Investasi Mata Uang Kripto makin Diminati

Popularitasnya dalam beberapa tahun mendatang diprediksi terus melejit, sejalan dengan aturan baru yang akan dikeluarkan Bappebti.

Penggunaan mata uang kripto masih dilarang sebagai instrumen pembayaran. Namun, peminatnya justru semakin membeludak sebagai salah satu instrumen investasi. Harga tinggi dan volatilitas nilainya yang cenderung menanjak menjadi salah satu daya tarik.

Co-Founder and Business Development Indonesian Blockchain Network Danny Taniwan mengatakan investor mata uang kripto kini bahkan lebih banyak dua kali lipat jika dibandingkan dengan jumlah investor saham. Beberapa investor mata uang kripto bahkan sudah menjelma sebagai trader yang mengeruk keuntungan jangka pendek.

“Sebagai komoditas, mata uang kripto menarik minat masyarakat melebihi transaksi saham. Untuk jenis mata uangnya saat ini, bitcoin masih yang terpopuler dengan harga berkisar Rp98 juta untuk satu bitcoin,” tutur Danny kepada Media Indonesia.

Senada dengan Danny, Head of Bussiness Development Luno Vijay Ayyar mengakui pengguna mata uang kripto di Indonesia terus menunjukkan tren meningkat. Dari dua juta pengguna aplikasi Luno sebagai platform membeli mata uang kripto, sekitar 20-30 persen berasal dari Indonesia.

Pemerintah Indonesia, menurut Ayyar, sangat suportif dalam mendorong ekosistem mata uang kripto sebagai salah satu instrumen investasi. Ia menyebutkan, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mendukung penuh mata uang kripto sebagai komoditas perdagangan.

“Saya dengar dalam waktu dekat akan ada aturan yang dikeluarkan terkait mata uang kripto. Ekspektasi saya ialah aturan ini akan semakin menjamin keberadaan mata uang kripto dan mengubah lanskap pasar mata uang kripto,” ujar Ayyar yang ditemui di konferensi Tech in Asia Jakarta, beberapa waktu lalu.

Di Indonesia, berdasarkan studi Luno yang bekerja sama dengan TNS menyebutkan, 63 persen penduduk mengetahui soal mata uang kripto. Persentase itu lebih besar jika dibandingkan dengan Malaysia, Prancis, Italia, dan Romania. Jakarta, berdasarkan laporan IDACB bahkan merupakan salah satu crypto-capital di Indonesia. Ayyar memprediksi popularitas mata uang kripto beberapa tahun mendatang terus melejit sejalan dengan aturan baru yang dikeluarkan Bappebti.

Terus Dikaji

Bank Indonesia dalam Laporan Perkembangan Kondisi Makroekonomi, Moneter, Sistem Keuangan, Sistem Pembayaran, dan Pengedaran Uang Rupiah pada Juli mengakui perkembangan peredaran mata uang virtual. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, dua terbesar, yaitu bitcoin dan ethereum.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institue Heru Sutadi mengatakan, bank sentral dapat mempelajari praktik adposi mata uang digital dalam sistem keuangan. Proses SBOBET tersebut memang perlu prinsip kehati-hatian mengingat mata uang digital merupakan barang baru.

Mata uang kripto, lanjut Heru, hanyalah merupakan salah satu produk dari teknologi blockchain yang mendistribusikan data ke sejumlah pengguna untuk mencapai efisiensi. Menurutnya, pemerintah harus lebih beradaptasi dengan teknologi ini untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat.

“Ini dapat dipakai pada institusi pemerintah maupun perusahaan. Tapi, investasi di sana saat ini tidak murah. Penting pula untuk proses edukasi dahulu kepada masyarakat. Model bisnis lewat blockchain juga belum terlihat, mungkin dalam 1-2 tahun ke depan akan mulai terlihat,” tandasnya.

 

Miliuner Baru Tiongkok Terus Bertambah

New York: Bank investasi Swiss UBS menuturkan Tiongkok kerap melahirkan miliuner baru karena inovasi dan kewiraswastaan. Hal ini terungkap dalam laporan Billionaires Insights 2018 yang dirilis Jumat.

Laporan yang diterbitkan bersama oleh UBS Global Wealth Management dan konsultan PricewaterhouseCoopers, diberi judul “Visionari Baru dan Abad Tiongkok,” di mana para pengusaha Tiongkok dipuji sebagai “pelopor revolusi industri baru.”

Menurut laporan itu, jumlah miliarder dunia meningkat dari 1.979 pada 2016 menjadi 2.158 pada 2017 dengan total kekayaan yang dimiliki tumbuh 19 persen menjadi USD8,9 triliun.

Secara khusus, Tiongkok menambahkan 55 miliarder tahun lalu, meningkatkan totalnya menjadi 373 miliuner, dengan kekayaan gabungan melompat 39 persen menjadi USD1,12 triliun, terutama didorong oleh e-commerce sbobet indonesia yang kuat dan bisnis berbasis teknologi.

Dengan perkiraan UBS, 30 persen dari 199 wiraswasta baru di seluruh dunia pada 2017 mengakumulasi kekayaan mereka melalui inovasi lewat teknologi.

Sekitar 89 pengusaha Tiongkok menjadi miliarder untuk pertama kalinya pada 2017. Sementara hanya 30 pengusaha di Amerika Serikat yang mencapai level serupa. Selain itu, Tiongkok menghasilkan 50 unicorn dari 2016 hingga 2018, sedikit di belakang Amerika Serikat yang hanya menghasilkan 62 unicorn.

Laporan ini menyoroti peran perubahan struktural Tiongkok dalam menghasilkan kekayaan sementara Amerika Serikat terus membanggakan konsentrasi kekayaan terbesar yang didukung oleh teknologi, konsumen dan sektor ritel.

Namun, laporan tersebut juga memperkirakan bahwa jika perselisihan perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok meningkat ke perang dagang habis-habisan, kedua negara dapat melihat pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih rendah sebelum tanggapan kebijakan.

Laporan itu memperingatkan bahwa  ekuitas di Amerika Serikat dan negara-negara Asia kecuali Jepang dapat turun lebih dari 20 persen dari tingkat mereka di pertengahan musim panas 2018.

“Kita perlu mempertimbangkan bagaimana siklus ekonomi yang jatuh tempo dapat mempengaruhi investor, termasuk miliarder khususnya,” kata Kepala Investasi untuk Amerika dalam Global Wealth Management UBS Mike Ryan.

(SAW)

 

Organisasi Bisnis Norwegia Juga Khawatir Kekacauan Setelah Brexit

Brexit. Dok : Business Insider.

Norwegia: Organisasi bisnis utama Norwegia mengungkapkan kekhawatiran tentang peningkatan risiko setelah keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau yang dikenal sebagai Brexit dan memperingatkan perusahaan Norwegia.

“Ada kondisi kacau dan kami sangat khawatir,” kata Direktur Internasional Confederation of Norwegian Enterprise (NHO) Tore Myhre, seperti dikutip dari Xinhua, Minggu, 16 Desember 2018.

Menurut Myhre, ada kemungkinan tidak ada kesepakatan dalam kasus keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada 29 Maret 2019, yang dapat menyebabkan perubahan dalam pasar finansial dan mata uang yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pasar untuk perusahaan Norwegia.

Norwegia bukan anggota Uni Eropa tetapi merupakan bagian dari Wilayah Ekonomi Eropa (EEA) dan Kawasan Perdagangan Bebas Eropa (EFTA). Negara ini tetap tunduk pada peraturan pasar tunggal yang sama dan prinsip-prinsip dasar dari pergerakan bebas barang, jasa, orang dan modal sebagai 28 negara anggota Uni Eropa penuh.

“(Untuk Norwegia) Ini berarti ketidakpastian yang lebih besar dan bahkan risiko yang lebih besar dari Inggris meninggalkan Uni Eropa dan EEA tanpa kesepakatan. Kemudian bisa ada kekacauan di perbatasan,” kata Myhre.

Dia menambahkan bahwa NHO telah mendesak otoritas Norwegia untuk bekerja secara aktif untuk menempatkan solusi darurat sementara yang dapat mencegah beberapa hasil terburuk.

“Kami memiliki kesan bahwa pihak berwenang Norwegia bekerja dengan baik dengan ini, tetapi ketidakpastian adalah tentang apakah Inggris memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian tersebut dalam waktu singkat yang tersisa,” kata Myhre.

Adapun industri Norwegia yang mungkin dipengaruhi oleh Brexit, Myhre disebutkan produsen barang jadi, furnitur dan makanan laut. “Kemudian mungkin juga ada efek tidak langsung yang mempengaruhi sektor subkontraktor dan supply chain,” katanya.

(SAW)

Produksi Minyak OPEC Turun di November 2018

Wina: Produksi dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menurun. Hal itu terjadi karena Iran menghasilkan lebih sedikit minyak pada bulan lalu, laporan bulanan yang dirilis oleh kartel menunjukkan.

Mengutip Antara, Kamis, 13 Desember 2018, pada November, produksi OPEC menurun sekitar 11.000 barel per hari (bph), kata laporan itu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pengurangan 380.000 barel per hari produksi Iran, yang jatuh di bawah tiga juta barel per hari, untuk pertama kalinya sejak awal 2016.

