untuk menghasilkan tenaga.

Hal itu akan meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar serta meningkatkan performa saat berkendara.

Saat kendaraan deselerasi atau memperlambat laju, ISG secara otomatis mengubah energi kinetik pada putaran roda menjadi energi listrik yang akan mengisi daya baterai. Ketika mobil melakukan pengereman, pengisian daya listrik pada baterai akan semakin besar.

Apabila kendaraan melaju pada kecepatan 15km/jam hingga berhenti dan pengemudi memindahkan gigi ke posisi netral serta melepas pedal, maka secara otomatis kendaraan akan melakukan Engine Auto Stop dan mematikan mesin.

Pada saat mesin berhenti daya listrik yang disimpan pada baterai akan dialihkan pada komponen elektrik untuk tetap menjaga sistem kelistrikan tetap menyala. Siklus yang sama akan berulang lagi ketika pengemudi menjalankan kendaraannya.

Baca juga: PLN dukung kendaraan listrik mulai dari SPKLU hingga diskon TDL

Baca juga: Kendaraan listrik akan dibebaskan dari pajak kendaraan bermotor

Baca juga: Hyundai Nexo salah satu kendaraan paling aman di AS

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Pameran kendaraan listrik masa depan

Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (kanan depan) bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri depan) mengendarai motor listrik di arena Pameran Kendaraan Listrik Masa Depan, kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (31/8/2019). Kegiatan tersebut mengangkat tema Menuju Indonesia Bersih Udara dan Hemat Energi dengan Kendaraan Listrik. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Mobil listrik Renault debut di India pada 2022

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan otomotif Prancis Renault pada Kamis (29/8) mengumumkan akan merilis kendaraan listrik di India pada 2022, sehingga mereka menekankan kepada pemerintah agar lebih agresif dalam menyiapkan ekosistem pendukung kendaraan ramah lingkungan.

“Kami berpetualang ke arena mobil listrik. Anda pasti akan melihat sesuatu yang muncul pada 2022, tetapi sebelum saya mengatakan bahwa kami ingin masuk ke segmen mobil listrik, yang paling penting adalah ekosistem,” kata CEO dan Marketing Director Renault India, Venkatram Mamillapalle, dilansir Kantor Berita Press Trust India, Jumat.

Mamillapalle mengatakan India belum dilengkapi ekosistem mobil listrik, sehingga ia berpendapat belum waktunya Renault meluncurkan mobil listrik dalam waktu dekat.

“Mengucap janji yang salah jika kami akan meluncurkannya besok, kemudian mobil itu hanya berada di garasi secara tidak masuk akal,” katanya.

“Saya berharap pemerintah bekerja pada ekosistem dan saya yakin mereka sedang mengusahakannya. Kita perlu melihat dengan sangat agresif ekosistem dikembangkan sebelum ada mobil listrik yang terpaksa diluncurkan di India,” ujar dia.

Kendati demikian, Renault belum mengumumkan jenis kendaraan listrik yang akan beroperasi di India.

Saat ini, pabrikan lokal Tata Motors memiliki Tigor EV sebagai kendaraan listrik, sedangkan Mahindra menjual sedan listrik Verito. Baru-baru ini, perusahaan otomotif Korea Selatan, Hyundai, juga memperkenalkan SUV Kona berpenggerak listrik.

Pabrikan Jerman, Audi akan meluncurkan SUV E-tron listrik pada kuartal akhir 2019, dan BMW akan meluncurkan mobil listrik i3.

Baca juga: Renault Triber siap bersaing di pasar otomotif Indonesia

Baca juga: Triber akan diekspor ke pasar langganan Renault Kwid
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Curangi uji emisi, Volkswagen terancam denda dan pidana di Korsel

Jakarta (ANTARA) – Korea Selatan pada Selasa (20/8) mengumumkan akan menjatuhkan denda dan tuntutan pidana kepada Volkswagen dan Porsche karena memasang “perangkat terlarang” untuk mencurangi hasil emisi pada kendaraan diesel.

Kementerian Lingkungan Korea Selatan mengatakan, lebih dari 10.000 kendaraan Volkswagen dan Porsche yang dijual di Korea Selatan pada Mei 2015 hingga Januari 2018, diduga dilengkapi perangkat tersebut, menghasilkan emisi nitrogen oksida 10 kali lebih banyak daripada tingkat standar.

Baca juga: Kendaraan teruji emisi di Jakarta hanya lima persen

Sertifikasi hasil uji emisi pada delapan model — termasuk Audi A6, Volkswagen Touareg, dan Porsche Cayenne — akan dicabut dan para pembuat mobil bakal menghadapi denda 9,5 juta dolar AS, kata kementerian itu.

“Kami berencana untuk menangani secara tegas soal manipulasi emisi gas di masa depan,” kata seorang pejabat kementerian kepada wartawan.

Pengumuman itu dikeluarkan beberapa minggu setelah mantan bos eksekutif Audi, Rupert Stadler, dituduh melakukan penipuan dan terjerat kasus “perangkat kecurangan” untuk mengakali tes emisi pada 434.000 mobil Volkswagen, Audi dan Porsche.

Sebuah studi yang dirilis pada Maret 2017, mengatakan bahwa polusi 2,6 juta mobil Volkswagen yang dilengkapi perangkat tersebut dijual di Jerman, dan sebanyak lebih dari 410.000 pelanggan menuntut kompensasi.

Baca juga: Konsumsi BBM Mercy dan BMW tak sesuai hasil uji lab

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Antisipasi era mobil listrik, Mercy tinjau van bermesin diesel

Jakarta (ANTARA) – Daimler, induk perusahaan mobil mewah Mercedes Benz, meninjau keberlanjutan produk jenis van setelah penjualan mereka menurun akibat keraguan konsumen terhadap masa depan mesin diesel, di tengah perkembangan mobil listrik, kata eksekutif Mercedes-Benz Marcus Breitschwerdt dilansir Reuters, Selasa (20/8).

Breitschwerdt memprediksi akan terjadi pergeseran produk dari van bermesin diesel ke van berpenggerak listrik dengan populasi 15 sampai 25 persen pada 2025.

“Untuk mengoptimalkan kinerja kami, yang juga berarti meninjau dan menyelaraskan kembali orientasi strategis kami,” kata Breitschwerdt, pada peluncuran van listrik Mercedes-Benz.

“Kami melihat apa yang kami miliki dan apa yang bisa kami dapatkan,” kata Breitschwerdt, seraya menambahkan bahwa pickup kelas menengah X-Class juga tidak menghasilkan volume penjualan yang diharapkan perusahaan.

Breitschwerdt mengatakan bahwa divisi mobil van memiliki lapisan manajemen yang tidak efisien sehingga perusahaan terpaksa merampingkan jumlah pegawai demi efisiensi.

Divisi van Daimler saat ini mempekerjakan 26.000 staf.

Sebelumnya, Mercedes-Benz meluncurkan van listrik EQV yang dapat menjelajah sejauh 400 kilometer dengan kemampuan mengisi daya baterai hingga 80 persen selama 45 menit.

Mercedes-Benz EQV akan didistribusikan ke diler pada awal 2020.

Baca juga: Mercedes-Benz S-Class 2020 tertangkap kamera saat diuji

Baca juga: Mercedes-Benz B-Class generasi ketiga lebih ramah keluarga?
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Gemopai Ryder, skuter listrik yang bisa diisi daya dari laptop

Jakarta (ANTARA) – Sebuah startup di India mampu memecahkan masalah minimnya infrastruktur pengisian daya baterai kendaraan listrik dengan menciptakan skuter berbaterai portabel dan ringan yang bahkan bisa diisi ulang (charge) dari laptop.

Diluncurkan pada Oktober 2018, Gemopai Ryder adalah roda dua listrik yang memecahkan dua kekhawatiran kritis konsumen India yang ingin beralih dari kendaraan bertenaga bahan bakar fosil ke kendaraan ramah lingkungan.

Baca juga: Harley-Davidson serius garap skuter listrik

Gemopai Ryder adalah gagasan dari Gemopai Electrics, perusahaan patungan antara Goreen E-Mobility, startup yang berbasis di Delhi dan Opai Electric, raksasa di ruang kendaraan listrik (EV) dengan lebih dari 15 tahun pengalaman menjual lebih dari 15 juta skuter listrik di seluruh dunia.

Ryder ditenagai dengan baterai ion lithium, dan dipasarkan dengan harga di bawah 60.000 rupee. Dengan lebih dari 50 dealer di seluruh negeri, Gemopai Electric sudah membuat perbedaan nyata dalam mobilitas hijau.

Gemopai Ryder merupakan skuter listrik bertenaga baterai lithium ion–yang bisa dilepas–pertama dan mampu menempuh perjalanan 90 km untuk satu kali pengisian penuh, kata Amit Raj Singh, pendiri Gemopai Electric, dikutip dari The Better India, Selasa.

Gemopai Ryder tersedia dalam lima warna dan dilengkapi dengan berbagai pilihan aksesori untuk pasar India. Spesifikasi skuter tambahan yang termasuk dalam opsi mobilitas Gemopai adalah suspensi hidrolik, rem cakram, speedometer digital, lampu LED, entri tanpa kunci, alarm anti-pencurian, dan pengisian daya USB mobile.

Baca juga: Kymco tatap peluang skuter listrik di Indonesia

Ada kekhawatiran nyata mengenai kendaraan listrik, yakni tentang waktu yang diperlukan baterai untuk mengisi dan tidak tersedianya pengisian terutama mengingat infrastruktur pengisian yang sangat tidak memadai di India.

Ketika negara ini berjuang dengan menyediakan infrastruktur pengisian untuk EV, produsen roda dua listrik beralih ke baterai yang dapat dilepas untuk memudahkan proses pengisian.

“Pertanyaan utama yang dimiliki konsumen saat ini tentang skuter listrik adalah baterai. Oleh karena itu, dengan membuat baterai di skuter kami dapat dilepas, kecil, dan sangat efisien, adalah masalah pertama yang kami coba pecahkan ketika kami meluncurkan Ryder.”

“Baterai kami ringan, tetapi kuat, baterai lithium-ion yang portabel dan dapat diisi saat Anda bepergian. Kami juga berencana untuk meluncurkan dua skuter listrik dalam bulan ini untuk menambah portofolio kami,” kata Singh.

Pengguna dapat mengisi baterai hanya dalam empat jam dan skuter ini dapat mencapai kecepatan tertinggi 25 km per jam. Baterai ini dapat diisi di rumah dan di laptop juga.