Salah satu produsen minyak terbesar di OPEC, Iran, telah berada di bawah sanksi-sanksi AS selama beberapa bulan. Sementara itu, Arab Saudi meningkatkan produksi minyak mentahnya pada November.

Dalam laporannya, OPEC memperkirakan permintaan 2019 untuk minyaknya bisa jatuh ke 31,44 juta barel per hari, sekitar 100.000 barel per hari lebih rendah dari perkiraan bulan lalu. Kondisi itu bukan tidak mungkin bisa memberikan efek terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Sebelummya rasa lega dirasakan seluruh pelaku pasar minyak setelah delegasi OPEC berhasil mencapai kesepakatan untuk memangkas produksi 1,2 juta barel per hari. Negara-negara OPEC telah sepakat untuk memangkas produksi sebesar 800 ribu barel sementara anggota non-OPEC akan menangani sisanya.

“Terobosan dalam pembicaraan ini merupakan perkembangan yang disambut baik untuk pasar keuangan dan terlihat mendukung sentimen risiko selama minggu perdagangan yang akan datang,” ujar Analis FXTM Lukman Otunuga.

Dengan OPEC setuju untuk memangkas produksi minyak lebih besar dari perkiraan semula, harga minyak siap untuk memperpanjang kenaikan dalam jangka pendek. Namun, prospek jangka menengah hingga jangka panjang tetap terbuka untuk dipertanyakan.

(ABD)

Asia Timur Harus Siap Atasi Tantangan Eksternal dan Internal

Jakarta: Model pembangunan Asia Timur yang sangat berhasil berupa kombinasi antara pertumbuhan yang berorientasi ke luar, pengembangan modal manusia, dan tata kelola ekonomi yang baik, perlu disesuaikan untuk secara efektif mengatasi tantangan eksternal dan internal yang muncul, menurut laporan baru Bank Dunia.

Laporan A Resurgent East Asia, Navigating a Changing World menyatakan bahwa kemajuan luar biasa yang terlihat di kawasan saat ini belum tentu terjamin di masa depan.

Model pembangunan yang telah mendorong apa yang disebut Keajaiban Asia Timur harus beradaptasi dengan perubahan teknologi, melambatnya aktivitas perdagangan, dan bebagai perubahan terkait keadaan negara, jika kemajuan tersebut ingin dipertahankan.

World Bank Vice President for East Asia and the Pacific Victoria Kwakwa menuturkan bahwa Asia Timur telah menjadi kawasan paling sukses selama seperempat abad terakhir. Sejak 2000, PDB kawasan naik lebih dari tiga kali lipat, mengangkat lebih dari satu miliar orang keluar dari kemiskinan. 

“Meski ada kemajuan tersebut, negara-negara di kawasan ini masih memiliki ketimpangan yang signifikan dalam hal produktivitas tenaga kerja, modal manusia, dan standar hidup dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi,” kata dia dikutip dari Antara, Senin, 10 Desember 2018. 

Studi baru ini mengenali bahwa apa yang telah berhasil dengan baik sejauh ini mungkin tidak cukup untuk di masa depan, karena negara-negara di kawasan ini berupaya untuk beralih dari status berpenghasilan menengah ke pendapatan tinggi. 

Setengah abad yang lalu, banyak negara di kawasan ini merupakan negara ekonomi pertanian yang miskin, berjuang untuk mengatasi peninggalan yang berupa konflik atau perencanaan yang terpusat. Sekarang, kawasan ini disibukkan dengan kegiatan ekonomi, mencerminkan perpaduan ekonomi berpenghasilan tinggi dan menengah yang secara kolektif menjadi hampir sepertiga PDB global.

Lebih dari 90 persen penduduk Asia Timur kini tinggal di 10 negara berpenghasilan menengah seperti Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Banyak di antara negara-negara ini yang secara realistis bercita-cita memiliki status sebagai negara berpenghasilan tinggi di satu atau dua generasi berikutnya.

Tetapi meningkatkan pembangunan mungkin akan sangat menantang dengan adanya perubahan cepat di dunia dan di kawasan. Para pembuat kebijakan perlu menyesuaikan unsur-unsur model pembangunan tradisional Asia Timur untuk secara efektif memenuhi tantangan yang muncul ini.

“Meskipun sifat dan laju perubahan yang tepat masih belum pasti, kenyataannya adalah perubahan tengah terjadi dan mengabaikannya bukanlah sebuah pilihan. Laporan ini menyimpulkan bahwa bila pembuat  kebijakan di kawasan tersebut tidak bertindak tegas, mereka berisiko kehilangan peluang untuk  mempertahankan kinerja pembangunan Asia Timur yang luar biasa tersebut,” tukas Shudir Shetty.

(SAW)

Pertemuan OPEC Berakhir Tanpa Keputusan Pengurangan Produksi

Wina: Tidak ada keputusan pengurangan produksi minyak diumumkan setelah pertemuan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina, Austria, pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Organisasi minyak OPEC akan bernegosiasi dengan para sekutunya termasuk Rusia pada Jumat waktu setempat.

“Kami masih ingin Rusia untuk memotong sebanyak mungkin,” kata Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih kepada wartawan, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 7 Desember 2108. Permintaan Khalid itu karena tidak ada keputusan yang diumumkan setelah pertemuan.

OPEC diperkirakan menyetujui jumlah pemotongan produksi minyak dalam pertemuan Kamis 6 Desember, namun tidak ada pengumuman tentang kesepakatan pengurangan produksi minyak setelah beberapa jam pertemuan para pemompa minyak itu, dan pertemuan pers yang dijadwalkan dibatalkan.

OPEC akan membahas pemotongan produksi minyak gabungan dengan produsen Non-OPEC, termasuk Rusia pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Menteri Saudi mencatat sebelum pertemuan bahwa para produsen minyak sedang mencari pengurangan produksi yang cukup untuk menyeimbangkan pasar.

Di sisi lain, menambah dampak negatif, Amerika Serikat membukukan kenaikan dramatis dalam ekspor minyak mentahnya menjadi lebih dari 3,2 juta barel per hari pekan lalu, menurut laporan mingguan Badan Informasi Energi AS pada Kamis 6 Desember.

Tingkat ekspor tersebut melebihi tingkat impor, menjadikan  produsen minyak utama dunia itu sebagai eksportir bersih untuk pertama kalinya dalam 75 tahun. Meskipun persediaan minyak mentah AS turun menjadi 443,2 juta barel dalam seminggu yang berakhir 30 November, jumlahnya masih sekitar 6,00 persen di atas rata-rata lima tahun, kata laporan itu.

(ABD)

Qatar Bersiap Hengkang dari OPEC

Doha: Qatar memutuskan hengkang dari lingkaran Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal itu diumumkan langsung Menteri Energi Qatar Saad Sherida al-Kaabi, Senin, 3 Desember 2018.

Keputusan keluar dari blok yang mencakup 15 negara penghasil minyak bumi terbesar turut dikonfirmasi Qatar Petroleum, perusahaan minyak negara tersebut.

Dalam konferensi pers di Doha, Al-Kaabi menjelaskan latar belakang Qatar menarik diri dari OPEC dilandasi keinginan untuk fokus terhadap upaya pengembangan dan peningkatan produksi gas alam. “Kami ingin menaikkan produksi dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton setiap tahunnya,” jelas Al-Kaabi.

Keluarnya Qatar menorehkan sejarah baru, yakni sebagai negara Teluk pertama yang meninggalkan blok penghasil minyak terbesar dunia. Sebagai informasi, Qatar bergabung dengan OPEC pada 1961, satu tahun setelah pendirian organisasi tersebut.

Charlotte Bellis, koresponden Al-Jazeera, mengatakan keputusan Qatar muncul beberapa hari menjelang pertemuan OPEC pada 6 Desember 2018.

“Mereka mengatakan hal ini tidak ada hubungannya dengan blokade di Qatar. Mereka sudah memikirkannya dalam beberapa bulan terakhir,” ucap Bellis, merujuk pada blokade diplomatik di Qatar yang digulirkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain.

Lebih lanjut, Bellis mengungkapkan pandangan Qatar yang memutuskan segera hengkang dari OPEC sebelum akhir tahun.

“Mereka mengatakan ingin melakukan ini sekarang juga agar semua menjadi transparan menjelang pertemuan OPEC,” imbuhnya.

Tercatat, sejak 2013, volume produksi minyak Qatar terus mengalami penurunan. Dari 728 ribu barel per hari (bph) per 2013, menjadi sekitar 607 ribu bph per 2017. Sementara itu, total produksi termasuk gas bumi, meningkat pada periode yang sama, yakni dari 30,7 juta bph menjadi 32,4 juta bph.

Awal pekan ini, OPEC dan Rusia, yang menghasilkan sekitar 40 persen dari total produksi minyak dunia, sepakat untuk memangkas produksi minyak baru. Tujuannya untuk mengantisipasi penurunan harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.

Pada Oktober ini, harga minyak dunia sempat mencapai level ter tinggi dalam empat tahun terakhir, yakni USD86 per barel. Namun, sejak itu harga minyak dunia anjlok ke level USD60 per barel.

Bagaimanapun, Qatar merupakan pemasok gas alam cair (LNG) terbesar yang menghasilkan hampir 30 persen dari total produksi global. Al-Kaabi menekankan deklarasi keluarnya Qatar dari OPEC murni sebagai keputusan bisnis.

“Al-Kaabi berpendapat Qatar ialah pemain kecil di OPEC sehingga tidak masuk akal bagi mereka untuk fokus pada hal yang bukan menjadi kekuatan mereka. Gas dalam hal ini ialah kekuatan mereka sehingga keputusan itu keluar,” papar Bellis menirukan perspektif Al-Kaabi. (Media Indonesia)

(AHL)

Kanada Minta AS Hapus Tarif Baja dan Alumunium

Buenos Aires: Amerika Serikat (AS) mungkin memiliki perjanjian dagang baru di Amerika Utara, tetapi tarif administrasi Trump untuk baja dan aluminium terus menjadi masalah bagi bisnis, anggota parlemen, dan tetangga Amerika. Adapun pengenaan tarif yang tinggi ini tidak ditampik memang mengganggu aspek perdagangan dunia.

Meski ada harapan sebaliknya, tetapi tarif 25 persen untuk baja dan 10 persen bea untuk aluminium tetap berlaku saat ini. Mereka tetap menjadi titik besar pertentangan di mana Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menekankan upaya penyelesaian tarif selama upacara penandatanganan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada.

Trudeau mengaitkan tarif terhadap rencana pemberhentian sementara di General Motors -yang diumumkan awal pekan ini- berimbas membuat marah para pemimpin dan pekerja di AS dan Kanada. Pengenaan tarif ini diharapkan bisa dihentikan demi kepentingan bersama, termasuk mengakselerasi perekonomian di masa mendatang.

“Donald, itu semua alasan mengapa kita harus terus bekerja untuk menghapus tarif pada baja dan aluminium antara negara-negara kita,” kata Trudeu, kepada Presiden AS Donald Trump, yang berdiri tepat di sebelah kanannya, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 1 Desember 2018.

Tarif tinggi dari AS pertama kali diberlakukan pada 23 Maret di bawah otoritas keamanan nasional Departemen Perdagangan yang jarang digunakan, yang dikenal sebagai Bagian 232 dari Undang-Undang Perluasan Perdagangan Tahun 1962. Meksiko dan Kanada awalnya dibebaskan sambil menunggu hasil renegosiasi NAFTA. Namun, pengecualian itu dihapus 1 Juni.

Beberapa anggota parlemen AS menyatakan kekecewaan mereka bahwa tarif pada sekutu utama belum dicabut. Senator Rob Portman, R-Ohio, dan Rep Jackie Walorski, R-Ind, secara terpisah mengaku kecewa masih belum ada penyelesaian. Bahkan Senator Pat Toomey, R-Pa, mengatakan tarif AS lebih berbahaya daripada kebaikan.

Padahal Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan bahwa tarif akan dicabut sebagai bagian dari negosiasi perdagangan yang lebih besar. Adapun perdagangan yang dimaksudkan terkait dengan perubahan perjanjian NAFTA yang diklaim demi keamanan nasional AS.

“Tujuan kami memiliki NAFTA yang direvitalisasi, NAFTA yang membantu Amerika dan sebagai bagian dari 232 yang secara logis akan hilang, baik yang terkait dengan Kanada maupun dengan Meksiko,” Ross mengatakan kepada Komite Keuangan Senat.

(ABD)

Harapan Tiongkok ke AS soal Perang Dagang

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Tiongkok Xi Jinping. (FOTO: AFP)

Beijing: Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok berharap Amerika Serikat (AS) akan mendorong dua kepala negara untuk mencapai hasil positif dalam pertemuan mendatang dua negara besar ini.

Juru bicara Geng Shuang membuat pernyataan itu dalam sebuah pengarahan berita rutin. Dirinya dimintai komentar tentang pertemuan yang akan datang antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan mitra AS-nya Donald Trump selama KTT G20.

Melansir Xinhua, Rabu, 28 November 2018, ketika menjawab pertanyaan tentang pernyataan Trump soal Tiongkok, Geng Shuang mengatakan sangat tidak mungkin AS akan menerima permintaan Tiongkok untuk menunda kenaikan tarif.

Geng mengatakan bahwa Tiongkok telah berulang kali menekankan bahwa esensi kerja sama ekonomi dan perdagangan Tiongkok-AS saling menguntungkan dan win-win solution.

Tiongkok siap untuk menyelesaikan masalah ekonomi dan perdagangan melalui dialog dan konsultasi atas dasar keseriusan, kesetaraan, dan integritas. Geng menambahkan Tiongkok secara tegas akan melindungi hak dan kepentingannya yang sah.

Dia mengatakan bahwa kedua pemimpin memiliki pertukaran ide yang mendalam mengenai hubungan bilateral dan isu-isu yang menjadi perhatian bersama selama percakapan telepon baru-baru ini. Kedua belah pihak sepakat untuk berjuang untuk solusi yang dapat diterima bersama pada isu-isu ekonomi dan perdagangan.

“Tim ekonomi dari kedua belah pihak bersentuhan untuk mengimplementasikan konsensus penting yang dicapai oleh dua kepala negara,” tambah Geng.

(AHL)

Mendag Minta WTO Perhatikan Kepentingan Negara Berkembang

Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggariasto Lukita meminta agar Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) tetap memperhatikan negara berkembang, termasuk Indonesia, saat mereformasi organisasinya.

“WTO sebaiknya tidak melupakan dan mengabaikan hal-hal yang belum terselesaikan, seperti perundingan putaran Doha dan hal lainnya, serta tetap memperhatikan kepentingan negara berkembang dan negara kurang berkembang,” kata Mendag dikutip dari Antara, Minggu, 25 November 2018.

Reformasi WTO diyakini akan membawa perubahan positif bagi sistem perdagangan multilateral dan diharapkan tetap mampu mengakomodasi kepentingan negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal tersebut disampaikan Enggar usai bertemu dengan Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo di kantor WTO, Jenewa, Swiss.

Sementara itu, lanjut Enggar, sebagai koordinator G-33, Indonesia juga menginginkan agar reformasi WTO juga terus memperhatikan hal-hal seperti public stock holding dan mekanisme special safeguard.

Terkait hal tersebut, Mendag Enggar menggarisbawahi tanggapan Dirjen Azevedo yang menegaskan bahwa WTO tidak akan mengabaikan hal yang belum terselesaikan.

Mendag Enggar menjelaskan, usulan untuk mereformasi WTO didasarkan pada semakin merebaknya ketidakpastian pada sistem perdagangan dunia.

WTO juga dinilai semakin melemah dalam menjalankan fungsinya, terutama terlihat dari tidak berkembangnya penyelesaian perundingan putaran Doha, proteksionisme yang banyak dilakukan negara anggota dan tekanan perdagangan yang meningkat, ancaman blokde Amerika Serikat (AS) terhadap pengisian anggota Appellate Body (AB), serta kurang efektifnya sistem monitoring WTO.

“Dengan demikian, usulan reformasi dan modernisasi mencakup tiga fungsi WTO, yaitu monitoring, mekanisme penyelesaian sengketa, dan negosiasi,” lanjut Enggar.

Usulan reformasi dan modernisasi WTO sebelumnya telah disepakati beberapa negara pendukung seperti Kanada, Australia, Brasil, Chile, Jepang, Kenya, Korea, Meksiko, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, Swiss, dan Uni Eropa melalui pertemuan Joint Communication di Ottawa, Kanada, 24-25 Oktober 2018.

Terkait dengan monitoring dan transparansi, negara-negara pendukung reformasi WTO berpendapat bahwa sistem monitoring WTO harus diperkuat untuk mengatasi tekanan perdagangan yang meningkat akhir-akhir ini.

(SAW)

Separuh Mesin ATM di India Akan Ditutup Tahun Depan

Mumbai: Sebanyak 50 persen mesin Automated Teller Machines (ATM) di India kemungkinan akan ditutup Maret tahun depan. Ketidakstabilan operasi seiring berkembangnya kebijakan digitalisasi menjadi salah satu pemicunya.

Hal tersebut diumumkan Konfederasi Industri ATM (CATMi) pada Rabu, 21 November 2018, seperti dilansir dari NDTV, Kamis, 22 November 2018.

“Saat ini, India memiliki sekitar 238 ribu mesin ATM, di mana 100 ribu ATM di antaranya off-site, dan lebih dari 15 ribu ATM dengan white label,” ujar Direktur CATMi V Balasubramanian.

Menurut dia ini akan sangat berdampak pada jutaan penerima manfaat program inklusi keuangan Mantri Jan Dhan Yojana, yang menarik subsidi dalam bentuk uang tunai melalui ATM.

Balasubramanian mengatakan pihaknya terpaksa mengikuti pedoman yang mengatur peningkatan perangkat keras dan perangkat lunak ATM. Adapun mandat terbaru pada standar manajemen kas dan sistem Cassette Swap mencakup uang tunai, termasuk melibatkan investasi besar dari industri.