“. . . kedatangan baterai yang dapat dilepas telah meningkatkan kenyamanan bagi pengguna karena dapat diisi ulang di mana saja, misalnya, di dalam rumah, tanpa perlu kendaraan hadir. Ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga menghemat kerja ekstra untuk menemukan stasiun pengisian daya,” jelas Singh menambahkan.

Baca juga: Sepeda listrik Lyft ditangguhkan karena kebakaran baterai

Baca juga: Mau bersepeda gratis dengan “Gowes”? Begini caranya

Pewarta: S026
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Shell buka gerai pengisian daya listrik pertama di Asia Tenggara

Jakarta (ANTARA) – Shell membuka gerai pengisian daya kendaraan listrik pada beberapa pompa bensin di Singapura, diklaim menjadi perusahaan pertama yang membuka fasilitas itu di Asia Tenggara, dilansir Reuters, Senin.

Layanan pengisian kendaraan listrik bernama “Shell Recharge” itu akan tersedia di 10 pompa bensin Shell Singapura pada Oktober tahun ini, atau 20 persen dari jaringan ritel di negara itu, kata perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Fasilitas pengisian daya itu dapat mengisi kendaraan listrik dari 0 persen hingga 80 persen hanya dalam waktu 30 menit, dan diklaim dapat digunakan untuk seluruh merek mobil listrik yang dijual di Singapura.

Menurut riset Shell tentang perilaku konsumen, sebesar 52 persen responden yang terdiri orang Singapura merasa terhalang untuk membeli atau menggunakan mobil listrik karena belum tersedianya stasiun pengisian di Singapura.

“Untuk memenuhi tujuan iklim negara itu, Singapura membutuhkan lebih banyak dan solusi energi yang lebih bersih untuk menghidupkan lingkungan, bisnis dan transportasi secara berkelanjutan,” kata Pimpinan Shell Singapura Aw Kah Peng.

Aw Kah Peng menambahkan Shell akan terus mengembangkan teknologi ramah lingkungan untuk Singapura dan negara lainnya.

Baca juga: Cara Shell ekspansi jaringan pengisian daya kendaraan listrik
 

Pewarta: A069
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

DKI Jakarta mau pakai bus listrik? Tengok penerapannya di Shenzhen

Jakarta (ANTARA) – DKI Jakarta akan menjadi kota acuan di Indonesia dalam menerapkan transportasi terelektrifikasi yang bakal dimulai dari transportasi umum, misalnya bus Transjakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun sudah menghadap Presiden Joko Widodo guna membahas penerapan mobil listrik hingga Formula E di Ibu Kota, menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo pada pekan lalu yang mendorong DKI Jakarta agar memberikan insentif kepada masyarakat yang ingin membeli kendaraan listrik, termasuk pada armada bus maupun taksi bertenaga listrik.

“Mobil listrik juga dibahas, justru karena obrolin Formula E, kita obrolin mobil listrik dan rencana DKI bahwa semua kendaraan angkutan umum baru di Jakarta, bus-bus itu, akan bertenaga listrik,” kata Anies di depan Wisma Negara dalam kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (13/8).

“(Bus listrik) untuk Transjakarta sedang dalam proses, tapi Transjakarta tidak mengadakan bus, kita membeli jasa. Busnya adalah dari perusahaan-perusahaan swasta. Perusahaan-perusahaan itu diharuskan menggunakan bus bertenaga listrik,” jelas Anies.

Sebelum memikirkan bagaimana cara Transjakarta bertransformasi menjadi kendaraan listrik, Anda bisa menengok China yang sukses mengoperasikan transportasi massal tanpa mesin bakar itu di kota Shenzhen.

Dilansir City Lab, dari 425.000 layanan bus listrik yang beroperasi di dunia, 99 persen di antaranya berada di China, didorong upaya kota industri Shenzhen untuk mengurangi polusi. Perusahaan dan pabrik di kota itu secara bertahap mengoperasikan bus listrik sebagai armada utama dalam beberapa tahun belakangan.

Dilansir Guardian, Shenzhen yang menyandang gelar Kota Nelayan hingga 1980, menjelma jadi zona industri yang berpolutan, sehingga pemerintah berharap pengoperasian bus listrik dapat memangkas 48 persen emisi CO2 pada 2020. Grup Bus Shenzhen bahkan menaksir mampu menghemat 160.000 ton batubara per tahun dan mengurangi emisi CO2 tahunan hingga 440.000 ton.

Awalnya, pengoperasian bus listrik mencemaskan sejumlah kalangan, misalnya orang tua dengan anak-anak atau lansia, karena bus listrik tanpa mesin bakar — bergerak dengan motor listrik — berjalan senyap sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan yang tidak mendengar suara mesin. Apalagi lalulintas di China juga padat.

“Faktanya, kami menerima permintaan untuk membuat suara buatan pada bus sehingga orang dapat mendengarnya. Kami mempertimbangkannya, ” kata Joseph Ma, wakil manajer umum Grup Bus Shenzhen, dilansir Guardian

“Dengan bus diesel saya ingat berdiri di halte dan kepanasan, kebisingan, dan emisi yang mereka hasilkan membuatnya tidak tertahankan di musim panas,” kata Ma. “Bus listrik telah membuat perbedaan yang luar biasa.”

Penerapan bus listrik di Shenzhen juga tidak mudah karena harga armada bus yang mencapai 208.000 euro (Rp3,3 miliar) per unit. Untuk itu, pemerintah menerapkan subsidi kepada pembeli kendaraan listrik.

“Biasanya, lebih dari setengah harga bus disubsidi oleh pemerintah,” kata Ma, kemudian menambahkan ada subsidi tambahan apabila bus-bus itu telah beroperasi sejauh 60.000 km.

“Pemerintah memandang angkutan umum begitu penting sebagai dari kesejahteraan sosial,” kata dia.

Setelah memberikan subsidi, pemerintah kota kemudian menyediakan titik pengisian daya listrik seantero kota Shenzhen, dengan menggandeng perusahaan pengelola bus. Totalnya ada 180 terminal pengisian dengan terminal Futian menjadi yang terbesar karena dapat mengisi daya 20 bus secara berbarengan.

Setelah ekosistem kendaraan listrik siap, mulai dari kebijakan pemerintah kota, fasilitas, produk hingga subsidi, Kota Shenzhen kemudian mengembangkan pengoperasian kendaraan listrik pada armada taksi, yang kini sudah berjumlah 22.000 unit.

“Untuk armada taksi, kami tidak terlalu memusingkan titik pengisian listrik, karena taksi rutenya tidak tetap dan bisa melintasi semua tempat,” kata dia.

Hingga saat ini, setidaknya ada 30 kota di China yang menggunakan angkutan umum terelektrifikasi. Namun sayangnya, pemerintah berencana mengurangi subsidi pembelian kendaraan listrik karena harganya kini semakin mahal.

Baca juga: Organda dukung penerapan bus listrik Jabodetabek

Baca juga: Penerapan bus listrik Transjakarta masih terkendala regulasi

Baca juga: Anies melakukan pra uji coba bus listrik dari Transjakarta
 

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

B30 lolos uji “start ability”, kendaraan menyala kurang dari 2 detik

Wonosobo (ANTARA) – Bahan bakar B30 berhasil lolos uji kemampuan menghidupkan mesin kendaraan (start ability), yakni kurang dari dua detik pada mobil yang tidak digunakan selama 21 hari.

“Dari Gaikindo menyampaikan bahwa waktu maksimal untuk menyalakan kendaraan yang dites ini harus kurang dari lima detik, namun tadi semua di angka satu detik,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM), Dadan Kusdiana di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu.

Hasil itu didapat dari pengujian terhadap tiga kendaraan, yang dilakukan di dataran tinggi Dieng. Uji pada unit mobil pertama menggunakan bahan bakar solar murni (B0) dengan suhu di lokasi sekitar 15 derajat Celsius. Kendaraan itu mampu menyala dalam waktu 1,05 detik.

Baca juga: Bio-solar B30 sukses diuji pada suhu dingin Dieng

Berlanjut ke uji kendaraan kedua menggunakan bahan bakar B30 dengan kadar monogliserida 0,4 persen. Suhu lokasi sekitar 17,3 derajat Celsius dan kendaraan menyala dalam waktu 1,18 detik.

Pengujian pada mobil ketiga, mencatatkan hasil mengesankan dengan memakai B30, kadar monogliserida 0,55 persen. Hanya butuh 0,997 detik saja bagi kendaraan untuk menyala.

“Jadi dengan hasil ini kita akan menjalankan program B30 dengan kandungan monogliserida 0.55,” kata Dadan.

Pengujian di lokasi dataran tinggi dengan suhu dingin itu dilakukan untuk memastikan kemampuan dan ketahanan bahan bakar B30.

Baca juga: Tahapan uji coba bahan bakar B30 berakhir Oktober 2019
 

Pewarta: KR-CHA
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2019

Nissan pastikan mobil listrik Leaf masuk Indonesia sesuai rencana awal

Jakarta (ANTARA) – Nissan Motor Indonesia tidak mau terburu-buru memboyong model mobil listriknya, Nissan Leaf ke Indonesia, melainkan sesuai rencana awal pada 2020, kendati Presiden Joko Widodo telah menandatangani peraturan soal mobil listrik.

“Tetap seperti semula, Nissan Leaf masuk ke Indonesia pada 2020, saya belum ada informasi akan dipercepat atau tidak, terkait peraturan kita pelajari dulu nanti kita lihat seperti apa,” kata Head of Communications PT Nissan Motor Indonesia, Hana Maharani di Jakarta, Jumat.

Setelah mempelajari Peraturan presiden soal mobil listrik itu nantinya baru Nissan bisa menjelaskan waktu yang tepat membawa mobil listriknya ke Indonesia, jumlah serta ekosistem elektrik sebagai sarana pendukung.

“Di kesempatan selanjutnya kita akan menjelaskan lebih soal mobil listrik ini, yang jelas saat ini kita sudah memperkenalkan Nissan Leaf, waktu kita hadirkan di GIIAS 2019 dan Indonesia Electric Motor Show 2019 pada September mendatang,” katanya.

Sejak 2010, Nissan Leaf sudah terjual sekitar 400.000 unit, dan menjadi model kendaraan listrik murni terlaris di dunia.

Pasa 2019 ini Nissan mulai memperkenalkan kendaraan listrik itu ke Australia, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, dan Malaysia.

Kemudian, pada 2020 Nissan Leaf akan merambah pasar Indonesia dan Filipina, hal tersebut kata Nissan juga sebagai komitmen mereka mendorong mobilitas terelektrifikasi di Asia Tenggara.