Untuk mengimplementasikan Cassette Swap, kata Balasubramanian, dibutuhkan pengeluaran tambahan setidaknya 3.500 crore rupee untuk CATMi atau senilai 35 miliar rupee.

Pada April 2018, Bank Sentral India atau Reserve Bank of India (RBI) memberlakukan panduan ketat untuk penyedia layanan ATM yang telah disetujui Kementerian Dalam Negeri.

Ini termasuk persyaratan kekayaan bersih minimum 100 crore rupee, ukuran armada minimum dari 300 cash yang lengkap, dua kustodian, dua penjaga bersenjata ditambah supir, serta tersedianya GPS dan CCTV.

Peraturan tersebut akan diperketat pada Juni 2019, di mana penyedia ATM harus meng-upgrade perangkat lunak dari WindowXP ke Window10.

“Untuk mengimplementasikan semua keamanan ini, perangkat lunak dan keras yang direkomendasikan memerlukan biaya tambahan minimum 150 ribu rupee per ATM per bulan. Ini akan berpengaruh pada seluruh 238 ribu ATM di negara ini,” kata Balasubramanian.

“Bagaimanapun, meski arahan RBI-MHA harus dilaksanakan bank-bank penyedia biaya, mereka tidak mau membahas masalah ini. Itu sebabnya, mulai Januari dan seterusnya, kami akan secara progresif mematikan ATM,” katanya.

Adapun dari sekitar 238 ribu ATM di India, sekitar 10 persen tidak berfungsi pada waktu tertentu karena berbagai alasan. Padahal, kebutuhan penduduk negara ini hampir tiga-empat kali lebih banyak, atau sekitar satu juta ATM.

Hampir 80 persen ATM terletak di daerah perkotaan atau semi-perkotaan, dan sisanya di daerah pedesaan.

Pemain industri besar mengatakan, kecuali dekat layanan Metro dan pusat kota, masyarakat di negara-negara seperti Uttar Pradesh, Maharashtra, Bihar, Bengal Barat, dan Madhya Pradesh harus menempuh perjalanan 40 km atau lebih untuk mengakses ATM.

“Sesuai data resmi, hampir 30 persen dari pemegang rekening bank di India secara teratur menggunakan kartu ATM, sementara sisanya lebih suka bertransaksi tunai. Ada masalah infrastruktur dan konektivitas yang menghambat pertumbuhan jaringan ATM,” pungkasnya.

India memiliki penetrasi ATM terendah secara global, rata-rata 8,9 ATM per 100 ribu penduduk, angka yang jauh dibandingkan Afrika Selatan dengan rata-rata 60 ATM per 100 ribu penduduk.

(AHL)

Perubahan Kepemimpinan Bisa Tunda Proses Brexit

London: Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan jumlah surat yang diperlukan untuk memicu mosi tidak percaya di Parlemen belum dipenuhi. Perubahan kepemimpinan hanya akan menunda Brexit atau keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa.

May berharap proses Brexit bisa berjalan dengan lancar dan memberikan keuntungan untuk semua pihak.

“Sejauh yang saya tahu, tidak, itu belum,” kata May, ketika ditanya apakah ambang batas telah dipenuhi terkait jumlah surat untuk memicu mosi di Parlemen, seperti dikutip dari CNBC, Senin, 19 November 2018.

Di bawah aturan Partai Konservatif, sebanyak 48 surat mosi tidak percaya pada Mei diperlukan untuk memicu tantangan. Setidaknya 20 surat mosi tidak percaya telah dipublikasikan dan diharapkan sejumlah lainnya telah dikirim tetapi tidak dinyatakan.

Jika 48 anggota parlemen Konservatif (Anggota Parlemen) mendukung mosi tidak percaya, akan ada kontes kepemimpinan dan perdana menteri akan membutuhkan lebih dari 50 persen suara untuk tetap menjabat. Di sisi positifnya, jika dia memenangkan suara itu, dia tidak dapat ditantang lagi setidaknya selama setahun. Pemungutan suara bisa terjadi pada Senin.

May akan pergi ke Brussels untuk bertemu dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. Ketika kesepakatan itu datang ke Parlemen, lanjut May, anggota parlemen harus berpikir tentang perlunya menyampaikan Brexit. Jika kesepakatan itu ditolak oleh Parlemen, May mengatakan, pemerintah akan kembali dengan proposal untuk langkah berikutnya.

Pada Minggu, ketua komite yang bertanggung jawab atas kontes kepemimpinan Partai Konservatif mengatakan kepada radio BBC bahwa ambang batas untuk memicu tantangan kepemimpinan May belum dipenuhi. Hal ini muncul di tengah upaya May untuk meneruskan kebijakan Brexit.

“Niatnya jelas bahwa jika itu terjadi harus menjadi ujian pendapat sangat cepat untuk membersihkan udara dan membuatnya keluar dari jalan,” kata Graham Brady, ketua ‘Komite 1922’.

Pekan lalu, May mengaku telah mendapatkan dukungan yang cukup dari para menteri seniornya untuk rancangan kesepakatan Brexit agar bergerak maju. Ini terjadi setelah dia menerima dukungan dari pejabat di Uni Eropa awal pekan ini. Tetapi pemerintahannya mengalami tekanan ketika menteri Brexit Dominic Raab memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai protes.

“Saya masih berpikir kesepakatan bisa dilakukan tetapi sekarang sudah sangat larut hari ini dan kita perlu mengubah arah,” kata Raab, seraya menambahkan bahwa perubahan harus dilakukan sebelum kesepakatan itu dibawa ke Parlemen karena anggota Parlemen tidak akan mendukungnya.

(AHL)

Dolar AS Depak Poundsterling

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap mata uang utama lainnya di akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), karena kesepakatan rancangan perjanjian Brexit atau keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa menghadapi ketidakpastian baru di tengah krisis politik di Inggris.

Mengutip Antara, Jumat, 16 November 2018, indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, meningkat 0,13 persen menjadi 96,9293 di akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1348 dari USD1,1338 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2779 dari USD1,3036 pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, dolar Australia meningkat menjadi USD0,7290 dibandingkan dengan USD0,7246. USD dibeli 113,59 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 113,48 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD naik ke 1,0057 franc Swiss dibandingkan dengan 1,0046 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3170 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3225 dolar Kanada.

Mata uang poundsterling jatuh pada perdagangan Kamis 15 November setelah menteri Inggris mengundurkan diri sebagai protes terhadap rancangan perjanjian Brexit, yang menyalakan kembali ketakutan kepergian Inggris dari Uni Eropa yang kacau dalam waktu tersesia 4,5 bulan.

Poundsterling mencatat kerugian satu hari terburuk terhadap euro sejak Oktober 2016. Terhadap yen, poundsterling mencatat penurunan harian tertajam sejak akhir Februari. Pedagang berbondong-bondong beralih ke mata uang safe haven seperti USD dan yen, karena poundsterling berputar cepat minggu ini atas Brexit.

Pada Kamis 15 November, Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan dia memenangkan dukungan dari menteri-menteri seniornya untuk membuat perjanjian perceraian, tetapi banyak di pemerintahannya tidak yakin dan pada Kamis waktu setempat menteri Brexit Inggris Dominic Raab, dan menteri lainnya, mengundurkan diri.

“Ketidakpastian politik yang meningkat di Inggris menjaga poundsterling dalam gejolak yang dalam. Poundsterling mempesona, bergantian antara keuntungan dan kerugian, setelah menteri Brexit Inggris mengundurkan diri,” tulis Analis Western Union Business Solutions dalam sebuah catatan penelitian.

(ABD)

Analis: Ekspor Melambat Tekan Harga CPO

Ilustrasi. (FOTO: MI/Abdullah)

Jakarta: Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus merosot, tertekan oleh meningkatnya stok dan produksi serta melambatnya ekspor.

Mengutip analisa tim Monex Investindo Futures, Selasa, 13 November 20188, harga CPO untuk pengiriman November telah jatuh 15 ringgit Malaysia menjadi 1.865 ringgit Malaysia per ton.

Kemudian harga patokan kontrak berjangka ditutup turun 6 ringgit Malaysia ke level 2.034 ringgit Malaysia per ton pada perdagangan kemarin. Ini merupakan yang terendah sejak September 2015.

Kepala penelitian perkebunan CIMB Investment Bank Bhd Ivy Ng mengatakan para pemain perkebunan lokal yang berjuang dalam lingkungan harga rendah akan melihat kinerja mereka semakin terpengaruh di kuartal keempat jika harga bertahan pada level saat ini.

Berjangka CPO masih sedikit di atas angka 2.000 ringgit Malaysia, tetapi jika melihat harga spot, mereka telah jatuh di bawah 2.000 ringgit Malaysia.

Memasuki kuartal keempat ini menjadi perhatian bagi para pekebun. Karena jika harga ini bertahan, mereka akan melihat harga lebih rendah daripada yang dicapai pada kuartal ketiga.

Ng berharap harga rata-rata CPO sekitar 2.320 ringgit Malaysia untuk tahun ini. Bahkan, dia mengatakan ada risiko penurunan perkiraan ini karena penurunan harga akhir-akhir ini.

“Ke depan, kami berharap harga CPO akan berkisar antara 2.000 ringgit Malaysia dan 2.300 ringgit Malaysia,” katanya kepada StarBiz.

(AHL)

Presiden Korsel Tunjuk Menteri Keuangan Baru

Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in. (FOTO: AFP)

Seoul: Blue House mengatakan Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in menunjuk menteri keuangan baru dan penasihat ekonomi utama pada Jumat waktu setempat.

Melansir Xinhua, Sabtu, 10 November 2018, Hong Nam-ki, Kepala Kantor Koordinasi Kebijakan Pemerintah di bawah Kantor Perdana Menteri, menggantikan Menteri Keuangan Kim Dong-yeon yang merangkap sebagai wakil perdana menteri untuk urusan ekonomi.

Birokrat ekonomi berusia 58 tahun tersebut terlihat hadir pada sidang parlemen.

Kim Soo-hyun, sekretaris senior kepresidenan untuk urusan sosial, ditunjuk sebagai kepala staf kepresidenan menggantikan Jang Ha-sung yang diangkat sebagai arsitek kebijakan pertumbuhan Presiden Moon.

Namun demikian, penasihat ekonomi kepala baru untuk Presiden Moon tidak hadir pada sidang parlemen.

Selanjutnya, Presiden menunjuk Noh Hyeong-ouk, wakil kepala Kantor Koordinasi Kebijakan Pemerintah, sebagai kepala kantor yang baru.

Sedangkan Kim Yeon-myung, profesor kesejahteraan sosial di Chung-Ang University di Seoul, dinominasikan untuk menjadi sekretaris senior baru untuk urusan sosial.

(AHL)

Bank Sentral Tiongkok Janjikan Dukungan Kuat untuk Swasta

Beijing: Gubernur bank sentral Tiongkok atau People’s Bank of China (PBOC) Yi Gang menjanjikan serangkaian kebijakan guna memperluas saluran pembiayaan untuk sektor swasta. Langkah ini sejalan dengan posisi PBOC yang mendukung pihak swasta untuk ikut tumbuh lebih baik di dalam perekonomian Tiongkok.

“Ada banyak pasokan dalam kebijakan moneter tetapi kita perlu menyalurkan dana ke bisnis pribadi yang kekurangan uang,” kata Yi Gang, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu, 7 November 2018.

Yi mengatakan PBOC telah menambahkan indeks baru dalam penilaian makroprudensial untuk bank-bank komersial dan memberi mereka dana jangka panjang dan dana murah guna mendorong lebih banyak pinjaman untuk bisnis swasta.

Bank sentral meningkatkan relokasi dan rediskon kuota dengan mencatat 300 miliar yuan (sekitar USD43 miliar) tahun ini dan menurunkan suku bunga pinjaman sebesar 0,5 poin persentase untuk pemberi pinjaman kecil. Selain itu, Tiongkok telah memutuskan untuk membantu penerbitan obligasi oleh perusahaan swasta, dengan dukungan likuiditas dari bank sentral.

“PBOC menyediakan dana awal dan mendorong partisipasi lembaga keuangan dan investor lain,” kata Yi.

Yi menekankan kesulitan pembiayaan untuk perusahaan swasta, usaha kecil dan menengah khususnya, telah menjadi masalah yang mengakar di seluruh dunia, dan Tiongkok akan mengambil lebih banyak upaya untuk memperbaiki kegagalan tersebut.

Tiongkok telah mempertahankan lingkungan kebijakan moneter yang pruden dan netral serta memastikan likuiditas yang wajar dan memadai. Pada akhir September, kredit mikro luar biasa mencapai 7,73 triliun yuan, naik 18,1 persen secara tahun ke tahun. Adapun kredit mikro baru mencapai 959,5 miliar yuan dalam tiga kuartal pertama.

(ABD)

Waktunya Negara di Dunia Saling Bekerja Sama

Shanghai: Ketika Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terus mengobarkan perang dagang terhadap satu sama lain, seorang pejabat Eropa menyampaikan pesan sederhana bahwa kondisi tersebut harus segera dihentikan. Sewajarnya perang dagang dihentikan demi kepentingan bersama, terutama memacu pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi.

Komisioner Eropa untuk Kesehatan dan Keamanan Pangan Vytenis Andriukaitis mengecam proteksionisme dan menilai sudah waktunya menjaga negara dan orang-orang didalamnya melihat keberhasilan sebanyak mungkin. Negara-negara di dunia harus bersama-sama mengubah situasi tersebut dan kembali lagi ke aturan yang sudah ada sebelumnya.

“Mari kita mengirim pesan sederhana. Setiap perang tidak dapat diterima. Kita perlu mengubah situasi. Kami di sini bukan karena perang antara AS dan Tiongkok, tetapi karena kami adalah pendukung kuat untuk multilateralisme atau untuk sistem berbasis aturan,” katanya, seperti dikutip dari CNBC, Selasa, 6 November 2018.

Andriukaitis menekankan pengulangan kebijakan tradisional di kalangan ekonom di mana perdagangan dapat membantu semua pihak untuk memiliki situasi yang saling menguntungkan. Namun sayangnya, pertentangan yang telah lama menjadi perdebatan dalam beberapa tahun terakhir yang akhirnya memicu konflik perdagangan.

“Selama naik ke kursi kepresidenan di AS, Donald Trump berulang kali mempertanyakan keampuhan transaksi perdagangan Amerika, dengan alasan bahwa banyak bentuk perdagangan tidak adil bagi negaranya,” tuturnya.

Bahkan, Trump terus berusaha untuk menegosiasikan kembali beberapa perjanjian perdagangan dengan mitra dagang utama terutama menyusun kembali NAFTA ke dalam Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada, serta telah mengalihkan sebagian besar perhatiannya ke Tiongkok.

Ketika negosiasi awal dengan Beijing tidak menghasilkan kesepakatan, Gedung Putih menetapkan tarif baru untuk barang-barang Tiongkok. Sekarang, dengan penalti tit-for-tat pada barang satu sama lain, situasi telah berkembang menjadi apa yang banyak anggap sebagai perang dagang besar-besaran.

Andriukaitis bersikeras bahwa pemberlakuan tarif yang tinggi dan tindakan perdagangan sepihak pada akhirnya akan merugikan semua yang terlibat. Tentu hal itu sangat disayangkan terjadi karena kedua negara bisa membicarakan hubungan dagang secara baik-baik, tanpa keduanya memberlakukan pengenaan tarif.

“Tidak masalah karena petani AS, petani Uni Eropa, dan petani Tiongkok serta kita perlu menghindari rintangan itu. Tapi, sekarang saatnya, sekali lagi, untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi kita semua. Tidak ada yang akan menang dengan cara konflik dan konfrontasi. Tidak ada seorang pun,” pungkasnya.

(ABD)

Indofood dan Kapal Api Siap ‘Invasi’ Tiongkok

Shanghai: Sebanyak 36 perusahaan dari Indonesia mengikuti Pameran Impor Internasional Tiongkok (CIIE) di Shanghai pada 5-10 November 2018. Di antara 36 daftar nama perusahaan asal Indonesia yang diperoleh Antara di Shanghai terdapat beberapa perusahaan berskala besar seperti Mayora, Indofood, Sekar Laut, dan Kapal Api.

Perusahaan asal Indonesia yang memboyong produknya di ajang pameran impor terbesar di daratan Tiongkok itu kebanyakan bergerak di bidang industri makanan dan minuman termasuk sarang burung walet dan produk turunannya yang mulai digemari masyarakat Tiongkok serta kelapa sawit.

Selain 36 perusahaan terdapat 19 perusahaan asal Indonesia lainnya yang turut berpartisipasi dalam pameran tersebut termasuk perusahaan yang sedang menjajaki peluang ekspor ke Tiongkok.

Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun berharap perusahaan dan asosiasi yang hadir di Shanghai itu dapat semakin dikenal di Tiongkok sekaligus menghasilkan transaksi yang besar.

“Tentu saja kami juga berharap dapat mendongkrak ekspor Indonesia ke Tiongkok. Apalagi dengan status country of honor (negara kehormatan) di CIIE maka gelombang pengunjung akan mengalir ke Pavilion Indonesia,” ujar mantan Dubes RI untuk Rusia itu menambahkan sebagaimana dikutip dari Antara, Minggu, 4 November 2018.

Melalui CIIE, pemerintah Tiongkok memperlonggar kebijakan impor. Bahkan di ajang tersebut Kementerian Keuangan setempat memangkas tarif untuk produk-produk impor tertentu.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dijadwalkan hadir di ajang yang digelar di kota terkaya di Tiongkok itu.

Sepekan menjelang CIIE digelar, pengamanan di Kota Shanghai diperketat. Bandar udara, stasiun kereta api, hotel, dan objek vital lainnya pengamanannya digandakan.

Jika pada hari biasa pemeriksaan calon penumpang pesawat di Bandara Internasional Pudong dan Bandara Internasional Hongqiao dengan menggunakan pendeteksi metal hanya dilakukan sekali maka saat ini dua kali masing-masing di pintu utama keberangkatan dan pos pemeriksaan kartu identitas calon penumpang.