Baca juga: Nissan transformasi empat diler di Jabodetabek

Baca juga: Tanggapan pabrikan otomotif terkait aturan mobil listrik

Baca juga: Dacia Duster 2020 mendapatkan mesin baru yang lebih ekonomis

Pewarta: SDP-107
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Tanggapan pabrikan otomotif terkait aturan mobil listrik

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik yang bertujuan mendorong perusahaan otomotif agar mempersiapkan industri mobil listrik di Indonesia.

Presiden Jokowi berharap DKI Jakarta bisa memulai penerapan kendaraan elektrifikasi dengan memberikan insentif kepada pengguna mobil listrik, misalnya parkir gratis atau subsidi pembelian.

“Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dolar untuk membeli mobil listrik. Dan (bisa) dimulai seperti di Jakarta, busnya, mendorong taksi-taksinya. Bisa saja motor listrik didorong, digunakan di DKI Jakarta dulu,” kata Jokowi usai peresmian gedung baru ASEAN di Jakarta, Kamis (9/8).

Menyikapi hal itu, sejumlah pabrikan memberikan tanggapan positifnya, kendati mereka juga tidak mau terburu-buru menuju ke sana, karena ada proses studi yang harus dijalani.

“Kami melihat hal ini sebagai langkah perkembangan industri otomotif Indonesia yang positif. Dengan adanya peraturan tersebut dapat memberikan dukungan dalam pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air,” kata Senior Brand Manager Wuling Indonesia, Dian Asmahani, kepada Antara, Jumat.

Dian mengatakan bahwa Wuling, di negara asalnya China, sudah memiliki model listrik yang dipasarkan.

“Kami sudah memiliki platform kendaraan listrik seperti E200 dan E100. Namun, untuk membawanya ke pasar Indonesia, kami tetap harus melakukan studi atau riset pasar terlebih dahulu, sebagaimana yang selalu kami lakukan dalam menghadirkan produk baru di Indonesia,” jelas Dian.

Sebelum Perpres itu diteken Presiden Joko Widodo, sejumlah pabrikan juga sudah mempersiapkan diri menuju era elektrifikasi di Indonesia. Namun, mereka juga berharap pemerintah menyiapkan infrastrukur guna mempercepat penerimaan produk itu untuk masyarakat.

“Pastinya DFSK akan mendukung ke mana arah pasar yang didukung pemerintah,” kata CO-CEO PT Sokonindo Automobil Alexander Barus, beberapa waktu lalu.

DFSK pun menyatakan siap memasarkan kendaraan listrik di Indonesia setelah kebijakan dan infrastruktur rampung.

“DFSK mengatakan sudah siap untuk memasarkan mobil listrik Glory E3 di Indonesia. Tinggal menunggu regulasi dari pemerintah, baik dari kebijakan dan juga infrastrukturnya,” kata Head of Marketing Team Sokonindo Automobile, Major Qin, belum lama ini.

Pabrikan Jepang, misalnya Toyota, Honda, Nissan dan Mitsubishi bahkan sudah memasarkan mobil ramah lingkungan. Mobil hybrid Toyota pun sudah terlihat melintas di jalanan, misalnya Camry Hybrid, Alphard Hybrid dan C-HR.

Mitsubishi juga resmi menjual Outlander PEHV, setelah mereka memberikan 10 unit mobil listrik kepada pemerintah untuk keperluan riset. Sedangkan Nissan menjual Xtrail Hybrid, adapun Honda pernah menjual Civic Hybrid dan CRZ.

Selain itu, Suzuki Indonesia juga mengatakan pabrikan berlogo huruf S itu memiliki kendaraan ramah lingkungan, Swift Hybrid, namun belum bisa dipastikan apakah model itu akan masuk Indonesia.

“Teknologinya kami punya untuk mobil ramah lingkungan, tapi tahun ini kami rasa belum saatnya untuk munculkan itu,” Kepala Pengembangan Produk dan Aksesoris Roda Empat PT SIS, Yulius Purwanto, beberapa waktu lalu.

“Full hybrid ada, tahun lalu ada Swift Hybrid itu salah satu yang kami punya dari ramah lingkungan. Swift itu dari Jepang, di India juga ada,” katanya. “Studi sedang berjalan, maka kami tunggu regulasinya.”

Terkait keringanan mobil listrik, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah akan memberi insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan bertenaga listrik berdasarkan tingkat kadar emisi.

“Insentifnya apabila itu ‘full electric, atau ‘fuel cell’ yang emisinya 0, (maka) PPnBm-nya 0,” kata Airlangga ditemui di Istana Negara, Jakarta pada Rabu.

Pemerintah dalam Perpres mobil listrik juga mengatur penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri kendaraan listrik, sebesar 35 persen, kemudian akan dinaikkan pada periode berikutnya.

Baca juga: Perpres mobil listrik diteken, industri dipacu bentuk strateginya

Baca juga: Jakarta diminta bersiap hadapi konversi ke mobil listrik

Baca juga: Intip insentif mobil listrik di berbagai negara

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Intip insentif mobil listrik di berbagai negara

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik dengan tujuan mendorong perusahaan otomotif agar mempersiapkan mobil listrik di Tanah Air.

Presiden Jokowi berharap DKI Jakarta bisa memulai penerapan kendaraan elektrifikasi dengan memberikan insentif kepada pengguna mobil listrik, misalnya parkir gratis atau subsidi pembelian.

“Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dolar untuk membeli mobil listrik. Dan (bisa) dimulai seperti di Jakarta, busnya, mendorong taksi-taksinya. Bisa saja motor listrik didorong, digunakan di DKI Jakarta dulu,” kata Jokowi usai peresmian gedung baru ASEAN di Jakarta, Kamis.

Perpres yang diteken Joko Widodo pada Senin (5/8) juga mengatur penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 35 persen sehingga dapat menekan harga jual produk kendaraan listrik dan terjangkau bagi masyarakat.

Sejumlah negara telah menerapkan skema insentif atau subsidi untuk pengguna kendaraan ramah lingkungan, baik itu keringanan pajak hingga potongan harga beli untuk kendaraan baru. Berikut ulasan singkatnya:

Baca juga: Presiden berharap produk kendaraan elektrik Tanah Air lebih murah

Amerika Serikat

Di lansir Times, setidaknya lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat menerapkan insetif untuk mobil listrik. Nilai dan jenisnya pun bervariasi, New York, misalnya, menawarkan insentif 2.000 dolar AS (Rp29 juta) dengan tambahan diskon 10 persen biaya tol.

California menawarkan insentif 5.000 dolar AS (Rp71 juta) dan tambahan 3.000 dolar AS (Rp42,6 juta) apabila mobil listrik itu digunakan di wilayah itu. Adapun Colorado menawarkan insentif hingga 20.000 dolar AS (Rp284,3 juta) yang tergantung jenis kendaraan dan penggunaannya.

China

China sebagai pasar kendaraan listrik terbesar dunia — lebih dari 1 juta unit menurut EV-Volumes.com — menawarkan insentif 50.000 yuan (Rp101 juta), kendati menurut warta Bloomberg insentif itu akan dipangkas setengahnya menjadi 25.000 yuan.

Subsidi itu, menurut Bloomberg, menjadi pendorong penjualan mobil ramah lingkungan di China. Angka penjualan yang menarik itu juga mendorong perusahaan otomotif berinovasi menciptakan teknologi baru.

Baca juga: Sedang diuji coba, mobil listrik Blits buatan ITS singgah di Mataram

Kanada

Pasar otomotif Kanada mengalami kenaikan penjualan mobil “hijau” sebesar 30 persen berkat penerapan insentif 5.000 dolar AS oleh pemerintah sejak Maret 2019.

Kanada serius memberikan insentif karena ingin seluruh mobil yang terjual pada 2040 merupakan kendaraan berpenggerak listrik, menurut Green Car Report.

Norwegia

Hampir 60 persen kendaraan baru yang terjual di Norwegia pada Maret 2019 adalah berpenggerak listrik, menurut Forbes, yang didominasi penjualan Tesla Model 3, Nissan Leaf, dan Volkswagen Golf.

Insentifnya bukan uang semata, melainkan penghapusan pajak pembelian hingga fasilitas menggunakan jalur khusus bus dan keringanan biaya tol untuk pengguna mobil listrik.

Sementara, Indonesia belum memberlakukan insentif mobil listrik sehingga harga jual produk itu masih tinggi, misalnya Tesla Model X dan Mercedes E300 yang mencapai harga di atas Rp2 miliar. Sedangkan mobil listrik dengan kisaran harga Rp1 miliar antara lain Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota Alphard hybrid, dan BMW i3.

Baca juga: Menperin sebut insentif mobil listrik tergantung emisi

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Sedang diuji coba, mobil listrik Blits buatan ITS singgah di Mataram

Mataram (ANTARA) – Rombongan Tim PLN Blits ITS Explore Indonesia 2019 dari Institut Teknologi Surabaya (UTS) singgah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah melakukan pengujian perjalanan prototipe mobil listrik dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTB), Selasa.

Sebanyak enam anggota tim yang membawa prototipe mobil listrik yang dinamakan Alap-Alap diterima oleh Senior Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Unit Induk Wilayah NTB, Chairuddin, beserta jajarannya.

Anggota Tim PLN Blits ITS Explore Indonesia 2019, Juniono Raharjo, menjelaskan perjalanan pengujian mobil listrik tersebut dimulai sejak Oktober 2018 dengan rute Surabaya-Jakarta, kemudian dilanjutkan ke Sumatera, Sabang, Sulawesi, hingga Merauke.

Kemudian perjalanan uji coba etape keenam dimulai dari Labuan Bajo, NTT, menuju Sape, Kabupaten Bima hingga Kota Mataram, NTB, dan akan dilanjutkan menuju Bali pada Rabu (7/8/2019).

“Pengujian perjalanan prototipe mobil listrik tersebut dilakukan bekerja sama dengan PLN sebagai penyedia energi melalui Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang ada di setiap daerah yang disinggahi,” kata Juniono, mahasiswa program pascasarjana Fakultas Teknik Mesin ITS.

Yoga Uta Nugraha, yang juga anggota Tim PLN Blits ITS Explore Indonesia 2019 menambahkan tidak ada kendala berarti selama dalam perjalanan, hanya ada beberapa baut yang perlu dikencangkan.

Baterai mobil yang berisikan energi listrik juga masih tetap bagus, meskipun sudah menempuh perjalanan jauh sejak 2018.

Ia menyebutkan energi listrik yang tersimpan dalam baterai berkapasitas 20 kilo Watt hours (kWh) yang bisa tahan hingga jarak tempuh 150 kilometer. Setelah menempuh jarak tersebut, baterai harus diisi dalam jangka waktu 3-4 jam di SPLU.

“Kalau untuk pengisian energi baterai tidak ada kendala sama sekali, karena fasilitas SPLU milik PLN sudah ada di mana-mana, termasuk di wilayah paling timur NTB, yakni Kecamatan Sape, Kabupaten Bima,” ujar mahasiswa program pascasarjana ITS itu.

Yoga menyebutkan prototipe mobil listrik yang sedang diuji coba merupakan kendaraan bermotor ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan bakar minyak yang menghasilkan polusi di udara. Selain itu, tidak menimbulkan suara bising mesin dan tanpa knalpot.

Prototipe mobil listrik yang diciptakan juga efisien dibandingkan menggunakan bahak bakar minyak. Sebab jarak tempuh sepanjang 150 kilometer hanya membutuhkan Rp30.000 dengan asumsi harga listrik Rp1.500 per kWh dikali daya baterai sebesar 20 kWh.

“Kalau menggunakan bahan bakar minyak jenis Pertalite dengan harga total harga Rp30.000, katakanlah untuk lima liter, hanya menempuh jarak 45 kilometer,” ucap Yoga.

Sementara itu, Senior Manajer Niaga dan Pelayanan Pelanggan PLN Unit Induk Wilayah NTB,Chairuddin mengatakan kampanye penggunaan mobil listrik merupakan program nasional.

Oleh sebab itu, pihaknya sangat mendukung uji coba perjalanan keliling Indonesia prototipe mobil listrik hasil karya anak bangsa, yakni mahasiswa ITS.

“PLN mendukung secara korporasi dalam hal berbagi teknologi selain sebagai sponsor. Kami juga mendukung kesiapan dari sisi ketersediaan energi listrik melalui SPLU untuk menjamin kelancaran selama perjalanan uji coba,” katanya.

Pewarta: KR-WLD
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019

Sepeda listrik Lyft ditangguhkan karena kebakaran baterai

Jakarta (ANTARA) – Penggunaan sepeda listrik (e-Bike) milik perusahaan startup Lyft terpaksa ditangguhkan menyusul laporan dua kasus kebakaran baterai di San Francisco, AS.

“Keselamatan pengendara adalah perhatian utama kami, kami sementara menangguhkan armada e-Bike kemudian menyelidiki dan memperbarui teknologi baterai kami,” demikian cuitan Lyft Baywheels, dilansir AFP, Minggu.

“Terima kasih kepada pengguna kami atas kesabarannya, dan kami berharap bisa segera menyediakan e-Bike kembali,” katanya.

Baca juga: Alphabet Google dikabarkan merapat ke Lyft

Kasus kebakaran sepeda listrik itu terjadi dua kali dalam sepekan terakhir.

Lyft pada awal tahun ini mengganti nama e-Bike, dengan namanya sendiri sebagai strategi branding dalam menyediakan transportasi ramah lingkungan di perkotaan.

Lyft maupun Uber, sama-sama mengoperasikan sepeda dan skuter listrik, mengajak masyarakat kota meninggalkan mobil kemudian beralih menggunakan moda transportasi tanpa emisi itu.

Baca juga: Armada swakemudi Lyft sudah bisa melayani pesanan di Amerika

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

VW punya teknologi robot pengisian mobil listrik di AS

Jakarta (ANTARA) – Volkswagen Electrify America mengumumkan pada Kamis (1/8), telah meneken perjanjian kerja sama dengan penyedia stasiun daya mobil listrik Stable Auto, guna menyediakan sistem pengisian berteknologi robot untuk mobil swakemudi.

Perusahaan mengatakan bahwa proyek percontohan itu akan dimulai di San Francisco sehingga fasilitas stasiun pengisian daya listrik dapat dibuka pada awal tahun depan.

Melalui teknologi itu, mobil swakemudi dapat mengisi daya listrik tanpa bantuan operator untuk menyambungkan sumber listrik pada lubang konektor di mobil.

Berdasarkan perjanjian itu, Electrify America yang berbasis di Virginia bertanggung jawab pada unit perangkat keras, jaringan, operasional, dan penagihan biaya dari sistem pengisian.

Adapun pihak Stable Auto akan mengelola stasiun pengisian secara keseluruhan, termasuk menjadwalkan pembaruan perangkat lunak dan perawatan teknologi robotik dengan pihak Electrify America yang berada di bawah naungan VW.

General Motors (GM), pabrikan mobil Amerika, juga sudah mengumumkan rencana investasi bernilai puluhan miliar dolar untuk kendaraan listrik selama beberapa tahun ke depan, guna menyaingi Tesla.

Baca juga: Berambisi ke pasar global, Waymo gandeng Nissan dan Renault

Baca juga: Ford-Volkswagen umumkan aliansi global mobil listrik dan swakemudi

Baca juga: Hyundai-Kia akan pakai teknologi radar dan kamera Driver Aurora

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Gejala kendaraan penghasil emisi gas buang berbahaya

Jakarta (ANTARA) –

Salah satu yang diyakini jadi penyebab polusi adalah emisi gas buang kendaraan, bahkan Pemerintah DKI Jakarta bergerak cepat dengan mewacanakan rencana mewajibkan kendaraan untuk melakukan uji emisi pada tahun 2020 nanti.

Sebenarnya, tanpa aturan tersebut pengguna kendaraan seharusnya sadar untuk memastikan kendaraannya bebas dari bahaya emisi gas buang, manfaatnya tidak hanya bagi orang lain tetapi juga demi kepentingan kesehatan sendiri maupun keluarga.

Cara termudah untuk memastikan mobil atau motor kita tidak menjadi salah satu penyumbang racun yang bertebaran di udara yakni dengan mengunjungi bengkel resmi atau bengkel profesional lainnya yang memiliki alat uji emisi.

“Tapi kalau belum ada waktu untuk ke bengkel, kita sendiri bisa mengira-ngira dengan cara sederhana apakah kendaraan kita memiliki emisi gas buang yang buruk,” kata Kepala bengkel Carfix karawaci, Mardian Alfan, di Jakarta, Rabu.

Berikut ini merupakan cara sederhana mengecek apakah kendaraan kita ikut menjadi penghasil karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) atau hidro karbon (HC).

Cara pertama menurut Mardian yaitu dengan mengecek pengapian dan bunyi suara kendaraan, jika ada sesuatu yang ganjil bisa jadi menyebabkan kinerja mesin dan pembakaran tidak sempurna.

Kemudian, pengendara juga bisa merasakan tenaga dari mobil atau motor mereka, biasanya yang memiliki gas buang buruk tenaganya lebih lemah dari kendaraan bermesin sehat.

“Dari kenalpotnya akan keluar asap dengan warna keruh, atau kalaupun tidak mengeluarkan asap maka mengeluarkan bau berlebih,” kata dia.

Kendaraan yang tidak sehat juga terlihat dari konsumsi bahan bakarnya, biasanya kendaraan lebih boros BBM dari biasanya.

Mobil atau motor dengan gas buang berbahaya kata dia memiliki temperatur mesin yang lebih cepat panas saat dikendarai.

“Kalau menemukan salah satu gejala tersebut sebaiknya segera servis. Sebaiknya kendaraan harus masuk perawatan rutin berkala agar nantinya tidak membuat kita terpaksa menyiapkan dana besar untuk perbaikan,” ujarnya.

Baca juga: Dirjen: Kendaraan bermotor harus didorong berstandar emisi Euro 6

Pewarta: SDP-107
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Mantan pegawai Tesla dirikan unicorn sendiri, jadi pemasok Daimler

Jakarta (ANTARA) – Gene Berdichevsky merupakan seorang tim awal Tesla, perusahaan Amerika Serikat pembuat kendaraan luar angkasa dan mobil listrik beserta baterai dan teknologinya.

Berdichevsky sekarang membangun startup unicorn sendiri, Sila Nanotechnologies, setelah ia meninggalkan perusahaan saat Tesla memiliki 300 karyawan, bertambah 30 kali dalam empat tahun. Tesla sekarang memiliki lebih dari 45.000 karyawan dengan nilai kapitalisasi pasar 40 miliar dolar atau sekira Rp560,4 triliun, mengutip laporan Forbes, Senin.

Sila Nanotechnologies yang dipimpinnya sekarang telah memiliki valuasi lebih dari 1 miliar dolar, dan ketika menjadi tamu di Dealmakers Podcast, ia berbagi mengenai pengembangan mobil solar pertamanya serta bagaimana ia meningkatkan ratusan juta dolar untuk nilai perusahaan rintisannya.

Ia dilahirkan di Laut Hitam di Ukraina, menghabiskan waktu di St. Petersburg, Rusia, dan bahkan tinggal di utara lingkaran arktik selama lima tahun, sebelum kemudian mendarat dengan keluarganya di Richmond, Virginia, dan berkuliah di California.

Dalam tahun pertamanya di Stanford, ia terlibat dalam proyek mobil tenaga surya. Para siswa berlomba membangun mobil bertenaga surya dan mengkompetisikan mobilnya dikendarai menempuh jarak 2.300 mil, dari Chicago ke Los Angeles.

Berdichevsky melanjutkan, untuk mendapatkan gelar master di bidang teknik energi dari Stanford. Sebenarnya tidak ada program seperti itu pada saat itu. Jadi, dia menyusun kurikulumnya sendiri. Dia menekuni materi fisika semikonduktor, mekanika kuantum, dan Matahari.

Baca juga: Penjualan Tesla naik, tapi masih rugi 408 juta dolar

Gene kemudian menjadi karyawan Tesla ketujuh sebagai pemimpin teknologi untuk pengembangan arsitektur sistem baterai. Banyak tantangan pada awal-awal untuk Tesla. Mereka memulai penelitian dan pengembangan baterai dari baterai laptop untuk membuat paket baterai mobil listrik.

Kini, perusahaan rintisannya, Sila Nanotechnologies mengembangkan teknologi baterai untuk kendaraan listrik, elektronik konsumen, hingga kelistrikan pesawat terbang.

Pada 16 April lalu, perusahaan otomotif Jerman Daimler AG memimpin investasi 170 juta dolar di Sila Nanotechnologies, yang telah mengembangkan pengganti bahan silikon untuk grafit dalam baterai lithium-ion dan mampu meningkatkan kapasitas baterai sebesar 20 persen.

Bahan-bahan yang dikembangkan Sila akan memberikan komitmen elektrifikasi dari Daimler, karena Mercedes-Benz pada 2022 berencana memproduksi kendaraan yang seluruhnya bertenaga listrik.