Demikian pula dengan hotel-hotel di Shanghai yang mulai menggunakan pendeteksi metal kepada setiap pengunjung. Nuansa CIIE mulai terlihat di tempat-tempat strategis dengan umbul-umbul berwarna biru muda dan maskot yang tersebar di berbagai tempat.

Untuk memanfaatkan momentum tersebut, Alibaba Group sebagai perusahaan raksasa perdagangan elektronik e-commerce meluncurkan Paviliun Indonesia yang menjual sejumlah produk unggulan dari Indonesia di platform penjualan daring Tmall Global.

(SAW)

Trump Berharap Banyak dari Perdagangan Tiongkok

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump banyak berharap dengan Tiongkok dalam hal perdagangan. Akan tetapi, dia memperingatkan bahwa pihaknya siap mengenakan tarif tambahan yang bernilai miliaran dolar jika kesepakatan dengan Tiongkok tidak dapat tercapai.

“Saya pikir kami akan membuat banyak hal dengan Tiongkok dan itu harus menjadi hebat, karena mereka telah menguras negara kami,” kata Trump, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 3 November 2018, seraya menambahkan bahwa Trump ingin membuat kesepakatan sekarang juga, tetapi sayangnya Tiongkok belum siap.

Bloomberg melaporkan Washington sedang bersiap mengumumkan tarif tambahan pada semua impor Tiongkok yang tersisa pada awal Desember, jika pembicaraan antara Trump dan mitranya Xi Jinping gagal meredakan perang perdagangan bulan depan. Baik Trump dan Xi diperkirakan menghadiri pertemuan G-20 di Buenos Aires, di mana keduanya bisa bertemu.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Tiongkok Lu Kang mengatakan Tiongkok dan Amerika Serikat telah berkomunikasi tentang pertukaran di semua tingkat, termasuk kemungkinan pertemuan Xi-Trump di Argentina, meskipun ia tidak memberikan rincian.

“Jika Amerika Serikat tidak mau mempromosikan kerja sama yang saling menguntungkan dengan Tiongkok, maka Tiongkok sepenuhnya yakin dapat melanjutkan reformasi dan mengembangkan diri,” kata Lu.

Amerika Serikat memberlakukan tarif atas barang-barang Tiongkok senilai USD250 miliar, dan Tiongkok telah menanggapi dengan pembalasan serupa atas barang-barang AS senilai USD110 miliar. Apa yang dilakukan kedua negara ini akhirnya memunculkan perang dagang yang ujungnya memberikan tekanan terhadap ekonomi dunia.

“Dan saya memiliki USD267 miliar yang menunggu untuk pergi jika kami tidak dapat membuat kesepakatan,” pungkas Trump.

(ABD)

Keperkasaan USD Meredup Dihantam Dua Mata Uang Utama

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) turun terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), di tengah menguatnya euro dan poundsterling. Pelemahan terjadi karena pasar menjadi positif akibat kemungkinan kesepakatan Brexit antara Uni Eropa dan Inggris.

Mengutip Antara, Jumat, 2 November 2018, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1408 dibandingkan dengan USD1,1326 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3013 dibandingkan dengan USD1,2778 di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7206 dibandingkan dengan USD0,7077.

Sementara itu, USD membeli 112,65 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 112,92 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 1,0023 franc Swiss dibandingkan dengan 1,0082 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3087 dolar Kanada dari 1,3161 dolar Kanada. Poundsterling dan euro Inggris naik tajam dengan kenaikan 1,94 persen dan 0,86 persen.

Sekretaris Brexit Inggris Dominic Raab memperkirakan akan menandatangani perjanjian Brexit antara Uni Eropa dan Inggris pada akhir November, yang akan memberikan akses kepada perusahaan-perusahaan jasa keuangan yang berbasis di Inggris ke pasar Uni Eropa.

Raab membuat pernyataan itu dalam sebuah surat, tertanggal 24 Oktober, kepada Hilary Benn, Ketua Komite Brexit Parlemen Inggris. Sekretaris menambahkan bahwa Inggris dan Uni Eropa juga membuat kemajuan yang baik pada struktur dan ruang lingkup perjanjian masa depan

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak sebanyak 264,98 poin atau 1,06 persen menjadi 25.380,74. Sedangkan S&P 500 naik sebanyak 28,63 poin atau 1,06 persen menjadi 2,740.37. Indeks Nasdaq Composite naik 128,16 poin atau 1,75 persen menjadi 7.434,06.

Sebanyak 10 dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih tinggi, dengan material dan consumer discretionary masing-masing menguat sebanyak 3,02 persen dan 2,23 persen, memimpin kenaikan. Utilitas menurun 0,53 persen, satu-satunya yang kalah dalam indeks.

(ABD)

USD Masih Pertahankan Keperkasaan

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) sedikit menguat terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), di tengah reli pasar saham global dan laporan ekonomi yang positif.

Mengutip Antara, Kamis, 1 November 2018, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1326 dari USD1,1342 di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2778 dibandingkan dengan USD1,2701 di sesi sebelumnya. Dolar Australia merosot ke USD0,7077 dibandingkan dengan USD0,7102.

Selain itu, USD dibeli 112,92 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 112,96 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD naik menjadi 1,0082 franc Swiss dibandingkan dengan 1,0052 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,3161 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3130 dolar Kanada.

Lonjakan pasar saham global pada Rabu 31 Oktober memicu permintaan terhadap greenback, didorong oleh laba yang kuat dari General Motors dan Facebook. Dow naik 0,97 persen menjadi 25.115,76 poin, dan S&P 500 naik 1,09 persen menjadi 2.711,74 poin, sementara Nasdaq meningkat 2,01 persen menjadi 7.305,90 poin.

Selain itu, laporan ketenagakerjaan ADP yang dirilis pada Rabu 31 Oktober menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi negara itu didukung oleh pasar tenaga kerja yang kuat.

Laporan, yang dilihat oleh investor dan ekonom sebagai pratinjau laporan pekerjaan yang lebih rinci oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS, menunjukkan bahwa pengusaha sektor swasta menambahkan 227 ribu pekerjaan pada Oktober, terutama didorong oleh pertumbuhan lapangan kerja di bisnis yang lebih besar.

Para analis percaya bahwa data akan mendorong reli USD dan mendukung Federal Reserve AS menaikkan suku bunganya. The Fed diperkirakan menaikkan suku bunganya lagi pada Desember, menyusul kenaikan suku bunga pada September untuk ketiga kalinya tahun ini, membuat greenback lebih berharga di pasar global.

(ABD)

Bank Sentral Jepang Diperkirakan Pertahankan Kebijakan Moneter

Tokyo: Bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) diperkirakan menjaga pengaturan moneternya tidak berubah dan mengindikasikan kesiapannya untuk mempertahankan program stimulus besar-besaran untuk saat ini. Hal itu karena gesekan perdagangan global dan kegelisahan pasar keuangan mempersuram prospek ekonomi.

Mengutip Antara, Rabu, 31 Oktober 2018, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas penderitaan bertahun-tahun dari suku bunga mendekati nol yang berdampak pada laba bank, BoJ mungkin mengeluarkan peringatan yang sedikit lebih kuat tentang kerentanan keuangan dalam laporan triwulanan yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat.

Tetapi setiap perubahan dalam bahasa tentang risiko-risiko keuangan tidak mungkin menandakan kenaikan suku bunga jangka pendek, karena menambah headwinds eksternal dan menggelapkan prospek untuk mencapai target inflasi 2,0 persen BoJ, sebuah sumber yang akrab dengan pemikiran itu mengatakan.

“Untuk BoJ, fokusnya adalah pada bagaimana ekonomi Jepang dapat dipengaruhi oleh risiko-risiko seperti meningkatnya perang perdagangan, penyesuaian stok global, dan kenaikan harga minyak dari meningkatnya risiko-risiko geopolitik,” kata Kepala Ekonom JPMorgan Securities Jepang Hiroshi Ugai.

Ketika BoJ melihat risiko-risiko penurunan pada ekonomi, tidak terpikirkan bagi bank untuk mengambil langkah-langkah lebih lanjut yang dapat menyebabkan kenaikan dalam imbal hasil jangka panjang. Pada kajian suku bunga dua hari yang berakhir pada Rabu, BoJ diperkirakan mempertahankan janji untuk memandu suku bunga jangka pendek pada minus 0,1 persen.

Sembilan anggota dewan bank sentral juga akan menerbitkan proyeksi pertumbuhan dan inflasi baru dalam laporan triwulan yang menilai prospek dan risiko-risiko ekonomi jangka panjang. BoJ mungkin sedikit memangkas pertumbuhannya dan perkiraan harga untuk tahun fiskal saat ini yang berakhir pada Maret 2019.

(ABD)

Yuan Sentuh Level Terendah Sejak 2008

Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Shanghai: Bank sentral Tiongkok menetapkan titik tengah yuan resmi di tingkat terendah dalam lebih dari satu dekade pada hari ini.

Melansir Antara, Selasa, 30 Oktober 2018, mata uang lokal tetap di posisi kurang menguntungkan di tengah kekhawatiran atas pertumbuhan yang melambat di dalam negeri dan prediksi penurunan lebih jauh di bulan-bulan mendatang.