Baca juga: BAIC China miliki 5 persen saham Daimler

Baca juga: Daimler tarik Mercedez GLK 220 sebanyak 60.000 di Jerman

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Punya mobil listrik? Hindari tiga hal ini

Tangerang, Banten (ANTARA) – Pemilik kendaraan listrik memang mendapatkan pengalaman mengemudi baru saat menggunakan mobil ramah lingkungan, mulai dari hemat biaya, tidak perlu antre mengisi BBM hingga laju kendaraan yang senyap karena bergerak menggunakan motor listrik.

Namun, bagi pemilik mobil ramah lingkungan seperti Mitsubishi Outlander PHEV, harus memperhatikan tiga hal utama untuk menjaga daya tahan baterai, antara lain lokasi parkir, pola pengisian dan sikap saat menerjang banjir.

Pertama, pemilik Outlander PHEV disarankan untuk memarkir kendaraan di lokasi teduh, atau tidak terpapar panas matahari.

Baca juga: Menkeu: Insentif pajak mobil listrik diteken Presiden pekan ini

“Karena di mobil ada baterai, pada PHEV terletak di bawah. Maka akan lebih baik jika parkir tidak di bawah sinar matahari langsung,” kata Head Technical Service CS Suport Departemen PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Boediarto, di GIIAS 2019.

Kedua, jangan memaksakan diri untuk melibas banjir apabila ketinggiannya melewati setengah ukuran ban mobil.

“Kalau banjir, perlakuannya sama seperti yang bukan PHEV. Setengah ukuran ban adalah titik paling tinggi kalau kena air. Kalau lebih jangan diterusin,” kata dia.

Ketiga, biasakan menggunakan mode pengisian normal selama semalaman melalui instalasi rumah, dan menghindari metode quick charging jika tidak diperlukan.

“Memang yang dianjurkan untuk maintain kondisi baterai adalah dengan normal charging atau dicas semalaman dibanding quick charge,” katanya. “Quick itu dilakukan dalam kondisi khusus, misalnya untuk perjalanan jauh”.

Kendati demikian, pengguna Outlander PHEV tidak perlu khawatir karena masa pakai baterai bisa mencapai 10 tahun. MMKSI juga memberikan garansi baterai selama 3 tahun atau 100 ribu kilometer.

Baca juga: Berapa rupiah yang dibutuhkan sekali isi baterai Outlander PHEV?

Baca juga: Outlander PHEV bisa jadi genset, bagaimana cara kerjanya?

Pewarta: A069
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

Berapa rupiah yang dibutuhkan sekali isi baterai Outlander PHEV?

Tangerang, Banten (ANTARA) – Mitsubishi Indonesia memperkenalkan mobil ramah lingkungan Outlander PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) yang diklaim menawarkan efisiensi hingga 40 persen, ketimbang memakai kendaraan bermesin bakar konvensional (combustion engine).

Head Technical Service CS Suport Departemen PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Boediarto, menjelaskan bahwa sisi hemat yang dihitung bukanlah dari ukuran bahan bakar, melainkan dari nilai rupiah yang dikeluarkan, yakni hanya Rp20 ribu untuk sekali pengisian.

“Bukan konsumsi BBM yang dihitung, tapi rupiahnya. Dengan PHEV ini lebih hemat 40 persen dibanding yang bukan PHEV,” kata Boediarto di GIIAS 2019, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Boediarto menjelaskan, kendaraan itu membutuhkan daya setidaknya 3.600 watt untuk pertama kali pengisian pada instalasi listrik di rumah. Kemudian daya yang dibutuhkan akan turun menjadi rata-rata 2.000 watt secara konstan jika melakukan full charging.

“Ketika di-charge, biaya listrik full charging hanya 20ribu untuk sekali isi,” kata Boediarto, menambahkan bahwa mobil berkapasitas baterai 13,8 Kwh itu dapat melaju sejauh 55km untuk sekali pengisian penuh.

Perhitungan adalah, jika setiap 1 Kwh senilai Rp1.500, maka untuk mengisi 13.8 Kwh pengguna hanya mengeluarkan Rp20.700 untuk pengisian penuh.

Selain itu, teknologi PHEV yang dibawa Outlander memungkan mobil ini mengisi daya listrik dari mesin bensin saat baterai akan habis atau saat tersisa 20 persen.

Baca juga: Luhut: Hyundai akan bangun pabrik mobil listrik di Karawang

Baca juga: Perpres mobil listrik kesempatan “lompat katak” di industri otomotif
 

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

Coba Toyota Prius PHV, Sri Mulyani sebut ingin pakai mobil itu, bila..

Tangerang (ANTARA) – Usai menyampaikan materi pada seminar “Future Technologi in Motion” di Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Rabu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkunjung ke sejumlah booth, di antaranya booth Toyota Astra Motor.

Sri Mulyani yang baru saja menyampaikan tren dan kebijakan pemerintah terkait mobil listrik pun berjalan di tengah kerumunan didampingi Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johannes Nangoi dan jajaran pengurus lainnya serta Presdir PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto.

Terlihat mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu antusias berjalan ketika diinformasi ada mobil Plug in Hybrid di Toyota.

Langkahnya terhenti pada sebuah mobil berwarna putih dengan desain sport, yang disampingnya ada semacam tempat charging. Itulah Toyota Prius Plug in Hybrid Vehicle (PHV) Seri Gazoo Racing (GR).
  Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengunjungi booth Toyota di Gaikindo Indonesia International Auto Show ( GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Rabu (ANTARA/Risbiani Fardaniah)

Manager PR PT Toyota Astra Motor (TAM) Rouli Sijabat yang berada di samping Sri Mulyani pun menjelaskan secara singkat mobil ramah lingkungan berteknologi hibrid yang dicharge dengan energi listrik, namun juga masih menggunakan bensin sebagai tenaga penggerak lainnya, sehingga irit bahan bakar.

Setelah itu Sri Mulyani yang mengenakan baju tunik hitam dan kain tenun dengan warna senada itu pun masuk ke ruang kabin Toyota Prius PHV Seri GR itu dan duduk dikursi pengemudi.

“Interiornya bagus juga ya,” kata Menteri yang dalam seminar menyatakan bahwa dalam pekan ini Presiden Joko Widodo kemungkinan menandatangani Peraturan Pemerintah yang memberi insentif pada mobil ramah lingkungan pada pekan ini. Ruang Kabin dan dashboard Toyota Prius Seri GR yang dicoba Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengunjungi booth Toyota di Gaikindo Indonesia International Auto Show ( GIIAS) 2019, di Tangerang, Banten, Rabu (ANTARA/Risbiani Fardaniah)

Ia pun bertanya terkait panel layar besar di tengah dashboard. “Layar besar ini untuk apa?” tanya Sri Mulyani yang memundurkan dulu kursi kemudi agar posisi duduknya nyaman.

Rouli Sijabat pun menjelaakan bahwa layar besar ini seperti ruang kontrol dan informasi tentang mode tenaga penggerak yang sedang beroperasi saat mobil berjalan, antara mesin bensin dan listrik.

“Bagus, saya kalau sudah pensiun jadi menteri mau juga mobil ini,” ujar Sri Mulyani yang mengaku ketika tinggal selama enam tahun di Amerika Serikat memiliki mobil hibrid Toyota Prius dan sempat mencoba mobil listrik Tesla yang sedang hit di Amerika kala itu.

Baca juga: Gaikindo: Infrastruktur mutlak dibangun sebelum produksi mobil listrik

Baca juga: Sekitar 20 mobil model baru siap meluncur di GIIAS 2019

Pewarta: R016
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2019

Kendaraan hybrid mahal, ini tanggapan TAM

Tangerang (ANTARA) – Banyak masyarakat menilai harga kendaraan berteknologi hybrid mahal, hal itu karena beberapa faktor mulai dari pajak dan faktor produk yang masih diimpor dari negara asalnya.

“Kan dipersepsikan mahal…PPnBM tinggi 40 persen, termasuk import duty juga. Nah mereka merasa kendaraan tersebut bisa di atas Rp1 miliar lebih, jadi waktunya supaya ada insentif untuk mengurangi agar harganya, agar terjangkau,” kata Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto di GIIAS 2019, beberapa waktu lalu.

Dari pihak TAM, sebetulnya bukan harga yang menjadi perhatian utama. Bagi mereka, ada sudut pandang lain dari konsumen yang membuat gambaran tersebut terkesan mahal. Sebagai contoh, biaya perawatan yang masih dianggap lebih mahal dari mobil bermesin konvensional.

“Nah itu merupakan suatu insentif, kalau buat saya pribadi, sebenarnya yang namanya insentif dalam bentuk PPnBM ini hanya one time, orang masih mikirinnya itu running cost sebetulnya,” katanya.

Baca juga: Tren kendaraan hybrid berubah, tidak cuma untuk kalangan dewasa

“Jadi dalam hal pemakaian sehari-hari itu bagaimana caranya, konsennya mereka itu adalah baterai salah satunya. Tapi itu sudah dijelaskan, bahwa baterai kan bisa didaur ulang, nah kita sih melihatnya ada benefit lain tidak nih yang bisa dipakai oleh konsumen,” kata dia.

Di tengah polusi udara yang semakin bertambah, dia juga berharap mobil hybrid tidak dikenakan aturan plat ganjil dan genap.

“Sebagai contoh di Jakarta ya mungkin kalau memang Jakarta emisinya sudah jelek kenapa tidak kita ubah saja,” katanya.

“Jadi mobil hybrid boleh masuk dan tidak terkena ganjil genap. Yang kedua misalnya di jalan tol, sekarang bayar tol semakin mahal dan naik terus, khusus untuk hybrid bisa bayar setengahnya, dan dibuat saja kelasnya, nah itu benefit-benefitnya yang bisa didapat sebagai contoh,” imbuhnya.

PT Toyota Astra Motor telah merilis beberapa mobil-mibil hybrid dan plug in hybrid Indonesia. Beberapa model yang telah dipasarkan antara lain adalah Prius Hybrid, Camry Hybrid, Alphard Hybrid, dan yang terbaru adalah C-HR Hybrid.

Baca juga: Alasan Rio Haryanto beli Toyota CHR hybrid

Baca juga: Toyota kenalkan mobil ramah lingkungan TS050 Hybrid, Prius PHEV GR

Baca juga: Minat konsumen meningkat, Toyota genjot penjualan mobil hybrid

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Glory E3 siap dipasarkan jika regulasi kendaraan listrik rampung

Tangerang (ANTARA) –

“Ini pertama kali DFSK membawa mobil listrik ke pasar Indonesia, satu mobil utuh beserta dengan kelengkapan fiturnya,” kata Head of Marketing Team PT Sokonindo Automobile, Major Qin, dalam Media Talk yang digelar saat pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Selasa.

Major menjelaskan saat ini pemerintah sedang menyiapkan regulasi terkait mobil listrik, DFSK sebagai pabrikan otomotif akan mendukung segala kebijakan pemerintah yang terkait dengan manufaktur kendaraan.

“Untuk itu kita berkomitmen dalam menjalankan hal tersebut dari segi produk dan teknologi, DFSK mengatakan sudah siap untuk memasarkan mobil listrik Glory E3 di Indonesia. Tinggal menunggu regulasi dari pemerintah, baik dari kebijakan dan juga infrastrukturnya,” kata Major.

Baca juga: Glory E3 bebas emisi karbon

Major menjelaskan, DFSK dalam menyambut era kendaraan listrik akan menyiapkan segalanya, mulai dari produknya, purna jual, layanan, dan suku cadangnya.

“Glory E3 sebenarnya sudah diluncurkan di Shanghai, China pada Mei 2019 lalu,” kata Major.

Deputy Product Division Head DFSK Ricky Gumisar menambahkan meski baru diperkenalkan, Glory E3 siap dipasarkan jika peraturan pemerintah terkait kendaraan listrik sudah rampung.

“Sebenarnya kita sudah siap desain sudah oke, mobil utuh sudah siap. Tinggal tunggu regulasi dari pemerintah. Jika regulasi sudah oke, kami siap,” ujar Ricky.

Baca juga: Tesla ikut bangun pabrik baterai lithium di Morowali

Kehadiran DFSK di GIIAS ini juga untuk mendapatkan masukan dari masyarakat tentang mobil listrik Glory E3.

“Ada proses riset yang harus kita lakukan, proses pengetesan, menjamin kualitas produk dan layanan purna jualnya, apalagi ini barang yang benar-baner baru, kita juga harus lihat kebijakan pemerintahnya seperti apa,” kata Ricky.

Baca juga: PLN Disjaya jamin penerangan selama balapan mobil listrik Formula E

Baca juga: Mobilitas listrik, sedikit tentang Indonesia dan dunia

Pewarta: SDP-112
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Alasan Honda Accord hybrid belum masuk Indonesia

Alasan Honda Accord hybrid belum masuk Indonesia
(Kiri-kanan) Sales and Marketing General Manager Honda Prospect Motor Yusak Billy, Assistant Large Project Leader Honda Accord, Honda R&D Masao Nakano, Marketing and Aftersales Service Director Honda Prospect Motor Jonfis Fandy. Business Planning Director Honda Prospect Motor Takayuki Uotani, Project Leader of Honda Sensing, Honda R&D Yasuhiro Nakano dan Project Leader of Honda Accord, Honda R&D Yasushi Nakoji, saat acara test drive Honda Accord di Karawang, Jawa Barat, Selasa (23/7/2019). (ANTARA News/Natisha Andarningtyas)
Jakarta (ANTARA) – PT Honda Prospect Motor, agen pemegang merk mobil Honda di Indonesia, belum memiliki rencana untuk membawa Accord versi hybrid untuk pasar sedan di Indonesia.

“Belum ada rencana (membawa Accord hybrid) karena regulasi,” kata Marketing and Aftersales Service Director Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy, saat acara test drive Honda Accord di Karawang, Jawa Barat, Selasa.

Mobil hybrid menggunakan tenaga dari bahan bakar bensin dan listrik dari baterai, diyakini mampu mengurangi konsumsi bahan bakar.

Baca juga: All New Accord seharga Rp698 juta diluncurkan dalam GIIAS 2019
  Sejumlah Jurnalis mengendarai All New Honda Accord saat uji kendara (test drive) di Bridgestone Test Course, Karawang, Jawa Barat, Selasa (23/07/2019). ANTARA FOTO/Zarqoni maksum/ama.

Pemerintah saat ini belum menetapkan regulasi untuk mobil jenis hybrid, namun, pada Mei lalu Kementerian Perindustrian berjanji akan mempercepat regulasi untuk mobil hybrid.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi menyatakan proses legal regulasi mobil hybrid dan mobil ramah lingkungan (low cost and green car) akan dipercepat dengan memberikan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kepada prinsipal, seperti dikutip dari laman resmi kemenperin.go.id.

Kemenperin berpendapat investor akan tertarik menanamkan modal untuk LCGC ketika regulasi sudah ada.

Honda baru saja meluncurkan All New Honda Accord pada acara otomotif terbesar Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pekan lalu, seharga Rp698 juta.

Mobil yang dilengkapi dengan sistem keamanan terbaru Honda Sensing ini menyasar segmen eksekutif muda yang menyukai desain dan teknologi otomotif terkini.

Baca juga: Uji gaya mengemudi Anda lewat Honda Sensing di GIIAS 2019

Baca juga: Honda umumkan tiga finalis Brio Music Project

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny

Pewarta: N012
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Glory E3 bebas emisi karbon

Tangerang (ANTARA) – DFSK mengklaim kendaraan ini 100 persen bebas emisi gas buang karbon, sehingga sangat ramah lingkungan di jalan-jalan dan bisa menjadi solusi untuk kebutuhan kendaraan yang hijau.

“DFSK Glory E3 akan menjadi contoh bagaimana DFSK menatap masa depan, dan menjadi awal kendaraan listrik yang diciptakan rendah emisi karbon,” kata Head of Marketing Team PT Sokonindo Automobile Major Qin pada pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Selasa.

DFSK Glory E3 tersedia dengan tiga pilihan warna Interstellar Blue, White Pearl, dan Flaming Red.

Baca juga: Menghitung biaya perawatan Glory dan Super Cab

DFSK Glory E3 menggunakan teknologi listrik dengan model Battery Electric (BE) yang sepenuhnya mengandalkan baterai dan motor listrik sebagai tenaga penggeraknya.

Tenaga penggeraknya mengandalkan motor listrik “Permanent Magnet Synchronous Motor” bertenaga 163 ps dan torsi 300 Nm.

Bersumber baterai listrik berkapasitas 52,5 kWh, kendaraan ini sanggup menempuh jarak hingga 405 Kilometer dalam kondisi full baterai.

Baca juga: DFSK ajak konsumen berembuk bikin komunitas Glory pertama

Glory E3 juga memiliki teknologi “Mileage Extended Range Technology” yang mampu menempuh jarak hingga 1.000 Kilometer.

Glory E3 sudah dilengkapi dengan teknologi fast charging yang dapat dilakukan di rumah.

Tercatat mengisi baterai 20 persen hingga 80 persen hanya membutuhkan waktu 30 menit, dan untuk slow charging membutuhkan waktu 8 jam.

Glory E3 dilengkapi dengan fitur floating head unit yang berukuran 10,25 inci dan didukung sistem Lin OS 4.0 versi terbaru.

Head unit didukung dengan teknologi voice command yang lebih sensitif sehingga dapat dilakukan perintah suara tanpa terlalu keras untuk mempermudah penumpang melakukan berbagai aktivitas di dalam kabin.

Kemudian, DFSK Glory E3 dilengkapi dengan Anti-Lock Brake System (ABS) yang didukung dengan Electronic Brake Distribution (EBD) untuk memaksimalkan pengereman, Electronic Stability Program (ESP) untuk menjaga traksi kendaraan, ISOFIX untuk mengunci baby car seat, 360 degrees Panoramic Parking untuk memudahkan ketika parkir, serta Vehicle Running Recorder untuk merekam segala kondisi selama perjalanan.

DFSK melengkapi konsumen yang membeli Glory E3 dengan garansi panjang hingga 120.000 kilometer. Garansi ini akan menjamin semua kerusakan komponen dari pabrik atau kesalahan proses pemasangan. Sehingga konsumen tidak perlu khawatir terhadap permasalahan yang melanda DFSK Glory E3.

Baca juga: Pabrikan China jajaki peluang ekspor lewat Super Cab

Baca juga: DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Baca juga: DFSK siapkan kejutan di GIIAS, mobil listrik Glory E3

Pewarta: SDP-112
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Tren kendaraan hybrid berubah, tidak cuma untuk kalangan dewasa

Tangerang (ANTARA) – PT Toyota Astra Motor (TAM) menyatakan bahwa tren kendaraan hybrid terus berkembang dan mengalami perubahan, tidak hanya diminati oleh kalangan dewasa saja.

“Kendaraan hybrid kalau dulu itu lebih cocoknya orang dewasa, punya uang, konsen dengan lingkungan. Namun, sekarang anak muda juga banyak yang minat, karena adanya teknologi hybrid yang kekinian,” ungkap Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto kepada media, di ICE BSD, beberapa waktu lalu.

Hal itu didukung penjualan kendaraan C-HR hybrid kian meningkat di kalangan generasi muda.

​​​​​”Penjualan kendaraan C-HR hybrid itu lebih besar dari Camry hybrid, sekarang rata-rata 70 unit C-HR hybrid per bulannya.
​​​​​C-HR yang biasa sejak adanya hybrid, konsumen sebagian besar lari ke hybrid,” kata Soerjopranoto.

Baca juga: Toyota Yaris hingga Prius Hybrid bisa dijajal di GIIAS 2019

Toyota menyadari bahwa kendaraan hybrid tergolong mahal untuk kalangan muda, untuk itu mereka menyediakan C-HR dengan harga Rp500 jutaan.

“Saat ini kan teman-teman tahu, harga hybrid ga murah, harga kendaraan itu sekitaran Rp 800 juta. Kita kenalin C-HR hybrid dengan spesial harga yang memiliki selisih Rp30 juta,” jelasnya.

Saat ini, PT TAM juga menunggu keputusan pemerintah akan kebijakan mengenai pengimplementasian kendaraan hybrid di pasar Indonesia ke depannya.

“Saat ini langkah yang kami lakukan adalah menungu kebijakan pemerintah, bagaimana keinginan pemerintah ke depannya dan bagaimana mengenai implementasi hybrid itu sendiri,” tutupnya.

Pada ajang GIIAS 2019, PT TAM juga membawa kendaraan Gazoo Racing (GR) Prius PHEV yang bertujuan untuk menarik hati dari kaum muda Indonesia.

Baca juga: Toyota Fotuner TRD Sportivo baru tampangnya kian agresif

Baca juga: Toyota bakal luncurkan satu lagi mobil hibrid tahun ini setelah C-HR

Baca juga: Toyota Digifest ajak anak muda menggali peluang dunia digital

Pewarta: KR-CHA
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Mobilitas listrik, sedikit tentang Indonesia dan dunia

Jakarta (ANTARA) – Penggunaan secara luas kendaraan ramah lingkungan, termasuk mobil listrik, sedang gencar dikampanyekan di sebagian belahan dunia, sebagai misi bersama mengurangi emisi CO2 yang dituduh punya peran besar dalam peningkatan pemanasan globall.