Titik tengah yuan resmi ditetapkan pada 6,9574 per dolar pada Selasa, 197 basis poin atau 0,28 persen lebih lemah dari tingkat sebelumnya 6,9377.

Penetapan yang lebih rendah datang karena dolar AS menguat terhadap mata uang utama saingannya, didukung oleh tawaran safe haven di tengah kekhawatiran perdagangan Tiongkok-AS yang baru.

Bloomberg melaporkan bahwa AS sedang bersiap untuk mengumumkan tarif pada semua impor Tiongkok yang tersisa pada awal Desember, jika perundingan bulan depan antara presiden Donald Trump dan Xi Jinping tak membuahkan hasil.

Penetapan kurs Selasa, dipandu di level terendah sejak 21 Mei, 2008, juga lebih lemah dari perkiraan pasar. Itu 74 basis poin lebih lemah dari perkiraan Reuters di 6,9487 per dolar AS.

Pada Senin, 29 Oktober 2018, yuan menyelesaikan perdagangan domestik di posisi terlemah dalam lebih dari satu dekade, menimbulkan spekulasi mengenai apakah bank sentral akan menolerir kemerosotan di luar level kunci 7 per dolar AS.

(AHL)

Bank Sentral Turki Mempertahankan Suku Bunga Acuan

Ankara: Bank sentral Turki mempertahankan suku bunga acuannya atau tidak berubah seperti yang diperkirakan. Kondisi itu dilakukan setelah ada peningkatan hubungan diplomatik dengan Washington yang telah membantu lira menghitung kembali sebagian besar kerugiannya tahun ini.

Lira telah jatuh karena hubungan dengan Amerika Serikat memburuk. Masing-masing pihak memberlakukan sanksi tit-for-tat serta tarif tambahan. Inti dari perselisihan itu adalah penahanan yang dilakukan oleh otoritas Turki kepada seorang pendeta AS, yang sekarang telah dibebaskan.

Untuk mendukung mata uang dan melawan melonjaknya inflasi, bank sentral Tiongkok pada bulan lalu menaikkan suku bunga acuannya sebesar 6,25 poin, dalam sebuah langkah yang juga menenangkan kekhawatiran investor tentang independensi bank. Keputusan itu juga dalam rangka meredam gejolak perekonomian Turki.

“Perkembangan terbaru mengenai prospek inflasi menunjukkan risiko signifikan terhadap stabilitas harga. Meskipun kondisi permintaan domestik yang lemah akan mengurangi kemerosotan dalam prospek inflasi, namun risiko kenaikan pada perilaku harga terus berlanjut,” kata bank sentral Turki, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 27 Oktober 2018.

Presiden Turki Tayyip Erdogan ingin melihat kredit murah mengalir ke perusahaan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. Seruannya untuk suku bunga yang lebih rendah telah memukul keyakinan terhadap kemampuan bank sentral untuk secara memadai menanggapi kenaikan inflasi, yang mencapai level tertinggi 15 tahun pada September.

Bank sentral Turki meninggalkan suku bunga repo satu minggu pada 24 persen setelah menaikkan tingkat kebijakannya sebesar 11,25 poin pada tahun ini. Sebanyak 12 dari 15 ekonom dalam jajak pendapat telah memperkirakan bank sentral Turki akan memilih untuk memutuskan tingkat kebijakannya tidak berubah.

Mata uang Lira masih turun sepertiga terhadap USD di tahun ini, tetapi telah menemukan dukungan sejak pembebasan pendeta AS Andrew Brunson. Setelah keputusan bank sentral Turki, lira awalnya melemah menjadi 5,71 terhadap USD dibandingkan dengan 5,67 sebelum pengumuman. Namun, mulai menguat di di 5,68.

(ABD)

Tiongkok Sambut Baik Investor Asing di Proyek Nasional

Beijing: Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional atau National Development and Reform Commission (NDRC) mendukung investasi swasta atau asing masuk ke dalam proyek-proyek yang terkait dengan strategi nasional utama, seraya memperbaiki hubungan ekonomi yang kian lemah.

“NDRC akan mempromosikan kemitraan publik-swasta untuk mendorong partisipasi modal swasta dalam proyek-proyek yang memiliki kebijakan ilmiah rasional dan mekanisme yang jelas tentang hasil investasi,” kata Juru Bicara NDRC Meng Wei, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 27 Oktober 2018.

“Lebih banyak upaya akan diambil untuk meningkatkan sistem kredit sosial dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat untuk investasi swasta,” tambahnya.

Pertumbuhan investasi swasta Tiongkok terus pulih dalam tiga kuartal pertama tahun ini, dengan kenaikan 8,7 persen dari tahun lalu dan melampaui ekspansi investasi secara keseluruhan sebesar 3,3 poin.

NDRC telah mempromosikan lebih dari 1.200 proyek kepada investor swasta, mencakup berbagai bidang termasuk transportasi, energi dan perlindungan lingkungan, dengan total investasi melebihi 2,5 triliun yuan (sekitar USD360 miliar).

Selain itu, tambahnya, Tiongkok juga mengizinkan kepemilikan swasta yang lebih besar di perusahaan-perusahaan negara. Meng mengatakan NDRC telah menyetujui rencana delapan anak perusahaan dari perusahaan milik negara yang dikelola secara terpusat untuk membawa investasi swasta sebagai bagian dari reformasi kepemilikan campuran ketiga di negara itu.

“NDRC akan meningkatkan langkah untuk memecahkan kesulitan perusahaan swasta, mengurangi hambatan dan pembatasan pasar, serta meningkatkan dukungan pembiayaan,” pungkas Meng.

(ABD)

Keputusan Bank Sentral Eropa Buat USD Kian Perkasa

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Hal itu terjadi setelah bank sentral Eropa (ECB) memutuskan mempertahankan suku bunga utama untuk kawasan euro tidak berubah.

Mengutip Antara, Jumat, 26 Oktober 2018, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, meningkat 0,25 persen menjadi 96,6743 pada akhir perdagangan. Di akhir perdagangan New York, euro jatuh ke USD1,1359 dari USD1,1387, dan pound Inggris merosot jadi USD1,2815 dari USD1,2880 pada sesi sebelumnya.

Sedangkan dolar Australia naik menjadi USD0,7085 dibandingkan dengan USD0,7064. USD dibeli 112,58 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,41 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD naik menjadi 1,0004 franc Swiss dari 0,9972 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,3078 dolar Kanada dari 1,3017 dolar Kanada.

Suku bunga dasar zona euro akan tetap di 0,00 persen, dengan suku bunga pinjaman marjinal dan suku bunga deposito tetap masing-masing di 0,25 persen dan minus 0,40 persen ECB memperkirakan bahwa suku bunga utama akan tetap pada tingkat saat ini setidaknya hingga musim panas 2019.

Di sisi ekonomi, dalam pekan yang berakhir 20 Oktober, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai 215 ribu, meningkat 5.000 dari tingkat yang tidak direvisi pekan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan.

Rata-rata pergerakan empat minggu mencapai 211.750, tidak berubah dari rata-rata yang belum direvisi minggu sebelumnya sebesar 211.750. Sementara itu, defisit perdagangan AS dalam barang melebar untuk bulan keempat berturut-turut pada September, membawanya menjadi USD76 miliar, menurut Departemen Perdagangan.

Departemen itu mengatakan ekspor barang-barang AS untuk September mencapai USD141,0 miliar atau USD2,5 miliar lebih banyak daripada ekspor Agustus. Sementara itu, impor barang untuk September mencapai USD217,0 miliar atau USD3,1 miliar lebih besar dari impor Agustus.

(ABD)

Dolar AS Hempaskan Dua Mata Uang Utama Dunia

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) melesat pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena euro melemah terhadap dolar Amerika Serikat (UAS) pada indeks pembelian manajer yang buruk. Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,49 persen menjadi 96,4336 pada akhir perdagangan.

Mengutip Xinhua, Kamis, 25 Oktober 2018, pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1387 dari USD1,1467 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2880 dibandingkan dengan USD1,2985 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7064 dibandingkan dengan USD0,7084.

Sementara itu, USD membeli 112,41 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 112,47 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD naik menjadi 0,9972 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9956 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3017 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3087 dolar Kanada.

Indeks Pembelian Manajer Penggerak Manufaktur Jerman (PMI) turun ke-29 bulan di 52,3 pada Oktober, dari 53,7 pada September. Sementara Indeks Output Komposit Zona Euro PMI turun ke level terendah 25 bulan di 52,7 pada Oktober, menurut laporan yang dikeluarkan oleh IHS Tandai. Euro dan sterling Inggris kehilangan lebih dari 0,7 persen terhadap USD pada Rabu.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 608,01 poin atau 2,41 persen menjadi 24.583,42. Sedangkan S&P 500 melemah sebanyak 84,59 poin atau 3,09 persen menjadi 2.656,10. Indeks Nasdaq Composite turun 329,14 poin atau 4,43 persen menjadi 7.108,40.

Baik Dow Jones dan S&P 500 telah menghapus keuntungan mereka tahun ini, sementara Nasdaq berada di wilayah koreksi. AT&T melaporkan laba yang disesuaikan per saham sebesar 90 sen dan ekspektasi pasar hilang. Saham perusahaan jatuh lebih dari delapan persen pada penutupan.