Mengutip World Resources Institute, emisi karbon dioksida dunia pada 2017 telah mencapai lebih dari 36,2 gigaton, kemudian naik pada 2018 menjadi 37,1 gigaton, dengan Indonesia berada di antara 15 negara penyumbang terbesar.

Menurut estimasi Global Carbon Project (GCP), emisi karbon dioksida di Indonesia pada 2017 sebanyak 487 juta ton (MtCO2), naik 4,7 persen dari tahun sebelumnya, sebelum kemudian naik lagi 2 persen pada 2018.

Di DKI Jakarta saja, emisi CO2 setiap tahunnya mencapai 206 juta ton, dengan penyumbang terbesar sektor transportasi yang angkanya mencapai 182,5 juta ton, sedangkan sektor rumah tangga dan industri masing-masing berkontribusi 23,9 juta ton dan 350,3 ribu ton.

Bercermin dari data itu, tentu sudah mendesak bagi Indonesia untuk menekan produksi karbon dioksida di sektor transportasi, selain melalui bauran energi yang memperbanyak peran energi terbarukan, dan pelestarian hutan.
  Daftar 15 negara penyumbang utama emisi CO2 di dunia pada 2017. (ANTARA News/World Economy Forum)

Membangun dan memperbanyak penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia harus sudah dimulai walaupun ini tidak mudah karena membutuhkan banyak instrumen—yang sejauh ini sangat minim—, baik itu infrastruktur, teknologi, kebijakan atau regulasi berupa insentif, serta inisiatif.

Kita sedikit lega setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan sinyal keseriusan pemerintah dalam membangun mobilitas listrik (e-mobility) meskipun sejauh ini masih belum jelas peta jalannya. JK mengatakan peraturan pemerintah tentang mobil listrik akan diterbitkan tahun ini.

“Segera karena ini disinkronkan dengan beberapa kementerian apakah itu industri, keuangan, perhubungan, dan juga kemampuan industri dalam negeri, tahun depan,” kata Wapres JK saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Kamis lalu (18/7).

Satu lagi yang membuat banyak pihak lega adalah mulai diperkenalkannya beberapa mobil listrik dari sejumlah pabrikan mobil besar yang hadir di GIIAS. Meskipun pasar masih bertanya-tanya di mana mereka bisa menemukan stasiun pengisian daya baterai mobil, kehadiran beberapa mobil listrik itu membuat masyarakat menjadi sedikit lebih akrab dengan kendaraan listrik.

Melengkapi Toyota Prius dan Camry hybrid yang sudah lebih dulu hadir, di GIIAS diperkenalkan sederetan kendaraan ramah lingkungan terbaru, sebut saja BMW i8 Roadster, BMW i3S, Mercedes-Benz E300 e, DFSK Glory E3, Renault Twizy, Daihatsu HYFun, Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota C-HR Hybrid, Toyota Camry dan Alphard hybrid teranyar, dan Hino Dutro Hybrid.

Yang menarik, di antara mobil penumpang ramah lingkungan kelas menengah dan mewah itu hadir Hino Dutro Hybrid, seolah memberi “peringatan” bahwa kendaraan ramah lingkungan dalam sektor transportasi publik dan angkutan barang juga penting, mengingat masih buruknya kontrol emisi gas buang pada sub-sektor ini.

Butuh peran besar pemerintah dan industri untuk mengimplementasikan kendaraan ramah lingkungan pada sektor transportasi publik atau massal, sekalian memberikan contoh baik bagi masyarakat untuk mulai beralih dan punya kesadaran tinggi untuk menggunakan kendaraan pribadi yang lebih ramah lingkungan, dengan didahului kebijakan pengetatan uji emisi tentunya.
  Hino Dutro Hybrid (ANTARA/Yogi Rachman)

Inisiatif dan insentif

Dalam pengembangan mobilitas listrik (e-mobility), inisiatif dan insentif sama-sama pentingnya. Inisiatif tanpa insentif tak akan jalan, demikian juga sebaliknya.

Di Amerika Serikat, yang menyediakan insentif pengurangan pajak antara 2.500 – 7.500 dolar per kendaraan berdasarkan kapasitas baterai dan bobot mobil, tingkat adopsi kendaraan listrik di pasar domestik pada 2018 mencapai 360.800 unit, naik drastis 81 persen dibanding 2017, menurut pusat data penjualan global kendaraan listrik EV Volume.

Dari angkat tahun lalu itu, 66 persen di antaranya merupakan kendaraan murni listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) dan 34 persen Plug-in Hybrid (PHEV). Ini berarti penggunaan kendaraan bertenaga listrik sepenuhnya, naik tajam dari tahun 2017 angkanya baru 53 persen mobil murni listrik dan 47 persen PHEV.

AS sangatlah beruntung memiliki Tesla, grup produsen mobil listrik dan kendaraan luar angkasa punya Elon Musk yang visioner. Dari peningkatan adopsi mobil listrik yang tumbuh 81 persen dibanding 2011-2013, penjualan Tesla Model 3 naik cepat dalam persaingan dengan Chevy Volt dari GM, Toyota Prius Plug-in, dan Nissan LEAF.

Pada kuartal pertama tahun ini Tesla mampu menjual 77.550 unit Model 3, naik 50 persen dari periode sama tahun 2018, dan masing-masing 17.650 unit untuk Model S dan Model X. Satu pencapaian yang patut bagi Tesla, perusahaan cerdas yang memproduksi baterai mobil sendiri dan menciptakan teknologi pengisian cepat daya baterai kendaraan listrik.

Tesla telah membangun banyak stasiun pengisian daya baterai untuk pelanggannya di tempat-tempat strategis di pasarnya di seluruh dunia, termasuk China. Belakangan ini, teknologi pengisian daya baterai listrik Tesla V3 (versi 3) mampu mengisi hingga 1.500 kendaraan dalam sehari.

Eropa, kawasan dengan banyak pabrikan mobil besar, telah membuat banyak inisiatif untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah di kawasan ini dibantu asosiasi dan pabrikan membangun infrastruktur dan percontohan mobilitas listrik di sejumlah negara.

Adopsi pasar terhadap kendaraan listrik di Eropa pada 2018 tercatat mencapai 408.000 unit, naik 33 persen dibanding 2017, itu sudah termasuk PHEV dan BEV baik kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial.
  Mobil listrik Tesla Model X di jalanan kota Hong Kong, Jumat (25/1). (ANTARA News/Alviansyah P)

Untuk meningkatkan sumbangsih industri otomotif terhadap penciptaan udara bersih, Eropa juga memberlakukan aturan emisi baru WLTP (the Worldwide Harmonised Light Vehicle Test) dengan menoleransi hanya emisi di bawah 50gram CO2 per kilometer.

Untuk kawasan Asia Pasifik, semua bisa berkaca dari China, pasar terbesar dunia yang juga sudah mulai diperhitungkan dalam percaturan pasar mobil global, berkat kemajuan pesat pabrikan dalam negerinya, seperti NIO, baik dalam teknologi maupun kualitas produknya.

China, telah menelorkan kebijakan subsidi mobil listrik untuk mendorong penetrasi Kendaraan Energi Baru (New Energy Vehicle/NEV). Penjualan NEV di China naik drastis sejauh ini. Secara volume naik 106 persen pada semester pertama dan 68 persen pada paruh kedua tahun 2018, sedangkan untuk tahun ini 79 persen.

China masih menjadi pasar terbesar kendaraan plug-in sejauh ini, dengan penjualan NEV tahun 2018 mencapai 1.160.000 unit, mencakup kendaraan penumpang maupun komersial ringan. Jauh dibanding Eropa yang 410.000 unit dan AS dalam kisaran 360.000 unit.

Banyak analis memperkirakan bahwa pada 2019 penjualan kendaraan energi baru di China mencapai 1,8 juta unit (Cars, SUVs, MPVs, dan LCVs) di pasar kendaraan ringan domestik yang mencapai 26,7 juta unit, turun 3 persen dibanding 2018.

Melihat apa yang terjadi di dunia, jelas bahwa pengembangan mobilitas listrik di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif segelintir orang atau satu institusi saja. Ini membutuhkan inisiatif bersama, kolaborasi, antara pemerintah dan para swasta berkemampuan tinggi, yang ditunjang dengan kebijakan dan ekosistem yang baik pula. Mobil Listrik DFSK Glory E3 di GIIAs 2019 (ANTARA News/Alviansyah P)

Pewarta: S026
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019

Era mobil ramah lingkungan kian dekat, tapi kemana arahnya?

Jakarta (ANTARA) – Pada setiap pameran otomotif dalam dua tahun terakhir, pengunjung begitu mudah menemukan kendaraan ramah lingkungan, baik listrik maupun hibrida yang dipajang sejumlah produsen di panggung utama.

Beberapa pabrikan boleh jadi memajang model itu sebagai pemanis pameran. Tapi, sebagian pabrikan benar-benar serius memperkenalkan teknologi non-bahan bakar minyak itu untuk mengedukasi masyarakat Indonesia.

Sebagaimana pameran sebelumnya, teknologi terbaru pun muncul dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019.

Toyota, sebagai salah satu merek besar, begitu serius memperkenalkan kendaraan hybrid, mulai dari C-HR untuk kalangan muda serta model Camry dan Alphard untuk kalangan yang dewasa. Bagi Toyota, hal itu bukanlah sesuatu yang baru karena mereka sudah satu dekade memasarkan kendaraan hybrid melalui model Prius.

“Pada tahun 2017 rata-rata penjualan mobil hibrida Toyota hanya 14 unit per bulan. Tapi, tahun ini tumbuh pesat,” kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy, pada Jumat (19/7).

Peningkatan penjualan itu setidaknya menjadi pertanda era mobil terelektrifikasi atau yang lebih ramah lingkungan sudah semakin dekat. Industri otomotif eletrik tinggal menunggu payung hukum dari pemerintah.

Baca juga: Menperin sebut dua industri otomotif siap investasi Rp50 triliun
  Kerangka Mitsubishi Outlander PHEV di GIIAS 2019 (ANTARA/Alviansyah P)

Pabrikan Jepang lainnya, Mitsubishi, sudah mulai menjual Outlander PHEV yang dibanderol Rp1,2 miliar dengan target penjualan lima unit selama pameran GIIAS 2019 pada 18-28 Juli.

Dua pabrikan Jerman, BMW dan Mercedes-Benz, juga memboyong mobil listrik mereka antara lain BMW i3 dan Mercy E300 EQ Power. Renault juga memajang mobil listrik mungil Twizy, kendati hanya sebagai pemanis pameran.