United Parcel Service mendaftarkan laba yang disesuaikan per saham sebesar USD1,82, sesuai dengan ekspektasi analis. Pendapatannya mencapai USD17,44 miliar, nyaris kehilangan ekspektasi. Saham perusahaan turun 5,52 persen setelah mengatakan kebijakan perdagangan AS membebani laba operasi.

(ABD)

USD Bertekuk Lutut dengan Mata Uang Utama Lainnya

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) melemah terhadap mata uang safe haven lainnya atau mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Namun, USD berhasil memulihkan beberapa kerugian awal karena aksi jual di pasar saham Amerika Serikat (AS) berkurang.

Indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500 dan Komposit Nasdaq turun secara dramatis pada pembukaan perdagangan, terseret oleh laba mengecewakan dari pemimpin industri Caterpillar Inc dan 3M Co. Tiga indeks telah memulihkan sebagian kerugian tersebut pada pertengahan sore, tetapi tetap lebih rendah dari penutupan Senin 22 Oktober.

“Pasar saham menjadi perhatian semua orang. Dolar/yen bergerak hampir tick-to-tick dengan saham,” kata David Gilmore, partner di FX Analytics, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 24 Oktober 2018.

Meskipun USD juga dianggap sebagai mata uang safe haven, namun pelemahan di pasar AS akan merugikan greenback terhadap mata uang safe haven lainnya. USD melemah terhadap yen sebesar 0,32 persen, terakhir diperdagangan pada 112,45 yen. Terhadap franc Swiss, dolar turun delapan basis poin, terakhir di 0,995 franc.

Caterpillar jatuh 5,8 persen setelah pembuat peralatan berat itu mempertahankan prediksi labanya untuk 2018, sesudah menaikkannya pada dua kuartal sebelumnya. Sementara, 3M meluncur 5,2 persen setelah memangkas prospek laba setahun penuh karena ayunan mata uang.

Itu menghidupkan kembali kekhawatiran atas dampak meningkatnya biaya pinjaman, upah dan tarif atas laba perusahaan-perusahaan. Perkembangan dalam kebijakan AS, terutama pemotongan pajak Presiden Donald Trump, telah meningkatkan investasi dalam aset-aset AS.

Dengan pemilihan umum paruh waktu (kongres) makin dekat, para investor sedikit gugup dan ingin melihat apakah akan ada kebijakan-kebijakan di jalur yang akan terus mendukung tingginya harga-harga aset AS. Indeks dolar, ukuran dari nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun sekitar 10 basis poin sepanjang hari, terakhir di 95,927.

(ABD)

USD Hantam Dua Mata Uang Utama Dunia

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), karena poundsterling Inggris jatuh di saat berita bahwa negosiasi Brexit dengan Uni Eropa mengenai Irlandia Utara masih berubah. Selain itu, euro terus merosot di tengah ketidakpastian politik atas anggaran Italia.

Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, naik 0,36 persen pada perdagangan Senin waktu setempat, berakhir di 96,003. Sedangkan poundsterling turun 0,73 persen di sesi Amerika Utara pada 1,277 dolar, melanjutkan penurunan yang dimulai pada awal pekan lalu.

“USD bergerak didukung poundsterling dan euro,” kata Kepala Strategi Valuta Asing Global Credit Suisse Shahab Jalinoos, seperti dikutip Antara, Selasa, 23 Oktober 2018.

Perdana Menteri Theresa May mengatakan sebagian besar kesepakatan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa telah disetujui tetapi mengulangi penentangannya terhadap proposal Uni Eropa mengenai perbatasan Irlandia, menurut kutipan dari pernyataannya kepada Parlemen.

Dengan hanya lebih dari lima bulan sampai Inggris dijadwalkan keluar dari Uni Eropa, pembicaraan telah terhenti akibat ketidaksepakatan tentang apa yang disebut backstop Irlandia Utara, sebuah jaminan kebijakan untuk memastikan tidak akan kembali ke perbatasan keras di Irlandia jika hubungan perdagangan masa depan tidak disepakati pada waktunya.

Euro gagal mempertahankan kenaikan awal sesi karena investor fokus pada kemungkinan ketidakpastian politik lebih lanjut di Eropa atas rencana anggaran pengeluaran Italia, meskipun ada penurunan besar dalam biaya pinjaman Pemerintah Italia. Moody`s menurunkan peringkat kredit Italia pada Jumat tetapi secara tak terduga mempertahankan prospek stabil.

Kondisi itu terjadi bersama dengan komentar-komentar yang lebih damai dari para pejabat Italia bahwa mereka siap untuk duduk dengan pejabat-pejabat Uni Eropa dan tidak berniat untuk memperluas defisit melampaui tahun anggaran 2019, mendorong permintaan untuk surat utang Italia setelah dilanda aksi jual selama berminggu-minggu.

(ABD)

Konferensi Investasi di Saudi Terancam Kasus Khashoggi

Jakarta: Arab Saudi menjadi tuan rumah penyelenggaraan Future Investment Initiative (FII) pekan depan. Konferensi investasi bertaraf internasional yang dijuluki Davos in the desert, dibayangi kasus pembunuhan jurnalis kawakan Jamal Khashoggi di Konsulat Saudi, Istanbul.

Kasus kematian Khashoggi yang disinyalir tewas secara mengenaskan mendorong gelombang pemboikotan dari pemangku kebijakan maupun investor raksasa. Dengan jadwal konferensi internasional sudah di depan mata, Kerajaan Saudi pun berupaya meredakan krisis internasional. 

Setelah berulang kali menyangkal, pihak kerajaan akhirnya mengakui Khashoggi meninggal di dalam gedung konsulat. Dalam pernyataannya, Saudi mengklaim sang jurnalis tewas dalam perdebatan yang berujung pada perkelahian.

Akan tetapi, pihak kerajaan enggan mengungkapkan keberadaan jasad Khashoggi. Pengakuan tersebut tidak mampu membendung skeptisisme kalangan internasional. Penyelenggara konferensi bahkan mengurangi daftar pembicara yang tercantum dalam situs resmi.

Puluhan eksekutif utama, mulai dari bankir JP Morgan hingga produsen otomotif Ford, berikut aplikasi layanan transportasi Uber, membatalkan kehadiran. Media raksasa, seperti Bloomberg, CNN dan Financial Times, juga memilih mundur dari partisipasi acara. Pemerintah Australia bahkan menarik perwakilannya dengan alasan konferensi tersebut tidak layak dihadiri pasca mencuatnya kasus Khashoggi.

Pihak penyelenggara FII mengungkapkan jumlah pembicara yang terkonfirmasi hadir sekitar 120 orang. Besarannya turun dari publikasi awal, yakni sekitar 150 pembicara. Konferensi bertujuan membuka prospek investasi di Timur Tengah khususnya Arab Saudi, yang mulai gencar mendiversifikasi sektor usaha, agar perekonomian tidak selamanya bergantung pada industri minyak dan gas. Investor global pun akan mendapat kesempatan menggarap proyek bernilai miliaran dolar.

Pada perhelatan FII tahun lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman dinilai sebagai sosok visioner karena berhasil memukau sejumlah investor. Anak Raja Salman itu menunjukkan robot pintar, sekaligus memaparkan pengembangan kota masa depan bernama NEOM. Namun, penyelenggaraan FII tahun ini memicu kemarahan global atas pembungkaman sang kritikus.

Eurasia Group menyebut pangeran yang biasa dipanggil MBS, tengah menghadapi krisis kepercayaan akut dari masyarakat luas. Khashoggi, kontributor Washington Post, memang kerap mengkritik kebijakan Pangeran Muhammad. Dia terakhir kali terlihat sejak memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

Di lain sisi, banyak perusahaan Barat yang belum mengambil keputusan lantaran mempertimbangkan risiko apabila absen dari penyelenggaraan FII. Sebagian sudah mempersiapkan mengirim perwakilan dari level eksekutif hingga karyawan biasa dalam konferensi tersebut. 

Bloomberg News melaporkan bankir senior dari HSBC dan Credit Suisse masih berencana hadir di tengah gelombang pembatalan dari sejumlah eksekutif utama. Sementara itu, perusahaan Tiongkok dan Rusia mulai menujukkan rencana untuk menarik diri. Meski beberapa pemimpin Barat seperti Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengonfirmasi pembatalan kehadiran, Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan berkomitmen mendatangi acara tersebut. 

Hal itu tidak lepas dari upaya pemerintahannya mencari sumber pendanaan baru guna mengurangi beban keuangan negara yang kian memburuk. Hanya saja, meluasnya aksi pemboikotan dari dunia Barat terhadap konferensi, meningkatkan risiko politik di Arab Saudi. Utamanya dari sisi investasi asing langsung (FDI) yang melemah dalam beberapa tahun terakhir.

“Memang pembicaraan dalam konferensi mengusung reformasi, namun aliran FDI ke Saudi diperkirakan tetap rendah. Skandal kematian Khashoggi memicu ketidakpastian bagi investor,” sebut perusahaan riset Capital Economics.

(SAW)