Jenama China, Wuling telah memperkenalkan kendaraan listrik E100 pada 2018. Kemudian pada 2019, giliran Dongfeng Sokonindo (DFSK) memamerkan mobil listrik Glory E3.

Tidak tanggung-tanggung, DFSK menyatakan kesiapannya untuk memproduksi mobil terelektrifikasi apabila Pemerintah Indonesia sudah memantapkan regulasi terkait kendaraan ramah lingkungan.

“Persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat DFSK Glory E3 akan dipasarkan secara global, termasuk di kawasan ASEAN,” kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang, dalam GIIAS 2019, Jumat (19/7).

“Indonesia berpeluang menjadi basis produksi untuk pasar ASEAN mengingat fasilitas produksi di Indonesia sangat memungkinkan dan mendukung,” kata Franz.

Baca juga: Kepala BPPT: Inovasi KBL dorong kesiapan Indonesia hadapi industri 4.0
  DFSK Glory E3 GIIAS 2019 (ANTARA/Alviansyah P)

Dorong investasi

Pada pembukaan GIIAS, Kamis (18/7), Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyempatkan diri berkeliling arena pameran. Mereka melihat-beberapa anjungan produsen otomotif, termasuk yang memajang mobil ramah lingkungan.

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa pemerintah akan mendukung industri otomotif karena memiliki efek luas untuk memajukan ekonomi dari berbagai segmen, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga mendorong pelaku bisnis lain yang berkaitan dengan sektor ini.

“Pemerintah mendukung industri mobil dengan infrastruktur yang berkembang, baik sistem jalan juga logistiknya,” kata Wapres dalam sambutannya.

Terkait dukungan pemerintah, Airlangga juga mengatakan pemerintah dalam lima tahun ke depan akan menyambut investasi baru untuk pengembangan otomotif, tentunya meliputi teknologi mesin ramah lingkungan.

“Saya optimistis dalam waktu lima tahun yang akan datang, menargetkan akan ada Rp100 triliun investasi baru sektor otomotif,” ujar Airlangga.

Pada Juni, Airlangga membeberkan bahwa Toyota bakal menanamkan investasi hingga Rp28,3 triliun untuk empat tahun ke depan. Selain Toyota, pabrikan Korea Selatan Hyundai Motor juga berencana meletakkan modalnya di Indonesia.

Kendati tidak merinci investasi itu, Airlangga menyatakan akan ada investasi lain pada baterai untuk kendaraan listrik.

Baca juga: Tesla turunkan harga jual Model 3 menjadi Rp542 juta
  Outlander PHEV GIIAS 2019 (ANTARA/HO)

Listrik atau hibrida?

Kendaraan ramah lingkungan terbagi dalam beberapa jenis, ada yang listrik sepenuhnya, hybrid, juga plug-in hybrid (PHEV). Bedanya adalah kendaraan listrik sepenuhnya (EV) hanya menggunakan motor listrik dan baterai tanpa mesin pembakaran.

Sedangkan mobil hibrida menggunakan dua mesin yakni pembakaran dan motor listrik yang berkolaborasi menghasilkan efisiensi bahan bakar. Mobil jenis itu tetap membutuhkan bensin untuk menjalankan mesin dan mengisi baterai.

Plug-in hybrid adalah pengembangan lebih lanjut dari hybrid. Mobil jenis PHEV itu bisa menggunakan mesin bensin ataupun pengisian daya listrik sehingga menawarkan jarak tempuh yang lebih jauh dengan dua opsi mesin.

Lantas, mobil ramah lingkungan jenis manakah yang cocok untuk Indonesia?

Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan Indonesia berpeluang besar untuk bersaing di segmen mobil listrik, apabila fokus pada jenis kendaraan berbasis baterai.

Artinya, menurut dia, mobil listrik yang menggunakan baterai sepenuhnya akan membuka peluang industri baterai yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Kementerian perindustrian pun mengundang investor untuk berinvestasi dalam produksi baterai agar mengakselerasi pengembangan mobil listrik Tanah Air. Mereka juga sudah melakukan uji coba baterai motor listrik yang menggandeng beberapa perusahaan dan organisasi teknologi.

Kendati demikian, pemerintah masih merumuskan peraturan kendaraan ramah lingkungan yang akan menaungi berbagai hal terkait mobil elektrifikasi.

Para produsen mobil di Indonesia pun menanggapi undangan pemerintah untuk investasi produksi baterai dengan berbagai pandangan. Sebagaian produsen mobil menyatakan Indonesia harus membangun infrastruktur pendukung, sebagian lain bahkan sudah siap menjual mobil listrik.

Baca juga: Dua pabrikan mobil listrik China berminat relokasi ke Indonesia

“Pendapat kami, kondisi sekarang kalau langsung EV (mobil listrik), infrastruktur kita belum siap. Membangun charging station tidak akan begitu cepat. Budaya kita juga belum terbiasa dengan mobil listrik,” kata CO-CEO Sokonindo Automobile (DFSK), Alexander Barus, dalam GIIAS 2019.

Alexander Barus mengatakan DFSK masih menunggu peraturan pemerintah sebelum memutuskan jenis mobil ramah lingkungan yang bakal dipasarkan atau diproduksi di Indonesia.

“Mana yang di-drive duluan oleh pemerintah dengan insentif (EV atau hybrid). Pastinya DFSK akan mendukung kemana arah pasar yang didukung pemerintah,” ujarnya.

Pandangan berbeda disampaikan Mitsubishi yang menyatakan dapat langsung memasarkan Outlander PHEV di Indonesia. Kendati pasar hybrid masih kecil, mereka yakin teknologi itu secara perlahan akan diterima masyarakat.

“Itu baru pionir, dan baru distribusi di GIIAS. Tentu pasar untuk segmen itu kecil. Kami targetkan dua sampai lima unit terjual selama GIIAS,” kata Imam Chaeru Cahya, Head of Sales and Marketing Group PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), dalam GIIAS 2019, Jumat (19/7).

Honda tidak membawa mobil listrik dalam GIIAS 2019 karena masih menunggu peraturan pemerintah. Sedangkan Toyota yang merayakan 10 tahun menjual kendaraan hybrid berupaya mengampanyekan cara kerja mobil elektrifikasi dengan menggelar “Electrification Day.”

Electrification Day adalah aktivitas berkelanjutan dari Toyota dalam menunjang program pemerintah untuk mendukung teknologi ramah lingkungan dan kendaraan elektrifikasi,” ungkap Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Kazunori Minamide. Jumat.

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Pewarta: A069
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Mercedes-Benz siap dilibatkan bahas pajak mobil listrik

Tangerang (ANTARA) –

“Jika pajak mobil listrik dan hybrid diturunkan maka harga mobil listrik dan hybrid bisa ditekan. Dengan begitu akan lebih banyak masyarakat yang bisa menikmati mobil listrik atau hybrid,” kata Presiden Direktur Mercedes-Benz distribusi Indonesia, Choi Duk Jun saat pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Jumat.

Baca juga: Mercedes-Benz tampilkan dua debut baru dalam GIIAS 2019

Choi menjelaskan semua negara besar memiliki masalah dengan polusi termasuk Indonesia.

“Mobil bertenaga listrik adalah solusi yang kami berikan untuk negara dengan permasalahan polusi,” kata Choi.

Choi menjelaskan dengan mobil listrik dan hybrid efek jangka panjangnya polusi udara bisa ditekan. Sebab Choi mengklaim mobil listrik buatan Mercedes-Benz sangat minim emisi.

Baca juga: BMW perkenalkan mobil listrik seharga Rp1,299 miliar

Choi berharap Mercedes dengan pemerintah bisa menjalin kerja sama untuk memberikan lebih banyak pilihan pada konsumen untuk membeli mobil listrik atau mobil hybrid.

“Khusus untuk Jakarta, kita akan memiliki lebih banyak mobil dengan minim emisi,” kata Choi.

Perlu diketahui, saat ini pemerintah sedang merampungkan regulasi tentang mobil listrik, agar ada kepastian hukum bagi pengembang kendaraan listrik supaya memperlancar pembangunan infrastrukturnya.

Kini, regulasi tersebut masih dalam kajian Kementerian Keuangan karena be­lum adanya titik temu mengenai skema pengenaan pajak.

Baca juga: DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Pewarta: SDP-112
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2019

DFSK buka peluang produksi mobil listrik di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Produsen mobil asal China Dongfeng Sokonindo (DFSK) membuka peluang untuk memproduksi mobil listrik Glory E3 di Indonesia agar bisa memasarkannya di wilayah Asia Tenggara.

“Persiapan perlu dilakukan sejak dini mengingat DFSK Glory E3 akan dipasarkan secara global, termasuk di kawasan ASEAN,” kata Managing Director Sales Center PT Sokonindo Automobile, Franz Wang, di GIIAS 2019, Jumat (19/7).

“Indonesia berpeluang menjadi basis produksi untuk pasar ASEAN mengingat fasilitas produksi di Indonesia sangat memungkinkan dan mendukung,” kata Franz.

Franz menjelaskan bahwa DFSK sudah memperhitungkan potensi kendaraan listrik di Indonesia, sehingga mereka menanamkan nilai investasi sebesar 150 juta dolar AS untuk pabrik perakitan di Cikande, Banten, yang sudah mengusung teknologi industri 4.0.

DFSK yang mampu memproduksi 50ribu unit mobil per tahun bisa saja menambah nilai investasinya di Indonesia, apabila pasar otomotif Indonesia terus berkembang. Franz mengatakan, DFSK sudah memiliki jaringan pengembangan di Silicon Valey, Amerika Serikat, yang juga digunakan untuk membangun Glory E3.

Mobil berdesain sport utility vehicle (SUV) itu sudah tampil perdana pada Shanghai Auto Show 2018.

Sistem penggerak yang dipakai Glory E3 adalah motor listrik dan baterai dengan jarak tempuh mulai dari 405 kilometer berkat kapasitas baterai 52,56 kwh yang disandingkan dengan motor listrik tipe Permanent Magnet Synchronous Motor.

Untuk pengisian baterai, Glory DFSK E3 hanya memerlukan waktu 30 menit untuk mencapai 80 persen daya baterai dengan menggunakan teknologi fast charging.

Baca juga: BMW perkenalkan mobil listrik seharga Rp1,299 miliar

Baca juga: Daftar mobil baru GIIAS 2019: Toyota Supra, Nissan Xtrail hingga Jimny

Baca juga: Menjajal mobil listrik besutan Toyota Global

Pewarta: A069
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019